Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 374 : Sedikit Kewalahan


__ADS_3

"Yue Fu. Bisakah aku mengambil semua? Walaupun aku merasa itu berlebihan dan mungkin menghancurkan tubuhku, tapi aku ingin mengalami pertempuran hidup dan mati. Itu bisa menerobos batas kekuatanku, terakhir kali aku bertarung bersungguh-sungguh, itu empat belas tahun lalu."


Mo Lian masih ingat pada saat itu dia di Alam dan Manusia, tapi harus melawan 16.000 Jiwa Emas dan 9 Dao Immortal. Itu adalah pertempuran hidup dan mati setelah kelahirannya kembali.


Melawan mereka, dia bagaikan setetes air di lautan.


Komandan, Tetua Pertama, Kedua, Ketiga, Keempat, Kelima dan Keenam mendengar itu. Ada kemarahan yang terlihat jelas di wajah mereka dan keinginan membunuh terpancar dari mata mereka yang memiliki kilatan cahaya.


Kemarahan Komandan cepat datang dan cepat pergi. "Kau memiliki keberanian, tapi keberanian saja tidak cukup."


"Aku tahu." Mo Lian berpindah, dia menyingkat jarak ribuan mil dan tiba di depak Komandan yang baru menyelesaikan kata-katanya.


Kunpeng yang berada di belakang hanya digunakan untuk menjaga Bumi. Mo Lian sangat ingin bertarung dengan cara kuno untuk meningkatkan pengalaman melawan Dewa Bumi. Apalagi lawannya lebih kuat dari Lu Yi dan Zhu Tong. Itu membangkitkan semangatnya.


Mo Lian membawa tinjunya kanannya ke arah wajah Komandan yang namanya sendiri belum diketahuinya dan tidak berkeinginan untuk mengetahuinya.


Komandan tidak mengharapkan kecepatan Mo Lian dapat menyamai Dewa Bumi, tapi kecepatan ini masih masuk dalam jangkauan pandangnya. Dia mengangkat tangannya, menahan pukulan itu.


Tinju dan telapak tangan bertemu, itu menimbulkan dentuman keras yang memekakkan telinga.


Komandan tidak mengubah ekspresi wajahnya saat tangannya sedikit mundur karena pukulan yang cukup kuat. Bibirnya melengkung membentuk senyum dingin.


Semua pasukan yang melihatnya pun tidak bergerak, hanya memandang Mo Lian dengan tatapan cemooh. Kesombongan Mo Lian membawanya pada kematian, itulah yang dipikirkan semua orang.


Namun saat semua orang memandang dengan cemooh, tiba-tiba tinju Mo Lian yang tertahan itu bergerak, seperti roket yang telah menyala di sikunya. Itu mendorong tinjunya lebih jauh dengan kecepatan tinggi,


Komandan tersentak, matanya melebar. Belum berlalu dua detik, pukulan Mo Lian menguat, itu tidak bisa ditahannya lagi dan menghantam wajahnya sebelum terhempas karena pukulan.


Dewa Bumi yang berasal dari Generasi Ketiga dan Keempat tersentak dalam kejutan. Apalagi Generasi Kelima yang belum mencapai Dewa Bumi, mata mereka melebar dengan rasa tak percaya.


Mo Lian mengangkat tangan kirinya, Niat Pedang telah menjadi satu dan menciptakan kekuatan yang ratusan kali lebih kuat ketimbang 9 Niat Pedang yang terpisah.


Tangan kirinya miring saat terangkat, kemudian mengibaskan tangannya secara menyilang.


Semua Profound Ark bergetar, kemudian ada lintasan pedang yang terbentuk mengikuti gerak tangannya. Itu berwarna biru dan sangat tipis seperti sehelai rambut, kemudian terdengar suara kayu yang bergesekan, sebelum akhirnya Profound Ark itu terbelah dua mengikuti lintasan pedang.


Duarr! Duarr! Duarr!


