
Gunung Kunlun
Hanya satu hari berlalu semenjak Mo Lian memasuki Dimensi Pertempuran; pembudidaya atau praktisi dari berbagai tempat kembali datang setelah hari sebelumnya mereka pulang. Dalam perjalanan, mereka menekankan pada diri sendiri bahwa semakin berbahaya tempatnya, maka akan ada sumber daya yang sangat berharga.
Reporter pun berdatangan meski mereka tidak memiliki basis kultivasi atau bahkan bakat, mereka datang karena ingin melihat Dewa Mo keluar dari Dimensi Pertempuran.
"Aku penasaran bagaimana Dewa Mo. Kita tahu, aura yang dilepaskan kemarin sangat kuat." Salah seorang membuka obrolan.
"Ya! Apalagi pemandangan Bumi masa lalu yang diperlihatkan oleh Dewa Mo pada kita. Itu sangat mengerikan, dan dia melihatnya selama ini seperti biasa-biasa saja. Apa yang dilaluinya untuk bisa tahan terhadap pemandangan itu?"
Reporter muda berusia dua puluhan tahun, wanita berambut hitam dengan setelan hitam formal, datang di antara mereka untuk menanyakan perihal Bumi Zaman Kuno.
Pembudidaya yang saling berbicara itu, diam sejenak dan saling memandang, kemudian mereka menjelaskan apa yang mereka lihat dalam tiga detik itu, beserta aura penindasan yang bisa membunuh manusia biasa dalam sekejap mata.
Laporan ini disiarkan langsung karena banyak manusia biasa yang penasaran tentang kehidupan Kultivator. Progam seperti ini sangat diminati dan rating televisi akan melonjak pesat beserta sahamnya. Ketika tayangan ini disiarkan, hampir seluruh manusia di Bumi tidak bisa menahan diri untuk tetap tenang, mereka gemetaran.
Tiba-tiba, ada suara retak kasar di langit. Suara itu menarik perhatian pembawa kamera dan mengarahkannya pada sumber suara.
Pemuda berambut putih panjang berkibar tertiup angin, mengenakan hanfu pria putih dengan jubah biru sebagai lapisannya. Cincin Dewa terlihat di belakang punggungnya; Cincin Matahari mengelilingi Cincin Dewa; 9 Niat Pedang mengelilingi Cincin Matahari.
Setengah Cincin Dewa mengitari kepalanya dan ada kabut hijau di bawah kakinya yang merupakan Esensi Kehidupan.
Semua orang yang melihatnya, merasakan tekanan kuat di tubuh mereka dan lutut mereka lemah—membuat mereka bertekuk lutut.
Itu, Dewa Mo!
Mo Lian melirik sekilas, kemudian menengadahkan kepala melihat langit biru. Kekuatan yang diperlihatkannya saat ini adalah Dewa Semesta, Dewa Matahari, Dewa Pedang dan Dewa Kehidupan. Masih ada lagi Pohon Dunia dan Kekuatan Garis Keturunan yang belum diperlihatkan.
"Satu bulan lagi ..."
Suara Mo Lian menggema di langit dan itu membuat semua orang yang hadir menjadi diam. Mereka membuka telinga mereka untuk mendengar apa yang akan dikatakan Mo Lian. Mereka tahu, kata-kata yang diucapkan Mo Lian sangat penting.
__ADS_1
Mo Lian menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. "Monster Ranah Dewa yang bersembunyi di Inti Bumi, akan lepas. Ranah Dewa tahap Awal, Menengah, dan Akhir. Kalian menganggap kekuatan Ranah Dewa sangat kuat, tapi, monster yang bersembunyi di Inti Bumi, adalah Ranah Dewa Merah ..."
"Jika Dewa tahap Akhir bisa menghancurkan Galaxy Bima Sakti dengan genggaman tangan, maka pikirkan seberapa kuat Dewa Merah?"
Seperti ada seember air dingin yang disiramkan ke tubuh mereka, semua orang yang hadir atau bahkan mereka yang berada di rumah, tidak bisa menahan tubuhnya dan mereka gemetaran seperti menggigil.
"Taowu, Hundun, Qiongqi. Mereka adalah Dewa tahap Awal, Menengah dan Akhir. Aku sudah membunuh mereka semua, dan hanya tersisa Taotie di Inti Bumi. Awalnya, dia akan lepas dua minggu lalu, tapi aku berhasil menyegelnya agar tidak lepas, dan sekarang, segel itu terus melemah."
Salah seorang praktisi mengangkat tangannya dan berkata dengan getir, "De- Dewa Mo. Me- Mengapa Taotie bersembunyi di Inti Bumi?"
Semua orang menganggukkan kepalanya, mereka juga penasaran mengapa Taotie bersembunyi. Mereka bahkan tidak menanyakan apakah Taotie benar-benar ada atau hanya cerita belaka. Jika ini adalah Bumi belasan tahun lalu, mereka akan menganggap bodoh Mo Lian yang berbicara tentang Taotie.
Mo Lian tidak merahasiakan informasi ini, karena semua manusia di Bumi memang pantas untuk mengetahuinya. "Kita kembali ke Zaman Kuno. Sebagian dari kalian sudah tahu tentang hal ini, seratus ribu tahun lalu, ukuran Bumi sebesar Matahari. Lima puluh ribu tahun lalu, Bangsa Zhongguo, yang sekarang adalah China, berhasil mempertahankan Bumi tetap ada ..."
