Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 129 : Bertemu dengan Ayah


__ADS_3

Mo Lian terus bergerak menuju bangunan pusat Istana Surgawi. Perjalannya kali ini terlihat cukup damai tanpa ada halangan seperti tadi, yang mana tiba-tiba pasti akan datang pasukan dengan jumlah yang besar, meski seluruhnya sangat lemah.


"Apa yang mereka lakukan? Mengapa tidak ada lagi yang datang menghampiri? Apakah mereka akan melakukan serangan kejutan dengan cara mengepungku?"


Mo Lian menaikkan sudut bibirnya, ia bisa merasakan kehadiran semua orang yang berasal dari Istana Surgawi. Mereka semua berada dalam satu tempat yang sama, seperti sedang menunggu kedatangannya, namun tidak ada tanda-tanda akan menyerang.


Mo Lian mengangkat kedua bahunya tidak ingin memikirkan rencana apa yang mereka buat, saat ini ia ingin pergi cepat-cepat menuju penjara bawah tanah yang letaknya sendiri ia tidak tahu di mana.


Sepuluh menit kemudian setelah terbang lurus ke depan, ia sudah benar-benar sampai di Istana Surgawi. Terlebih lagi di depannya ia melihat suatu pintu besi berwarna hitam, yang di atasnya terdapat tulisan 'Penjara'.


"Apakah mereka mengetahui jika aku ingin datang ke penjara, lalu mereka memperlihatkannya dengan begitu mudah, dengan cara ini? Apa kau serius?"


Mo Lian tidak habis pikir dengan cara yang dilakukan oleh Istana Surgawi. Ia tahu dengan betul jika ini adalah sebuah jebakan, tapi ia juga merasakan ada sekitar tiga puluhan lantai di bawah tanah melalui pintu besar di depannya, yang tingginya lebih dari 10 meter dan dapat dilalui oleh lima gerbong kereta kuda secara bersamaan.


"Biarlah, kita lihat apa yang berada di dalam sana, aku ingin melihat cara apa yang kalian lakukan untuk menyerangku," ucap Mo Lian yang mendarat tepat di depan gerbang.


Tanpa berlama-lama lagi, ia memasuki pintu tinggi berwarna hitam itu. Saat ia masuk beberapa langkah, tiba-tiba pintu masuk tertutup rapat dan ia juga merasakan perasaan energi kehidupannya yang berkurang.


"Ternyata hanyalah array sederhana, mereka menggunakan tahanan sebagai pasokan energi spiritual mereka untuk meningkatkan kekuatan."


Mo Lian menolehkan kepalanya melihat sekitar, banyak sekali jeruji besi yang di dalamnya terkurung pria maupun wanita yang sudah nampak sangat kurus tak bertenaga, bahkan tidak sedikit pula yang sudah berubah menjadi kerangka tulang.


Mo Lian terus berjalan masuk hingga akhirnya ia berhenti saat sudah berada di tengah-tengah penjara lantai pertama. Ia menundukkan kepalanya melihat lantai yang dipijaknya, di lantai itu adalah titik lemah dari lingkaran array.


Dengan hentakkan kecil kaki kanannya, ia menghancurkan lingkaran array yang menghisap energi kehidupan semua tahanan, bersamaan dengan lantai yang dipijaknya hancur membuatnya terjatuh menuju ke lantai dua.


Pada lantai dua, tahanan yang terlihat menjadi lebih tidak enak dipandang, banyak sekali yang sudah sekarat dan tidak bisa diselamatkan, bahkan jikapun diselamatkan, itu hanya akan menambah rasa tersiksa yang diderita oleh mereka semua.


Tanpa berlama-lama lagi, Mo Lian mengangkat tangannya ke depan mengarahkan jari telunjuknya pada pintu hitam yang menghubungkan antara lantai dua dengan tiga, di pintu hitam itu juga terdapat kelemahan dari lingkaran array.


