
Suasana sekitar kembali hening sesaat setelah Mo Lian menantang semua orang. Tak lama kemudian, teriakkan kekesalan semua orang dapat terdengar menghina kesombongan Mo Lian.
"Apa kau pikir kau hebat hanya karena bisa mengalahkan dua orang ditingkat Wu-Zun dengan cepat? Kami semua lebih dari 30 orang, diantara kami ada yang sudah menembus tingkat Wu-Zong!"
"Benar! Jangan kira kau hebat. Tapi karena kau menantang kami semua, tentunya kami harus berbaik hati untuk menerima tantangan itu. Kuharap kau tidak menarik omongan mu itu!"
"Heh! Bocah sombong. Coba kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan dari serangan kami. Jangan sampai kau bertekuk lutut dan menangis untuk hidupmu!"
Tidak lama setelah obrolan itu, semua orang kecuali Qin Nian naik ke atas podium arena. Ketiga puluh orang itu mengelilingi Mo Lian yang berada di tengah-tengah arena.
Master Hongtan berjalan mendekati Mo Lian. "Apakah kau yakin? Pihak kami tidak akan bertanggungjawab jika kau mengalami luka parah ataupun kematian," ucapnya memastikan.
Mo Lian hanya terdiam dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan itu. Meskipun ia masih berada di Fase Lautan Ilahi dan belum menembus Ranah Inti Perak, tapi ini sudah cukup untuk menghabisi lima orang yang duduk di balkon lantai dua.
Master Hongtan menghela napas panjang, ia memang mengakui jika Mo Lian kuat untuk orang seusianya. Namun karena usianya itulah yang membuatnya menjadi besar kepala dan merasa bahwa ia bisa melakukan apapun, ia menganggap Mo Lian sangat bodoh. Disisi lain ia juga merasa kasihan pada Mo Lian karena masa depannya yang cerah akan berakhir pada hari ini.
"Pertandingan Beladiri! Dimulai!"
Ketiga puluh orang itu menekan kakinya di tanah, kemudian melesat tajam ke arah Mo Lian dengan tangan terkepal siap memukul. Orang-orang ini hanya berada ditingkat Wu-Zun, Wu-Zun dengan pelatihan teknik fana. Sehingga mereka semua masih belum bisa mengalirkan energi spiritualnya, dan untuk Wu-Zong, energi spiritual mereka sangat lemah.
Dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana, Mo Lian melompat ke sana kemari menghindari setiap pukulan. Kemudian ia menendang punggung salah satu dari mereka, membuat orang itu terlempar keluar arena dan menghantam kursi penonton.
Mo Lian menundukkan kepalanya mengindari serangan dari samping kanan. Ia memutar tubuhnya dan menendang dagu dari orang yang baru saja menyerangnya, hanya dalam sekali serangan, orang itu tak sadarkan diri dan terlempar keluar arena.
Ketika satu kakinya terangkat, dari belakangnya ada yang mencoba menendang kaki kirinya. Namun saat kaki kirinya hampir terkena tendangan, ia melompat menggunakan satu kaki dan mendarat menggunakan kedua tangannya yang menyentuh lantai.
Ia berputar bagaikan gasing dengan kedua kaki dibuka lebar dan menendang setiap orang yang mencoba mendekatinya. Hanya dari putaran kecilnya tercipta pusaran angin kecil, dan mulai menerbangkan beberapa orang yang sudah gak sadarkan diri keluar arena.
Tidak terasa sudah lebih dari sepuluh orang keluar dari arena dalam waktu kurang dari lima menit. Namun belum ada tanda-tanda stamina Mo Lian habis ataupun keringat keluar dari tubuhnya, ini seperti mengatakan bahwa Mo Lian tidak bersungguh-sungguh dalam menghadapi ketiga puluh orang.
