
Leluhur Istana Surgawi menengadahkan kepalanya melihat Mo Lian. Kemudian ia menolehkan kepalanya melihat sekitar, ia menggertakkan giginya penuh amarah, Istana Surgawi yang dibangunnya sejak lama, hancur begitu saja dalam hitungan menit hanya karena seorang pemuda yang belum dewasa.
"Akan ku perlihatkan kekuatanku sepenuhnya!"
Mo Lian hanya diam mengabaikan teriakan pria tua itu, baginya tidak ada yang berbeda seberapapun pria tua itu berusaha.
"Aaahhh!" Leluhur Istana Surgawi berteriak lantang, dari dalam tubuhnya memancarkan cahaya berwarna cokelat yang melonjak beberapa mil ke langit, menembus udara seperti pisau tajam.
Saat cahaya itu melonjak, air yang membanjiri lembah mulai bergejolak dan naik beberapa puluh meter ke langit, bersamaan dengan tebing sekitar yang mulai runtuh.
Wush! Boom!
Pria tua itu melesat tajam ke langit dari atas permukaan air, membuat air bergejolak dan melonjak ke udara dalam volume yang sangat besar. Saat air itu jatuh, tercipta badai besar dan membuat gelombang lain, hingga membuat air keluar dari lembah.
Mo Lian sedikit berdecak melihat kekuatan pria tua itu yang lompatannya saja dapat menghilangkan setengah dari air yang menggenang di lembah.
"Hari ini, aku Ye Fu Tian bersumpah akan membunuhmu dan membakar jiwamu selama sepuluh ribu tahun!" Pria tua itu berteriak lantang, membuat langit bergemuruh dengan asap hitam yang muncul di langit.
"Oh? Bersumpah pada langit?" Mo Lian tidak habis pikir dengan pria tua yang bernama Ye Fu Tian itu.
Hanya karena kehabisan cara untuk mengalahkannya, pria tua itu sampai bersumpah pada langit untuk membuatnya sedikit bersemangat.
Ye Fu Tian membuat segel tangan dengan kecepatan yang sangat lambat. Persiapan semua orang tergantung dari aliran energi dan penguasaan setiap orang dalam teknik itu. Beberapa menit kemudian, Ye Fu Tian menyelesaikan persiapannya dengan diakhiri telapak tangan yang saling bersentuhan.
Ye Fu Tian mengangkat kedua tangannya ke udara. "Teknik Pedang Surgawi, Gerakan Kelima. Pedang Pembunuh!"
Tiba-tiba di atas kedua tangan Ye Fu Tian terlihat sebuah pedang yang ukurannya sangat besar dan tinggi, memiliki tinggi sekitar satu mil berwarna cokelat dengan aura yang sangat kuat. Bahkan hanya karena pedang itu muncul, udara di sekitar mulai tidak tenang, samar-samar angin mulai berputar-putar dan menyayat sekitar.
"Woah, besar sekali pedangnya." Mo Lian membuka mulutnya lebar sembari menengadahkan kepalanya melihat pedang besar di langit.
Ye Fu Tian mendengus dingin dan menatap tajam Mo Lian. Ia mengayunkan kedua tangannya mengarah pada Mo Lian seraya berteriak lantang, "Matilah!"
Mo Lian yang melihat pedang besar mengarah padanya hanya diam dan bergerak, membuat Ayahnya yang berdiri di belakangnya sedikit bergetar karena takut melihat keadaan Mo Lian.
__ADS_1
"Ayah, tenanglah." Mo Lian mengangkat tangan kanannya secara perlahan. Tiba-tiba di depan tangannya muncul ratusan pelindung berwarna biru muda yang sangat besar nan tebal.
Bang!
Dentuman keras yang memekakkan telinga terdengar saat serangan pedang menghantam pelindung yang dibuat oleh Mo Lian, bersamaan dengan air yang menyebar luas seperti pedang tajam karena terkena gelombang anginnya.
Bukan hanya itu saja, uap putih tebal juga terlihat menghalangi pandangan, hampir seluruh lembah tertutupi oleh uap air yang menguap karena benturan dua serangan dan pelindung tadi.
"Hahaha! Bahkan jika kau membuat pelindung, kau akan tetap mati dihadapan Dewa ini!" teriak Ye Fu Tian lantang yang merentangkan kedua tangannya.
"Bagaimana kau masih bisa tertawa seperti itu setelah seluruh orang mu terbunuh?"
Wajah Ye Fu Tian mengeras dengan kerutan di dahi saat mendengar suara dari dalam asap putih. Itu adalah salah satu serangan terkuatnya, seharusnya serangan itu dapat menghancurkan sebuah kota besar dalam sekali serang, tapi mengapa membunuh satu orang saja sangat menyulitkan.
Dengan kibasan tangan Mo Lian, angin berembus kencang menghilangkan uap yang menghalangi seluruh lembah. Terlihat jika air sudah menghilang tidak lagi menggenang, Mo Lian masih melayang di antara bumi dan langit dengan tenangnya.
Lalu di belakang Mo Lian, dalam garis lurus terlihat jurang yang sangat lambat, jurang itu terbentuk dari serangan pedang yang bahkan serangannya sampai menghancurkan tebing yang jaraknya 300 mil dari pusat serangan.
Mo Lian menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Ia menyondongkan badannya ke kanan, kemudian bergerak sangat cepat seperti orang yang menghilang di udara kosong, dan muncul kembali tepat di depan Ye Fu Tian.