Ketika energi spiritualnya yang sudah berkumpul pada satu titik ditembakkan dan mengenai kelemahan dari array. Terdengar suara dentuman keras yang memekakkan telinga di dalam lantai dua, bersamaan dengan aura membunuh dari susunan array yang berkurang dan menghilang.


Setelah menghancurkan array di lantai dua, Mo Lian kembali menghentakkan kakinya pada lantai dan membuatnya kembali jatuh ke lantai tiga. Ia terus menghancurkan lingkaran array dan menembus lantai menuju lantai paling bawah.


Hingga belasan menit kemudian. Mo Lian sudah tiba di lantai 29. Di lantai ini ruangannya lebih luas dari lantai atas, tinggi ruangannya sendiri lebih dari 70 meter, dengan banyak sekali mayat yang menumpuk di setiap sel yang berada di kiri dan kanannya, tidak ada satupun dari mereka yang bertahan hidup.


"Ayahku berada di lantai dasar, aku tidak tahu apakah dia masih bisa bertahan selama lima belas tahun terkurung di dalam penjara yang setiap menitnya akan memakan masa hidup dengan waktu yang sangat banyak."


Mo Lian berjongkok seraya menyentuhkan tangannya pada permukaan lantai, ia mencoba mencari tahu seberapa tebal lantainya. Apakah dapat dihancurkan seperti sebelumnya, jikapun bisa, apakah bagian atasnya akan tetap utuh dan tidak menguburnya di dalam.


"Sepertinya kali ini aku tidak bisa menggunakan cara yang sudah-sudah, aku akan melewati pintu di depan saja." Mo Lian mendongak menatap pintu yang berada jauh di depannya.

__ADS_1


Mo Lian berdiri dan berjalan menghampiri pintu yang jaraknya sekitar 300 meter dari tengah-tengah ruangan. Ketika ia sudah berada di depan pintu, ia bisa melihat dengan jelas jika ada tangga batu yang memutar menuju lantai bawah.


Sepuluh menit kemudian. Mo Lian akhirnya sampai di lantai terakhir setelah menuruni anak tangga yang cukup banyak dan memutar untuk beberapa kali.


Mo Lian kembali melihat keadaan sekitarnya, ruangan di sini sangat tinggi, cukup tinggi untuk memuat gedung yang memiliki 60 lantai. Dinding-dinding ruang dihiasi oleh cahaya obor yang sepertinya tidak pernah padam, di dalam sel penjara yang jumlahnya ratusan terdapat puluhan ribu kerangka tulang manusia yang sudah mulai lapuk.


Ia terus berjalan menuju kedalaman dari lantai terakhir sembari menyebarkan kesadarannya mencoba mencari tahu di mana keberadaan Ayahnya. Hingga lima belas menit berlalu, ia sudah berada di ujung dari lantai dasar, di depannya tidak ada lagi sel penjara, melainkan pilar besi yang menjulang tinggi menyentuh langit-langit penjara.


Di tengah-tengah pilar besi itu terdapat pria paruh baya yang memiliki rambut sangat panjang hingga menyentuh mata kaki, memiliki rambut-rambut halus yang menutupi wajah. Lalu meski terlihat berantakan, napas yang dikeluarkan pria paruh baya itu cukup kuat dan tidak ada tanda-tanda lemah.


Pria paruh baya yang berada di pilar itu terikat oleh rantai hitam yang ukurannya seperti rantai kapal, dengan bagian bahu dan paha yang tertembus oleh besi berbentuk pipa.


Pria paruh baya itu mendongak menatap Mo Lian. "Apakah akan ada orang lain lagi yang datang dan menemaniku? Aku sudah berada di sini selama lima belas tahun, puluhan ribu tahanan lain sudah mati, apakah aku harus melihat orang lain mati lagi."


Suara yang dikeluarkan pria paruh baya itu tampak serak, dan ada rasa kesepian dan kesedihan yang tercampur dalam kata-katanya.


