Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 284 : Kembali ke Bintang Utama


__ADS_3

Mo Lian memperlakukan Hong Xi Ning dengan sangat lemah lembut agar tidak membuatnya merasa tidak nyaman atau sakit. Ia juga masih belum melepaskan pakaian dari tunangannya itu, setidaknya menunggu sampai benar-benar nyaman.


Hingga lima menit berlalu, napas Hong Xi Ning terasa berat dan wajahnya terlihat sangat merah.


"Aku lepaskan." Mo Lian membantu Hong Xi Ning untuk duduk kembali.


Hong Xi Ning hanya mengangguk kecil, mengikuti setiap arahan Mo Lian. Ia juga mengangkat kedua tangannya, agar memudahkan untuk melepaskan pakaian yang ia kenakan. Terlihat dalaman berwarna biru langit bergaya modern yang ia kenakan, menyangga dua gunung dan ada jurang curam di antara dua gunung.


Mo Lian sedikit terkejut dengan ukuran Hong Xi Ning, mengingat bagaimana nampak luarnya saat mengenakan pakaian, itu tidak terlalu besar. "Bolehkah?" Ia mendongak menatap wajah Hong Xi Ning.


Hong Xi Ning tidak terlalu mengeri maksud pertanyaan itu, namun ia hanya menganggukkan kepalanya.


Tanpa berlama-lama lagi, Mo Lian melepaskan penyangga itu. Dengan tangan kirinya, ia menyentuh dada kanan, dan menghisap permen merah muda di bagian kiri seraya memeluk pinggang Hong Xi Ning.


Hong Xi Ning merasa seperti ada sengatan listrik yang menyetrum tubuhnya saat Mo Lian menghisap dadanya. Hisapan dan belaian tangan Mo Lian ini membuat ada rasa aneh yang membuat tubuhnya terasa panas, detak jantungnya berdegup kencang, dan mulai ada suara aneh yang keluar dari mulutnya tanpa bisa dikontrol.


"Mo ... Lian—"


Mo Lian mendongak untuk mencium bibir Hong Xi Ning, memainkan lidahnya untuk saling bertemu, lalu menariknya kembali. "Jangan panggil aku dengan nama itu. Ingat, kita sudah bertunangan," ucapnya seraya meremas dada Hong Xi Ning.


Hong Xi Ning memalingkan wajahnya yang merah, menghindari tatapan mata Mo Lian. "Sa- Sayang? Nan Ren?"


"Apa pun yang Ning'er inginkan." Mo Lian mendorong Hong Xi Ning perlahan untuk kembali terlentang.


Mo Lian mencium bibir Hong Xi Ning, lalu menjilati bagian lehernya sampai ke dua gunung.


"Angkat pinggul mu."


Hong Xi Ning mengikuti arahan Mo Lian, lalu dalaman yang ia kenakan langsung terlepas karena ditarik. Ini sangat mengejutkannya, sampai menggunakan kekuatannya untuk menutupnya kembali. Namun ditahan oleh Mo Lian yang mengunakan kekuatan dari Dewa Semesta.


"Ning'er. Kau hampir membuat tanganku patah." Mo Lian membuka kedua paha Hong Xi Ning, lalu menindihnya meski belum memasukkannya.


"Nan ... Ren ... aaahhh ..." Hong Xi Ning tidak bisa menahan suaranya untuk tidak keluar. Ia tidak menduga akan merasakan perasaan aneh ini, sangat berbeda seperti yang diucapkan oleh Ibunya yang mengatakan rasanya sakit.


Mo Lian menggesekkan pedang dengan sarungnya berkali-kali, membuat Hong Xi Ning mengeluarkan suara yang lebih keras dan panjang.


Hingga belasan menit berlalu, Hong Xi Ning tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri, ia bergerak-gerak seperti mencoba menghilangkan rasa gatal pada bagian tubuhnya. "Nan ... Ren—"


Mo Lian mengecup lembut bibir Hong Xi Ning, seraya memasukkan pedang ke dalam sarungnya secara perlahan-lahan. Walaupun ini adalah kali pertamanya, insting prianya yang membuatnya mampu melakukan semua ini.

__ADS_1


Ketika baru masuk sedikit, Mo Lian merasakan rasa sakit di bibirnya, yang ternyata itu karena gigitan dari Hong Xi Ning.


"Sakit..."


Mo Lian memeluk erat Hong Xi Ning dan memainkan jari-jarinya untuk membuat tunangannya itu fokus pada yang lain, dan melupakan rasa sakit pada bagian bawah. Tapi, ternyata Hong Xi Ning malah mengigit pundaknya cukup dalam, sampai membuka luka yang mengeluarkan darah.


Hong Xi Ning yang mengigit pundak Mo Lian dengan mata tertutup itu akhirnya membuka matanya perlahan, seketika itu juga ia merasa bersalah. "Ma- Maaf ..."


Mo Lian menghela napas, lalu menatap wajah Hong Xi Ning dengan posisi seperti push up. "Rasa sakit ini tidak seberapa." Ia menoleh ke kiri melihat pundaknya sendiri. "Lihat."


Pundak kiri Mo Lian yang terluka itu sembuh dalam sekejap mata, tanpa meninggalkan bekas sama sekali, termasuk darah pun tidak ada.