Ye Fu Tian melesat sangat cepat bagaikan anak panah mengarah pada tebing di sisi lain.
Tapi dengan kecepatan Mo Lian yang tiada tara, hanya dalam seperkian detik saja, ia sudah muncul di belakang Ye Fu Tian yang masih bergerak.
Mo Lian membuat kuda-kuda, ia menarik tangan kanannya ke belakang punggungnya, kemudian menyentuh punggung Ye Fu Tian dengan telapak tangannya. "Teknik Energi Spiritual, Pelepasan Energi Spiritual!"
Sentuhan Mo Lian sangat pelan tanpa memberikan efek sama sekali, bahkan sampai membuat Ye Fu Tian mengerutkan kening keheranan. Namun detik berikutnya, energi spiritual berwarna biru transparan keluar dari dada Ye Fu Tian dengan derasnya, bersamaan dengan ledakan yang teredam dari dalam tubuh Ye Fu Tian secara terus-menerus.
Teknik ini adalah teknik yang sama yang digunakannya dulu saat Pertandingan Beladiri di Kota Chongqing. Hanya saja efek yang dihasilkan kali ini lebih besar dari sebelumnya, bagaimanapun saat itu ia menahan dirinya karena itu hanya sebatas pertandingan. Berbeda dengan sekarang, ia melakukannya dengan niat membunuh.
"Keuk!" Ye Fu Tian memuntahkan seteguk darah segar dari dalam mulutnya saat terkena serangan Mo Lian. Serangan yang mengacaukan aliran energi spiritualnya, dan bahkan merobek Meridiannya.
Perlahan, aura yang dilepaskan Ye Fu Tian mulai melemah. Dari yang sebelumnya Alam dan Manusia tahap Menengah, turun menjadi tahap Awal dan terus mengalami penurunan.
__ADS_1
Masih tidak puas dengan serangannya, Mo Lian membuat dinding pelindung yang sangat luas di bawah mereka berdua agar lebih mudah dalam bertarung, serta pukulannya yang tidak membuat Ye Fu Tian terlempar sangat jauh, yang mana itu menyusahkan dirinya untuk mengejar.
Mo Lian membalikan tubuh Ye Fu Tian, kemudian memukulnya secara membabi buta di setiap titik akupuntur yang jumlahnya 361 titik.
Setiap kali ia memukul pada titik akupuntur, penampilan Ye Fu Tian akan berubah dengan perlahan menjadi lebih tua dan lemah seperti orang yang sekarat, bahkan untuk menggerakkan jarinya saja tidak mampu.
Mo Lian terus menghajar Ye Fu Tian tanpa ampun sama sekali, ia memutar pergelangan tangan lawannya, mematahkan seluruh tulang yang masih bisa dipatahkan hingga seluruhnya berubah menjadi abu. Kali ini ia tidak terlalu berusaha saat berhadapan dengan Alam dan Manusia di depannya, karena Alam dan Manusia Ye Fu Tian bukanlah Alam dan Manusia biasa, melainkan lebih buruk.
Walaupun pada dasarnya kekuatannya sendiri sudah setara dengan Alam dan Manusia tahap Menengah, tapi ia masih bisa melawan tahap Akhir.
Setelah cukup menghancurkan seluruh tulang Ye Fu Tian, bahkan darah segar terus merembes keluar dari pori-pori kulit tubuhnya. Akhirnya Mo Lian mengakhiri serangannya dengan pukulan keras tepat di Dantian Ye Fu Tian.
Bang!
Dentuman keras kembali terdengar saat pukulannya mengenai perut Ye Fu Tian, membuat Ye Fu Tian kembali melesat sangat cepat, tapi di belakangnya sudah terdapat dinding pelindung yang diciptakan oleh Mo Lian.
Mo Lian menekan kakinya di dinding di bawah kakinya, dan melesat kencang mengarah pada Ye Fu Tian dengan tinju diselimuti energi kuat bercahaya biru terang.
"Keuk!" Ye Fu Tian kembali memuntahkan seteguk darah segar dari dalam mulutnya saat pukulan keras lain Mo Lian mengenai dadanya.
"Terakhir!" Mo Lian kembali mengalirkan seluruh energi spiritualnya pada tinju kanannya, dan menghantamnya pada wajah Ye Fu Tian.
Zrassshh!
Terdengar suara renyah yang sangat mengerikan, bersamaan dengan kepala Ye Fu Tian yang hancur menjadi bubur. Darah segar menyebar luas ke segala arah saat kepala Ye Fu Tian hancur. Tubuhnya yang lemas jatuh dari ketinggian langit dan menghantam tanah, menyisakan Inti Jiwa berwarna cokelat di depan Mo Lian.
Melihat hal itu, Mo Lian mengibaskan tangannya menangkap Inti Jiwa milik Ye Fu Tian, dan mencengkeram erat hingga terdengar suara retakan, kemudian hancur menjadi debu yang tertiup angin.
"Sudah berakhir, tapi aku merasa hambar. Aku sudah menemukan Alam dan Manusia untuk menjadi lawan, tapi dia sangat mudah untuk dikalahkan," gumam Mo Lian yang melihat tangan kanannya yang terkepal.
Mo Lian mengalihkan perhatiannya pada Istana Surgawi yang warnanya sudah berubah menjadi cokelat karena lumpur. "Semoga saja harta mereka masih ada. Aku juga belum mengambil Cincin Ruang pria tua itu, dan untuk Cincin Ruang semua orang, aku harap tidak hancur."
...
__ADS_1
***
*Bersambung...