Mo Lian membelalakkan matanya lebar saat dapat melihat lebih jelas pria paruh baya yang tergantung di tengah-tengah pilar besi. Dengan bibir bergetar, ia mencoba untuk membuka suaranya, "Ap- Apakah kau Mo Qian?"


Pria paruh baya itu terdiam sejenak dengan mulut terbuka, kemudian mendengus mengeluarkan napas panjang. "Mo Qian? Mo Qian? Benar! Namaku Mo Qian! Bagaimana bisa aku melupakan namaku sendiri?!"


"Aku harus keluar dari tempat terkutuk ini! Istri dan anak-anak ku menunggu kepulangan ku!" Pria paruh baya itu berteriak keras, membuat pilar besi bergetar dan menjatuhkan bebatuan yang berada di langit-langit ruang.


Dengan kaki kanan menekan tanah, Mo Lian melompat tinggi dan melayang sejajar dengan Mo Qian. Ia melepaskan energi spiritualnya pada telapak tangannya menciptakan sebuah api merah kebiruan yang menerangi ruangan.


"Apakah kau mengenali mereka?" Mo Lian memperlihatkan foto keluarganya kepada Mo Qian.


Mo Qian mendongak mencoba melihat gambar yang berada di tangan kanan Mo Lian. "Ba- Bagaimana bisa kau memiliki foto itu?! Siapa sebenarnya kau?!"


Mo Lian menghirup napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. "Apakah kau sudah melupakan wajah anakmu sendiri? Mo Lian?" tanyanya yang melepaskan penyamarannya menjadi Mo Lian berambut hitam pendek.


Bibir Mo Qian bergetar saat melihat penampilan Mo Lian yang berubah, tanpa sadar air matanya mulai mengalir deras membasahi wajahnya. Meski ia baru pertama kali bertemu Mo Lian yang sudah dewasa, ia bisa mengetahuinya dengan jelas jika di depannya adalah Mo Lian. "Li- Lian'er."


Mo Lian mengalihkan perhatiannya pada rantai yang melilit tubuh Ayahnya. Dengan kibasan tangannya yang sudah dialiri energi spiritual, rantai-rantai itu terpotong dengan rapi, kemudian ia melepaskan pipa besi yang menancap di bahu maupun paha Ayahnya.


Sebenarnya rantai-rantai dan pipa besi itu sangat mudah untuk dilepaskan, hanya saja jika lingkaran arraynya tidak dihancurkan terlebih dahulu. Rantai itu akan memakan habis masa hidup orang yang terlilit dalam hitungan detik.


Tapi tetap saja, ini sangat aneh bagi Mo Lian. Ayahnya yang sudah terkurung selama 15 tahun, terlebih lagi terikat oleh rantai besi, namun mengapa masih bisa bertahan hidup.


"Ba- Bagaimana kabar Ibumu dan Fefei?" tanya Mo Qian yang berada di rangkulan Mo Lian.


Mo Lian turun perlahan dari pilar tinggi dan mengistirahatkan Ayahnya untuk bersandar. Ia menengadahkan kepalanya melihat langit-langit ruangan yang gelap dan mencoba untuk menenangkan diri. Setelah cukup, ia menjelaskan tentang kehidupan mereka sesaat setelah Ayahnya menghilang.

__ADS_1


"Baji**** tua Mo!" Mo Qian berteriak lantang dan memukulkan tinjunya pada pilar besi yang berada di belakangnya.


Seketika itu juga tercipta dentuman keras yang memekakkan telinga, bersamaan dengan retakan besar di permukaan pilar besi.


Mo Lian mengerutkan keningnya, ia tidak tahu jika hubungan Ayahnya dengan Keluarga Mo juga terlihat tidak baik.


Mendapati tatapan mata dari Mo Lian, Mo Qian menghembuskan napas panjang, dan berkata, "Ayah adalah anak dari adik Patriak Keluarga Mo. Sebelumnya, Kakek aslimu yang harusnya menjadi Patriak, meski dia yang termuda, dialah yang memperlihatkan bakat terbaik, entah dalam bisnis maupun beladiri ..."


