Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 66 : Embun Spiritual


__ADS_3

Mo Lian yang telah sampai di lantai dasar memilih untuk duduk di meja cafe yang kosong. Kemudian memesan minuman yang ringan, untuk mengisi waktu luangnya, ia memainkan game handphone. Sebenarnya ia ingin pulang, namun sangat menyebalkan jika harus berjalan kaki, jadi ia memilih untuk menunggu jam pulang perusahaan, sehingga bisa pulang bersama ibunya.


Tiga jam kemudian, jam kerja kantor sudah berakhir, ratusan karyawan yang bekerja pulang ke tempat masing-masing. Di perusahaan Mo Lian sendiri tidak ada kata lembur, mereka semua akan mulai bekerja saat sudah masuk waktunya, dan akan pulang jika sudah tepat pada pukul 16.00 waktu setempat.


Namun untuk cafe, itu dibuka 24 jam. Hanya saja lift yang menghubungkan tiap lantai ditidak fungsikan, bersama dengan tangga darurat yang dikunci, dan untuk waktu malam, penjaga yang menjaga pintu masuk lebih banyak dari sebelumnya. Para penjaga-penjaga ini adalah pengawal dari Keluarga Qin yang sedikit banyak telah belajar kultivasi.


"Lian'er. Tidak bisakah kau membeli mobil? Bukankah ini sudah waktunya kau membeli mobil? Apakah kau tidak malu selalu meminta Ibumu untuk mengantarkan mu kemanapun?" Su Jingmei menggerutu di dalam mobil sembari mengemudikan mobilnya.


Mo Lian yang duduk di sebelah Ibunya hanya bisa diam dan menolehkan kepalanya melihat ke jendela keluar. Ia menggaruk pelan pipi kanannya sembari tertawa canggung. "Haha haha. Ibu tahu, kan. Aku tidak bisa menyetir mobil."


Su Jingmei menghela napas panjang. "Apakah perlu Ibu mendaftarkan mu dalam kursus mobil? Supaya kau bisa menyetir sendiri, dan Qin Nian tidak harus selalu menyetir saat jalan denganmu."


Mo Lian terdiam, meski ia sangat kuat, tapi ia tidak akan bisa mengalahkan Ibunya. Apalagi dalam hal perkataan, jadi selama berada di mobil hingga sampai di rumahnya, ia hanya menundukkan kepalanya mendengar ocehan Ibunya.


Setelah sampai di rumah, Mo Lian langsung naik ke lantai tiga. Ia mengambil botol giok kosong, kemudian turun kembali menuju halaman belakang. Di lantai tiga Mansion Bai Long sudah diubah menjadi sebuah tempat yang digunakan untuk menyimpan harta-harta Sekte Dongfangzhi.


Meskipun di lantai tiga tidak diberi pelindung maupun kunci, namun tidak ada yang berani naik ke sana kecuali diperintahkan oleh Mo Lian.


Saat sudah berada di halaman belakang, ia menggambar lingkaran di atas lantai halaman yang terbuat dari batu marmer, lalu meletakkan botol giok di tengah-tengah lingkaran. Kemudian ia melangkah ke tepi lingkaran dan memprakarsai seni yang ia tahu untuk mengaktifkan lingkaran yang dibuatnya.


"Array Kondensasi Spiritual!"


Sesuai dengan namanya, ini adalah array yang dapat mengubah uap ataupun udara di sekitar menjadi air. Teknik ini biasanya digunakan oleh para Kultivator yang ingin memiliki cadangan energi spiritual, namun tidak memiliki uang untuk membeli pil pemilih energi spiritual. Namun teknik ini hanya bisa digunakan oleh orang yang paham tentang energi spiritual, dan memiliki pengalaman dan pengendalian yang tinggi terhadap energi spiritual.

__ADS_1


Angin berembus kencang, berputar-putar di langit atas halaman belakang bersamaan dengan energi spiritual dalam beberapa mil jauhnya. Perlahan, cahaya emas terang yang merupakan warna asli dari energi spiritual terlihat dan mulai bergabung dengan udara sekitar, berubah menjadi uap emas yang menutupi pandangan.


Uap emas itu berputar-putar seperti terhisap oleh lubang hitam, di bawah pusaran itu terbentuk selang kecil yang sangat tajam. Dari bagian itu pula terlihat setetes cairan berwarna emas yang kilaunya lebih terang dari perhiasan manapun, setetes cairan itu menetes tepat mengenai botol giok.


Botol giok sedikit bergetar dan memancarkan cahaya dengan warna yang sama. Cairan emas itu terus menetes sampai setengah botol giok itu terisi, atau sebanyak 65 mililiter.


Setelah semua cairan menetes, angin tak lagi berembus, keadaan sekitar telah kembali normal seperti tak pernah terjadi apa-apa.


