Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 161 : Ruang Lainnya


__ADS_3

Mo Lian mengulurkan tangannya dan meraih pergelangan tangan Mo Fefei. "Jangan pergi jauh-jauh, di sini cukup berbahaya. Mengerti?"


Mo Fefei mengangguk kecil, dan melingkarkan lengannya pada lengan kiri Mo Lian. "Baik, Kak."


Mo Lian menghembuskan napas panjang. Ia memang meminta Mo Fefei untuk tidak pergi jauh-jauh darinya, tapi tidak sedekat ini juga. Jika terlalu dekat seperti ini, itu hanya akan menyulitkannya dalam bergerak jika ada serangan tiba-tiba.


Biarlah, aku bisa menggunakan satu tangan untuk menyerang, atau menumbuhkan tangan lain dengan energi spiritual.


Mo Lian berjalan dengan normal ke arah selatan, di mana ia merasakan aura yang lebih kuat dari tempat sekitar.


Semakin ia melangkah maju, semakin kuat pula aura yang dirasakannya, namun tidak sampai membuatnya tertekan, bahkan ekspresi wajahnya pun tidak berubah sama sekali.


Berbeda dengan Mo Fefei, ia mengencangkan kedua lengannya yang melingkar di lengan kiri Mo Lian, sembari menolehkan kepalanya melihat sekitar, takut akan hal-hal yang tidak diinginkan bisa terjadi kapanpun.


Mo Lian menghentikan langkah kakinya saat merasakan getaran dari tangan Mo Fefei. Ia mengangkat tangan kanannya dan mengusap lembut puncak kepala Adiknya, berharap dapat menenangkan diri dari ketakutan akan suasana mencekam di sini.


"Jangan takut, tidak ada apapun di sini. Lagi pula aku sudah melapisimu dengan energi spiritual, sehingga serangan apapun tidak akan melukaimu."


Mo Fefei memejamkan matanya dan tersenyum cerah saat kepalanya diusap oleh Mo Lian. Perasaan tegang serta takutnya mulai memudar, dan digantikan oleh perasaan aman serta nyaman.


"Terimakasih, Kakak."


Mo Lian tersenyum tipis, dan kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju gundukan tanah yang ditutup oleh batu besar di bagian pintunya.


Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, mereka berdua sudah sampai di gundukan tanah yang dirasakannya tadi saat menyebarkan kesadarannya. Ia mengangkat tangan kanannya, menyentuh batu besar yang menghalangi jalan sembari menutup matanya.


Mo Lian mengalirkan energi spiritualnya untuk mencari tahu apa yang berada di dalam gundukan tanah, yang menghubungkan pada ruangan yang jauh berada di bawah tanah.


"Tidak ada hal berbahaya di balik batu ini." Mo Lian membuka matanya perlahan. Ia menarik tangan kanannya ke belakang punggungnya, kemudian mengayunkannya ke depan, memukulkannya pada batu besar di depannya.


Boom! Duarr!


Batu itu bergetar saat terkena pukulan Mo Lian, kemudian meledak, menjadi kepingan batu kecil yang menyebar ke segala arah.

__ADS_1


Mo Lian membuat dinding pelindung di depannya untuk menghalau pecahan batu yang terlempar seperti peluru yang ditembakkan dari senapan. Batu yang menghantam pelindungnya itu langsung hancur, berubah menjadi debu yang tertiup angin.


Ketika batu besar yang menghalangi pintu sudah menghilang, tiba-tiba angin bertiup kencang dari dalam gundukan tanah, bersama dengan aura yang sangat mencekam keluar dari sana, menerpa Mo Lian dan Mo Fefei.


Untungnya Mo Fefei sudah dilindungi oleh energi spiritual Mo Lian. Jika tidak, mungkin Mo Fefei akan tidak sadarkan diri, dan yang terparah adalah terlukanya jiwa.


Tanpa berlama-lama lagi, Mo Lian membawa Mo Fefei memasuki gundukan tanah itu, dengan bola cahaya yang bersinar di tangan kanannya. Saat ia masuk, di dalam terlihat seperti ruang biasa yang seluas sembilan meter, dan di depannya terdapat tangga batu yang menurun.


Bersama dengan Mo Fefei, ia menuruni tangga batu yang hanya bisa dilalui oleh satu orang. Akhirnya ia berdiri di depan dan menggenggam tangan Mo Fefei, serta membuat pelindung yang melindungi keduanya.


Tangga ini memutar, dan kiri kanannya adalah bebatuan tebal nan keras. Memang bisa dihancurkan, namun itu hanya akan membuat ruangan di bawah tanah tertutup, dan mengubur semua hal yang berada di sana.


Karena tempatnya yang sangat sempit dan jalannya yang cukup jauh, mereka berdua membutuhkan waktu yang sangat lama untuk sampai ke ruangan di bawah tanah. Seandainya saja mereka berdua bukan Kultivator, mungkin keduanya sudah mati karena tipisnya kadar oksigen di sini.


Puluhan menit kemudian, akhirnya ia bisa melihat cahaya berwarna merah yang nampaknya seperti obor. Ia dan Mo Fefei terus berjalan menghampiri cahaya itu, dan benar saja, di depan mereka terdapat ruangan yang sangat luas, sekitarnya seukuran lapangan sepakbola.