"Tapi ada suatu ketika dia kembali dari luar kota karena tugas, ia mengalami luka parah yang menghancurkan Dantiannya dan dia juga diracun. Hanya dalam waktu tiga hari, dia telah mati. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku menduga jika itu adalah ulah dari Mo Huangbei!"


Mo Lian terdiam, ini adalah informasi yang cukup mengejutkan baginya. Ia tidak tahu jika hal itu ada dan pernah terjadi. "Ayah, kekuatan Keluarga Mo yang tertinggi hanya sampai Fase Menda— Wu-Zong, tapi mengapa Ayah bisa mencapai Wu-Dan? Dan bahkan saat ini aku merasakan kalau kekuatanmu sudah berada ditingkat Wu-Zheng."


Saat masih berada di luar, Ong Lei Yang mengatakan jika kekuatan Ayahnya adalah setengah Ranah Inti Perak. Tapi yang dirasakannya saat ini adalah Inti Emas. Bukan hanya Ayahnya masih selamat di dalam array, tapi juga kekuatannya yang malah meningkat.


Mo Qian tersenyum tipis dengan anggukan kecil. "Tentu saja berbeda, karena saat aku masih berusia lima belas tahun, aku pernah bertemu seorang pria tua yang mengajariku metode pernapasan yang sama sekali berbeda dengan metode keluarga. Lalu untuk mengapa Ayah bisa meningkat menjadi ... Wu-Zheng? Itu karena array yang digunakan Istana Surgawi untuk menembus Ranah Alam dan Manusia. Aku menggunakan metode pembalik, yang harusnya penerima diubah sebagai sumber."


Mo Lian menganggukkan kepalanya, memang ada metode seperti itu. Tapi cukup sulit untuk menguasainya, bahkan ia harus membutuhkan waktu tujuh tahun untuk menguasai metode itu.


Tunggu! Mo Lian menolehkan kepalanya secara tiba-tiba menatap Ayahnya. "Alam dan Manusia?"


Mo Qian menaikkan sebelah alisnya kebingungan akan pertanyaan Mo Lian.


"Ayah, bisakah kau keluarkan salah satu teknik yang diajarkan oleh pria tua yang kau katakan tadi?"


Meski tidak tahu apa yang membuat Mo Lian terlihat terburu-buru. Tapi Mo Qian tetap menganggukkan kepalanya, ia berdiri dari tempat duduknya dan mengarahkan telapak tangannya jauh ke depan.


Telapak tangan Mo Qian memancarkan cahaya berwarna kuning keemasan, hingga tak lama berselang, dari telapak tangannya menembakkan telapak tangan berwarna emas yang kian membesar seiring dengan berjalannya waktu. Kemudian menciptakan ledakan besar dengan getaran hebat seperti gempa bumi saat telapak tangan itu menghantam dinding.


"Ini ..." Mo Lian sudah kehabisan kata-kata lagi. Meski teknik seperti itu cukup wajar di Galaxy Pusat, tapi setiap tempat tentunya memiliki perbedaan, teknik yang dikeluarkan oleh Ayahnya tadi adalah teknik yang pernah dipelajarinya dari Master dari Masternya.


Master dari Masternya suka sekali berkelana dan tidak suka berdiam diri di sekte. Master dari Masternya, atau bisa dikatakan Pendiri Sekte Zhongjian, atau bisa dikatakan juga sebagai ayah dari Masternya.


Ap- Apakah Ayahku berguru kepada Pendiri Sekte Zhongjian? Karena inilah dia mengetahui kata Alam dan Manusia. Metode pembalik juga sebuah metode khusus yang dibuat oleh Pendiri Sekte Zhongjian.


...


***


*Bersambung...


Kesehatan saya masih drop, jadi belum bisa terlalu rutin nulis😷

__ADS_1


__ADS_2