Saat Mo Lian berputar-putar, ada seorang pemuda lainnya yang melompat tinggi kemudian mencoba menendang pangkal pahanya. Tentunya Mo Lian tidak tinggal diam, bagaimanapun pangkal pahanya ada masa depannya. Ia menekan tangannya di lantai yang membuatnya sedikit terangkat, dengan cepat ia salto ke belakang menghindari serangan itu.
Mo Lian kembali menekan kakinya di lantai arena, ia menghilang di udara kosong dari pandangan semua orang. Kemudian muncul kembali di depan orang yang mencoba menghancurkan masa depannya, ia mengayunkan kakinya menyerang pangkal paha dari pemuda itu.
__ADS_1
Pemuda itu meringis menahan rasa sakit dengan kedua tangan menyentuh pangkal pahanya, dan kedua paha yang saling bersentuhan. Sontak semua orang yang melihat itu juga membuat postur tubuh yang sama.
Meski bukan mereka yang mendapat serangan, tapi semua pria yang di sini dapat merasakan apa yang dirasakan pemuda itu.
Tidak berhenti disitu saja, Mo Lian mencengkeram leher pemuda itu kemudian membantingnya keras di lantai arena. Terlihat retakan besar bagaikan jaring laba-laba dengan pemuda itu tergeletak di pusat retakan.
Mo Lian mengayunkan kakinya kembali menendang perut bagian kanan dari pemuda itu, dan membuat pemuda yang tak diketahui namanya terlempar ke luar arena.
Bukannya takut dan menyerah, peserta yang tersisa mulai mengeluarkan pedang yang disarungkan di pinggang. Mereka melesat tajam dan menusukkan pedangnya ke arah wajah Mo Lian.
Mo Lian memiringkan kepalanya menghindari serangan pedang itu, ia melangkahkan kaki kanannya ke depan, kemudian telapak tangan kirinya menyentuh dada orang itu.
Sentuhan itu sangat pelan, semua orang yang melihat itu terdiam dan menghentikan serangannya. Mereka tidak mengerti apa yang dilakukan Mo Lian, namun beberapa detik kemudian, energi spiritual berwarna biru transparan keluar dari punggung pemuda yang diserang Mo Lian.
"Uhuk." Pemuda itu terbatuk dengan seteguk darah segar keluar dari dalam mulutnya. Kemudian berlutut dengan kedua lutut menyentuh tanah, lalu tengkurap tak sadarkan diri.
Ini adalah serangan pelepasan energi spiritual. Hanya perlu menyentuh target, kemudian melepaskan energi spiritual dengan jumlah yang sangat besar untuk dapat ditanggung oleh target.
Meskipun terlihat sederhana, tapi sebenarnya ini sangat sulit bagi orang-orang yang tidak memiliki pengendalian energi spiritual yang mumpuni. Bahkan, kelima orang yang duduk di balkon lantai dua juga tersentak dan berdiri dari tempat duduk mereka.
Terdengar teriakan dari arah jam 4 dan 8. Dengan sedikit gerakan, Mo Lian mundur selangkah ke belakang mengindari dua serangan pedang. Ia menyentuh punggung kedua orang itu, kemudian mengeluarkan serangan pelepasan energi spiritual.
Sudah banyak peserta yang kalah, entah itu terlempar ke luar arena, maupun tak sadarkan diri. Namun peserta-peserta yang tersisa tidak menampilkan tanda-tanda akan menyerah, mereka semua malah semakin menjadi-jadi ingin menyerang Mo Lian.
Kali ini di depan dan belakangnya sudah ada peserta lainnya yang menusukkan pedangnya ke arah Mo Lian. Mo Lian hanya diam tak bergeming dari tempatnya berdiri, namun ketika kedua pedang itu hampir menyentuh pakaiannya. Secara tiba-tiba Mo Lian kembali menghilang dari pandangan semua orang.
"Arrgghh!"
Terdengar suara teriakkan kesakitan di pusat arena. Terlihat kedua peserta saling menancapkan pedangnya di tubuh satu sama lain, untungnya serangan itu tidak cukup dalam untuk membunuh keduanya.
