
Mo Lian menunggu di luar ruangan, duduk di kursi panjang seraya menginjak punggung Penatua Yi yang dalam posisi telungkup tak bergerak. Ia juga mengabaikan tatapan mata semua orang yang dengan sengaja berjalan di depannya, memandanginya dan Penatua Yi secara bergantian.
Ia menunggu Shen Jia Mee untuk waktu yang cukup lama, hingga saat Mo Lian berdiri hendak meninggalkan tempat, seorang wanita muda berambut biru langit datang menghampirinya dengan terburu-buru.
"Maaf atas kedatangan saya yang terlambat." Wanita itu membungkukkan badannya. Ia berdiri dan kembali berucap, "Saya adalah Shen—"
Mo Lian mengangkat tangan kanannya memotong perkataan Shen Jia Mee. "Aku sudah tahu, bisakah langsung saja pada intinya?"
Shen Jia Mee terdiam sejenak dengan wajah panik tidak tahu harus berbuat apa. "Ba- Bagaimana kalau Anda ikut denganku ke lantai atas?"
Mo Lian terdiam sejenak melihat Penatua Yi yang tergeletak di lantai, kemudian mendongak kembali menatap Shen Jia Mee. "Baiklah, pimpin jalannya."
Raut wajah Shen Jia Mee berubah cerah saat mendengar jawaban Mo Lian, kemudian ia membungkukkan badannya kembali dan berjalan memimpin Mo Lian yang berada di belakangnya.
Mo Lian mengangkat jari telunjuknya, membuat Penatua Yi melayang beberapa meter dari permukaan lantai dan bergerak mengikutinya dari belakang. Ia tidak ingin membunuh Penatua Yi langsung, karena ia akan membawanya ke Sekte Qingzhaou saat urusan di Menara 100 Lantai selesai.
Perhatian semua orang kembali tertuju pada Mo Lian saat ia membawa Penatua Yi. Banyak yang merasa takut karena Penatua Yi yang merupakan salah satu pemegang kedudukan tinggi di Sekte Qingzhaou, dan apabila berita ini tersebar, tentunya Sekte Qingzhaou akan bergerak.
Mo Lian menaikkan sudut bibirnya saat mendengar pembicaraan mengenai Sekte Qingzhaou. Ia malah senang jika mereka menghampirinya sendiri ketimbang ia yang harus mendatangi.
Mo Lian berdiri bersebelahan dengan Shen Jia Mee, berdiri di lingkaran biru yang tergambar di permukaan lantai.
Ketika sudah sampai di sana, Shen Jia Mee mengeluarkan sebuah kartu yang warnanya berbeda, yang mana memiliki warna merah terang. Shen Jia Mee mengalirkan energi spiritualnya pada kartu merah, membuat kartu itu memancarkan cahaya merah keemasan yang kemudian jatuh bagaikan molekul mengenai lingkaran biru.
Molekul cahaya itu kembali naik dan menyelimuti mereka yang berada di dalam lingkaran array berwarna biru, memindahkan mereka bertiga dari lantai 70 ke lantai 100.
Mo Lian yang sudah berada di lantai teratas itu membuka matanya perlahan, dan apa yang berada di sini bukan seperti lantai di mana ia menginap maupun menghadiri pelelangan. Lantai di sini terlihat sangat luas, karena memang tidak terbagi menjadi ratusan kamar.
"Apakah ini area pribadi?"
Shen Jia Mee mengangguk kecil seraya berjalan keluar dari lingkaran biru, kemudian menjawab, "Iya, Keluarga Shen kami merupakan keluarga besar yang ada di Kerajaan Fujian, bahkan Kekaisaran Tang itu sendiri. Dua puluh lantai atas dari Menara Seratus Lantai adalah arena yang hanya bisa dimasuki oleh anggota keluarga ..."
"Kemudian untuk Kediaman Shen, berada di bagian belakang Menara Seratus Lantai, dengan bangunan seperti kediaman keluarga-keluarga lain."
__ADS_1
Mo Lian hanya diam dan mengangguk kecil, berjalan mengikuti langkah kaki Shen Jia Mee yang membawanya ke ruangan dengan pintu kembar yang terbuat dari kayu berkualitas.
Shen Jia Mee membuka pintu itu dengan cara meletakkan karu merah pada bagian kanan pintu, kemudian ia masuk ke dalam bersama dengan Mo Lian.
Apa yang dilihat Mo Lian saat masuk adalah sebuah kantor pemimpin yang biasanya ada di perusahaan-perusahaan, dan terdapat beberapa layar yang mengambang di udara, serta layar-layar lain yang menempel di dinding.
"Silakan duduk." Shen Jia Mee menawarkan Mo Lian untuk duduk di sofa yang berada di seberangnya, dua sofa yang berada di depan meja kerja.
Mo Lian mengangguk dan duduk di sofa yang berseberangan. "Jadi, ada keperluan apa sampai-sampai mengawasiku dari awal masuk sampai ke dalam kamar."
Shen Jia Mee tertegun saat mendengar itu, tidak menyangka jika Mo Lian sudah menyadarinya dari awal masuk Menara 100 Lantai. Ia tertunduk menatap kedua tangannya yang mengepal di atas pahanya. "Saya ..." Ia mengencangkan bibirnya dan air mata mulai menetes.
