Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 110 : Pergi ke Pegunungan Himalaya


__ADS_3

"Ibu-ibu dan Bapak-bapak, sembari kita mulai mendarat, mohon pastikan punggung kursi dan meja anda berada dalam kondisi tegak. Dan pastikan juga sabuk pengaman anda terkait dengan baik dan seluruh barang bawaan tersimpan di bawah kursi anda, atau di penyimpanan atas."


"Atas nama XXX Airlines dan seluruh kru, saya ingin berterimakasih kepada anda atas ikut sertanya dalam perjalanan ini. Kami berharap bisa berjumpa kembali dalam penerbangan dikesempatan yang akan datang. Terimakasih."


Mo Lian membuka matanya perlahan saat mendengar pemberitahuan itu, ia membenarkan posisi duduknya dan mengenakan sabuk pengaman dengan benar.


Hingga tidak lama kemudian, pesawat mendarat tanpa adanya kendala maupun masalah yang lain. Keadaan di dalam pesawat juga tidak ada lagi orang yang merompak pesawat.


Mo Lian yang kebetulan berada di samping jendela pesawat, ia bisa melihat apa yang berada di luar, terlihat beberapa mobil polisi sudah berjaga di posisi masing-masing, dengan beberapa tentara lainnya.


Meski masih berada di dalam pesawat, Mo Lian menyadari jika di antara tentara-tentara itu ada seorang Pejuang yang berasal dari Pasukan Taring Naga, yang memiliki kekuatan Fase Mendalam tahap Akhir, atau Wu-Zong tahap Akhir.


Untuk kali ini pesawat tidak menggunakan Garbarata, atau tangga belalai yang menghubungkan pintu pesawat dengan ruang tunggu, melainkan menggunakan Passenger Boarding Stair, atau kendaraan yang membawa tangga untuk penumpang naik maupun turun.


Mo Lian turun melalui pintu depan pesawat, ia berjalan di barisan ketiga. Ketika ia sudah turun di sana, ia dan yang lainnya diperiksa oleh kepolisian mengenai kejadian yang terjadi di dalam pesawat.


"Apakah kau tahu siapa yang mengalahkan semua pembajak pesawat?" Polisi berambut hitam pendek itu menatap tajam Mo Lian.


"Tidak tahu." Mo Lian menjawabnya singkat, ia sangat malas untuk menjawab hal-hal seperti itu. Saat ini ia harus pergi secepat mungkin, bagaimanapun ia hanya memiliki waktu enam bulan.


"Kau!" Polisi itu mengepalkan kedua tangannya. Kemudian mengambil borgol tangan untuk menangkap Mo Lian.


Mo Lian yang melihat itu merasa heran. Ia tidak berharap kepolisian di sini sangat tidak masuk akal, hanya karena ia tidak ingin menjawab, ia dianggap sebagai kriminal.


"Tunggu!"


Terdengar teriakan yang menghentikan gerakan tangan polisi itu untuk menangkap Mo Lian. Terlihat pemuda yang usianya sekitar 27 tahun, mengenakan seragam tentara dan berbadan tegap menghampiri mereka berdua.


"Ada apa Kapten?" Polisi itu menolehkan kepalanya menatap wajah tentara.


Tentara itu sendiri adalah seorang Pejuang yang dirasakan oleh Mo Lian saat masih berada di dalam pesawat tadi. Polisi di depan Mo Lian juga seorang Pejuang, hanya saja masih setingkat Fase Fondasi tahap Awal.

__ADS_1


"Patriak Mo. Mohon maaf atas kelancangan bawahan saya." Tentara itu membungkuk dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada.


"Lain kali urun bawahanmu, jangan asal menangkap orang saat orang itu tidak tahu apa-apa. Jika ini terulang kembali, aku tidak akan segan-segan untuk membunuh kalian semua, bahkan saat berada di tempat umum," ucap Mo Lian dengan nada dingin sembari berjalan menuju bus.


Tentara itu bergidik saat mendengar perkataan Mo Lian. Apa yang dikatakan Mo Lian pastinya akan terjadi jika mereka benar-benar mengulangi kembali, bahkan jika ia tidak menghentikan polisi tadi, mungkin di sini akan terjadi kasus yang lebih besar.


"Kapten, apa yang kau lakukan? Mengapa kau menghormatinya?" Polisi itu merasa aneh, hanya anak biasa saja tapi kenapa bisa mendapatkan penghormatan dari Kaptennya. Kaptennya yang merupakan salah satu terkuat di Pasukan Taring Naga dari generasi muda.


"Kau mungkin tidak tahu karena kau tidak hadir, atau bisa dikatakan tidak boleh datang. Dia adalah orang yang sangat kuat, bahkan Pendiri Pasukan Taring Naga ditingkat Wu-Sheng harus berkata dengan hormat," jawab tentara itu dengan suara pelan.


Polisi itu hanya bisa terdiam dengan mulut terbuka lebar saat mendengar perkataan itu Ia tidak pernah berharap jika pemuda yang baru saja ia bentak ternyata adalah seorang yang tidak bisa disinggung.


***


Mo Lian sudah tiba di tempat pemberhentian di mana taxi-taxi berhenti. Ia berjalan menghampiri salah satu mobil yang berwarna kuning, di dalamnya sudah duduk pria paruh baya yang berada di belakang kemudi sedang merokok.


