
Mo Lian bersembunyi di suatu tempat yang pastinya tidak mudah ditemukan, ia sedang mempraktikkan semua keterampilan yang gunakan saat ini, ia memulainya dari awal karena memang Kekuatan Jiwa-nya tidak membawa kekuatan dari tubuh fisik.
"Semua kloning sudah mulai menyerap Esensi Element, tapi karena tekniknya belum sempurna, aku harus menunggu kloning untuk datang dan bersatu."
Mo Lian memejamkan matanya dan menghilangkan aura keberadaannya. "Karena tubuh ini bukan milikku, aku memiliki banyak kesempatan untuk menciptakan sebuah teknik baru. Dan, setelah kembali, aku bisa menanamkan teknik dari tubuh ini ke tubuh asliku."
"Pohon Dunia, Dewa Semesta dan Dewa Teratai. Untuk mendominasi di Alam Selestial, tiga kekuatan itu masih terbilang sedikit, aku harus menambah kekuatan lain."
Tubuh Mo Lian mulai mengeluarkan energi spiritual dengan warna yang bukan miliknya, warna energi itu adalah merah, tapi ini bukanlah kekuatan dari Ras Iblis atau Kultivator Iblis. Ini adalah kekuatan bawaan Duan Kun yang masih belum bangkit, dan yang Mo Lian lakukan sekarang adalah pertaruhan.
Bagaimanapun, meski ia berpengetahuan, ada hal-hal yang tidak ia ketahui, apalagi yang berasal dari Zaman Kuno.
Energi merah itu berkumpul di depan dadanya dan mulai membentuk siluet ikan kecil seperti ikan koi yang tidak berkekuatan, bisa dibunuh hanya dengan sentilan kecil di bagian kepala. Tapi ini barulah awalnya saja, karena saat sudah mendapatkan kekuatan penuh, ikan kecil ini bisa bersaing dengan Dewa Semesta.
"Duan Kun, siapa yang menduga kau memiliki darah dari Makhluk Mitologi, karena kau meninggalkan formasi array, maka kau sudah siap jika ada yang memanfaatkan tubuhmu. Tapi tenang, kita berada di jalan yang sama."
"Aku tidak tahu apakah kau sudah mati atau naik ke Alam Selestial. Jika yang aku kultivasikan kali ini gagal, maka kau masih hidup, tapi jika berhasil ... ." Mo Lian tidak melanjutkan ucapannya, karena tidak terlalu penting.
Mo Lian kembali fokus pada kultivasinya yang sedang membangkitkan Garis Keturunan Duan Kun; ikan koi kecil yang berada di depan dadanya mulai bergerak-gerak dengan mulut yang terbuka, menyerap aura spiritual di sekitar.
Ikan merah itu mengalami sedikit perubahan dalam bentuknya, ada sisik-sisik tebal yang berkilauan seperti emas, tapi emas itu tidak bertahan lama karena kembali berganti menjadi merah darah.
Penyerapan energi spiritual Mo Lian juga semakin cepat saat ikan koi mengalami pertumbuhan, seperti ada lubang hitam yang berada di depan dadanya.
Ketika Mo Lian sedang membangkitkan Darah Keturunan, ada kekuatan lain yang keluar dari tubuhnya, itu semacam Cincin Dewa yang sudah ia miliki, tapi berwarna oranye dan mengeluarkan api. Cincin itu tidak seperti Cincin Dewa yang berdiameter sekitar tiga meter, cincin yang baru muncul hanya seukuran cincin normal.
Walaupun masih terbilang sangat kecil, Mo Lian bisa meningkatkannya sampai seperti Cincin Dewa yang bisa menambah kekuatannya untuk mendominasi Alam Selestial.
Dengan kekuatan yang dimiliki Mo Lian, ia akan menjadi buronan yang diburu oleh ratusan bahkan miliaran orang di Alam Selestial. Jadi, daripada menahan diri dengan kekuatan lemah, lebih baik memperbanyak kekuatan.
Cincin kecil di punggung Mo Lian mulai membesar sampai seukuran gelang dan api yang dikeluarkan terlihat seperti Matahari, mengeluarkan suhu panas yang lebih tinggi dari Element Api.
__ADS_1
Cukup lama Mo Lian berkultivasi, sampai akhirnya ada tiga cahaya yang datang dari tiga arah berbeda. Tiga cahaya itu berwarna merah, perunggu dan biru yang memasuki tubuhnya.
Bang!
Kekuatan Mo Lian meningkat lagi saat 3 Esensi Element sudah benar-benar ia serap habis dan menyatu dengan Dantian-nya.
Mo Lian juga berencana untuk menyerap Esensi 6 Element lain, meski hanya Element Es dan Petir saja yang bisa diserap dengan mudah. Namun, tidak mungkin ia akan puas hanya dengan dua saja, di sana Zaman Kuno memiliki tempat asing yang memiliki Medan cocok untuk pelatihan.
