
Xen Luo Zan membelalakkan matanya lebar-lebar saat tahu-tahu pandangannya terus berputar-putar. Ini adalah suatu hal yang menurutnya sangatlah mustahil, tidak ada yang pernah bisa mengalahkannya semenjak ia masih kecil, meski menggunakan serangan terkuat.
Namun, ini hanya sebatas tamparan biasa, sudah membuatnya terlempar, dan sekarang mematahkan lehernya.
Bang!
Dentuman yang sangat keras dan mampu menarik sambaran petir terjadi saat Mo Lian melepaskan pukulan tangan kirinya pada perut Xen Luo Zan. Gelombang angin juga menyebar membentuk cincin putih transparan yang bergerak secara vertikal, jatuh ke tanah dan menciptakan jurang dalam.
Walaupun dampak dari setiap serangan yang dilepaskan sangat mengerikan, tapi Mo Lian berusaha semaksimal mungkin untuk tidak membunuh tahanan di penjara bawah tanah.
"Keuk!" Xen Luo Zan memuntahkan seteguk darah dan tetap berada di sana. Ia merasa seperti ada tangan raksasa yang menahannya untuk tidak berpindah tempat.
Mo Lian mengulurkan kedua tangannya memegangi tengkuk Xen Luo Zan, kemudian ia sedikit melompat dan menyerang wajah lawannya menggunakan lutut kanan.
Hidung Xen Luo Zan patah saat terkena tendangan lutut Mo Lian, darah mengalir dari hidung maupun matanya karena tekanan kuat yang diterima.
Mo Lian mengepalkan satu tangan dengan yang lain, seperti orang yang sedang berdoa. Kemudian ia mengayunkan kedua tangannya yang terkepal bersama itu mengarah pada kepala Xen Luo Zan.
Xen Luo Zan melesat mengarah ke daratan seperti peluru yang ditembakkan dari senapan. Kecepatan jatuhnya dan gesekan antara udara sekitar membuat pakaiannya terkoyak serta merobek kulit di bagian lengan maupun kaki.
Mo Lian yang sudah menjatuhkan Xen Luo Zan tidak berhenti dan membiarkan lawannya bernapas atupun memulihkan diri. Ia juga pergi dengan kecepatan tiada tara, mengejar Xen Luo Zan yang masih jauh dari permukaan tanah.
Mo Lian mengepalkan kedua tangannya, memukul Xen Luo Zan secara membabi buta mematahkan semua tulang yang bisa dipatahkan. Hingga ia mengakhiri serangannya dengan pukulan keras pada dada Xen Luo Zan.
Xen Luo Zan hanya bisa terdiam dan terus memuntahkan darah dari dalam mulutnya, ia tidak bisa berteriak karena titik akupuntur pada bagian leher sudah di tusuk jarum. Darah juga mulai merembes di sekujur tubuh, mengubah pakaian putihnya menjadi merah darah.
Bang!
Pukulan terakhir Mo Lian yang mengenai dada Xen Luo Zan menimbulkan dentuman lain yang lebih keras dari sebelumnya, menjatuhkan ratusan badai petir dan mengubah cuaca beberapa kali.
Ini semua baru serangan fisik dan niat, belum benar-benar teknik yang mampu membalikkan arah Matahari, meledakkan Gugus Bintang, menghilangkan Gugus Galaxy.
"Aku mengubah pikiranku, sebelumnya aku berniat untuk membunuhmu tanpa rasa sakit. Namun karena kau memberikan ancaman, maka akan aku tambahkan serangan lain."
Mo Lian mengulurkan tangan kirinya seperti hendak menggapai Xen Luo Zan yang terus jatuh, terlihat di telapak tangannya mulai muncul akar pohon yang tumbuh sekejap. Akar pohon itu mengejar Xen Luo Zan dan melilit tubuhnya erat.
Mo Lian menarik tangan kirinya ke belakang punggungnya, membuat Xen Luo Zan kembali naik dan dalam sekejap mata sudah berada di depannya. Ia sudah bersiap-siap, dan kembali menyerang Xen Luo Zan.
Wush! Boom!
__ADS_1
Xen Luo Zan melesat tajam dan menghantam daratan, membuat lubang besar dan retakan-retakan di mana-mana. Bahkan bebatuan dari dalam tanah juga mencuat dan terlihat seperti batu runcing yang dapat membunuh manusia.
Mo Lian yang terbang di langit tetap diam menatap Xen Luo Zan. Ia tidak turun karena ingin memberikan kesempatan lawannya untuk memulihkan keadaan, agar ia bisa mematahkan semua tulang yang ada.
"Apakah hanya segini saja? Bukankah kau terlalu sombong? Setengah Dao Immortal tidak bisa mengalahkan Alam dan Manusia."
Blarr!
Petir menyambar seperti laser yang jatuh ke tanah dan menelan Xen Luo Zan di tengah-tengah lubang.
Keluarga Sheng yang sudah berada di kejauhan hanya bisa terdiam melihat kehancuran Sekte Qingzhaou. Mereka sudah ada di sana semenjak Mo Lian menampar Xen Luo Zan di awal sebelum kematian ribuan Inti Emas dan Alam dan Manusia.
Mo Lian sudah mengetahui jika Keluarga Sheng telah tiba, namun ia mengabaikan mereka dan bersikap biasa seperti tidak tahu apa-apa.
"Apakah kau akan berpura-pura mati di sana? Bukankah kau ingin memberikan pelajaran padaku? Kemudian membuatku merasakan rasa sakit hingga memilih untuk mati ketimbang hidup dalam rasa sakit?" tanya Mo Lian yang suaranya menggema di langit gelap.
Tidak ada jawaban dari dalam asap cokelat penuh debu. Hingga beberapa menit terlewati, terdengar suara lain yang menggema di langit.
