Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 158 : Tebing Shiuhai


__ADS_3

Mobil berhenti di dalam hutan yang sudah tidak ada lagi jalan. Jikapun ada, itu hanyalah jalan setapak yang terjal dan menanjak.


"Kakak, apakah di sini aman?" tanya Mo Fefei khawatir sembari melihat Mo Lian dan setir kemudi secara bergantian.


Mo Lian tersenyum tipis, kemudian menjawabnya seraya keluar dari mobil, "Tenang saja, aku memiliki cara untuk menyimpan mobil ini."


Walaupun sudah banyak yang melihat cincin yang dikenakannya, namun tidak semuanya mengetahui cincin apa yang dipakai Mo Lian. Kebanyakan orang hanya menganggap itu sebagi cincin biasa yang sering dijumpai di toko barang antik.


Meski kebingungan, Mo Fefei tetap keluar dari mobil dan berjalan menghampiri Mo Lian.


Mo Lian menolehkan kepalanya melihat Mo Fefei. "Apakah kau mengetahui cincin apa ini?" Ia memperlihatkan cincin di jari telunjuk dari tangan kanan.


Mo Fefei mengamati cincin yang berada di jari Mo Lian, kemudian mendongak sembari menggeleng pelan. "Tidak tahu ..."


"Apakah ada yang istimewa dari cincin ini?"


Mo Lian tersenyum tipis, kemudian mengalirkan energi spiritualnya pada Cincin Ruang sembari mengarahkan tangannya pada mobil yang terparkir.


Energi spiritual mulai berfluktuasi di sekitar mobil dengan angin bertiup pelan. Hingga samar-samar terlihat cahaya biru yang membungkus mobil itu, dan kemudian mobil itu terhisap masuk ke dalam Cincin Ruang, bersama dengan angin yang kembali tenang.


Mo Fefei membuka matanya lebar saat melihat mobilnya menghilang. Namun keterkejutannya tidak bertahan lama, ia menundukkan kepalanya dengan tangan kanan menyentuh dagu. "Sepertinya aku pernah melihatnya. Kapan?"


"Ah!" Mo Fefei menepuk tangannya sendiri sembari mendongak ketika mengingatnya. "Ayah pernah menunjukkan cincin yang sama, dan kalau tidak saah namanya adalah Cincin Ruang."


Mo Fefei menolehkan kepalanya menatap wajah Mo Lian dengan mata bersinar-sinar, dua sudut bibirnya terangkat. Kedua tangannya terkepal di depan dada, menjelaskan ketertarikan dan keinginan pada Cincin Ruang yang berada di jari Mo Lian.


Mo Lian yang melihat raut wajah Adiknya hanya bisa terkekeh geli, kemudian ia mengangkat tangannya mengusap kepala Mo Fefei. "Baiklah. Setelah kita kembali ke hotel nanti, aku akan memberikannya padamu satu." Ia berjalan melewati Mo Fefei.


Mo Fefei berbalik melihat punggung Mo Lian. Ia berlari dan melompat mengarah pada Mo Lian dan melingkarkan kedua tangannya pada leher, serta kedua kaki yang mengapit pinggang. "Terimakasih, Kakak!"


Mo Lian menjauhkan kepalnya dari wajah Mo Fefei. "Jangan berteriak di telinga Kakakmu. Lalu, kau ini sudah dewasa, jangan biasakan untuk selalu melompat." Ia menjewer telinga Mo Fefei yang berada di sebelahnya.


Bukannya kesakitan, Mo Fefei yang telinganya dijewer hanya tertawa kecil dan mengeratkan kedua lengannya yang melingkar di leher Kakaknya. Dari kecil ia memang seperti ini, tidak mungkin bisa mengubahnya begitu saja setelah kebiasaan yang berlangsung belasan tahun lamanya. Ia juga tidak hanya menganggap Mo Lian sebagai kakaknya saja, tapi juga sahabat serta ayah.

