
Setelah cukup beristirahat untuk satu hari, mereka bertiga menaiki pesawat yang akan terbang ke Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, dan membutuhkan waktu kurang dari dua jam untuk sampai di sana.
Ketika sudah tiba di Bandara Syamsudin Noor, cuaca di sana bisa terbilang cukup panas. Sangat jarang ada pohon yang tumbuh, jikapun ada, sangat tidak cocok untuk digunakan sebagai tempat berteduh.
Mo Lian ke Kalimantan Selatan karena bertujuan untuk datang ke Lebak Naga, Kandangan Lama, Batakan, Panyipatan, Kabupaten Tanah Laut.
Menurut cerita yang didengar dari Wanda saat berada di dalam pesawat tadi, Lebak Naga memiliki mitos-mitos tertentu, dan dikatakan terkadang ada suara yang menggema dari lembah yang berada di sana. Yang mendengarnya pun tidak sembarang orang, hanya orang-orang tertentu ataupun Tetua Adat di sana.
Bukan hanya itu saja, Pantai Batakan juga memiliki cerita yang sama. Pada hari Minggu, pukul dua dini hari, di suatu pohon kembar yang berjarak setengah meter satu sama lainnya, ada dua kakak beradik laki-laki yang kadang-kadang terlihat.
Kedua kakak beradik itu sudah mati sangat lama, namun arwahnya bergentayangan, dan akan mengajak siapapun yang bisa melihatnya untuk bermain, kemudian diminta untuk melewati pohon kembar, yang dikatakan itu adalah jalan menuju dimensi lain.
Kakak laki-laki itu memiliki mata merah menyala dalam kegelapan, satu tangan terputus dan mengeluarkan darah yang deras. Sedangkan adiknya, matanya juga merah menyala, namun mata kirinya mengeluarkan tangisan yang merupakan darah, dan kaki kanannya yang terputus.
Walaupun hanya cerita dan tidak tahu kebenarannya, ia tetap ingin datang ke sana untuk mencari tahunya sendiri.
Saat ini, mereka bertiga beristirahat di Novotel, meski waktu masih menunjukan pukul 10.45 waktu setempat, dan akan berangkat keesokan harinya lagi. Memang bisa berangkat hari ini, namun karena ada manusia biasa, yang staminanya tidak sebanyak Mo Lian, maka mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Mo Lian memesan tiga kamar yang berbeda, kamarnya dengan kamar Qin Nian bersebelahan, dan untuk Wanda, di sebelah Qin Nian.
Pada malam hari, ia datang ke kamar Qin Nian karena mendapatkan pesan, yang memintanya datang untuk menemaninya beberapa saat sampai tertidur. Meski enggan, tapi ia tetap datang ke kamar Qin Nian, karena bagaimanapun ia bertanggungjawab penuh atas Qin Nian, bahkan jika itu menemaninya untuk tidur.
Mo Lian duduk di kasur dengan Qin Nian yang menggunakan pahanya sebagai bantal. Ia juga mengusap rambut Qin Nian yang menutupi telinganya.
"Tidurlah, besok pagi kita akan berangkat. Lalu, bukankah kau terlalu manja akhir-akhir ini?"
Qin Nian terdiam sejenak sembari memutar tubuhnya, dan menatap wajah Mo Lian. "Karena Yun Ning sedang tidak ada, aku ingin bermanja-manja dengan Master. Aku sangat kesal dengannya karena selalu memelukmu saat di Sekte Dongfangzhi." Pipinya mengembung dengan tatapan mata teralihkan.
Mo Lian tertawa kecil dan menekan kedua pipi Qin Nian itu. Yun Ning selalu memeluknya? Itu hanya terjadi satu dua kali saja dan tidak lebih, ia juga selalu menghindar saat Yun Ning melompat ke arahnya, dan orang yang selalu mendapatkan pelukannya selain Ibu dan Adiknya, hanyalah Qin Nian.
Mo Lian kembali membelai rambut Qin Nian sembari bersandar pada sandaran tempat tidur, dan melihat langit-langit ruangan. Ketika ia menundukkan kepalanya kembali, terlihat Qin Nian yang sudah tertidur pulas.
Akhirnya, Mo Lian tidak bisa pergi dari ruangan dan memilih untuk menunggu sampai Qin Nian bangun, atau tidak tidur sama sekali. Ia juga tidak bisa meninggalkan Qin Nian sendirian, karena saat ini mereka berada di negara orang lain, dan tentunya ada hal-hal mistis tertentu.
***
__ADS_1
Keesokan Paginya
Mo Lian menunggu di ruang makan, ia menunggu Qin Nian dan Wanda untuk selesai bersiap-siap, karena sehabis makan, mereka akan kembali berangkat. Mobil yang membawa mereka juga sudah tersedia di depan hotel.
Belasan menit berlalu, akhirnya Qin Nian dan Wanda keluar dari kamar masing-masing. Keduanya menggunakan pakaian yang cocok untuk mendaki gunung, serta membawa topi lebar yang menutupi bagian leher.