Mo Lian berjalan ke tengah-tengah lingkaran, ia sedikit membungkukkan sembari mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil botol giok berisikan cairan energi spiritual. "Meski hanya sebanyak ini. Tapi sudah lebih dari cukup untuk membuat 20 Cairan Pil Pingyuan."


Mo Lian menutup botol giok kemudian memasukkannya ke dalam kantung celananya. Ia merentangkan kedua tangannya, seketika dedaunan yang berada di halaman menari-nari di atas tanah, lalu bergerak ke satu titik seperti menanggapi panggilan darinya. Dengan jentikkan jarinya, dedaunan yang sudah menumpuk di satu tempat itu terbakar habis tanpa menyisakan bahkan untuk debu sekalipun.


"Bersih-bersih halaman sudah selesai." Mo Lian menepuk-nepuk telapak tangannya, kemudian berbalik memasuki rumah.


"Ibu, bukankah Ibu terlalu kejam mengomeliku saat berada di depan mereka." Mo Lian menolehkan kepala melihat ketiga orang yang berada di dapur.


Su Jingmei terkekeh kecil, ia mengusap lembut puncak kepala Mo Lian yang bersandar di perutnya. "Maaf, maaf. Lagipula itu untuk kebaikanmu, bagaimana jika kau diajak reuni nanti? Apakah kau tidak malu diantar Ibu?"


Masih dengan kepala dibenamkan di perut Ibunya, Mo Lian menggelengkan kepala. "Tidak. Tapi jika Ibu tidak mau mengantar, maka lebih baik aku terbang saja," ucapnya dengan nada sedikit kesal.


Su Jingmei kembali terkekeh, meski ia sudah sering melihat Mo Lian yang seperti ini. Tapi ini masih terlalu mengejutkan baginya, bagaimanapun dulu Mo Lian tidak pernah berlaku manja dan selalu dewasa. Tapi ia tidak mempermasalahkan itu semua, ia menanggap hal itu wajar, itu karena saat dulu ia tidak pernah memanjakan Mo Lian. Alasannya sudah bisa ditebak, saat itu ia selalu bekerja dan bekerja, sehingga selalu meninggalkan tanggungjawab menjaga Mo Fefei kepada Mo Lian.


Mo Fefei sendiri yang berada di samping Su Jingmei hanya terdiam dan menggelengkan kepalanya, ia masih tidak dapat mempercayai apa yang dilihatnya. Kakaknya, Mo Lian yang dapat mengguncang Kota Chengdu, yang dapat menahan tembakan RPG. Namun bermanja-manja seperti anak kecil pada Ibu.

__ADS_1


Su Jingmei menolehkan kepalanya melihat jam besar yang terpajang di sudut ruangan. Kemudian kembali menoleh melihat Mo Lian yang masih memeluk pinggangnya. "Lian'er. Sudah malam, cepat tidur." Ia menoleh kembali menatap Mo Fefei. "Fei'er, kau juga cepat tidur."


"Baik, Bu."


Mo Lian dan Mo Fefei naik ke lantai dua memasuki kamar masing-masing meninggalkan Su Jingmei seorang.


Su Jingmei menggelengkan kepalanya. "Anak itu." Ia menengadahkan kepala melihat langit-langit ruangan, kemudian bergumam seorang diri, "Qian Gege. Aku percaya kau masih hidup di luar sana, aku berharap keluarga kita dapat bersatu kembali, anak-anak kita sekarang sudah besar. Lian'er juga sudah mulai pandai berbisnis, tapi dia semakin manja setiap harinya. Begitu juga dengan Fefei, dia menjadi gadis yang cantik ..."


Su Jingmei terdiam sejenak, ia menundukkan kepalanya dengan kedua tangan menutupi wajahnya. "Qian Gege. Aku merindukanmu," ucapnya dengan nada pelan dan bisa terdengar suara tangis darinya.


***


Mo Lian bersandar di pintu kamarnya, meski ibunya bergumam di lantai dasar. Ia bisa mendengar suara itu, ia menghela napas panjang dengan air mata mengalir dari kedua sudut matanya. "Ayah, bertahanlah sebentar lagi. Aku pasti akan mencarimu, masih banyak lagi hal yang belum kita lakukan sebagai ayah dan anak."


Sebelumnya, Mo Lian sangat membenci ayahnya karena pria itu meninggalkan ibunya, dan mengakibatkan kehidupan keluarganya menjadi berantakan. Namun saat ia mendengar penjelasan dari Qin Tian perihal pertempuran di perbatasan, kebencian pada ayahnya menghilang, dan berubah menjadi kagum.


"Setelah Organisasi Dunia Hitam ku hancurkan nanti. Barulah aku pergi ke perbatasan untuk mencari keberadaan ayah! Aku percaya ayah masih hidup!"


Mo Lian kembali menghela napas panjang, ia berjalan ke tempat tidur dan melemparkan dirinya di atas kasur. Perlahan, ia memejamkan matanya dan tertidur lelap.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2