Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 252 : Kedatangan Penagih Pajak


__ADS_3

Kendati ada bahaya yang datang ke Kota Fang, Mo Lian tetap bersikap biasa-biasa saja seperti tidak pernah mengetahui ada yang bergerak kemari. Ia tidak tahu untuk apa ratusan Kultivator Dao itu kemari, tapi ia merasa itu bukanlah hal baik.


Mo Lian mengabaikan ratusan orang yang akan datang, dan memilih untuk menikmati makan bersama dengan tetangga yang sangat baik padanya. Bai Yuyan memiliki putri berusia 18 tahun, dengan putra berusia 11 tahun, dan keduanya sama-sama manusia biasa yang tidak berlatih.


Keduanya tidak bisa dikatakan sebagai orang berbakat, tapi setidaknya bisa mencapai tingkatan yang lebih baik dari kelompok pemuda yang mengganggunya. Namun Mo Lian tidak berencana untuk mengajari keduanya berkultivasi, karena ia tidak terlalu ingin berhubungan dengan Bintang Tianjin.


Mo Lian juga merasa bersalah karena terlalu dekat dengan penduduk di sini, yang mana nantinya akan ia tinggalkan. Tapi karena sudah terlanjur, maka ia biarkan dan lambat laun identitas sebagai Kultivator Dao akan terbongkar.


Jika benar-benar merasa bersalah dan tidak nyaman, yang mungkin saja membangkitkan Iblis Hati, maka ia hanya perlu memberikan pelatihan pada orang-orang terdekat, seperti halnya Pak Tua Hong yang memberikan pelatihan, meski tidak mengangkat menjadi murid.


"Nak Lin Mo?" Bai Yuyan melambaikan tangan kanannya di depan wajah Mo Lian.


Mo Lian tersadar dan tersenyum tipis. "Tidak ada, aku hanya sedang memikirkan sesuatu ..."


Mo Lian meletakkan kedua sumpit di atas mangkuk, kemudian melanjutkan perkataannya, "Apakah Kota Fang berada di bawah kekuasaan suatu organisasi? Sekte atau keluarga besar, namun tidak berada di Kota Fang itu sendiri?"


Suasana berubah menjadi hening dan tidak ada satu pun yang berbicara. Ini seperti ada luka lama yang tertanam di hati dan pikiran mereka.


"Kota Fang, adalah kota kecil di bawah kekuasaan dari Sekte Gunung Dewa. Setiap enam bulan sekali, kami harus memberikan pajak yang jumlahnya delapan puluh persen dari hasil panen."


Mo Lian mengerutkan keningnya, dan menganggap tidak masuk akal tentang sistem pajak yang mengambil 80%. Penduduk yang merawat wilayah bisa dikatakan tidak mendapatkan apa-apa dari kerja keras selama enam bulan. Waktu, tenaga dan modal yang mereka keluarkan tidak membuahkan hasil sama sekali.


Dari sini, akhirnya ia menyadari mengapa kota dengan jumlah penduduk 30.000.000 jiwa, termasuk kota terbesar jika ada di Bumi. Namun memiliki kehidupan yang tidak sejahtera, dan bangunan-bangunan di sini rata-rata terbuat dari kayu.


Untuk membuat pikiran lebih tenang, aku juga harus menyelesaikan masalah di Kota Fang. Benar-benar sialan! Siapa yang menciptakan metode Ketenangan Pikiran untuk menembus Dao Immortal?!


Mo Lian benar-benar marah dan membatin, sampai-sampai ia lupa jika yang menciptakan metode Ketenangan Pikiran adalah dirinya sendiri setelah berhasil menembus Heavenly Immortal.


Mo Lian menghembuskan napas panjang dan kembali mengajak makan untuk mencairkan suasana yang tegang. Namun Bai Yuyan terus bercerita tentang keadaan Kota Fang yang dimulai dari 200 tahun lalu. Tentu bukan Bai Yuyan sendiri yang merasakannya, melainkan pendahulunya yang tinggal di Kota Fang.


Jika terlahir di Kota Fang, bisa dipastikan orang itu akan tinggal selamanya di Kota Fang dsn tidak bisa meninggalkan tempat. Jika ada yang meninggalkan Kota Fang sampai jarak tertentu, orang itu akan mati mengenaskan.

__ADS_1


Mo Lian baru tahu akan hal itu, pasalnya ia tidak merasakan adanya kutukan atau hal aneh di Kota Fang yang membahayakan nyawa. Hanya ada satu alasan mengapa bisa mati mengenaskan, yaitu pembunuhan secara diam-diam dan memberi tanda seperti dibunuh hewan liar.


Acara makan bersama mereka berlangsung sampai tengah malam, dan saat itu Mo Lian membantu membereskan peralatan makan sebelum kembali ke tempatnya sendiri.


Mo Lian yang sudah kembali itu memilih tidak tidur dan duduk bersila di atas kasur. Ia ingin menenangkan pikirannya kembali dan menyatu dengan alam, tenang seperti air, namun berbahaya jika diganggu sedikit saja.


"Besok pagi, Kota Fang akan terjadi kekacauan. Aku sudah melihat sekeliling dan di sini sudah kehabisan sumber makanan, mengingat musim dingin yang ada di sini. Berbeda sekali dengan Daratan Tianming yang tidak ada musim dingin."


Mo Lian membuka matanya perlahan saat sudah memasuki dini hari, kemudian ia merebahkan tubuhnya dan tidur.