Semua penonton membuka mulutnya lebar, mereka tidak berharap jika Mo Lian dapat memanfaatkan kecepatannya untuk bisa mengalahkan dua peserta secara bersamaan. Tidak, kesampingkan soal itu dulu, yang lebih mengejutkannya adalah fakta bahwa Mo Lian belum mengeluarkan setetes pun keringat dalam pertandingan kali ini.
Sekarang di atas arena tersisa empat orang termasuk Mo Lian. Mo Lian menatap ketiga orang ditingkat Wu-Zong yang berdiri di depannya.
__ADS_1
Salah satu dari mereka mengangkat pedangnya tinggi, kemudian mengayunkannya ke arah Mo Lian setelah dialiri energi spiritual.
Siluet bulan sabit transparan keluar dari pedang itu mengarah pada Mo Lian. Terlihat di permukaan lantai arena garis lurus sedalam lima inchi karena terkena embusan angin dari serangan pedang.
Mo Lian yang melihat siluet bulan sabit itu hanya diam tak bergeming dari tempatnya berdiri, ia menaikkan satu tangannya, kemudian menjentikkan jarinya pada siluet bulan sabit. Seketika siluet bulan sabit itu berbalik arah mengenai ketiga orang di depannya, membuat ketiga orang itu terluka parah, darah segar mulai mengalir dari sayatan-sayatan di tubuh mereka.
Tapi mereka semua tetap berdiri tidak menampilkan tanda-tanda menyerah. Melihat itu, Mo Lian menendang lantai yang dipijaknya, kemudian lantai batu sedikit tercongkel dan terbang melesat menembak ketiga orang itu hingga gak sadarkan diri.
Hanya dalam kurun waktu kurang dari sepuluh menit, Mo Lian sudah mengalahkan ketiga puluh orang ditingkat Wu-Zun dan Wu-Zong.
Master Hongtan yang melihat itu hanya terdiam. Tak lama kemudian ia menggelengkan kepalanya menenangkan diri, lalu mengangkat tangannya ke udara. "Pertandingan Beladiri dimenangkan oleh Mo Li—"
"Tunggu!"
Terdengar suara nyaring dari balkon lantai dua. Semua orang yang mendengar itu mengalihkan perhatiannya, terlihat seorang pria tua berambut panjang menatap tajam ke arah Mo Lian.
"Apakah kau yang menghancurkan Kapten Pasukan Taring Naga kami?"
Mo Lian menaikkan sebelah alisnya, kemudian tersenyum kecil ketika melihat kedua wanita yang pernah ditemuinya sedang berdiri di belakang pria tua itu. "Maksudmu banci berambut biru? Dia Kapten Pasukan Taring Naga? Bukankah dia terlalu lemah untuk dikatakan sebagai seorang Kapten? Aku menyerang juga bukan tanpa alasan, itu karena dia membawa 30 orang untuk mengepungku."
Percakapan diantara penonton terjadi ketika mendengar balasan dari Mo Lian. Kemudian mereka semua mengalihkan perhatiannya pada pria tua yang berdiri di lantai dua untuk melihat responnya.
"Itu karena kau yang mencelakai anggota Pasukan Taring Naga terlebih dahulu di gang dekat SMA 1 Chengdu!" Pria tua itu tetap menyalahkan Mo Lian.
Mo Lian terdiam sejenak, kemudian tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Lucu sekali. Apakah orang itu berambut kuning dan bernama Hong? Apakah anggota Pasukan Taring Naga berkerja untuk sebuah keluarga dan menguasai suatu daerah bawah tanah?"
"Kau—"
"Jangan banyak omong! Kau turun ke sini. Hanya Wu-Dan tahap Menengah berani-beraninya berdiri di atas sana, kau membuat leherku sakit!"
...
***
__ADS_1
*Bersambung...