Profound Ark meledak satu demi satu dengan api besar seperti meledaknya bintang, membawa gelombang panas yang merusak dan membunuh semua orang di bawah Dewa Pemula.


Heavenly Immortal yang diagung-agungkan di Bintang Utama, itu seperti sampai di hadapan ledakan mematikan ini. Jika ledakan itu berasal dari serangan biasa, ledakannya tidak terlalu keras, tapi Profound Ark itu meledak karena terkena serangan tepat di bagian terpentingnya, bagian pengumpul roh untuk mengendalikan Profound Ark.


Mo Lian menoleh, melihat Tetua Pertama yang berada di sebelah kirinya. Dia mengangkat tangan kirinya lagi untuk melepaskan serangan.


Ayunan tangannya membelah ruang, menimbulkan tekanan udara yang memborbardir kepala Tetua Utama.


Tepat saat serangan itu hampir mengenainya, tiba-tiba Komandan sudah berhasil mengendalikan tubuhnya yang terhempas. Komandan langsung tiba di samping Mo Lian dengan tangan terkepal dan diselimuti oleh energi ungu yang membentuk gelang, melingkari sepanjang lengannya.


Bukan hanya energi yang menyelimutinya, tapi ada sarung tangan emas yang terbuat dari Baja Surgawi, dan itu sepertinya adalah Artefak Surga.


Guntur bergemuruh ketika Komandan mengayunkan tangannya mengarah pada pinggang Mo Lian.


Bang!


Dentuman keras terdengar saat Komandan berhasil memukul pinggang Mo Lian, membuat Mo Lian terhempas seperti jet supersonik yang menimbulkan gelombang kejut saat terbang di atas lautan.


Mo Lian melesat sangat cepat seperti komet yang meninggalkan ekor cahaya di belakangnya dan pergi ke arah Matahari.


Booom!

__ADS_1


Mo Lian menghantam Matahari dengan sangat keras dan menimbulkan ledakan dengan sambaran petir merah yang mencoba membakar tubuhnya.


"Menantu!" Wang Yue Fei berteriak keras dengan khawatir melihat Mo Lian yang terhempas.


Hong Xi Jiang tidak memperlihatkan perubahan ekspresi pada wajahnya. Dia sudah mengharapkan hal ini. Memang Mo Lian sangat mengesankan karena mampu melawan pembudidaya yang berada satu ranah di atasnya, dan dia percaya bahwa Mo Lian mampu. Tapi, tidak jika lawannya menggunakan Artefak atau Senjata Surgawi.


"Semua Tetua, Komandan Kedua dan Ketiga. Bunuh dia! Yang lain, musnahkan Bangsa Zhongguo!" Komandan Pertama memberi perintah.


Yang lain, terdiam sejenak dengan mulut terbuka. Tidak berharap jika Komandan Pertama akan meminta bantuan kepada mereka hanya untuk berurusan dengan Dewa Hitam tahap Akhir. Tapi, mereka tidak berkata apa-apa dan melesat ke arah Matahari.


Mo Lian berada di dalam lubang dengan nyala api yang terus mengelilinginya, tapi api itu tidak melukainya, melainkan menyembuhkannya. Bagaimanapun, dia telah memahami Dao Api dan Matahari. Matahari, sudah seperti rumahnya sendiri.


"Ini sakit ..." Mo Lian memandang kosong saat masih berada di dalam lubang. Kemudian sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum tipis. "Sudah lama, ini sangat bagus. Bahkan jika tubuhku meledak-ledak, aku harus menggunakan kesempatan ini untuk menempa tubuhku. Jika beruntung, aku bisa menerobos Dewa Bumi!"


Jika benar-benar menerobos Dewa Bumi, Mo Lian memiliki keyakinan yang tinggi dalam menyusup ke Organisasi Penjarah Spiritual.


Ketika Mo Lian sedang menikmati perasaan yang sudah lama tidak dirasakannya. Tiba-tiba ada suara siulan seperti benda yang berayun dengan cepat.