Di ruangan itu banyak pilar-pilar yang menjulang tinggi, berfungsi untuk menahan tanah yang di atas agar tidak runtuh. Lantai ruang juga menggunakan bahan yang terbilang mahal, menggunakan marmer berkualitas yang sebesar daun pintu.


Aura hitam seperti di kedalaman Segitiga Bermuda juga terlihat, aura itu keluar dari celah-celah marmer maupun dinding ruang, serta pilar-pilar berwarna hitam.


Mo Lian melepaskan tangan Mo Fefei yang menggandeng lengannya. Ia mengangkat tangan kirinya ke depan, dan terlihat akar pohon yang mencuat keluar dari telapak tangannya, membentuk tubuh yang memiliki penampilan sama sepertinya.


Ia meninggalkan kloningannya di sini untuk menyerap aura kematian ini dan dijadikan energi murni. Energi murni ini nantinya akan diberikan sebagian pada Mo Fefei, agar kekuatannya meningkat.


Mo Lian menolehkan kepalanya menatap Mo Fefei. "Fefei. Kita akan pergi lebih dalam lagi, jangan jauh-jauh dariku."


"Baik, Kakak." Mo Fefei kembali menggandeng lengan kiri Mo Lian, dan berjalan lebih dalam ke bawah tanah.


Aura yang dirasakannya semakin meningkat dan padat.


Sepertinya senjata di dalam sana memiliki hubungan dengan senjata yang ku menangkan di Kota Beijing.


Bumi, yang dikatakan sebagai bintang terbelakang, ternyata memiliki banyak rahasia. Banyak kekuatan terpendam, yang bisa naik ke permukaan kapan saja.

__ADS_1


Belasan menit lainnya kembali berlalu, setelah memasuki pintu kembar di ujung ruangan tadi. Mereka menemukan ruangan lain yang terlihat sangat megah, seperti tempat tinggal bangsawan zaman dulu. Ruangan ini dua klai lapangan sepakbola, di dominasi oleh warna emas dengan sedikit hiasan berwarna merah, serta karpet merah yang panjang dan bersih.


Kesadaran Mo Lian tidak menangkap tanda-tanda kehidupan, entah itu manusia maupun hewan buas.


"Sepertinya tempat ini sudah lama ditinggalkan. Aku tidak tahu mengapa tempat yang megah, penuh dengan harta seperti ini dibiarkan begitu saja." Di manapun ia melihat, akan ada benda-benda berharga, yang harga terendahnya kemungkinan ¥3000.000.


Guci emas, miniatur kapal yang terbuat dari emas, lukisan, perabotan, dan lain sebagainya.


Mo Fefei yang melihat itu kehilangan kendali, ia melepaskan tangannya dari lengan Mo Lian dan berlari menuju miniatur kapal yang menurutnya sangat indah.


"Berhenti." Mo Lian meraih pergelangan tangan Mo Fefei. Ia menggelengkan kepalanya. "Berhati-hatilah, jangan asal bertindak. Bukankah sudah sering ku katakan?"


Mo Fefei menundukkan kepalanya. "Maaf, Kakak. Aku hanya ingin melihat miniatur yang indah itu," ucapnya pelan seraya menunjuk miniatur kapal yang berada di atas lemari kecil.


Mo Lian mengangkat tangan kanannya ke udara seraya mengalirkan energi spiritualnya pada Cincin Ruang. Tiba-tiba angin bertiup pelan di dalam ruangan, menyelimuti semua harta dengan cahaya biru, yang kemudian semua harta itu masuk ke dalam Cincin Ruangnya.


"Aku akan membiarkanmu melihatnya saat kita sudah keluar dari tempat ini," ucap Mo Lian yang mengusap puncak kepala Mo Fefei.


Mo Lian tahu jika Mo Fefei tadi sadar, dan di sini tidak ada satupun bahaya. Tempat ini sangat aman, namun ia tetap ingin bersikap tegas agar adiknya tidak asal mengambil langkah tanpa mempersiapkan diri.


Keduanya kembali melanjutkan perjalanan, kali ini ia ingin pergi ke pintu rahasia yang berada di belakang singgasana di depannya. Ia merasa di tempat itu terdapat ruang rahasia, itu didasari dari aura yang dirasakannya semakin kuat saat mendekat ke arah singgasana.


Apa yang menantinya di sana nanti? Tentunya itu adalah sesuatu yang sangat berbahaya.


Bahkan pelindung yang melindungi keduanya ditambah berlapis-lapis lagi untuk bersiap-siap jika ada sesuatu yang tidak diinginkan.


Di balik pintu yang berada di belakang singgasana itu, terdapat jiwa liar serta aura kultivasi yang kuat, namun bukan berasal dari manusia maupun monster. Kemungkinan, itu adalah mayat hidup yang bangkit kembali karena memiliki suatu dendam, batin Mo Lian.


Ruangan sebelumnya kemungkinan adalah tempat pembantaian, kemudian orang yang di balik pintu itu adalah orang yang bertahan hidup, mencoba bersembunyi di sana, namun terkunci.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2