Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 169 : Tiba di Kota Jakarta


__ADS_3

Mo Lian sudah mendapatkan izin dari Mo Qian maupun Su Jingmei, dan Mo Fefei sangat ingin ikut dengannya, bahkan sampai merengek dan berguling-guling di lantai seperti anak kecil yang kehilangan mainnya, hanya untuk bisa pergi bersama Mo Lian. Namun dengan tegas Su Jingmei tidak mengizinkannya, karena harus bersekolah kembali.


Kemudian untuk Lu Xian Zhi dan Lu Fan Gang, mereka berdua tidak dibunuh oleh Su Jingmei, melainkan dibuat tidak bisa lagi berjalan maupun berbicara, sehingga mereka hanya bisa menghabiskan hidupnya di tempat tidur dalam penyiksaan panjang.


Lalu untuk pelatihan yang telah dijanjikannya, Mo Qian adalah orang yang mengambil alih pelatihan, dan Mo Lian sangat yakin dengan kemampuan Ayahnya. Bagaimanapun Ayahnya adalah murid dari Leluhur Sekte Galaxy Pusat, tentunya derajatnya lebih tinggi darinya.


Untuk pergi ke Borneo atau Kalimantan, ia pergi bersama dengan Qin Nian. Sedangkan Yun Ning dan Ong Hei Yun, mereka berdua memang berniat mengikutinya, namun nasib berkata lain, mereka berdua ada pekerjaan yang harus dilakukan. Terlebih untuk Yun Ning, kemungkinan tidak akan kembali ke Sekte Dongfangzhi dalam waktu tiga sampai lima bulan karena pekerjaannya di luar negeri.


Saat Qin Nian bisa pergi berdua bersama Mo Lian, ia sangat senang sekali dan mengejek Yun Ning yang tidak bisa mengikutinya.


Pengurusan paspor Mo Lian juga sudah selesai hanya dalam waktu dua hari saja, dan pada hari ini adalah hari keberangkatannya ke Indonesia, Sabtu 27 Februari 2021.


Sebelum pergi ke Indonesia, Mo Lian sudah menuntaskan janjinya pada Mo Fefei untuk memberikan Cincin Ruang, dan mengembalikan mobil yang disimpannya.


Saat ia mengeluarkan mobil dari dalam Cincin Ruang, ia sempat dimarahi oleh Ibunya untuk beberapa menit karena terlalu memanjakan Mo Fefei. Tapi setelahnya, ia dipeluk erat oleh Ibunya untuk beberapa waktu, hingga membuatnya tertidur.


***


Bandara Shuangliu Chengdu, China


Bersama dengan Qin Nian, ia memasuki pesawat terbang dengan kabin First Class. Keduanya memilih kabin itu karena perjalanan yang memakan waktu hampir sepuluh jam, dari Kota Chengdu ke Kota Jakarta, Indonesia.


First Class di sini bukanlah First Class pada umumnya, ini mengusung tema pasangan, yang artinya satu ruang memiliki dua kursi yang sangat berdekatan, sehingga bisa dikatakan dua orang tidur dalam satu kasur yang sama.


Jika berangkat dengan terbang biasa, ia mungkin hanya memakan waktu dua sampai tiga jam saja.


Seperti sebelum-sebelumnya, ia akan mengecek terlebih dahulu semua sudut pesawat menggunakan kesadarannya yang disebarkan, dan apabila tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan, ia bisa bersantai dengan tenang.


"Lian. Sebenarnya kita pergi ke Borneo untuk mencari apa?" tanya Qin Nian yang duduk di sebelah Mo Lian.


Mereka berdua sudah berjanji satu sama lain, saat hanya mereka berdua saja, mereka akan memanggil nama langsung dan meninggalkan nama keluarga.

__ADS_1


Mo Lian menolehkan kepalanya menatap Qin Nian. "Aku ingin mencari suatu tempat yang tersembunyi dalam dimensi lain di sana. Dikatakan, ada sebuah kota yang megah, memiliki sumber daya dan pengobatan yang sangat luar biasa ..."


"Ada beberapa orang yang mengatakan tempat itu benar-benar ada, dan karena itulah aku ingin pergi ke sana untuk memastikannya sendiri ..."


Meski tidak tahu apakah yang dikatakan Mo Lian benar atau salah, Qin Nian hanya mengangguk dan mempercayainya. Ia menundukkan kepalanya sembari mengangkat tangan kirinya pada sandaran lengan, kemudian menggenggam punggung tangan Mo Lian.


Mo Lian kembali menoleh dengan senyum tipis di wajahnya. Ia membalikkan tangannya dan membalas genggaman tangan Qin Nian. Dari semua wanita yang ditemuinya, Qin Nian adalah orang yang sangat sering dipeluknya, yang bukan berasal dari keluarga.


Wajah Qin Nian memerah padam. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan yang baik dari Mo Lian, meski ia pernah menyerangnya dulu.


Dengan tangan kiri terangkat, Mo Lian mengusap lembut puncak kepala Qin Nian sembari berucap, "Tidurlah, perjalanan ini memakan waktu yang panjang."


"Baik." Qin Nian menutup matanya dan bersandar pada bahu Mo Lian.