Benar saja, Mo Lian melihat lintasan pedang berbagai warna yang melintas ke arahnya.


Slash!


Tanpa memberi kesempatan pada Mo Lian untuk berdiri, lintasan pedang itu melewatinya, memotong tangan kirinya dengan rapi dan membelah Matahari menjadi dua bagian.


Booom!


Matahari meledak dengan ledakan yang tak terbayangkan, itu mengguncang seluruh Tata Surya, bahkan merusak bintang-bintang yang tidak termasuk dalam Tata Surya.


Bumi bergetar, daratan di sana terus meledak dan tsunami setinggi ratusan meter tercipta.


Nyala api yang dihasilkan dari ledakan Matahari itu tidak berlangsung lama sebelum akhirnya terhisap oleh kekuatan kuat, dan terlihat lubang hitam yang berputar-putar di tempat Matahari meledak sebelumnya. Lubang hitam itu terus menghisap apa pun di sekitarnya, bahkan Bumi pun tidak luput dari hisapannya.


Suara menggema di kehampaan, dan langkah kaki terlihat berjalan keluar dari lubang hitam.


Terlihat Mo Lian yang mengenakan celana putih, rambut putihnya berkibar seolah-olah ada angin yang meniupnya. Atasannya telah terbakar, memperlihatkan badan atasnya yang berotot tanpa lemak sedikit pun.


Tangan kirinya terputus sampai pangkal bahu, dan tidak ada tanda-tanda akan tumbuh.


Tapi, tiba-tiba ada cahaya putih yang bersinar di sekitar bahunya, dan tangan dengan kain muncul dari kekosongan yang langsung terhubung dengan bahunya.


Walaupun dia bisa menumbuhkan tangan sesuka hatinya, sangat sayang dan boros jika membuang tangannya yang mengandung Energi, Darah, Tulang, Otot dan Tendon dari Tubuh Emas.


Mo Lian mengepalkan tangan kirinya, kemudian mengayunkannya ke belakang seperti memukul dinding.


Crack! Craaang!


Ruang di belakang Mo Lian retak seperti kaca, yang kemudian pecah berkeping-keping termasuk lubang hitam yang berhenti berfungsi.


"Kau tidak mati?" Komandan Pertama terkejut melihat Mo Lian yang selamat dari serangan gabungan 6 Tetua.


Walaupun berada di Generasi Keempat, tapi mereka semua adalah Dewa Bumi. Harusnya Dewa Hitam tidak bisa bertahan.


Mo Lian melesat kembali ke arah Tetua Keenam yang merupakan terlemah dari mereka. Tidak seperti sebelumnya, dia langsung melepaskan serangan terkuat.


Duarr!


Tetua Keenam langsung meledak tanpa meninggalkan jejak ketika terkena pukulan yang merupakan teknik dari Sekte Zhongjian. Setelah menguasai sembilan gerakan, mereka bisa menggabungkannya menjadi pukulan terkuat yang satu pukulan bisa melepaskan 99.999 bayangan tak kasat mata yang menghancurkan.


Tepat saat Mo Lian baru membunuh Tetua Keenam, Komandan Ketiga menggunakan pedangnya, tiba-tiba muncul di depan Mo Lian dengan sedikit membungkuk.

__ADS_1


Komandan Ketiga menebas dada Mo Lian, meninggalkan luka dalam dari pinggang kiri ke pundak kanan.


Luka Mo Lian mengeluarkan asap putih dengan suhu yang meningkat.


Komandan Kedua bergerak dari atas, melepaskan serangan mematikan yang bisa menghancurkan belasan galaksi bersamaan.


Telapak tangan oranye turun dari atas, itu terkompresi dari ukuran besar seperti planet, terus mengecil sampai ukuran normal. Walaupun tidak menghancurkan galaksi, tapi serangan itu fokuskan pada Mo Lian, sehingga yang menerimanya benar-benar akan mati. Bahkan Setengah Dewa Surga tidak akan berani macam-macam.


