Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 118 : Membunuh!


__ADS_3

Mo Lian mengarahkan pedangnya pada ratusan orang yang berada di depannya, ia harus menyelesaikan semuanya dengan cepat agar tidak ada bala bantuan yang datang. Jika bala bantuan datang, itu hanya akan menyusahkan dirinya untuk menembus tingkat.


"Baiklah. Mari kita lanjutkan pertarungannya."


Tubuh semua orang bergetar hebat saat melihat pedang yang berada di genggaman Mo Lian, mereka tidak menduga jika pedang yang tampak tak berguna itu memiliki kekuatan yang luas biasa. Tapi ketakutan mereka tidak berlangsung lama, karena keserakahan mereka, mereka menghilangkan rasa takut dan ingin cepat-cepat membunuh Mo Lian.


Bunuh! Hanya kata itu saja yang terbesit di dalam pikiran semua orang. Mereka berlari ke arah Mo Lian dari segala arah dengan masing-masing senjata di tangan.


Mo Lian hanya terdiam tak bergeming dari tempatnya berdiri, namun saat serangan mereka semua hampir mengenainya, ia sedikit membungkukkan badannya dengan lutut ditekuk.


Tidak terjadi apa-apa untuk beberapa saat, hingga detik berikutnya, tiba-tiba terlihat garis-garis berwarna biru terang yang bergerak-gerak ke mana-mana, dan memotong tubuh mereka semua menjadi potongan kecil.


Dalam waktu seperkian detik, Mo Lian mengayunkan pedangnya ratusan kali ke segala arah, dan membunuh sekitar 200 orang yang mengepung.


Mo Lian mendongak sembari berdiri dengan benar, di sekelilingnya hanya tersisa 500 orang lagi yang sepuluh persen darinya adalah Ranah Inti Perak tahap Awal, atau Wu-Sheng, dan jika di Negeri Surgawi, itu sebut Yin He.


"Ka- Kabur. Aku tidak ingin hadiah yang ditawarkan, tidak ada artinya jika hadiah sangat besar namun kau mati!" Salah seorang dari mereka berteriak, kemudian berbalik pergi meninggalkan tempat pertempuran.


Mo Lian tersenyum tipis, ia mengangkat tangan kirinya ke udara, tercipta sebuah bola cahaya yang sangat besar dan menyilaukan mata. Ia mengubah posisi tangannya yang terbuka menjadi jari telunjuk dan tengah di arahkan ke langit, membuat cahaya berbentuk bola itu berputar-putar dan mengeluarkan jarum kecil yang menyerang ke segala arah.


Jarum cahaya yang melesat itu memiliki jumlah lebih dari 100 ribu jarum. Dengan jumlah sebanyak itu, sudah bisa dipastikan jika orang-orang sekitar tidak akan ada yang selamat.


Teriakan-teriakan kesakitan terus terdengar saling bersahutan dari segala sisi. Hanya dengan satu teknik, semua orang sudah mati terbunuh dan berubah menjadi potongan daging kecil, darah mengalir deras membentuk genangan yang cukup besar.


Untuk serangan ini sendiri ia tidak sampai menghancurkan Cincin Ruang mereka. Ia melepaskan energi jiwanya dan menggerakkan seluruh Cincin Ruang untuk mendekatinya, kemudian ia menyimpannya ke dalam kantung kulit.


"Aku sudah membunuh mereka semua, tapi aku masih belum puas, itu karena belum membunuh orang yang memerintahkan penyerangan ini. Lebih baik aku pergi sedikit keluar dari Hutan Jinma ini, seharusnya orang itu akan menyusul saat mengetahui tidak ada satupun orang suruhannya yang kembali," ucap Mo Lian yang menyimpan kembali Pedang Patah.


Mo Lian berlari kembali ke arah utara, pergi menuju ke tepian dari hutan.


Sepuluh menit kemudian, Mo Lian sudah sampai di tempat yang sekitarnya masih membutuhkan setengah jam lagi untuk meninggalkan hutan. Saat ini ia sedang duduk di dahan pohon yang cukup besar, cukup untuk tempat beristirahat.