***


Pagi Harinya


Mo Lian bangun dari tidurnya dan membuka matanya perlahan. Dengan kedua tangan menyentuh kasur, ia menopang badannya untuk duduk bersandar pada sandaran tempat tidur dan meregangkan otot-otot tubuhnya.


Mo Lian beranjak turun dari tempat tidur dan pergi ke sumur yang berada di samping rumah untuk membasuh wajahnya. Ketika ia baru mengambil seember air dari sumur, tiba-tiba langit menggelegar dengan suara yang menggema.


Mo Lian menengadahkan kepalanya melihat langit. "Meski aku sudah tidak perlu lagi menahan diri dan bersikap seperti manusia biasa. Tapi aku akan tetap menggunakan identitas Lin Mo dan melihat seperti apa kekuatan dari Alam dan Manusia yang sangat sombong."


Menggunakan kata 'Dewa' untuk penamaan sekte memang terdengar hebat dan mendominasi, namun jika itu di Dunia Abadi atau Bintang Utama. Sekte Dewa akan dikunjungi banyak Kultivator Dao dan Iblis untuk menantang, apakah benar-benar pantas untuk menyandang kata 'Dewa'.


Bahkan Sekte Iblis yang sangat arogan dan angkuh di Dunia Abadi tidak akan berani menggunakan 'Dewa' untuk penamaan sekte mereka. Master Hong Xi Ning yang merupakan Heavenly Immortal juga tidak pernah menganggap dirinya sebagai Dewa.


"Hah..." Mo Lian menghembuskan napas panjang dan berjalan keluar dari halaman rumahnya. Ia bisa melihat Bibi Bai Yuyan dan keluarga yang terlihat takut, serta membawa beberapa karung gandum dan bahan makanan lain.


"Bibi?"


Bai Yuyan menoleh ke kanan menatap Mo Lian. "Nak Lin Mo, cepat tinggalkan kota, jika tidak, kau bisa dalam bahaya karena tidak membawa persembahan." Terlihat kekhawatiran di wajahnya.


"Tidak perlu khawatir." Mo Lian tersenyum tipis dan mengangkat tangan kirinya sejajar dengan dada, kemudian berjalan ke pusat kota.

__ADS_1


Paman dan bibi yang tinggal di sebelah rumah benar-benar terlihat sangat khawatir karena tidak bisa meyakinkan Mo Lian untuk meninggalkan kota.


Mo Lian sendiri tidak perlu takut, ia ingin melihat siapa yang berani angkuh di tempatnya tinggal saat ini.


Ketika sudah sampai di pusat kota, Mo Lian melihat ratusan pria dan wanita yang berdiri belasan inchi dari permukaan tanah. Mereka menatap rendah semua penduduk Kota Fang, Mo Lian juga melihat Ann Jing Hao yang berada di barisan dari Sekte Gunung Dewa.


"Tetua! Dia adalah orang yang mematahkan kaki dan tangan saudara seperguruan! Bahkan dia juga menampar wajahku!" Ann Jing Hao menunjuk ke arah Mo Lian yang baru saja datang.


Mo Lian mengerutkan keningnya merasa heran. Ia tidak melakukan hal yang dikatakan Ann Jing Hao dan tetap diam saat diserang tiba-tiba dari belakang. "Bukankah kau yang menyerangku, dan jatuh tersandung."


"Omong kosong!" Ann Jing Hao meludah ke kanan dan kembali menunjuk ke arah Mo Lian dengan senyum menjijikkan. "Aku adalah Kultivator berbakat ditingkat Inti Emas, tidak mungkin bisa terluka hanya karena tersandung!"


Mo Lian memiringkan kepalanya. "Kalau begitu, bukankah lebih tidak masuk akal. Jika aku, manusia biasa yang tidak berlatih bisa mematahkan kaki dan tangan kalian."


Semua orang yang berada di sana merasa sangat kasihan pada Mo Lian karena menyinggung Ann Jing Hao di depan Penatua dari Sekte Gunung Dewa.


Pria tua berambut putih panjang, alis panjang sampai ke bawah mata dan berdiri di barisan depan itu membuka matanya menatap tajam Mo Lian. Pria tua itu mengenakan pakaian merah oranye, dengan jubah putih.


"Anak muda, bukan hanya kau tidak membawa persembahan, tapi kau juga membuat masalah dengan Ann Jing Hao. Patahkan kaki dan tanganmu, maka aku—"


Mo Lian mengangkat tangan kanannya mengarahkan jari telunjuknya pada Ann Jing Hao. "Berisik, jika dia benar-benar ingin mati, maka bunuh saja."


Ann Jing Hao terjatuh dengan mata terbuka lebar, dan terlihat kepalanya telah berlubang dengan darah yang merembes keluar. Bahkan Inti Jiwanya juga hancur dan tidak bisa menyembuhkan luka yang diderita.


Pria tua itu menggertakkan giginya seraya mencengkeram jari-jarinya yang terkepal. "Bajing**! Beraninya kau membunuh muridku—"


"Lalu kenapa?" Mo Lian melangkahkan kakinya menghampiri pria tua itu, dan saat itu juga hujan lebat mulai turun membasahi seluruh kota. "Patriak Gunung Dewa akan datang? Aku yang akan datang ke sana! Berani menggunakan nama Dewa untuk menamakan sekte, itu adalah suatu penghinaan!"


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2