"Bajing**! Kau datang dan membunuh semua murid Sekte Qingzhaou yang ku besarkan dengan susah payah!"
Mo Lian memiringkan kepalanya dan menyilangkan kedua lengannya di depan dada. "Aku? Membunuh murid-murid? Hahahaha! Ups!!"
Xen Luo Zan yang telah pulih kembali itu berdiri dari dalam lubang besar dan menggertakkan giginya. "Sial! Itu karena kau datang ke Sekte Qingzhaou kami!"
Mo Lian menaikkan sebelah alisnya. "Jika kau bukan Kultivator Iblis, aku tidak akan datang ke sekte jelek ini."
Xen Luo Zan benar-benar marah dan mulai terlihat aura merah kehitaman yang keluar dari dalam tubuhnya. Aura kultivasinya juga mulai meningkat secara signifikan dan terlihat cahaya merah yang melonjak naik ke langit, menembus udara seperti pisau tajam.
Ranah Xen Luo Zan yang sebelumnya hanya sebatas Setengah Dao Immortal sudah berhasil menembus Dao Immortal itu sendiri. Namun ia masih belum bisa mengendalikan cuaca, apalagi mengendalikan Tiga Hukum. Hukum Dao, Hukum Dharma dan Hukum Langit.
Mo Lian sendiri hanya bisa mengendalikan Hukum Dharma, seperti saat meledakkan gunung hanya dengan langkah kaki. Untuk Hukum Langit setidaknya harus menembus Heavenly Immortal, dan Hukum Dao saat menembus Ranah God.
"Hahahaha! Aku adalah manusia terkuat di Bintang Tianjin! Tidak ada yang bisa mengalahkanku!" Xen Luo Zan tertawa terbahak-bahak, membuat langit menggelegar. Matanya merah menyala bagikan bola lampu, dan memberikan rasa aneh bagi siapa saja yang menatapnya.
Mo Lian menghembuskan napas panjang. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan dengan bagian telapak berada di atas. Daratan mulai bergetar saat ia mengangkat tangannya, dan mulai terlihat tanah yang naik sangat tinggi membentuk belasan pilar.
Ada jeruji besi di atas belasan pilar, yang di dalamnya terdapat manusia yang terkurung di dalam keadaan yang memperihatinkan.
Mo Lian mengibaskan tangannya, menghilangkan semua jeruji besi yang ada dan memindahkannya pada Profound Ark yang berada ratusan mil dari Sekte Qingzhaou.
__ADS_1
"Jangan alihkan perhatianmu!"
Mo Lian mengangkat tangan kirinya di depan wajahnya, menangkap pukulan Xen Luo Zan yang sudah berada di depannya.
Ia memasang kuda-kuda dan meletakkan tinju kanannya di sebelah pinggang, kemudian melepaskan pukulannya pada dada Xen Luo Zan seraya menarik lengan kanan lawannya.
Bang!
Dentuman lain kembali terdengar hanya dari pukulan sederhana Mo Lian, dan lengan kanan Xen Luo Zan terlihat terputus dari bahu. Serta ada energi spiritual berwarna biru yang keluar dari punggung Xen Luo Zan, membuat seluruh organ dalamnya terluka sangat parah.
Masih berlanjut, setelah memukul dada Xen Luo Zan. Ia mengarahkan jari telunjuknya pada bagian dahi lawannya, dan melepaskan jentikkan jari yang sangat kuat.
Bang!
Angin kencang bagaikan pedang tajam menyebar ke segala arah, entah horizontal, vertikal, diagonal. Jika dilihat dari jauh, badai angin berbentuk bola berputar-putar dan mengikis semua tanah di sana.
Xen Luo Zan kembali terlempar dan sekujur tubuhnya terdapat luka sayatan yang sangat dalam, yang terus mengeluarkan darah segar dari celah luka-lukanya.
Mo Lian sengaja membiarkan Xen Luo Zan menjauh dan memulihkan diri kembali. Itu semua karena ia masih belum cukup terhibur, masih belum cukup untuk pemanasan.
Ctak!
Mo Lian menjentikkan jarinya, mengubah cuaca gelap penuh badai petir maupun angin menjadi siang yang cerah. "Kita ganti suasana, tidak baik selalu bermandikan air hujan. Kau akan dipukul dengan sapu lidi oleh Ibu, dan itu rasanya sangat menyakitkan."
"Tapi, berpanas-panas juga tidak baik bagi kulit. Ayo tumbuhkan beberapa pohon rindang." Mo Lian menyentuhkan kedua telapak tangannya perlahan, dan samar-samar terlihat gumpalan energi spiritual di antara kedua telapak tangannya. "Teknik Element Kayu, Segel Empat Arah!"
Daratan bergetar hebat seperti gempa bumi dari empat arah yang berbeda, dan terlihat gundukan tanah mulai naik seperti bukit yang bagian atasnya mulai retak. Hingga pada bagian retakan itu tunas baru mulai tumbuh dengan kecepatan mengerikan.
Tunas yang tumbuh itu berubah menjadi pohon dalam sekejap mata dan terus naik ke langit hingga menembus awan. Dari empat pohon yang berada di tempat yang berbeda mulai mengeluarkan molekul cahaya hijau, dan perlahan membentuk dinding hijau nan tebal dari empat sisi.
Untuk bagian atasnya sendiri, tidak ada dinding pelindung karena telah dihalangi oleh dahan maupun dedaunan yang akan menyerang siapa pun, tidak peduli apakah itu lawan ataupun kawan.
Mo Lian menurunkan kedua tangannya perlahan. "Jangan mati terlalu cepat, kita akan lanjutkan ronde kedua. Jadi, tolong hibur aku."
...
***
*Bersambung...
__ADS_1