Mo Lian mengalihkan perhatiannya ke bawah, terlihat ada darah yang membasahi pedangnya. Lalu ia kembali menatap wajah Hong Xi Ning. "Aku akan bergerak."


Hong Xi Ning memiringkan kepalanya. "Berge ... rak? Aaaahhh ... uuuhhh ..."


Mo Lian mulai bergerak perlahan agar membiasakan diri dan tidak membuat Hong Xi Ning merasa sakit, hingga belasan menit berlalu, akhirnya ia mulai mempercepat gerakannya.


Sesekali ia ingin berganti gaya, namun Hong Xi Ning mencubit kedua pipinya karena merasa itu sangat memalukan dan tidak pantas. Bagaimanapun, mereka berdua saat ini sedang menggunakan selimut untuk menutupi tubuh mereka.


"Ci ... um ... aaauhhh ..." Hong Xi Ning memegang wajah Mo Lian dan menariknya, lalu keduanya berciuman agar suaranya tidak keluar, karena terlalu memalukan untuk didengar.


Keduanya melakukannya hampir lima jam, dan kasur di mana mereka berdua bertarung sudah benar-benar basah karena keringat maupun cairan keduanya.


Mo Lian membiarkan Hong Xi Ning yang sedang tidur untuk memulihkan tenaga. Tenaga mereka berdua benar-benar terkuras, dan tentunya mereka berdua lebih senang bertarung dalam artian mempertaruhkan nyawa selama beberapa hari, karena itu tidak terlalu melelahkan.


Mo Lian bersandar pada sandaran tempat tidur seraya menoleh kiri mengusap lembut rambut Hong Xi Ning. "Hampir saja. Jika terlambat, aku akan menjadi Ayah."


Mungkin Wang Yue Fei tidak masalah jika saat ini juga Hong Xi Ning mengandung, tapi tidak dengan Hong Xi Jiang yang tentunya akan sangat marah, karena status mereka berdua belum resmi menikah.


***


Keesokan Harinya


Mo Lian dan Hong Xi Ning sudah bersiap-siap untuk kembali ke Bintang Utama, setelah tadi malam melakukannya lagi meski tidak terlalu lama saat pertama kalinya mereka.


Kedekatan mereka berdua lebih dekat dari sebelumnya, dan tentunya ini adalah hal yang baik.


Mo Lian menoleh ke kiri menatap wajah Hong Xi Ning seraya membuka celah ruang di depannya. "Ayo kembali."

__ADS_1


Hong Xi Ning yang menggandeng lengan kiri Mo Lian itu menganggukkan kepalanya. "Iya."


Keduanya memasuki celah ruang berwarna biru, yang kemudian celah itu tertutup saat mereka berdua sudah benar-benar tertelan ke dalamnya.


Ketika mereka tiba, mereka datang di dalam Kota Zhan tanpa harus melakukan pemeriksaan yang tidak perlu. Kedatangan keduanya cukup mengejutkan, dan semua pejalan kaki tidak ada yang berani menghalangi jalan mereka.


Secara diam-diam, banyak yang mengeluarkan Kristal Perekam untuk mengabadikan momen di mana Mo Lian dan Hong Xi Ning berjalan-jalan di Kota Zhan, yang tentunya ini sangat langka dan mungkin saja tidak bisa melihatnya lagi.


Tatapan Hong Xi Ning tertuju pada salah satu kedai makanan di jalan utama, yang antreannya cukup panjang.


"Apakah Ning'er ingin mencobanya."


Hong Xi Ning mendongak ke kanan, kemudian menundukkan kepalanya dengan anggukan kecil.


Mo Lian membawa Hong Xi Ning datang ke antrean untuk membeli Mantou.


Mantou adalah roti bulat kukus China yang biasanya dibuat polos, tanpa isian di bagian dalamnya. Kadang-kadang disajikan sebagai hidangan pendamping, meskipun lebih sering dikonsumsi langsung begitu saja. Mantou memiliki bentuk bulat padat dan merupakan makanan pokok masyarakat Tiongkok bagian utara.


Tapi Mantou di sini cukup berbeda, karena di dalamnya terdapat isian. Entah itu ayam dengan bumbu, daging bakar, sayur-sayuran dan lain sebagainya. Karena itulah Mantou di kedai ini cukup ramai dikunjungi.


"Silakan." Salah seorang menawarkan antreannya pada Mo Lian.


Mo Lian mengangkat tangan kanannya sejajar dengan bahu. "Tidak perlu, kami bisa menunggu." Walaupun ingin memakan Mantou, ia tidak bisa memotong antrean begitu saja.


Tapi, anak pemilik kedai datang dengan berlari-lari kecil menghampiri Mo Lian dan Hong Xi Ning. Kemudian membungkuk seraya menyodorkan sebungkus Mantou. "Te- Terima ini."


"Apakah tidak apa?"


Masih membungkukkan badannya, gadis berusia 14 tahunan itu menjawab, "Iya."


Mo Lian mengangguk kecil, menerima bungkusan itu dan membayarnya dengan Batu Spiritual kualitas Tinggi.


Gadis itu terkejut saat Batu Spiritual yang diterima, kemudian ia mendongak menatap Mo Lian. Namun ternyata dua orang di depannya sudah menghilang dari pandangannya.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2