__ADS_1


Mo Lian menghembuskan napasnya dan meletakkan tangannya di belakang untuk menyangga Mo Fefei agar tidak terjatuh, kemudian ia melangkah menaiki jalan yang terjal itu. Setiap ia melangkah, ia akan merasakan perubahan aura sekitar, ia juga merasa ada sesuatu yang berbahaya menanti jauh di sana.


Keadaan alam juga mulai berubah, jika sebelumnya hanya ada semak-semak dengan pohon yang jarang. Sekarang pohon semakin rapat dengan dedaunan yang lebat dan besar, tidak seperti daun pada umumnya.


Sepanjang jalan, Mo Fefei terus bernyanyi tanpa henti dan terkadang menggerak-gerakkan tubuhnya, meski ia digendong oleh Mo Lian. Tidak jarang pula ia meninggikan suaranya seperti orang berteriak, dan menganggukkan kepalanya dengan kencang, yang akibatnya membentur kepala Mo Lian.


Mo Lian hanya bisa terdiam dan menggelengkan kepalanya dengan tingkah laku Mo Fefei. Ia sudah terbiasa seperti ini, sudah sering terjadi, dan sudah sering juga membuat Mo Fefei menangis.


Mo Fefei mengusap dagunya yang terasa sakit saat membentur kepala Mo Lian. Tidak lama kemudian, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Mo Lian. "Kakak, dari Kak Qin Nian, Yun Ning, Ong Hei Yun. Siapa yang akan Kakak jadikan pacar?"


Mo Lian menaikkan sebelah alisnya. "Jika kau terus bicara, aku akan menurunkanmu."


"Huh. Kakak dulu juga mengatakan hal itu, namun tidak pernah menurunkan ku." Mo Fefei mendengus dan kemudian lebih erat melingkarkan kedua lengannya pada leher Mo Lian.


Mo Lian tidak bisa berkata-kata. Ia selalu kalah jika harus berdebat dengan Adiknya, begitupun Ibunya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap dua orang itu, dan untuk Ayahnya, mungkin sedikit, karena ia sudah lama tidak bertemu, tentunya sikapnya sedikit berbeda.


"Pegangan yang erat." ucap Mo Lian yang melompat dari satu tempat ke tempat lain untuk lebih cepat sampai.


Tiga menit berlalu, ia sudah berada di puncak dari gunung yang didakinya, yang mana memiliki kemiringan lereng 60°. Ia yang sudah berada di puncak menoleh mengamati sekitar, di sini masih sama seperti di bawah kaki gunung tadi, hanya saja pepohonan di sini lebih lebat hingga menghalangi sinar matahari.


Mo Lian menyondongkan badannya ke depan sembari menekuk kaki kiri yang berada di depan. Ia menekan kaki kanannya di tanah untuk mendorong tubuhnya, kemudian melesat melebihi kecepatan suara, membuat pepohonan sekitar beterbangan karena efek angin yang dihasilkan.


Ketika Mo Lian sudah melewati cahaya itu, tiba-tiba matanya terpaksa harus ditutup karena sangat menyilaukan. Perlahan, pandangannya mulai pulih, ia bisa melihat dengan jelas apa yang berada jauh di depan.


Saat ini ia berada di perbukitan dengan hamparan rumput yang membentang sejauh mata memandang. Di hamparan rumput itu ada sebuah danau yang luas, dengan hewan yang berada di tepian.


Mo Lian kembali menolehkan kepalanya mengamati sekitarnya, ia juga melepaskan kesadarannya untuk mencari tahu apakah ini masih berada di Bumi, ataukah bukan.


"Sepertinya ini adalah dimensi lain yang ada di Bumi selain di Pegunungan Himalaya. Hanya saja, di tempat ini tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia. Jika monster atau hewan buas yang memiliki Inti Spiritual, itu tersebar di berbagai tempat."


Mo Fefei melonggarkan kedua lengannya, dan menyentuh pundak Mo Lian untuk dijadikan sebagai tumpu baginya agar bisa berdiri lebih tinggi. "Sangat indah. Kakak, apa yang akan kita lakukan di sini? Apakah kita akan berpetualang? Berlatih?" tanyanya bersemangat.