Mo Lian duduk bersandar di dahan pohon sembari melihat jauh ke arah jalanan yang menuju kota. Ia naik lebih tinggi di batang pohon dan berdiri di puncaknya, dari sini ia bisa melihat lebih jelas jika ada ratusan orang lainnya yang bergegas menuju Hutan Jinma, yang dipimpin oleh seorang pria muda yang berselisih dengannya.


Tiga puluh menit kemudian, ratusan orang itu sudah masuk ke dalam jangkauan serangnya. Tanpa berlama-lama lagi, ia mengangkat tangan kanannya ke udara dan menciptakan tombak yang terbuat dari cahaya kuning keemasan.


Kekuatan ratusan orang itu sendiri berada ditingkat Fase Lautan Ilahi tahap Awal, dan yang tertinggi adalah Ranah Inti Perak tahap Menengah.


Mo Lian menarik tangan kanannya ke belakang punggungnya, kemudian mengayunkan tombaknya mengarah pada ratusan orang yang bergegas masuk ke dalam hutan.

__ADS_1


Wush!


Tombak cahaya Mo Lian bergerak sangat cepat, bahkan saking cepatnya, sampai-sampai membuat udara bertekanan tinggi yang menerbangkan pepohonan sekitar dan membentuk parit dalam.


Duarr!


Tombak itu meledak begitu saja sesaat setelah menancap di tanah, ledakan yang begitu besar membuat semua orang yang berada di kota dapat mendengarnya dan menjadi penasaran akan apa yang terjadi.


"Sepertinya aku terlalu berlebihan lagi, dengan ledakan yang sangat besar dan asap yang membumbung tinggi, orang-orang dari kota akan pergi ke sini untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya memiliki waktu sekitar empat puluh menit untuk mengakhirinya."


Mo Lian mengalihkan pandangannya pada pusat ledakan. "Tapi ... aku cukup kagum karena mereka memiliki artefak yang bisa digunakan untuk menahan serangan Ranah Inti Emas, sepertinya, satu persen kekuatanku masih tidak cukup."


Mo Lian turun dari puncak pohon dengan cara melompat ke pusat ledakan, yang jaraknya sekitar satu mil dari tempatnya berdiri.


Ketika ia sampai tepat di hadapan semua orang, angin bertiup kencang menerbangkan asap yang menghalangi pandangan. Bisa terlihat jika sebagian dari mereka sudah terbunuh, bersamaan dengan Cincin Ruang yang hancur menjadi debu, orang-orang yang terbunuh adalah orang yang tidak memiliki artefak.


"Yo. Apakah kalian semua mencariku?" tanya Mo Lian tersenyum ramah.


"Ka- Ka- Kau. Ba- Ba- Bagaimana kau bisa hidup, seharusnya kau sudah terbunuh," ucap Tuan Muda Xu terbata-bata sembari menunjuk jarinya ke arah Mo Lian.


Ekspresi wajah Mo Lian berubah saat itu juga, ia paling tidak suka jika ada yang menunjukkan jarinya pada wajahnya. Ia mengalirkan energi spiritualnya pada telapak tangan, terlihat sebuah pedang cahaya yang dilapisi oleh energi kuat berwarna biru.


"Aarrggg!" Pemuda yang bernama Xu Feng itu berteriak kesakitan saat merasakan tangannya yang terputus.


"Kalian! Bu- Bunuh dia!" Xu Feng berteriak memerintahkan kepada semua orang yang masih bertahan hidup.


Meski tidak mengerti apa yang terjadi karena kejadian yang barusan itu sangat cepat, mereka tetap melaksanakan tugasnya dengan benar dan bergegas menyerang Mo Lian.


Mo Lian yang melihat itu hanya bisa terdiam dan menggeleng pelan, gerakan mereka sangat-sangat lambat baginya. Kemudian serangan mereka sangat monoton karena selalu melompat seraya mengayunkan pedang, terlebih lagi teknik mereka hanya sampai batas Kuning, atau Merah.


Walaupun Mo Lian masih ingin bermain-main dengan mereka semua, dan membunuhnya satu persatu tanpa menggunakan senjata, melainkan murni kekuatan fisik. Tapi itu tidak bisa dilakukan, karena kesadarannya menangkap ribuan pasukan yang sedang bergegas kemari, dengan yang terkuat berada ditingkat Inti Emas tahap Awal.