"Paman, bisa antarkan sampai kaki Gunung Himalaya?" tanya Mo Lian sembari menekuk lututnya.


Pria paruh baya itu mengeratkan genggaman tangannya pada setir kemudi, tidak lama kemudian ia menolehkan kepalanya kembali ke luar jendela menatap Mo Lian. "Aku bisa saja mengantarkan mu ke Pegunungan Himalaya, tapi kau harus tahu, jalan menuju ke sana sangat rumit, jika kau mau membayar ku sepuluh ribu Yua—"


"Baiklah." Mo Lian menjawabnya langsung dan masuk ke dalam mobil, bahkan belum sempat pria paruh baya itu menyelesaikan perkataannya.


Dengan harga seperti itu, itu adalah hal yang wajar mengingat akses ke sana sangat sulit. Terlebih lagi dengan berbagai masalah yang ada, tentunya harus memiliki izin dan berbagai hal yang ada. Tapi ia tidak mengkhawatirkan hal tersebut, karena ia sudah memiliki izin dari Pendiri, Ketua, Tetua dari Pasukan Taring Naga, bahkan Presiden Negara sekalipun.


"Anak muda. Apakah kau yakin ingin ke sana? Aku meminta harga sepuluh ribu Yuan," tanya kembali sopir mencoba untuk memastikan.


"Tenang saja. Aku memiliki uangnya," balas Mo Lian dari kursi belakang sembari memperlihatkan puluhan lembar uang.


Uang-uang itu sendiri Mo Lian simpan di dalan Cincin Ruang, dengan total 10 juta Yuan uang cash.


Pria paruh baya itu terperangah dengan uang yang diperlihatkan oleh Mo Lian. Kemudian ia mengangguk kecil dan mengemudikan mobilnya menuju tempat yang di tuju.

__ADS_1


Perjalanan dari Bandara Lhasa Gonggar ke kaki Pegunungan Himalaya sendiri tidak tentu. Itu dapat berubah-ubah tiap musimnya, apalagi di sana banyak tebing-tebing yang menjulang tinggi dengan pepohonan yang lebat.


Dan untuk dapat naik ke sana, haruslah orang asli dari penduduk sekitar. Jika tidak dipandu, maka hanya malapetaka yang diterima, entah itu tersesat ataupun terjatuh dari tebing.


Taxi terus melaju dengan kecepatan yang stabil, hingga dua jam kemudian kecepatannya berubah menjadi sangat pelan karena jalannya tidak lagi aspal, melainkan bebatuan yang tidak rata dengan hutan belantara di kiri kanannya.


Mo Lian yang melihat ini hanya bisa terdiam dan menggelengkan kepalanya. Akan sangat lama jika harus naik dengan kecepatan seperti ini.


"Paman, tolong berhenti di sini saja," ucap Mo Lian sembari menekan tombol di belakang kursi pengemudi.


Pria paruh baya itu menghentikan mobilnya, ia mendongak melihat Mo Lian yang di belakang melalui kaca di atas kepalanya. "Apakah kau yakin? Masih jauh untuk sampai ke sana? Mungkin dua puluh mil lagi, mungkin kau membutuhkan dua hari untuk sampai jika berjalan kaki."


Mo Lian tersenyum tipis, kemudian menjawab, "Tidak masalah, ini uangnya. Terimakasih," ucapnya sembari memberikan uang, kemudian keluar dari mobil.


Setelah membayar biaya dan membiarkan mobil itu menjauh sampai tidak masuk dalam jarak pandangnya. Barulah Mo Lian berbalik dan terus berjalan naik menuju kaki Pegunungan Himalaya.


Tiga puluh menit kemudian, setelah ia benar-benar masuk ke dalam hutan belantara yang sangat sepi dan jarang dilalui oleh kendaraan maupun manusia. Mo Lian menekan kakinya di tanah dan terbang dengan ketinggian yang sedang, ia melesat naik menuju perbatasan.


Mo Lian terbang dengan mata terpejam, ia melihat sekitarnya melalui kesadarannya, kesadaran yang dapat mengetahui tanda-tanda kehidupan dalam radius dua mil darinya. Biasanya Ranah Inti Perak hanya bisa mengetahui keadaan sekitar dibawah jarak satu mil, namun Ranah Inti Perak Mo Lian sangat berbeda dengan Ranah Inti Perak pada umumnya.


Dalam radius 500 meter darinya, tidak ada satupun manusia yang mendekat. Dengan ini ia bisa tenang untuk terbang lebih tinggi dan mempercepat laju terbangnya, hingga beberapa menit kemudian, ia bisa melihat puncak Pegunungan Himalaya.


Di atas Pegunungan Himalaya itu terdapat kamp tentara yang tertutupi oleh salju-salju tipis, di pegunungan ini sendiri sangat wajar ada salju, karena perbatasan yang Mo Lian tuju berdekatan dengan Gunung Everest.


"Sepertinya ayahku dulu bertugas di sana. Apakah orang-orang di sana mengetahui informasi lima belas tahun lalu? Pada saat terjadinya pertempuran bersenjata, dan secara tidak terduga ayahku menghilang."


Mo Lian menggeleng pelan, ia menekan kakinya di udara dan melesat tajam bagaikan anak panah menuju kamp tentara itu.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2