
Mo Lian sudah kembali dengan selamat ke Sekte Zhongjian; bahkan tidak mendapat luka sekalipun dan ada rasa bosan saat menghadapi Hundun yang ia kira bisa membantunya berlatih, tapi ternyata tidak mampu menahan serangannya.
Kedatangannya disambut oleh semua orang yang sudah bersamanya, termasuk Qin Nian dan Yun Ning yang duduk di kursi roda; menunggu di balkon lantai teratas.
Mo Lian mendarat langsung di depan Ibunya dengan posisi sedikit membungkuk; ia mulai menetapkan bahwa Ibunya harus selalu berada di atas, tidak peduli seberapa tinggi Ranah kekuatannya sekarang. "Ibu, aku kembali."
Su Jingmei tersenyum hangat melihat Mo Lian seraya mengangkat kepalanya. "Apakah bayi kecil Ibu tidak apa-apa? Apakah ada yang sakit? Apakah ada luka?" Ia melihat wajah Mo Lian, leher, tangan dan lain sebagainya.
Mo Lian tersenyum canggung karena perlakukan seperti ini terlalu berlebihan untuknya yang sudah berusia 33 tahun. Tapi, ia tidak menolaknya, karena perasaan hangat Ibunya mengalir.
"Aku tidak apa-apa, Bu." Mo Lian merentangkan kedua tangannya, bukan karena ingin, tapi karena diangkat Ibunya.
Su Jingmei menurunkan tangan Mo Lian; tidak jadi memeriksa bagian lainnya yang terhalang.
"Ada yang ingin aku bicarakan, ini sudah aku pikirkan setelah bertemu Tao Wu dan Hundun." Mo Lian harus menambahkan Binatang 4 Kejahatan di perkataannya; tidak langsung mengatakan intinya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
"Apakah ini penting?" Su Jingmei tidak ingin pembicaraan yang dikatakan Mo Lian tidak sesuai harapan dan bisa menyakitkan; tidak ingin berpisah lagi karena baru satu hari berkumpul.
Mo Lian mengangguk dengan senyuman di wajahnya. "Iya, aku ingin menyelesaikan semuanya, aku akan kembali ke Bumi. Aku merasa di sana ada Taotie atau Qiongqi."
"Bumi?!" Mo Fefei sangat bersemangat kettika mendengar itu; sudah tidak tahu kabar teman-temannya di sana dan ingin melihat mereka. "Fefei sudah hampir empat belas tahun tidak melihat mereka!"
Mo Lian mengusap kepala Mo Fefei. "Benar, dan kau bisa mencari pendamping hidup di sana, kau sudah tua."
Mo Fefei terlihat kesal dengan pipi membulat. "Huh!" Ia memukul perut Mo Lian.
Mo Lian tertawa kecil melihat Mo Fefei yang kesal; senang sekali menggoda Adiknya yang sangat menggemaskan. "Hahahaha..." Ia menarik pipi Mo Fefei.
"Sayang, aku sudah mendapatkan Esensi Darah dan Inti Spiritual dari Hundun, aku akan memberimu Esensi Darahnya. Itu tidak terlalu bertekanan, kau bisa menyerapnya." Mo Lian menyimpan Inti Spiritual untuk dirinya sendiri agar dapat mengolah tubuhnya lebih kuat lagi.
Kekuatan Ranah God untuk Alam Semesta dan Alam Selestial sangatlah berbeda, tapi kekuatannya yang mendapat Inti Perak 9 Petir, Inti Emas Sempurna, Alam dan Manusia Surgawi, Dao Immortal Ilahi, Heavenly Immortal Putih dan God Teratai Emas 27 Kelopak, itu adalah kekuatan yang sangat berlawanan.
Bahkan, Kultivator saja sudah melawan Surga, apalagi kekuatan Mo Lian yang sekarang, mungkin jika Kaisar Giok mengetahui tentang dirinya, ia akan diburu oleh Alam Selestial karena menyalahi aturan.
__ADS_1
Hong Xi Ning tersentak ketika mendengar Esensi Darah yang dikatakan Mo Lian, awalnya ia hanya mengiyakan saja saat suaminya berencana membantunya untuk menembus Ranah God, tapi tidak menduga akan benar-benar mendapatkannya. "Terima kasih, Sayang."
Mo Lian tersebut hangat, lalu pandangannya teralihkan pada Qin Nian dan Yun Ning yang duduk di kursi roda. Ada perasaan bingung dengan sikap apa yang harus ia tujukan pada keduanya, karena saat di Bumi, ia terkenal dekat dengan mereka berdua, tapi setelah datang ke Bintang Utama, mereka seperti orang asing.
Su Jingmei dan Hong Xi Ning menepuk punggung Mo Lian; mendorongnya untuk mendatangi Qin Nian maupun Hong Xi Ning.
Mo Lian berjalan mendatangi keduanya, dan berlutut agar pandangannya lebih jelas. Ia sendiri baru menyadari jika tingginya naik pesat, saat di Bumi 160 cm, dan sekarang 209 cm. Hong Xi Ning sendiri memiliki tinggi 187 cm.
"Apakah kalian sudah mendingan?" tanya Mo Lian tersenyum lembut—ia mencoba bersikap seperti dulu, agar tidak ada jarak di antara mereka, meski tidak mungkin menjadi kekasih.
Qin Nian terlihat pendiam, mungkin karena sudah kembali mengingat tentang mimpi yang dialaminya. "Iya ..." Ia menganggukkan kepala—ia mencoba mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Mo Lian. "Sudah lama, wajahmu bertambah halus."