"Iya, aku ingin kau meningkat kekuatan bertarungmu. Di sini adalah tempat yang cocok untuk melepaskan seluruh kekuatanmu, kita berada di tempat yang berbeda. Harusnya kau tahu itu."

__ADS_1


"Benarkah?" Mo Fefei memiringkan kepalanya. Kemudian melihat sekitarnya untuk memastikan. "Oh! Aku tidak melihat jalan raya. Saat di jalan raya juga aku tidak melihat tempat ini, harusnya kita di arahkan ke jurang jika melewati hutan tadi. Tapi malah berakhir di sini," lanjutnya.


"Ngomong-ngomong, mengapa hal ini tidak diberitakan di media?" tanya Mo Fefei seorang diri seraya memiringkan kepala, dengan kedua lengan menyilang di depan dada.


"Tempat seperti ini hanya bisa dimasuki oleh Kultivator tingkat tertentu. Mungkin kau tidak merasakannya, tapi cahaya tadi adalah dinding yang hanya bisa dilihat oleh Kultivator dan hanya bisa dimasuki oleh Kultivator Fase Lautan Ilahi keatas."


"Begitu..." Mo Fefei turun dari punggung Mo Lian.


Mo Lian meregangkan otot-otot tubuhnya yang sedikit kaku karena harus menggendong Mo Fefei sepanjang jalan. Ia menoleh ke kiri menatap Mo Fefei yang berbaring di atas rerumputan hijau dengan mata terpejam. "Aku mengajaknya kemari untuk berlatih, namun bisa-bisanya dia malah tidur," gumamnya.


Mo Lian berjongkok hendak membangunkan Mo Fefei yang tertidur dengan cepatnya itu. Saat ia hendak mencubit pipi Adiknya, tiba-tiba ledakan keras terdengar dari hutan lebat yang berada jauh di depannya, berbatasan langsung dengan hamparan rumput.


Ia menolehkan kepalanya melihat ke arah sumber ledakan. Bisa dilihat ada asap hitam yang membumbung tinggi, serta api besar yang membakar hutan. "Pertarungan monst— Ack!"


Ucapannya terhenti ketika pelipisnya dihantam oleh Mo Fefei yang baru bangun itu. Ia menoleh ke kanan, menatap Mo Fefei. Terlihat jika Adiknya tengah meringis sembari mengusap dahinya sendiri yang bengkak karena membentur pelipisnya.


"Kakak, ada apa?" tanya Mo Fefei yang masih mengusap dahinya.


"Bersiaplah, aku membawamu ke sini untuk berlatih." Mo Lian menyentuh dahi Mo Fefei, yang seketika itu juga menghilangkan bekas benturan tadi. "Aku ingin kau membunuh dua monster itu." Ia menunjuk ke arah pertarungan.


Mo Fefei mendongak mengikuti arah yang ditunjuk Mo Lian. Alangkah terkejutnya ia saat melihat apa yang berada jauh di dalam hutan. "Ba- Bagaimana mungkin? Bukankah hewan itu sudah punah?"


Terlihat, di tengah-tengah hutan ada dua hewan yang sudah lama dianggap punah. Salah satu hewan itu adalah ular yang sangat panjang, bisa menyentuh angka seratus meter dan meremukkan gedung. Ular itu adalah Titanoboa, ular yang hidup antara 60 juta sampai 58 juta tahun lalu di periode Paleosen.


Untuk yang lainnya, itu sejenis beruang yang tidak pernah ada dalam sejarah. Beruang itu memiliki dua kepala dengan empat tangan yang memiliki cakar sangat tajam seperti pedang.


Kedua hewan buas itu juga dapat mengeluarkan serangan elemen. Titanoboa dapat menyemburkan api, dan beruang itu mengendalikan angin.


Untuk kekuatan keduanya, itu setara dengan Fase Lautan Ilahi tahap Akhir.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2