
Pak Tua menyimpan Tulang Monster Dewa Surga. Kemudian dia mengatupkan kedua tangannya. "Karena kalian ingin mati, maka akan aku kabulkan!"
Energi oranye meledak darinya, menghempaskan semua orang. Tapi sebelum mereka bisa terlempar lebih jauh, tiba-tiba ada kekuatan aneh yang datang dari segala arah dan menahan mereka.
Bang!
Punggung mereka menghantam sesuatu yang keras dan tak kasat mata, membuat mereka merasakan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh.
Pak Tua membuka kedua tangannya, merentangkan selebar mungkin.
Ledakan kembali datang dari tubuhnya saat aura kuat lepas, dia menekan 119 Tanah Suci ke segala arah sampai tidak mampu bergerak di bawah tekanan dua arah.
Pak Tua berbalik seraya mengangkat tangannya, kemudian mengayunkannya secara vertikal ke bawah. Tiba-tiba raungan harimau terdengar menggema di langit dengan guntur yang menggelegar. Ilusi cakar harimau terbentuk di atas kepalanya, itu berayun dan menciptakan tebasan seperti pedang.
Tiga tebasan dari cakar harimau itu melesat, memecah ruang untuk beberapa saat sebelum menutup kembali.
Bang!
Tebasan itu menghantam penghalang yang diciptakannya sendiri, kemudian penghalang itu hancur berkeping-keping seperti kaca. Dewa Bumi yang berada di sana, terluka parah maupun terbunuh tanpa bisa menyelamatkan Inti Jiwa-nya.
Pak Tua terbang dengan kecepatan penuhnya ke arah lubang di penghalang yang diciptakannya, dia mengabaikannya yang lain asalkan dia bisa melarikan diri.
"Kau pikir bisa lari dari sini?!"
Whooooosh! Bang!
Tombak api melesat membelah udara dan mengenai punggung Pak Tua, kemudian meledak dengan kekuatan Dewa Surga tahap Awal.
Pak Tua tersentak, merasakan sakit yang luar biasa di punggungnya saat dia memuntahkan seteguk darah segar. Dia masih bertahan, lalu kembali mempercepat terbangnya untuk melarikan diri dari tempat ini. Dia juga harus bertahan selama enam hari ini sampai Dunia Rahasia menutup dan mengusirnya.
Mo Lian yang berada di balik layar, tidak akan membiarkan semuanya berakhir dengan cepat. Dia melambaikan tangannya, mengakibatkan badai petir yang jatuh seperti hujan. Tanpa peringatan, Domain Petir langsung terbentuk dalam radius 7.500 mil, mengurung Dewa Bumi dan Dewa Surga di dalamnya.
Sambaran petir biru-emas menghantam salah satu Dewa Bumi tahap Menengah, membuatnya terluka parah yang dekat dengan kematian.
Dua belas elemen yang dikuasi Mo Lian sudah sampai tingkat Hukum. Jika dia lebih memahaminya sampai mendapatkan pengadilan dari Dao, maka kekuatan 12 Elemen yang dimilikinya akan berada ditingkatkan yang berbeda.
Jika musuhnya hanya menguasai Hukum Api dan dia Dao Api. Kekuatan api yang dimiliki oleh musuhnya tidak akan berguna, bahkan padam sesaat dilepaskan dan yang terburuk adalah menyerang penggunanya sendiri.
Sampai saat ini, Mo Lian hanya menguasai satu. Dao Pedang!
Mengingat bagaimana awal dia tiba di Sekte Zhongjian setelah berkeliling selama beberapa tahun seorang diri, dan dengan percaya dirinya dia mengatakan bahwa semuanya sudah mencapai Dao. Jika mengingatnya, itu sangat memalukan dan dia seperti ingin kembali ke masa lalu untuk menampar dirinya sendiri.
...
Di bawah sambaran petir yang tidak pandang bulu, Pak Tua kesulitan bergerak dan mendapatkan banyak luka. Bukan hanya dia harus melarikan diri dari serangan 119 Tanah Suci, tapi dia juga harus menghindari sambaran petir yang menyakitkan.
__ADS_1
"Pak Tua! Serahkan tulang itu!" Salah seorang berteriak.
