Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 341 : Memahami Niat Pedang


__ADS_3

Mo Lian dibawa lebih masuk ke Gunung Kunlun, dan niat pedang di sini semakin kuat. Niat pedang adalah semacam aura yang mampu memberikan tekanan, bahkan ada kalanya orang bisa membunuh hanya dengan tatapan mata yang mengandung niat pedang. Tapi, selama masa hidupnya, Mo Lian tidak pernah bertemu orang semacam itu.


Jia Shenjun menggelengkan kepalanya dan berkata, "Kau memiliki Tubuh Abadi dan Tubuh Emas. Jangan lemah, apakah kau tidak bisa menahan niat pedang seperti ini? Kau sudah Ranah Dewa tahap Akhir. Tapi, Ranah Dewa tahap Akhir hanyalah Pemula!"


Mo Lian tidak bisa berkata-kata lagi, dan tentang Ranah Dewa tahap Akhir, ia memang pernah terpikirkan ke sana bahwa ada yang lebih kuat dari tahap Akhir di Alam Selestial. Tapi, tidak menduga jika di Bumi juga ada kekuatan yang lebih kuat dari tahap Akhir.


"Fondasimu bagus, kau juga menahan diri untuk tidak menerobos meski Tiga Kekuatan Utama sudah melebihi batas." Jia Shenjun yang awalnya kecewa, kini menganggukkan kepalanya dengan bangga, seperti seorang Guru melihat Muridnya yang berhasil.


"Terima kasih." Mo Lian kembali menangkupkan kedua tangan saat masih terbang mengikuti Jia Shenjun dari belakang.


Keduanya terus terbang dengan kecepatan pelan, terlebih Jika Shenjun menahan kecepatannya agar tidak meninggalkan Mo Lian jauh di belakang.


Setelah terbang cukup lama, mereka sudah tiba di suatu gunung yang lebih tinggi, mungkin beberapa kali lebih tinggi dari Gunung Everest. Aura di sini lebih kuat sampai membuat Mo Lian mengeluarkan keringat dingin yang mengalir deras.


Keduanya mendarat di tanah, dan Jia Shenjun langsung berkata, "Lihat dan pahami."


Mo Lian bisa melihat sebuah tugu batu hitam dengan ukuran seperti gedung bertingkat; ada goresan-goresan acak dengan kedalaman berbeda di tugu batu yang nampaknya bekas sayatan pedang. Ia tidak bisa melihatnya dengan jelas saat mencoba fokus melihat tugu, pandangannya terasa kabur seperti ada kekuatan asing yang menahannya.


Ketika Mo Lian menggunakan energi spiritual tertinggi yang merupakan Energi Sejati, pandangannya tidak lagi kabur tapi ia merasakan getaran seperti menaiki sampan di laut bergelombang. "Keugh"


Mo Lian berlutut dengan tangan kiri bertumpu di tanah dan tangan kanannya menutup mulutnya yang memuntahkan darah. Ketika ia tadi bisa melihat sayatan-sayatan pedang di tugu lebih jelas, tiba-tiba ia merasa ada pedang tajam yang menusuk tubuhnya sampai menggetarkan Inti Jiwa-nya.


Mo Lian menyeka darah di sudut bibirnya. "Sungguh niat pedang yang luar biasa, hanya dari sayatan-sayatan pedangnya, itu mampu mengeluarkan kekuatan seperti ini. Jika aku tidak meningkatkan Kekuatan Jiwa, mungkin aku akan terbunuh."


Yang paling mengejutkan adalah usia dari batu ini, apa yang terjadi jika Tugu Batu ini masih sama seperti Zaman Keemasan?


Tianshi Xuyan yang datang untuk membunuh Ras Raksasa, tidak seberapa ketimbang Tugu Batu. Ia yakin, Tianshi Xuyan akan langsung terbunuh hanya dengan melihatnya.


"Membunuh dengan niat, bukan lagi omong kosong."


Walaupun Mo Lian sudah sering membunuh hanya dengan menatap, tapi itu karena kekuatan energi spiritual di sekitar target yang ia padatkan sampai menekan target hingga terbunuh.


Mo Lian duduk bersila dengan mata terpejam. Sebelum mendapatkan luka dari niat pedang, ia sudah berhasil menangkap dua gerakan awal yang tertanam di dalam tugu, itu bisa dilihat dari kedalaman tebasan pedangnya. Gerakannya cukup sederhana, hanya tebasan menyilang dan horizontal, yang dilakukan dari atas dan kiri.

__ADS_1


Tapi, meskipun hanya gerakan sederhana, setiap tebasan pedangnya terlihat sangat kokoh dan yakin, tidak ada keraguan dalam setiap serangan. Apalagi ia tahu sayatan-sayatan pedang di tugu dilakukan berkali-kali, tapi tetap berada di posisi yang sama, tidak ada goresan-goresan kecil yang tidak perlu.


Jia Shenjun menganggukkan kepalanya melihat Mo Lian yang sudah memasuki tahap meditasi. Ia duduk di atas awan dengan kaki menggantung. "Dewa Pemula, Dewa Merah, Dewa Hitam, Dewa Bumi dan Dewa Surga."


"Jalanmu masih panjang, di Alam Atas, Dewa Merah seperti hujan, mereka bisa dilihat di mana pun, dan yang terkuat adalah Dewa Surga."


Alat Atas yang dimaksud Jia Shenjun adalah Alam Selestial.


"Waktu di sini bergerak seribu kali lebih cepat dari dunia luar. Kau tidak perlu khawatir tentang menghabiskan bertahun-tahun yang tak terhitung jumlahnya di sini." Jia Shenjun bisa melihat kegelisahan Mo Lian yang sedang memahami niat pedang.