"Bumi dikenal sebagai Surga Semesta, banyak Dewa-dewa di mana-mana..."
Mo Lian terus menjelaskan pengetahuan yang ia tahu dari Jia Shenjun.
"Taotie datang setelah Perang Para Dewa pecah, Ras Manusia hampir musnah. Taotie bersembunyi untuk menyerap aura di Bumi, dan karena aura mulai pulih, harusnya kalian tahu apa maksudnya."
Mo Lian menghela napas dan hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban yang pasti. Tapi, dari senyumannya, mereka semua sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bagaikan petir yang menyambar, hati mereka bergetar saat mengetahui bahwa Bumi akan kembali ke ukuran aslinya. Dan, orang-orang yang mendengarkan ceritanya dengan saksama, tahu bahwa Perang Para Dewa akan kembali terulang lagi jika Bumi kembali.
Banyak komentar yang mengatakan bahwa Mo Lian jangan membunuh Taotie agar Bumi tetap normal. Tapi, komentar lain mematahkan pendapat itu, dengan mengatakan bahwa Bumi akan hancur jika Taotie tidak dibunuh. Akhirnya, mereka tidak bisa memilih.
Mungkin informasi ini terlalu kejam untuk dikatakan, karena bisa memberikan rasa takut pada semua orang. Tapi, daripada mereka mengetahuinya saat Dewa-dewa datang menyerang, alangkah lebih baik jika mereka tahu terlebih dahulu.
Mo Lian berbalik melihat cakrawala yang luas. "Sekte Dongfangzhi mencakup seluruh penjuru Gunung Emei. Besok lusa, Sekte Dongfangzhi akan menerima murid. Kami akan memberikan Teknik Budidaya dan Teknik Bela Diri tingkat Bumi. Pil tingkat Empat dan Lima, tergantung dari kemampuan yang kalian miliki ..."
"Semua orang di dunia, bisa turut serta untuk tes memasuki Sekte Dongfangzhi. Tapi, aku masih akan memprioritaskan Bangsa Zhongguo, atau China."
__ADS_1
Banyak orang yang awalnya putus asa, berubah menjadi semangat dan mereka mulai berkemas untuk pergi ke Kota Chengdu—mendaftar ke Sekte Dongfangzhi.
Petinggi negara yang awalnya dalam keadaan panas karena masih berperang satu sama lain, entah dalam hal militer ataupun ekonomi, mulai menghentikan masalah mereka. Sekarang, mereka membahas masalah lain dan ingin membangun kerja sama untuk mempertahankan Bumi, meski sangat sulit untuk bisa membunuh Dewa dengan senjata militer.
Mo Lian mengangkat kedua tangannya perlahan saat mengumpulkan energi hijau di tangannya, kemudian menyentuhkan kedua tangannya.
Bang!
Energi meledak di antara kedua tangannya dengan gelombang kejut yang menyebar ke segala arah. Gelombang kejut tidak menghancurkan bangunan-bangunan ataupun pepohonan, mereka hanya angin kencang yang lembut.
Samar-samar ada aura hijau saat angin bertiup, itu semua adalah Esensi Kehidupan yang menyapu Bumi. Pada saat itu, tanah-tanah yang awalnya tandus dan kering, mulai subur dan ditumbuhi pepohonan. Sungai-sungai kering dan kotor, bersih dan kembali dialiri air dengan aliran deras.
Sampah-sampah yang mengotori Bumi dan berdampak pada aura spiritual, mulai terbang ke langit dengan kecepatan tinggi dan bisa dilihat melalui kamera satelit. Fenomena itu sangat luar biasa, karena hampir setiap negara kerepotan dengan sampah plastik yang sulit didaur.
Sampah itu terus terbang sampai melebihi batas atmosfer, dan melayang di angkasa luar yang kemudian terbakar habis bahkan tidak meninggalkan debu.
Mo Lian menurunkan kedua tangannya perlahan. Kemudian ia kembali menundukkan kepala melihat kamera yang diarahkan padanya.
Tatapan matanya mampu menggetarkan tubuh manusia biasa meski tidak mengandung aura membunuh di dalamnya, bahkan mereka yang melihatnya melalui layar televisi juga merasakan getaran.
"Polusi udara yang buruk juga berdampak pada kepadatan dan kualitas aura spiritual. Karena itulah, aku membuang semua lembah plastik dan lain sebagainya ke luar angkasa, kemudian menghilangkannya dalam kekosongan."
Mi Lian pergi ke Sekte Dongfangzhi setelah mengatakan itu, dan sesampainya di sana sudah disambut oleh Hong Xi Jiang yang menatapnya penuh tanya.
Ketika Mo Lian baru datang, Bumi mulai bergetar dan banyak yang memberitakan bahwa lempeng bumi bergerak. Bahkan, pulau-pulau juga terlihat mencuat keluar dari lautan, dan Gurun Sahara terlihat meluas.
Gunung Emei yang bisa dianggap sebagai Pusat Bumi, mengalami perubahan paling besar. Gunungnya bertambah tinggi dan membesar, Vena Naga yang tertanam di dalamnya meraung-raung dan terbang di langit biru.
"Sepertinya, tidak perlu menunggu sebulan untuk Taotie bangkit ..."
...
__ADS_1
***
*Bersambung...