Bang!


Telapak itu mengincar kepala Mo Lian, tapi melesat dan mengenai pundaknya yang terluka karena pedang. Telapak tangan itu menimbulkan gelombang kejut yang menyebar ratusan juta mil dari pusat ledakan.


Zrash!


Tubuh Mo Lian terbelah dua mengikuti sayatan pedang.


Tapi itu belum berakhir, Komandan Pertama mengeluarkan artefak lain berbentuk kayu berwarna hitam, itu memancarkan kilatan petir yang mematikan. Bahkan Komandan Pertama yang memegangnya merasakan sakit sampai artefak yang digunakan untuk memukul Mo Lian tadi rusak.


"Mati!" Komandan Pertama melempar Kayu Petir Ungu. Artefak yang mampu digunakan untuk meredam tubuh agar bisa meningkatkan kekuatan fisik, tapi tidak ada yang pernah selamat dari Kayu Petir Ungu.


Bahkan Komandan Pertama harus mengorbankan Artefak Surga tingkat Atas yang dipakainya.


Kayu itu melesat ke arah Mo Lian, bersamaan dengan semua orang yang pergi menjauh dan membiarkan Mo Lian dimakan oleh sambaran dari Kayu Petir Ungu.


Blarr!


Ledakan sambaran petir menghantam Mo Lian, memperlihatkan badai petir ungu yang menelannya.


Duarr!


Petir itu kembali meledak, menyebar ke segala arah dan tidak terlihat apa pun di dalam pusat ledakan.


"Dengan ini, berakhir!" Komandan Pertama tersenyum dingin.


Tidak ada yang tersisa, bahkan Inti Jiwa Mo Lian telah tersapu bersih.


Tapi, yang tidak diketahui. Ada kilatan emas setipis rambut, itu melesat ke arah Tetua yang masih hidup. Setiap kilatan emas melewati mereka, mereka akan kehilangan nyawa dengan tubuh yang melayang di angkasa.


Setelah semua Tetua terbunuh, kilatan emas itu berdiri ratusan mil di depan Komandan Pertama.


Sehelai emas itu memancarkan cahaya emas seperti pusaran, menimbulkan gelombang angin panas yang sangat kuat sampai Komandan Pertama mundur ribuan mil ke belakang.


Di dalam pusaran emas, terlihat tubuh manusia yang perlahan dibentuk kembali. Itu dimulai dari tulangnya yang berwarna emas, otot-otot, darah emas yang dilindungi tulang rusuk dan kemudian menyebar membentuk daging. Hingga seterusnya sampai membentuk manusia utuh.


Dalam rekonstruksi tubuh, samar-samar terlihat pola petir yang tertanam di dalam kulit.


Komandan yang melihat itu, membelalakkan matanya lebar dengan rahan yang hampir terjatuh.


Tubuh itu adalah tubuh Mo Lian yang sebelumnya telah dihancurkan. Dia membuka matanya perlahan, membuka dan mengepalkan tangan kanannya. "Tubuh Abadi dan Emas, sudah ditempa dengan kekuatan petir ..."


Mo Lian mendongak menatap Komandan Pertama. "Terima kasih, berkat bantuan kalian, aku berhasil menerobos hambatan dan bahkan menggabungkan Tubuh Abadi dan Tubuh Emas ..."


Tubuh Abadi, dia tidak akan kehabisan energi spiritual, tidak akan pernah terbunuh bahkan jika Inti Jiwa-nya hancur, selama masih ada jejak yang tertinggal. Entah itu darah, tulang, abu tubuhnya, rambut, secuil jiwa dan lain sebagainya.


Kemudian, dengan bergabungnya Tubuh Abadi dan Emas. Dia tidak akan mati selama Semesta masih memiliki energi spiritual, atau dia yang menginginkan dirinya mati.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2