Mo Lian menarik kembali serangannya saat mendengar itu, membuat langit kembali cerah.
Tapi detik berikutnya, serangan orang lain sudah terbentuk di langit yang cerah. Telapak tangan harimau putih muncul di langit, ukurannya sangat besar dengan diameter ratusan mil.
Cakar itu mengakibatkan badai angin, dan semua hal yang terbuat dari logam mulai bergetar, termasuk lahar yang sudah membeku mulai retak.
"Mati!"
Pak Tua merasakan tekanan dari langit. Dia berbalik menoleh ke atas, kemudian dia mengangkat tangannya menciptakan ilusi cakar harimau yang sama, tapi berwarna oranye.
Ketika dia serangan itu bertemu, dentuman keras yang membosankan terdengar dengan gelombang kejut yang menghempaskan kedua belah pihak.
Daratan yang sudah rata, mengalami perubahan. Tanah berlubang membentuk danau, lahar panas yang berubah menjadi batu, telah hancur dan berubah menjadi debu.
Tanah yang subur sudah berubah menjadi gurun pasir yang panas tanpa air sedikit pun maupun tumbuhan.
Pak Tua batuk beberapa kali saat dia keluar dari tumpukan pasir. Dia melihat pria paruh baya berambut ungu, mengenakan pakaian merah dan kehilangan satu tangan. "Han Shian. Bagaiman kau memiliki teknik dari Klan Harimau Putih?"
Han Shian melepaskan mantel merahnya, memperlihatkan tubuhnya yang berotot dan ada simbol kepala harimau putih di dadanya. "Apakah kau menyerah? Kau sendirian, kami masih ada 70 Dewa Bumi dan 15 Dewa Surga!"
Pak Tua melihat sekelilingnya. Dia sudah dikelilingi dan tidak ada celah untuk melarikan diri, bahkan jika dia lebih kuat dari mereka semua, dia hanyalah Dewa Surga tahap Menengah yang baru menerobos. Di bawah kepungan dari 15 Dewa Surga, sudah dipastikan dia akan kalah. Apalagi dengan tambahan 70 Dewa Bumi.
...
Jiang Chen terdiam sejenak seraya menggaruk kepalanya. "Itu, Klan Harimau Putih sudah lama musnah. Teknik-teknik mereka tidak ditemukan, semuanya hilang tanpa sisa, tapi banyak orang yang berusaha mencari peninggalan mereka. Konon, siapa pun yang mampu mempraktikkan Teknik Klan Harimau Putih, akan mampu menerobos Dewa Surga tahap Akhir di bawah seratus ribu tahun."
Mo Lian yang awalnya sedikit semangat, terdiam tanpa bisa berkata-kata. Dia mengira itu akan menjadi hal yang luar biasa, tapi ternyata hanya hal buruk semacam itu. Dia berharap untuk hal yang tidak berguna.
Bahkan dia merasa Teknik Ras Vermillion dari Wilayah Barat lebih berharga.
Kembali lagi ke medan pertempuran, Pak Tua berada di jalan buntu. Dia tidak bisa melakukan apa pun. Dia menggertakkan giginya, lalu mengeluarkan Tulang Monster Dewa Surga dan melemparkannya sejauh mungkin.
Han Shian yang sudah bersiap-siap untuk melepaskan serangannya, menariknya kembali dan bergegas mengejar Tulang Monster Dewa Surga tanpa mempedulikan Pak Tua.
Dewa Bumi dan Dewa Surga yang lain mengikuti Han Shian.
Pak Tua batuk beberapa kali. Dia memegangi pundak kanannya yang terluka parah akibat berbenturan dengan serangan dari Teknik Klan Harimau Putih.
"Sial!"
Pak Tua mengeluarkan Talisman, dia membakarnya dengan energi spiritual. Kemudian melemparkannya ke tengah-tengah formasi Dewa Bumi dan Surga yang mengejar Tulang Monster Dewa Surga.
Pak Tua mengangkat tangan kirinya di depan dada dengan jari telunjuk dan tengah menghadap ke langit. "Talisman Pembunuh: Kehancuran Ruang."
