Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 131 : Alam dan Manusia yang Lemah


__ADS_3

Pria tua yang merupakan pendiri dari Istana Surgawi itu menggertakkan gigi sembari mencengkeram jari-jarinya yang terkepal. Ia sangat kesal dengan sikap yang ditampilkan oleh Mo Lian, ia sudah dengan baik hati menawarkan akan mengampuni, tapi yang didapatnya malah sebaliknya.


"Beraninya kau! Jiwamu akan ku murnikan untuk meningkatkan kekuatanku!"


Mo Qian yang mendengar itu tidak tinggal diam, ia mengangkat tangannya ke udara, membuat energi spiritual berfluktuasi sangat kuat di langit biru. Dari energi spiritual itu memunculkan awan hitam dengan kilatan petir berwarna kuning keemasan dalam radius 500 mil, menutupi seluruh wilayah Istana Surgawi.


"Teknik Petir, Gerakan Kelima. Hujan Kesengsaraan Petir!"


Kilatan petir terus menyambar di bawah awan hitam, hingga akhirnya memadat berkumpul pada satu titik, membentuk naga yang tercipta dari petir.


Dengan lambaian tangan Mo Qian, naga petir itu bergerak sangat cepat mengarah padanya. Kemudian menyebar ke segala arah saat naga itu mengenai tubuhnya, berubah menjadi ribuan petir kecil, namun kekuatannya tidak berkurang sedikitpun.


Petir itu sanggup membunuh Ranah Inti Perak tahap Menengah, dan mengubah Fase Lautan Ilahi menjadi abu yang tertiup angin. Lalu apa yang terjadi jika naga petir itu tidak dipisah menjadi ribuan bagian? Entahlah.


Mo Lian yang melihat serangan itu hanya diam di tempatnya, ia merasa serangan itu akan berbelok saat hampir mengenainya, ini menjelaskan jika pengendalian Element Petir milik Ayahnya sudah berada ditingkat yang cukup tinggi.


Bahkan jikapun serangan itu mengenainya, serangan itu bukannya menyakitinya, melainkan memperkuat tubuh fisiknya.


"Oh?" Mo Lian menaikkan sebelah alisnya saat merasakan bahwa kloningnya sudah membunuh ratusan orang yang mengepung Wei Yian Fei dan Wei Yian Ning.


Mo Lian menengadahkan kepalanya melihat awan hitam yang masih belum menghilang, awan hitam itu terus memperlihatkan kilatan petir dengan jumlah yang sangat banyak, kemudian petir itu terus menyambar membunuh jutaan orang yang mengelilingi dengan ganasnya.


"Memang pantas disebut Hujan Kesengsaraan Petir." Mo Lian menganggukkan kepalanya, ia setuju dengan penamaan itu. Petir akan terus menyambar tanpa henti jika penggunanya tidak berhenti, hanya saja teknik ini terlalu banyak menghabiskan energi spiritual.


"Hahahaha!" Mo Lian tertawa terbahak-bahak saat melihat jutaan orang yang panik mencoba menyelamatkan diri. Sangat berbeda sekali dengan perkataan mereka yang mengatakan akan membunuhnya, tapi menahan serangan dari satu orang saja tidak mampu.


"Ada apa pria tua? Bukankah kau mengatakan akan memurnikan jiwa anakku? Mengapa kau terlihat sangat kerepotan hanya dengan petir-petir ini? Bahkan bawahanmu sudah mati setengahnya," ucap Mo Qian yang mengarahkan telapak tangannya pada pria tua yang berdiri jauh di depannya.


Pria tua itu menggertakkan giginya, dengan tangan yang terkepal erat. "Baji****! Beraninya! Kalian yang hanya Ranah Jin Xin saja berani sombong! Akan aku perlihatkan apa itu Dewa sebenarnya! Aku orang terkuat di Negeri Surgawi yang sudah menembus Ranah Ziran Yu Ren!"


Pria tua yang tidak diketahui namanya itu melepaskan seluruh kekuatannya, mengakibatkan tanah bergetar hebat seperti gempa bumi, angin berputar-putar menerbangkan pepohonan di bawahnya, menghilangkan awan hitam yang menutupi langit biru.


Mo Qian yang merasakan aura dari pria tua itu mundur untuk beberapa puluh langkah ke belakang.

__ADS_1


Berbeda dengan Mo Lian, ia hanya berdiri di tempatnya tanpa bergeming, bahkan berkedip pun tidak.


"Woah, auranya cukup besar, cukup untuk mengguncang Bumi. Tapi, itu terlalu lemah!" teriak Mo Lian yang menarik kembali aura membunuhnya.


"Diam!" Pria tua itu menyondongkan badannya ke kiri, kemudian menghilang di udara kosong. Saat ia muncul kembali, ia muncul tepat di depan Mo Lian dengan tinju diselimuti energi kuat.


Mo Lian hanya diam tak bergerak dari tempatnya, bahkan saat melihat serangan yang diarahkan padanya. Namun saat pukulan itu hampir mengenai kulit wajahnya, tiba-tiba terdengar dentuman keras yang memekakkan telinga bersamaan dengan angin yang menyebar luas seperti pedang tajam.


Bukan hanya angin, tapi asap tebal juga membumbung tinggi di tempat Mo Lian berdiri.


Semua orang yang mengelilingi tempat pertempuran menyeringai lebar, mereka sudah sangat yakin jika Mo Lian akan mati tanpa menyisakan mayatnya.


Tidak lama kemudian, angin kembali bertiup menerbangkan asap tebal yang menghalangi pandangan. Terlihat pria tua yang mereka agung-agungkan tengah menggertakkan gigi dengan keringat dingin yang mengalir deras.


