
Pil Tiga Warna adalah pil yang dapat meningkatkan kekuatan fisik, jiwa, maupun energi spiritual secara bersamaan. Pil ini termasuk pil yang sangat langka bahkan untuk Galaxy Pusat, itu karena bahan utamanya yang sangat sulit untuk ditemukan.
Mo Lian menggambar lingkaran array lainnya di atas permukaan tanah yang berdekatan dengan Pohon Surgawi. Kemudian ia menyebarkan tiga helai bunga tiga warna, lalu untuk enam bunga lainnya, itu akan digunakan untuk hal lainnya.
Setelah menyebarkan tiga helai bunga Teratai Sembilan Warna, beberapa lembar daun Pohon Surgawi, serta botol giok berisikan Air Spiritual yang diletakkan di luar lingkaran array. Akhirnya Mo Lian mundur beberapa langkah ke belakang dan mempraktikkan keterampilan yang sama seperti sebelumnya.
Tidak berbeda jauh dari menyuling pil yang lain, prosesnya juga tidak ada yang spesial sama sekali dan sangat membosankan.
Sepuluh menit kemudian, Pil Tiga Warna sudah selesai disuling. Tiga warna di permukaan pil adalah warna yang didapat dari Teratai Sembilan Warna, warnanya bermacam-macam tergantung pada bahan yang digunakan.
Kebetulan warna yang didapatnya adalah warna merah, kuning dan hijau. Kemudian terdapat corak lainnya berwarna emas sangat halus, jumlah garis emas itu berjumlah lima, yang artinya pil ini adalah pil kelas lima.
Ketika Pil Tiga Warna sudah jadi, aroma harumnya menyebar luas hingga dapat tercium ke seluruh penjuru Sekte Dongfangzhi. Saat orang-orang mencium aromanya, orang itu akan merasa segar seperti terlahir kembali, kekuatan dalam penyerapan energi spiritual mereka juga meningkat pesat. Bahkan tidak sedikit pula yang salah satu dari tiga kekuatan meningkat.
"Dengan pil ini, aku bisa meningkatkan tiga kekuatanku pada Ranah Inti Emas tahap Akhir. Pada saat itulah aku akan menggunakan lembaran bunga lainnya untuk membantuku menembus Ranah Inti Perak tahap Akhir, kemudian menembus Inti Emas." Mo Lian tersenyum cerah melihat Pil Tiga Warna yang berada di tangan kanannya.
Mo Lian duduk bersila mengambil posisi bermeditasi, ia menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan untuk mempersiapkan dirinya.
Setelah dirasa cukup siap, Mo Lian menutup matanya perlahan dan menelan Pil Tiga Warna yang berada di tangan kanannya. Tiba-tiba, ia merasakan panas yang membakar di sekujur tubuhnya, keringat mengalir deras membasahi pakaian yang ia kenakan.
Mo Lian mengigit bibir bawahnya sembari meringis menahan rasa sakit yang diterima. Kulit-kulit wajahnya mulai retak dan mengeluarkan darah segar yang mengalir deras, suara retakan kasar juga terus terdengar dari dalam tubuhnya, membuat ngilu siapa saja yang mendengarnya.
Tubuh Mo Lian hancur secara bergantian, tangan, kaki, dada. Lalu untuk kepalanya, tentu saja ia tidak berani melakukannya sekarang, itu karena ia belum menembus Ranah Inti Emas. Dan apabila ia memaksakannya, maka hanya kematianlah yang menunggu.
Puluhan menit kemudian setelah tubuh fisiknya setara dengan Ranah Inti Emas tahap Akhir. Tiba-tiba ia merasakan perubahan lainnya yang berada di bawah dada, dan di atas perutnya, lebih tepatnya adalah tempat penyimpanan energi spiritual, Dantian.
Ia merasa Dantiannya semakin besar dengan energi miliknya semakin murni dan padat, ia merasa tubuhnya semakin ringan seperti kapas, namun sangat kuat melebihi baja. Hingga tidak lama kemudian, energi spiritualnya setara dengan Ranah Inti Emas tahap Akhir, dan pada akhirnya ia tidak bisa menahan dirinya lagi dalam menembus tingkat.
__ADS_1
Dari dalam tubuhnya keluar cahaya berwarna biru muda, cahaya itu melonjak beberapa ratus meter ke langit menembus udara seperti pisau tajam. Kemudian menyebar luas seperti payung dan bisa terlihat dalam radius satu mil darinya.
Ranah Inti Perak tahap Akhir!
Puluhan menit kemudian, ia merasakan hal lain dalam tubuhnya. Ia merasa jika kepalanya sangat sakit seperti tertusuk ratusan jarum kecil, hingga 20 menit berlalu, rasa sakit yang diterimanya sudah menghilang dan digantikan dengan rasa nyaman.
Mo Lian merasa jika pikirannya menjadi lebih tenang, ia seperti sedang tidur di atas dada besar yang sangat lembut. Ah! Tidak! Ia seperti tidur di atas awan yang sangat lembut dan membuatnya merasa jika rasa kantuk mulai menyerang, tapi meski begitu ia tetap menahannya agar tetap fokus.
Hingga satu jam kemudian, Mo Lian membuka matanya perlahan, terlihat cahaya biru yang tajam di sudut mata kanannya.