***
1000 Tahun Kemudian
Tidak terasa sudah sangat lama Mo Lian tinggal di Zaman Kuno; kekuatannya yang sekarang sudah kembali ke Ranah God tahap Akhir, tapi sampai sekarang masih belum menemukan jawaban tentang Ras Malaikat dan Raksasa yang saling membunuh satu sama lain.
Mo Lian sedang duduk di tebing kecil di tepi danau dan mencoba memancing ikan untuk mengisi waktu luangnya; ia kembali ke tingkat puncak hanya dalam waktu dua tahun setelah kedatangannya di Zaman Kuno, dan ia sangat bosan.
"Aku sudah membunuh banyak monster, meningkatkan kekuatan Garis Keturunan sampai ke tingkat tertinggi. Aku sudah mendapatkan kembali kekuatan Dewa Semesta dan Pohon Dunia, bahkan ada tambahan Dewa Kehidupan, Dewa Matahari dan Kekuatan Garis Keturunan."
Energi sebesar kacang itu membesar lebih besar dari bus, mencoba menelan monster dan mengubahnya menjadi ikan panggang.
Mo Lian menggerakkan dua jarinya seperti sedang menantang seseorang untuk bertarung, meski tidak ada manusia di sekitarnya. Ikan panggang terbelah menjadi puluhan ribu bagian kecil, yang salah satunya terbang ke genggaman Mo Lian.
Mo Lian menyantap daging ikan. "Meskipun tanpa bumbu, monster ini mengandung banyak energi spiritual, sehingga rasanya sangat gurih dan manis."
Mo Lian merebahkan tubuhnya dan menutup matanya, mencoba untuk beristirahat. Ia tidak perlu khawatir tentang keadaan sekitar, karena tidak ada yang berani mengganggu ketenangannya. Bahkan saat raksasa datang, mereka akan kembali tanpa berkata-kata.
"Ada ribuan Heavenly Immortal dan ratusan Ranah God."
Mo Lian sudah menyebarkan Kesadaran Spiritual-nya dan mengetahui kekuatan Bumi pada Zaman Kuno. Tapi, ia belum mengambil tindakan, karena memang niat awalnya hanya ingin mencari misteri pertarungan antara dua ras.
Mo Lian membuka matanya lagi dan mengangkat tangannya dengan jari telunjuk mengarah ke langit. Ada energi berwarna hijau yang berkumpul di jarinya, dan saat energi itu menghilang, terlihat kupu-kupu kecil yang berdiam di jarinya, lalu terbang ke langit.
__ADS_1
"Walaupun Dewa Kehidupan, aku tidak bisa menciptakan manusia atau menghidupkan kembali manusia yang sudah mati. Bahkan, jika aku mampu, aku harus berpikir beberapa jali untuk menghidupkannya."
Mo Lian kembali menutup matanya, namun hanya beberapa detik saja karena tiba-tiba merasakan fluktuasi energi spiritual yang sangat kuat. Ia bisa melihat aliran aura spiritual di langit mulai kaca tak beraturan, awan-awan juga menghilang dan langit mulai gelap.
Langit gelap mulai retak seperti jaring laba-laba dan aura spiritual maupun udara di Bumi menghilangkan, ledakan-ledakan keras juga bisa didengar.
Craaang!
Langit pecah seperti kaca yang jatuh dan meledak, mengubah langit menjadi putih terang seperti ruangan gelap uang disinari lampu secara tiba-tiba.
Bukan hanya disitu saja, masih ada fenomena lain yang sangat mengejutkan semua makhluk hidup di Bumi.
"Ras Raksasa! Kaisar Giok memerintahkan kami, Ras Malaikat untuk memusnahkan kalian atas kejatahan memelihara dan membesarkan Binatang Empat Kejahatan!"
"Eh!?" Mo Lian tersentak tak percaya saat mendengar suara yang menggema di langit; tidak pernah terpikirkan olehnya jika 4 Kejahatan menjadi alasan mengapa Ras Malaikat turun ke Bumi untuk membunuh Ras Raksasa.
Tapi anehnya, Mo Lian tidak merasakan keberadaan 4 Kejahatan meski Kesadaran Spiritual-nya di sini lebih kuat dari Kesadaran Spiritual-nya di masa depan.
Booom! Booom! Booom!
Tombak emas yang tingginya ribuan mil melesat jatuh dan menghantam daratan, menimbulkan gelombang udara yang menyebar ke segala arah; dalam radius belasan ribu mil, semuanya tersapu bersih dan menjadi tanah tandus.
Tombak emas itu mengeluarkan kilatan petir emas, yang kemudian menyebar ke segala arah dan meledak tanpa henti.
Mo Lian yang sudah duduk, menengadahkan kepalanya melihat langit putih yang memunculkan pusaran cahaya berwarna emas. Dari dalam pusaran, terlihat ada sebuah kaki yang sangat besar dan hanya dalam waktu singkat saja, wujudnya terlihat jatuh menghantam tanah.
Gelombang udara kembali menyebar ke segala arah dengan ledakan energi spiritual; menghancurkan semuanya dalam radius ratusan ribu mil, dan semua itu terjadi hanya karena satu dari Ras Malaikat turun.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...