Mo Lian yang melihat itu hanya diam dan tersenyum tipis, meski kursi mereka bisa diatur seperti tempat tidur, namun Qin Nian malah memilih tidur biasa seperti di Economy Class.


Karena melihat Qin Nian yang tidak nyaman dalam posisi tidurnya, akhirnya secara diam-diam ia menggunakan kekuatan jiwanya untuk menurunkan kursi secara perlahan, serta menutup pembatas di sebelah kiri maupun kanan. Ia juga menyelimuti tubuh Qin Nian yang memakai baju terbuka dan sedikit tipis.


Mo Lian memiringkan tubuhnya melihat Qin Nian yang telah tertidur pulas, dan pasa akhirnya kantuk juga menyerangnya saat melihat bagaimana Qin Nian tidur.


Ketika ia terbangun, pesawat hampir tiba di Kota Jakarta, Ibukota dari Indonesia. Ia juga melihat jika kursi di sebelahnya sudah kosong, tidak ada lagi Qin Nian yang sebelumnya tidur di sana.


Mo Lian mengubah posisinya menjadi duduk, dan dengan segera mencari keberadaan Qin Nian. Saat mengetahui Qin Nian berada di dalam toilet dan tidak ada tanda-tanda mencurigakan, ia kembali merebahkan dirinya menunggu kedatangan Qin Nian.


Belasan menit kemudian, pembatas ruang terbuka, memperlihatkan Qin Nian yang berganti pakaian lebih tertutup. Mengenakan celana jeans panjang berwarna biru muda, kemeja putih dengan topi berwarna hitam untuk menutupi sinar matahari.


Dua jam kemudian, setelah perjalanan yang cukup panjang. Akhirnya pesawat yang ditumpanginya sudah mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, Indonesia.


Ketika sudah keluar dari kabin pesawat dan mengikuti arahan dari suara yang terdengar dari pengumuman. Ia mengamati jalan yang menuju terminal untuk mencari keberadaan orang yang sudah memiliki janji dengannya. Ia bisa menggunakan Bahasa Inggris, namun tidak dengan Indonesia, dan ia yakin tidak semua orang mampu berbahasa Inggris, sehingga ia menyewa Tour Guide.


Pandangan Mo Lian tertuju pada wanita yang sekiranya berusia 24 tahun, memiliki tinggi 165 centimeter, rambut panjang sedikit ikal, menggenakan masker. Wanita itu mengenakan celana jeans berwarna hitam, kemeja berwarna ungu dengan tas yang menggantung di pundak kirinya, serta membawa papan nama bertuliskan 'Mo Lian'.

__ADS_1


Mo Lian bersama dengan Qin Nian berjalan menghampiri wanita itu. "Apakah kau yang bernama Wan Da?"


Wanita itu sedikit menengadahkan kepalanya menatap Wajah Mo Lian, kemudian berganti ke Qin Nian. "Wanda, saya yang akan mengantarkan Anda ke Kalimantan Selatan."


Note : Dialog menggunakan Bahasa Inggris.


"Kapan kita akan berangkat?" tanya Wanda yang masih memegang papan nama, dan tatapan matanya tertuju pada Mo Lian.


Mo Lian melihat sekeliling, mencari layar yang menunjukkan waktu, dan di sana tertulis jika hari masih pukul delapan pagi.


Dengan hari yang masih pagi, memang lebih baik untuk berangkat langsung ke Kalimantan Selatan pada saat ini juga. Namun karena ia membawa Qin Nian, setidaknya ia ingin beristirahat untuk satu hari di bandara sebelum keberangkatannya lagi keesokan harinya.


"Besok pagi di waktu yang sama seperti sekarang, saat ini kami berdua ingin beristirahat terlebih dahulu."


Wanda mengangguk kecil, kemudian membawa Mo Lian dan Qin Nian menuju hotel yang berada di dalam bandara. Sesekali ia melirik wajah Mo Lian dan diam-diam mengambil gambar.


Tentu saja Mo Lian menyadari hal itu, dan dengan sigap ia menciptakan kabut pada kamera agar tidak dapat mengambil gambarnya.


Qin Nian menggandeng lengan Mo Lian, ia sangat risih akan tatapan mata dari pria-pria yang berada di sekitar, bahkan tidak sedikit pula yang mengambil video secara terang-terangan.


Mo Lian menghembuskan napas berat. Ia sedikit menyesal karena harus menaiki pesawat untuk dapat pergi ke Borneo. Jika saja ia terbang biasa, mungkin tidak akan mendapatkan hal seperti ini yang menurutnya sangat mengganggu.


Bukan hanya Mo Lian dan Qin Nian saja yang merasa risih. Banyak Orang Barat yang datang ke sini juga merasakan hal yang sama, seperti yang saat ini terjadi tidak jauh dari Mo Lian. Ada dua pasangan kekasih yang harus meladeni orang-orang yang ingin berfoto bersama, meski mereka berdua bukanlah publik figur atau apapun itu.


Dari ekspresi wajah kedua orang itu, Mo Lian bisa mengetahui jika pasangan yang sekiranya berjarak tiga puluhan meter darinya merasa terganggu.


Melihat itu, Mo Lian hanya bisa terdiam sembari menggeleng pelan dengan napas berat yang keluar dari mulutnya.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2