Mo Lian menghembuskan napas panjang dengan rasa dingin keluar dari mulutnya, ia menatap dingin semua orang, kemudian mengayunkan kembali pedangnya dengan kecepatan tertinggi.


"Eh—"


Pandangan semua orang berputar-putar melihat langit dan tanah secara bergantian, dan membuka mata lebar saat melihat tubuh mereka sendiri yang tanpa kepala.


Xu Feng membelalakkan matanya saat melihat apa yang terjadi di depannya, ia tidak berharap jika ia berurusan dengan orang yang salah. Keringat dingin mulai mengalir deras membasahi tubuhnya, ia mundur beberapa langkah ke belakang hingga terduduk karena kedua lututnya lemas.

__ADS_1


"Ka- Ka- Kau. Mu- Mundur."


Mo Lian menatap tajam Xu Feng, ia mengalihkan perhatiannya pada Cincin Ruang yang berada di jari telunjuk, kemudian ia menyeringai lebar saat menyadari jika di Cincin Ruang itu memiliki harta yang berlimpah, tidak kalah dengan milik Paviliun Alkimia.


Puluhan orang yang tersisa, yang berdiri di belakang Xu Feng bergidik ngeri saat melihat tatapan mata Mo Lian. Tanpa pikir panjang, mereka semua bergegas kembali meninggalkan Xu Feng seorang.


Mo Lian mendongak menatap puluhan orang itu, kemudian ia mengayunkan pedang Element Cahaya secara horizontal. Terlihat siluet bulan sabit berwarna kuning keemasan bergerak mengarah pada puluhan orang itu, membuat apapun yang dilaluinya akan terbelah dua begitu mudahnya seperti membelah 'Tahu'.


Bukan hanya itu saja, dalam jarak satu mil, seluruh pepohonan maupun batu besar juga ikut terbelah dengan sangat rapi.


Mo Lian menunduk menatap Xu Feng dengan tatapan tajam, kemudian berkata dengan dingin, "Sekarang giliranmu."


Tubuh Xu Feng bergetar hebat. Namun getaran tubuhnya tidak berlangsung lama saat mengingat sesuatu, ia berdiri dari tempat duduknya dan menatap tajam Mo Lian. "Aku adalah calon murid di Istana Surgawi, jika kau membunuhku, kau akan diburu oleh mereka semua. Apakah kau tahu, kekuatan orang itu sudah mencapai Ranah Ziran Yu Ren tahap Menengah!"


Mo Lian mengerutkan keningnya, ia sangat muak dengan permainan kata-kata yang diharuskan untuk menebak, hanya untuk mencari tahu tingkatan pastinya.


Alam dan Manusia!


Xu Feng menyeringai lebar saat melihat Mo Lian yang hanya tetap diam, ia merasa di atas angin, dan kemenangan berada di tangannya. "Hahaha! Hancurkan kultivasimu dan potong satu tangan, maka aku akan menganpu—"


"Persetan!" Mo Lian mengayunkan pedangnya menebas batang leher Xu Feng.


Pandangan Xu Feng tetap terjaga untuk beberapa detik, hanya saja suaranya tidak bisa keluar. Hingga detik berikutnya, ia merasa jika Mo Lian yang berada di depannya sedikit miring dan kemudian ia tak bisa lagi melihat.


Mo Lian mengambil seluruh Cincin Ruang yang tersebar di mana-mana, dari awal pertempuran tadi dan sekarang, ia mendapatkan 800 Cincin Ruang. Nantinya ia akan memilah satu persatu dan menggabungkannya pada satu cincin, tapi tetap saja, seluruh cincin akan dibawanya.


Mo Lian melepaskan energi jiwanya pada telapak tangan, terlihat api biru yang sesuai dengan warna energinya. Api ini bukanlah elemen, melainkan api yang digunakan untuk menyuling pil.


Ia menembakkan api itu pada sekitarnya, membakar apapun yang berada di sini hingga berubah menjadi abu.


"Istana Surgawi. Hanya Alam dan Manusia tahap Menengah," ucap Mo Lian tersenyum tipis.


Mo Lian berbalik ke arah selatan, dan kembali melanjutkan perjalanannya tanpa memadamkan api yang membakar hutan.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2