Napasnya tersedu-sedu saat tangisnya pecah, teringat kembali pada adik kecilnya yang ditangkap oleh Kultivator Iblis, dan semua pengawal yang pergi bersama dibunuh tanpa sisa.
Mo Lian hanya diam menunggu Shen Jia Mee untuk kembali tenang. Ia bisa menunda untuk menanam Akar Zhiliao, terlebih ia harus mengeluarkan Profound Ark jika hendak menanamnya.
"Bisakah Anda membantu saya menemukan adik saya yang diculik oleh Kultivator Iblis?"
Shen Jia Mee mendongak menatap Mo Lian yang berdiri. "Keluarga Shen akan memberikan akar yang serupa seperti akar yang Anda dapatkan tadi, meski memiliki bentuk dan aura yang berbeda." Ia sudah menebaknya jika Mo Lian tidak akan menerimanya, karena itulah ia sudah menghubungi Ayah dan Ibunya.
Mo Lian mengerutkan keningnya. Ia berpikir apakah harus menarik perkataannya kembali, dan harus bekerja pada orang lain untuk kali pertama. Ia menggeleng pelan, ini bukanlah bekerja, melainkan memberi dan meminta.
"Tunjukkan padaku bagaimana wujudnya."
Shen Jia Mee tersenyum bahagia, kemudian mengangkat tangannya, membuat layar yang mengambang itu turun ke atas meja, dan memperlihatkan sebuah akar pohon berwarna cokelat muda, dengan bentuk seperti ginseng.
Mo Lian kembali duduk mengamati layar transparan di depannya. Seperti hologram.
"Akar Sumsum?!"
Akar Sumsum adalah akar yang dapat mengubah sumsum tulang menjadi lebih kuat dan padat, yang berefek pada pembuatan tulang yang lebih keras daripada baja. Hanya saja, barang ini harus diolah dengan metode tertentu, dan sangat langka.
Bahkan, jika Akar Sumsum berada di Galaxy Pusat, ini akan diperebutkan oleh Kultivator hebat, termasuk Dao Immortal dan Setengah Heavenly Immortal.
__ADS_1
Mo Lian menenangkan dirinya dari keterkejutannya terhadap Akar Sumsum, meski hanya sebatas gambarnya saja dan belum benar-benar melihat keasliannya.
Ia bersandar pada sandaran sofa, melihat Akar Sumsum dan Shen Jia Mee secara bergantian. "Aku harus melihat barangnya langsung, menerima atau tidaknya, itu tergantung dari barangnya. Jika itu hanya sampah, maka aku tidak akan menerimanya. Namun ..."
"Jika itu adalah Akar Sumsum seperti yang ku pikirkan, aku akan mencoba menemukan adikmu. Tapi kau harus siap tentang bagaimana keadaannya nanti ..."
Shen Jia Mee mengerti. Ia sendiri sudah tahu sangat mustahil untuk bisa bertahan hidup setelah ditangkap oleh Kultivator Iblis, tapi firasatnya mengatakan jika Adiknya masih hidup sampai saat ini, hanya saja ia tidak tahu di mana keberadaannya.
"Baiklah, saya akan mengantarkan Anda melihatnya di Kediaman Shen kami." Shen Jia Mee berdiri dari sofa, dan mempersilakan Mo Lian untuk keluar terlebih dahulu.
Mo Lian mengangguk dan berdiri dari sofa, berjalan menuju pintu keluar seraya membawa Penatua Yi yang tidak bisa bergerak maupun bersuara.
Dengan adanya Pohon Zhiliao dan Akar Sumsum, maka persiapan untuk menembus Jiwa Emas Ilahi hampir lengkap.
Mo Lian menunggu Shen Jia Mee yang masih berada di dalam ruangan yang tertutup. Hingga belasan menit terlewati, Shen Jia Mee mengganti pakaiannya yang dari Cheongsam menjadi Hanfu berwarna biru langit, sesuai dengan warna rambutnya.
"Ayo, Tuan Mo. Saya akan membawa Anda pergi ke Kediaman Shen." Shen Jia Mee berjalan menuju lingkaran biru yang sebelumnya.
Mo Lian mengangguk, dan berjalan mengikuti Shen Jia Mee yang sudah berjalan lebih dahulu. Sebelum berangkat ke Kediaman Shen, ia menduga akan ada sedikit masalah yang mungkin saja ditimbulkan dari salah seorang anggota keluarga, karena pastinya akan selalu ada orang yang iri dan merasa lebih baik.
Apalagi saat ini ia membawa Penatua Yi yang terluka parah bersamanya, dan tentunya akan ada yang mengusirnya karena tidak ingin bermasalah dengan Sekte Qingzhaou. Mungkin juga ada yang tidak ingin harta semacam Akar Sumsum diberikan sebagai pembayaran.
Jika apa yang dipikirkannya nanti benar-benar terjadi, maka ia akan mengambil paksa dan mematahkan beberapa tulang sebagai pembelajaran.
Shen Jia Mee mengeluarkan kartu merah yang sama, kemudian berucap pelan, "Pergi ke Kediaman Shen."
Molekul cahaya biru mulai naik dari lingkaran array di bawah kaki mereka berdua, dan menyelimuti tubuh mereka. Ketika cahaya itu menghilang, tiga orang yang berada di sana ikut menghilang, berpindah ke tempat lain.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1