Kegelisahan di hati Mo Lian menghilang dan kembali fokus untuk memahami Niat Pedang. Jika Kultivator normal, mungkin mereka akan membuang hubungan agar bisa mendapatkan kekuatan, tapi tidak dengan Mo Lian, ia akan lebih memilih menjadi biasa-biasa saja daripada harus memutuskan semua hubungan yang sudah ia bangun selama ini.


Ketika kegelisahan di hatinya sudah menghilang, Mo Lian langsung mendapatkan pencerahan. Tiba-tiba angin bertiup kencang seperti ada ratusan ribu pedang yang muncul di sekitarnya dan bergerak sangat kuat, menyayat apa pun yang melawannya.


Jia Shenjun kembali menganggukkan kepalanya dan berkata, "Bakatnya cukup bagus. Dia bisa masuk dalam keadaan seperti ini hanya dengan sekali pandang. Tapi, jalannya masih panjang untuk memahami Sembilan Niat Pedang."


Mo Lian menggertakkan giginya saat merasakan sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ia seperti sedang ditebas oleh pedang dan setiap tebasan akan membelah tubuhnya menjadi dua bagian. Saat ia merasa segar kembali setelah regenerasi, tubuhnya akan kembali dibelah dengan tebasan yang berbeda.


Tidak terasa sudah delapan minggu Mo Lian berada di sini dan hanya terlewat satu jam lebih jika di dunia luar. Mo Lian sudah bisa merasakan setiap gerakan yang menyatu dengan Inti Jiwa-nya, dan bahkan mengeluarkan Niat Pedang yang sama. Tapi, ini baru dua dari sembilan, masih jauh untuk benar-benar menguasai Niat Pedang.


Mo Lian mengembuskan napas panjang saat membuka matanya perlahan.


Bang!


Tanah di sekitarnya menghilang saat Mo Lian membuka mata dan menimbulkan ledakan kuat, bahkan udara menjadi sangat kacau dan dirasa mampu membunuh Heavenly Immortal. Ia merasakan kekuatannya kembali meningkat, dan samar-samar melihat Ranah baru yang tidak pernah diketahuinya.


"Kau menghabiskan waktu dua bulan, waktu yang sangat cepat. Muridku yang terbunuh di baris depan, menghabiskan dua puluh tahun untuk memahami satu gerakan dari Niat Pedang."


Mo Lian tersentak saat mendengar suara Jia Shenjun. Segera, ia berdiri dan menangkupkan kedua tangannya. "Terima kasih, Senior."


Jia Shenjun melambaikan tangannya dan kembali berkata, "Masih terlalu cepat untuk berterima kasih. Kuasai Sembilan Niat Pedang, kemudian pastikan Perang Para Dewa benar-benar berakhir!"


Mo Lian mengerutkan keningnya. "Perang Para Dewa masih berjalan?"

__ADS_1


Jia Shenjun menganggukkan kepalanya tapi kemudian menggeleng. "Iya dan tidak, Semesta ini sangat luas, banyak rahasia-rahasia dan Dunia Tersembunyi yang tidak bisa kau temukan dengan kekuatan lemah mu."


"Aku tahu kau pernah memasuki Array Ilusi Zaman Kuno. Kau beruntung karena yang datang hanyalah Dewa Pemula! Jika tidak dan kau mati di sana, kau akan benar-benar mati.'


Mo Lian terdiam dalam kejutan karena informasi ini. Ternyata, selama ini ia adalah kata dalam sumur. Bukan berarti setelah keluar dari sumur, ia sudah tahu semuanya, mungkin saja sumur itu berada di halaman empat bagian atau tanah 16 m².


Jia Shenjun kembali menjelaskan tentang tingkat Ranah Dewa, tingkat yang sama seperti yang disebutnya saat Mo Lian bermeditasi.


Mo Lian menganggukkan kepalanya dan mengepalkan tangannya penuh tekad. Awalnya ia berencana untuk naik ke Alam Selestial setelah membunuh Taotie, tapi rencananya batal dan harus diatur ulang karena di Alam Semesta masih banyak bahaya, dan kalaupun tidak ada bahaya yang mengancam, ia akan menjadi mangsa empuk saat naik ke Alam Selestial.


Mo Lian kembali menangkupkan kedua tangannya, kemudian melihat Tugu Batu.


Bang!


Tubuhnya meledak saat merasakan 7 Niat Pedang menyerangnya secara bersamaan, bahkan Inti Jiwa-nya yang dibaptis oleh Teratai Emas 27 Kelopak sampai terluka setengahnya. Tapi itu belum akhir dari segalanya, setengahnya lagi meledak dan suasana menjadi sunyi.


Mo Lian ... mati!


Tiba-tiba, angin kembali bertiup kencang dengan pedang-pedang yang bergetar. Tidak lama kemudian, di tempat Inti Jiwa Mo Lian yang meledak, berkumpul energi spiritual dalam jumlah besar.


Tidak membutuhkan waktu lama, Mo Lian sudah kembali pulih dengan kapas tersengal-sengal.


"A- Aku terlalu tergesa-gesa. Jika saja tidak ada Tubuh Abadi dan Dao Kehidupan, mungkin aku benar-benar akan terbunuh."


Mo Lian sangat bersyukur mendapatkan banyak manfaat dari Zaman Kuno. Asalkan di sekitarnya ada energi spiritual, meski hanya sedikit, ia akan kembali hidup. Dimensi Pertempuran ini memang lebih buruk dari Bumi sebelum aura pulih, tapi, ada Jia Shenjun yang membantunya.


"Terima kasih atas pertolongan Senior." Mo Lian memberi hormat, kemudian duduk bersila untuk memahami 7 Niat Pedang terakhir.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2