Sedangkan untuk Mo Lian, ia menatap datar pria tua itu tanpa menampilkan perubahan ekspresi wajahnya, dengan tangan kanan terangkat yang menggenggam erat pergelangan tangan pria tua.


"Ziran Yu Ren? Maksudmu sampah?" Mo Lian menatap tajam pria tua di depannya, kemudian memutar tangan pria tua itu hingga terdengar suara retakan kasar, menandakan bahwa persendian lengan pria tua itu telah patah.


Tidak berhenti disitu saja, Mo Lian mengayunkan kakinya menendang pangkal paha pria tua di depannya. "Kau sudah sangat tua, tidak membutuhkan itu lagi!"


"Aarrgghh!" Pria tua itu berteriak kesakitan dan melesat tinggi ke langit.


Saat pria tua itu melesat karena tendangan Mo Lian, di langit sudah menunggu kloningnya yang sudah kembali. Kloningnya memutar tubuhnya mengambil ancang-ancang, dan kemudian menendang pundak pria tua menggunakan tumit kakinya.


Wush! Boom!


Pria tua itu melesat bagaikan anak panah mengarah pada daratan, menciptakan lubang besar dengan retakan-retakan berbentuk seperti jaring laba-laba yang menghancurkan bangunan sekitar.


Semua orang terdiam saat melihat pemandangan mengerikan di hadapan mereka. Pendiri Istana Surgawi yang digadang-gadang sebagai orang terkuat di Negeri Surgawi, tapi diperlakukan seperti seorang bocah di hadapan pemuda yang tidak diketahui namanya, namun dikenal sebagai Putra dari Raja Iblis yang mengamuk 15 tahun lalu.


Pria tua yang berada di dasar lubang bangkit secara perlahan. Ia menengadahkan kepalanya melihat Mo Lian yang melayang dengan tenangnya di langit. "Ba- Bagaimana mungkin kau bisa menahan serangan ku?!" tanyanya berteriak dengan suara serak dan berat.


Mo Lian menundukkan kepalanya menatap tajam pria tua itu. "Kau hanyalah Ziran Yu Ren palsu yang meningkatkan kekuatannya dengan menyerap kultivasi orang lain, kau tidak mengolah energi spiritual dengan baik. Seorang yang sudah menembus Ranah itu harusnya memiliki penampilan yang tetap muda meski sudah berusia sepuluh ribu tahun ..."

__ADS_1


"Tapi kau, melihat dari usia tulangmu, kau bahkan belum sampai dua ribu tahun. Tapi sudah terlihat sangat tua seperti hampir mati."


"Berisik! Beraninya kau menghina Leluhur kami!" Terdengar suara teriakan lainnya yang tiba-tiba muncul di sebelah kanan Mo Lian.


Dengan gerakan cepat, Mo Lian merentangkan tangan kanannya menangkap kepala pria paruh baya di sebelahnya. "Bisakah kau diam?" tanyanya yang mencengkeram kepala pria paruh baya itu hingga hancur menjadi bubur.


Mo Lian kembali mengalihkan perhatiannya pada pria tua yang dipanggil dengan sebutan 'Leluhur'. "Aku bahkan bisa mengalahkan dua puluh orang sepertimu tanpa menggunakan sedikitpun energi spiritual ..."


Mo Lian menolehkan kepalanya melihat Mo Qian yang berdiri beberapa puluh langkah di belakangnya. "Ayah, apakah kau ingin membunuh mereka semua yang ada di sini?"


Mo Qian mengerutkan keningnya keheranan saat mendengar pertanyaan itu. "Bukankah harusnya begitu? Mereka berbuat semena-mena terhadap orang kecil dengan mengatasnamakan Dewa. Terlebih lagi, kita harus membasmi musuh sampai ke akar-akarnya agar tidak timbul masalah lain di kemudian hari," jawabnya sembari mengangkat kedua bahu.


Mendengar jawaban itu, Mo Lian tersenyum tipis. Ia senang jika pemikirannya akan pertempuran sama seperti Ayahnya, ia juga tidak akan menyisakan seorangpun dalam pertarungan.


Mo Lian melepaskan energi spiritualnya melapisi tubuh Ayahnya, kemudian membuat segel tangan dengan kecepatan yang dapat terlihat oleh mata. "Teknik Badai Air, Gerakan Keempat. Gelombang Tsunami!"


Daratan dalam radius 600 mil bergetar sangat hebat seperti gempa bumi. Perlahan, daratan dalam radius itu mulai retak dan air melonjak beberapa ratus meter ke udara dalam volume yang sangat besar.


Kemudian air itu berjatuhan menghantam daratan, meratakan semua hal yang dilalui oleh gelombang air yang tingginya lebih dari 50 meter. Menghancurkan pepohonan, menghancurkan bangunan, membunuh orang-orang yang tidak bisa terbang.


Lembah dalam radius 700 mil, lembah yang merupakan tempat dibangunnya Istana Surgawi, sudah terendam oleh air yang sangat dalam.


"Teknik Element Api. Cincin Tornado!"


Dari dalam tubuh Mo Lian keluar energi spiritual dengan suhu yang sangat panas. Perlahan energi spiritual itu berubah menjadi cincin api yang sangat kecil, hanya cukup untuk mengelilingi tubuhnya, hingga detik berikutnya cincin api itu membesar dan menyebar luas membakar apapun yang dilewatinya tanpa meninggalkan jejak ataupun Inti Jiwa.


Jutaan orang yang mengepungnya, sudah terbunuh tanpa bersisa. Entah itu terkena lonjakan air, ataupun terbakar habis menjadi abu oleh api yang keluar dari tubuhnya.


"Sekarang, hanya kau saja yang tersisa!" Mo Lian menatap tajam Leluhur Istana Surgawi yang mencoba mempertahankan diri dengan berdiri di batang pohon.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2