Setelah keduanya datang, mereka bertiga mulai makan makanan yang telah disiapkan di atas meja. Makanan ini adalah makanan yang sesuai dengan selera Mo Lian karena mengandung banyak cabai, dan rasanya juga membuatnya ketagihan.
Terutama untuk makanan yang bernama 'Sate', meski di negaranya ada makanan yang serupa, namun bumbu di sini lebih terasa dan kaya akan rasa.
Puluhan menit berlalu semenjak mereka menyantap makanan di atas meja dan beristirahat sejenak. Akhirnya mereka keluar dari hotel dan berjalan menuju mobil yang berada di halaman depan, mobil ini adalah mobil hotel yang disewanya selama tujuh hari.
Mo Lian tidak tahu akan membutuhkan waktu berapa lama, karena itulah ia membuat waktu penyewaan lebih lama.
"Jika sudah sampai di sana nanti, tolong untuk bersikap sopan dan menjaga perkataan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ucap Wanda yang berada di kursi depan.
Mo Lian menganggukkan kepalanya. "Terimakasih."
Jarak antara Novotel Banjarmasin Airport dengan Lebak Naga adalah 85 kilometer, atau 52,8 mil. Dengan kecepatan normal mobil dan kepadatan lalu lintas, kemungkinan akan membutuhkan waktu dua jam untuk sampai ke tempat tujuan.
Ketika matanya terpejam, ia bisa merasakan suatu aura yang berada jauh di depannya, sekiranya 20 mil jauhnya. Ia merasakan suatu benda pusaka yang tertanam jauh di dalam gunung, ia juga merasakan adanya jiwa liar yang bersemayam di sana, di suatu benteng ratusan tahun lalu dan sudah hancur.
Mo Lian membuka matanya perlahan. Ia melihat Wanda yang duduk di kursi depan. "Apakah jauh di sana, sekitar dua puluh mil dari sini ada gunung yang mengandung suatu energi mistis?"
Wanda menolehkan kepalanya menatap heran Mo Lian. Ia tidak tahu apa yang dimaksud dengan energi mistis, dan ini adalah kali pertama baginya sebagai Tour Guide mendapatkan pertanyaan seperti ini, meski demikian, ia tetap menjawabnya, "Jika yang gunung dengan jarak sejauh itu, tentu ada. Itu adalah Tahura Sultan Adam, atau biasa dikenal dengan nama lain Taman Mandiangin ..."
"Apakah kalian berdua ingin pergi ke sana?"
Mo Lian menganggukkan kepalanya. "Iya, kita pergi ke sana terlebih dahulu, karena jaraknya lebih dekat."
Wanda hanya bisa terdiam dengan anggukan kecil. Ia tidak tahu bagaimana cara Mo Lian bisa mengetahui jarak tempat wisata di sini, meski ini adalah pertama kalinya mereka datang ke sini.
Mo Lian sendiri memilih datang berkunjung ke Tahura Sultan Adam terlebih dahulu karena ia merasa aura di sana lebih besar dan padat dari tempat yang disebutkan sebelumnya. Seperti Lebak Naga maupun Pantai Batakan, di Pantai Batakan ia memang merasakan adanya suatu dimensi lain, namun menurutnya sangat tidak baik untuk memasuki dimensi itu, karena di dalam dimensi itu bukanlah hal baik.
Kemudian untuk Lebak Naga, di sana kaya akan energi spiritual dan ada suatu aura yang sesekali muncul dan menghilang, seperti setengah dari aura itu tersembunyi di tempat lain.
__ADS_1
Ternyata benar, aku tidak menyangka jika di sini benar-benar memiliki aura aneh. Sebelumnya aku hanya setengah percaya, karena saat awal tiba di sini tidak mengeceknya dahulu. Kemudian untuk Lebak Naga, suara yang didengar oleh Tetua Adat di sana kemungkinan adalah Hewan Suci, Naga.
Jika Mo Lian benar-benar menemui naga yang bukan terbentuk dari energi spiritual, maka ia adalah orang yang sangat beruntung. Naga adalah lambang dari kekuatan, kekuasaan, dan keberuntungan.
Bagi siapapun yang bisa bertemu dengan naga dan diakui. Maka kekuatan orang itu akan meningkat pesat, kekuasaannya akan bertahan lama dan bahkan tidak tergantikan, keberuntungannya juga tidak perlu dipertanyakan lagi.
Namun berbeda jika tidak diakui dan dianggap sebagai pengganggu, maka kematianlah yang menanti!
...
***
*Bersambung...
Lebak Naga dan Pantai Batakan adalah kisah nyata yang pernah saya alami sendiri, meski tidak benar-benar masuk ke dimensi itu. Dimensi yang dikatakan di sini bukanlah benar-benar dimensi, melainkan pandangan akan diubah dan digiring untuk terjun ke jurang.
Untuk Tahura Sultan Adam, memang dipuncak Gunungnya ada semacam aura tidak nyaman, pada jam satu malam menuju puncak, di sebelah kiri dari jalan ada sebuah warung, dan di belakang warungnya ada pasar ghoib.
Benteng Belanda di Tahura Sultan Adam juga memiliki kisahnya sendiri👍
Tahura Sultan Adam
Lebak Naga
__ADS_1