"Aku sudah menembus Ranah Inti Perak tahap Akhir, dengan kekuatanku yang sekarang, aku bisa membunuh Ranah Inti Emas tahap Akhir. Jika menggunakan kekuatan penuh, aku bisa membunuh lebih dari sepuluh Ranah Inti Emas tahap Akhir pada waktu yang bersamaan, atau satu Ranah Alam dan Manusia." Mo Lian menatap tajam lurus ke depan.
"Tapi, apabila aku menggunakan pedang patah, mungkin bisa membunuh dua sampai tiga Ranah Alam dan Manusia. Masih jauh untuk melawan Dao Immortal," lanjut Mo Lian yang berdiri dari tempat duduknya sembari menepuk-nepuk pakaiannya.
Mo Lian terdiam sejenak melihat pakaiannya yang kotor tertutupi oleh darah merah yang telah mengering. "Aku harus membersihkan ini, jika ibu melihatnya, mungkin aku akan dimarahi dan tidak dibolehkan untuk berlatih dalam beberapa har—"
Terdengar suara yang nyaring yang membuatnya tersentak. Ia menolehkan kepalanya dengan perlahan melihat ke belakang, terlihat ibunya yang menatapnya tajam dengan kedua tangan bertumpu pada pinggang.
Su Jingmei memperlihatkan tatapan nanar menjelaskan kesedihan dan kekhawatiran saat melihat keadaan Mo Lian saat ini. Ia menekan kakinya dan melesat ke arah Mo Lian, kemudian memeluknya sangat erat.
"Lian'er. Aku sudah melihat apa yang kau lakukan dari awal, tapi Ibu tetap diam karena sepertinya kau sangat fokus. Lalu saat melihat tubuhmu meledak ..." Su Jingmei tidak berani melanjutkan perkataannya, ia membenamkan wajahnya di dada Mo Lian dengan tersedu-sedu.
Mo Lian hanya bisa terdiam dan tersenyum pahit saat melihat ibunya menangis, ia tidak menduga jika dari awal sudah diawasi oleh ibunya. Lalu mengapa ibunya tidak menghentikannya, itu mungkin karena peringatan dari Xu Xumei untuk tidak mengganggunya.
Su Jingmei mendongak menatap wajah Mo Lian. "Apa ... yang akan Lian'er lakukan? Hingga membuat dirimu tersiksa seperti ini?" tanyanya pelan dengan air yang terus mengalir di wajahnya.
Mo Lian menatap nanar wajah Ibunya yang berekspresi seperti itu. Wajah Ibunya juga sudah berubah merah karena terkena darah dari bajunya, ia mengusapnya pelan menghilangkan darah di wajah Ibunya.
__ADS_1
"Aku ... ingin pergi ke perbatasan ... dan mencari keberadaan Ayah," jawab Mo Lian perlahan.
Su Jingmei tersentak dengan mulut terbuka lebar saat mendengar apa yang dikatakan anaknya, Mo Lian. Ia menatap Mo Lian dengan pandangan penuh tanya, dan ketidakinginan untuk berpisah dari orang yang dicintainya lagi. Pada saat itu, suaminya juga menghilang di perbatasan, ia tidak ingin jika hal yang sama terulang lagi.
Mo Lin membelai rambut yang menutupi wajah Ibunya. "Ibu tidak perlu khawatir, aku akan berhati-hati, aku juga tidak ingin berpisah dengan Ibu lagi. Aku tidak menginginkannya," ucapnya dengan suara sedikit bergetar.
Lagi? Su Jingmei mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Mo Lian yang menurutnya sangat aneh. "Apa maksudnya?"
Mo Lian tersentak, ia tidak menyangka akan mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya. Ia memeluk erat Ibunya, ia mengusap punggung Ibunya dan membelai rambutnya. "Tidak ada, saat Ibu berada di Kota Hanzhong, aku dan Fefei merasa kesepian karena tidak ada Ibu di samping kami."
Mo Lian tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Ini belum saatnya, jika ia mengatakannya sekarang, di suasana seperti ini, mungkin saja malah membuat Ibunya kian terpuruk.
Meski dirasa cukup aneh dengan apa yang dikatakan Mo Lian. Tapi Su Jingmei hanya terdiam dengan anggukan kecil, dan tersenyum lembut di dalam pelukan Mo Lian.
"Apakah Ibu mengizinkannya?" Mo Lian berbisik di telinga Su Jingmei.
Su Jingmei sedikit mendorong tubuh Mo Lian, ia mendongakkan kepalanya menatap wajah anaknya. "Baiklah, tapi kau harus berjanji untuk menjaga dirimu. Ibu dengar di sana tidak ada sinyal, meski sedikit enggan, tapi Ibu akan menahan diri untuk tidak mencarimu di sana saat tidak mendapatkan kabar," ucapnya mengusap pipi Mo Lian.
Ketika mendengar itu, Mo Lian tersenyum lembut, tapi disisi lain ia juga merasa khawatir dengan apa yang dikatakan Ibunya. Dengan ini ia harus cepat-cepat menemukan ayahnya yang telah lama menghilang, dan kembali pulang.
"Terimakasih, Ibu." Mo Lian mengecup lembut kening Ibunya. Kemudian keduanya berjalan menuju halaman depan.
Saat Mo Lian tiba dan Adiknya melihat keadaannya yang seperti ini, tiba-tiba Adiknya berlari ke arahnya, dan memeluknya sangat erat, lebih erat dari pelukan Su Jingmei. Dan yang terparah, Mo Fefei mengusapkan hidungnya di wajah Mo Lian.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...