Yun Ning sama seperti Qin Nian, sikapnya berubah 180°, tidak ceria dan bersemangat, sekarang terlihat pendiam dan lesu. "Aku ..." Ia menengadahkan kepalanya perlahan. "Ingin kembali melihat mimpi, meski harus kehilangan nyawa."
Senyum indah menghilang di wajah Mo Lian. "Perkataanmu, itu menyakitiku, aku mengerahkan kekuatan untuk membangunkan kalian. Tapi, kau malah ingin kembali?"
Yun Ning tersentak, lalu menundukkan kepalanya dengan tangis yang pecah. "Bukan itu!..."
"Hiks! Aku tidak bisa melihatmu seperti biasanya lagi!" Yun Ning berteriak keras saat tangisnya masih terdengar—ia mendongak menatap Mo Lian. "Kau adalah suamiku di dunia mimpi, bagaimana aku bisa melihatmu seperti biasa?!"
Mo Lian tidak mengubah ekspresi wajahnya, karena ia sudah tahu Yun Ning akan mengatakan hal itu. "Aku tahu."
"Kita akan kembali sebentar ke Bumi, kalian pasti merindukan keluarga kalian."
Mo Lian juga memberitahukan kepada Wu Yengtu tentang kepulangannya ke Bumi, dan meminta padanya untuk membuat daftar siapa-siapa saja yang ingin datang bersama. Tapi, ternyata tidak ada satu pun dari Desa Kunlun yang ingin kembali, mereka sudah terbiasa tinggal di sini, apalagi Kota Chengdu terlalu berisik, dan Bintang Utama cocok seperti tempat tinggal awal mereka.
Keduanya terlihat tidak semangat saat mendengar kata 'Bumi' seperti tidak ingin kembali ke sana dan menjadi bahan tertawaan, mengingat usia mereka yang sudah 35 tahun, namun masih kekanak-kanakan dan belum menikah.
Hong Xi Ning datang menghampiri dan berdiri di sebelah Mo Lian. "Ayo kita bicara di dalam, kita berempat."
Mo Lian mendongak ke kiri, lalu menoleh ke belakang melihat Ibu, Adik dan Yue Mu. Ketika ketiganya memberi izin, ia berdiri untuk bergabung dengan Hong Xi Ning.
Keempat orang itu kembali masuk ke dalam ruangan kerja Hong Xi Ning, yang biasanya hanya Hong Xi Jiang, Wang Yue Fei dan Mo Lian saja yang boleh masuk ke sana. Tapi karena ada pembasahan penting, Hong Xi Ning mengizinkannya.
__ADS_1
Mo Lian sudah tahu arah pembicaraan meski mereka masih berada di luar ruangan, tapi ia tetap datang dan mencoba mendengarkannya. Jika berbicara tentang perasaan, ia sempat menyukai Qin Nian karena mereka memang sangat dekat, tapi perasaan di kehidupan sebelumnya mengalahkan perasaan yang baru tumbuh.
Kreekk... _.suara pintu terbuka.
Mo Lian berjalan masuk terlebih dahulu seraya mendorong kursi roda yang membawa Qin Nian. Ruangan Hong Xi Ning sangat rapi, tidak ada sofa atau apa pun itu, mejanya hanya setinggi perut dan itu pun saat posisi duduk, tempat duduknya menggunakan bantal.
Dindingnya didominasi oleh warna krem muda dan hiasan dinding itu banyak kaligrafi yang menggantung, ada lemari yang berdekatan dengan jendela dan di lemari itu dipenuhi gulungan kertas. Tanaman hias juga ada, tanaman yang memberikan aroma harum untuk menenangkan pikirkan maupun jiwa.
Kreekk... Klak. _.suara pintu kembali menutup.
"Apakah kita akan membahas tentang pernikahan lagi?" Mo Lian menggendong Qin Nian menggunakan kedua tangan dan membawanya untuk duduk di bantal duduk berwarna merah.
Hong Xi Ning menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Iya."
Mo Lian menghela napas panjang, merasa masalah ini sangat merepotkan dan tidak ada habisnya; mereka sudah membahas ini berkali-kali, tapi tidak mendapatkan hasil yang pasti.
Mo Lian duduk di samping Hong Xi Ning, menatap Qin Nian dan Yun Ning di depannya. "Aku akan menanyakannya sekali, tolong jawab sejujur-jujurnya. Apakah kalian berdua memang ingin menikah, meski harus menjadi yang kedua dan ketiga?"
"Iya..." Keduanya menjawab tanpa harus berpikir ulang.
"Sayang?" Mo Lian ingin tahu pendapat dari Hong Xi Ning, yang emosinya masih terombang-ambing, antara tidak ingin dan ingin. Seperti memiliki tanggung jawab atas keadaan Qin Nian dan Yun Ning saat ini.
"Jika Ning'er yang dulu, mungkin akan sangat menentangnya! Tapi, sekarang? Ning'er merasa bersalah atas keadaan mereka, dan Gege adalah Dewa, harus memiliki banyak keturunannya yang berbeda, tidak bisa hanya dengan Ning'er saja."
Mo Lian mengerutkan keningnya, merasa kesal karena Hong Xi Ning yang selalu menyalahkan diri sendiri, entah sekarang atau di masa lalu, tidak ada yang berubah.
"Keputusan puncaknya akan ada saat kembali ke Bumi, untuk saat ini, kalian hanya perlu beristirahat dan kembali seperti dulu."
Mo Lian berdiri dari tempatnya, berjalan ke samping jendela dan membukanya. Memiliki tiga istri? Ada suka dan duka, status keluarga juga sangat berbeda. Apa pandangan masyarakat nanti? Meski di Bintang Utama adalah hal wajah memiliki tiga atau lima istri.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...