__ADS_1
Talisman yang telah dibakar dan dilempar, memancarkan energi oranye kuat. Energi itu membentuk bola oranye yang menyilaukan mata, kemudian terlihat retakan di permukaannya yang mengeluarkan cahaya putih dengan bentuk seperti tombak.
Duarr!
Energi itu meledak sangat keras dan kuat. Celah ruang dan waktu terbuka, daya hisap yang kuat seperti lubang hitam datang dari celah ruang, menghisap semua orang di sekitarnya. Celah ruang itu hanya terbuka sesaat, tapi sudah menimbulkan banyak korban.
Jika mereka tidak mati, tubuh mereka akan terpotong menjadi dua bagian dan itu tidak ada bedanya dengan kematian.
Whooooosh! Booom!
Han Shian terkena ledakan, membuatnya melesat seperti bola meriam dan menghantam tanah. Dia batuk beberapa kali seraya berdiri perlahan, terlihat punggungnya yang terluka parah sampai memperlihatkan tulangnya.
Han Shian menggertakkan giginya dan berbalik melihat celah ruang yang menutup perlahan. "Liu Gong! Akan kupastikan kau mati setelah keluar dari sini!"
Pak Tua atau Liu Gong, mendengar teriakan Han Shian, tapi dia tidak terlalu peduli dan hanya ingin meninggalkan tempat ini. Adapun Tulang Monster Dewa Surga, dia bisa mendapatkannya lagi setelah keluar dari Dunia Rahasia.
Mo Lian yang mengamati dari jauh, tidak terlalu puas dengan hasilnya. Pertarungan yang sederhana, dan Pak Tua itu terlalu cepat menyerah. Tapi dia tidak ingin mengambil tindakan seperti sebelumnya, dia bisa membunuh mereka semua setelah keluar dari Dunia Rahasia agar tidak menarik terlalu banyak perhatian.
Mo Lian berdiri seraya menepuk-nepuk pakaiannya meski tidak ada kotoran yang menempel. Dia berbalik menatap Jiang Chen. "Semua di sini sudah selesai, sekarang, kau yang memimpin seperti tadi. Selama enam hari dari sekarang, kami akan menemanimu untuk menemukan sumber daya. Setelah keluar dari sini, pastikan kau tidak mengingkari janji dan beri tahu semua tentang Dewa Pembebasan Kehidupan."
"Tentu! Aku akan memberi tahu semua informasi yang aku tahu tentang Dewa Pembebasan Kehidupan. Aku bahkan bisa bersumpah dengan Hati Dao-ku." Tidak mungkin Jiang Chen berani mengingkari janji di hadapan orang kuat seperti Mo Lian yang mampu membunuh Dewa Surga dengan serangan biasa.
Mo Lian melambaikan tangannya, merasa bahwa itu tidak perlu. "Tidak perlu sampai bersumpah dengan Hati Dao."
Dia tidak mengharapkan bahwa Jiang Chen bisa dengan mudahnya mengatakan akan bersumpah dengan Hati Dao. Bahkan jika itu hanyalah candaan, tetap tidak semudah itu untuk mengatakannya.
Jika sudah bersumpah namun tidak menepati. Bukan hanya akan terbunuh dengan hukuman mati yang mengerikan, Inti Jiwa juga akan hancur sampai hilang tanpa sisa sedikit pun dan tidak bisa bereinkarnasi.
Wan Chun menghela napas lega. Dia takut apabila Jiang Chen akan benar-benar bersumpah atas nama Hati Dao.
Jiang Chen tetap terlihat tenang, meski di dalamnya menghela napas lega.
Jiang Chen melihat tempat pertempuran yang sudah hancur lebur. "Siapa sangka mereka akan mati sia-sia seperti itu."
Mo Lian menekuk pundak Jiang Chen, memintanya untuk bertindak lebih cepat.
Jiang Chen mengangguk kecil, kemudian dia berbalik arah. Yang awalnya pergi ke barat laut, sekarang pergi ke arah selatan, setidaknya untuk memutar arah, mencari jalan yang lebih aman.
Mo Lian tidak mempermasalahkan hal itu dan mengikuti ke mana Jiang Chen memimpin.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1