Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 496 : Alam Utama Bergabung dengan Dimensi Kekacauan


__ADS_3

—Altar Dewa, Alam/Dimensi Kekacauan—


Sebuah altar yang sangat luas berwarna putih dengan kecemerlangannya berada di tempat yang dipenuhi oleh sambaran petir di sekitarnya. Altar itu sangat luas dengan ukuran yang tidak bisa dibayangkan, bahkan dunia-dunia nampak kecil jika disandingkan dengannya.


Sosok laki-laki yang mengenakan pakaian putih sedang bersantai di tengah-tengah altar, dia memiliki rambut putih seperti salju dan sehalus sutra. Matanya terpejam, tidak ada suara napas yang dikeluarkan, dia duduk membeku seperti patung.


Tapi tiba-tiba, sosok itu membuka matanya yang berwarna putih dengan sedikit warna ungu.


Wanita yang berada di samping, melihat pasangannya yang terbangun setelah tertidur selama ratusan tahun. "Ada apa, Gege?"


Seorang pria bernama Lin Chen, melihat istri yang dicintainya, Yan Xue. Dia tersenyum, mengulurkan tangannya meraih istrinya, lalu membawanya ke dalam pelukannya. "Semesta Shangdi yang awalnya aku ciptakan untuk mengasingkan diri, sudah berkembang pesat, bahkan di sana terbentuk Tiga Alam, meski semuanya palsu karena ada ingatan yang kutanam di sana. Tiga Alam di sana, sudah dihancurkan, dan ada eksistensi yang masuk ke Domain Dewa dan menemukan kebenarannya."


Yan Xue tertegun, dia tahu tentang Domain Dewa, karena memang dia sendiri yang meminta pada suaminya untuk menciptakan suatu tempat, di mana hanya orang yang ditakdirkan yang bisa masuk ke sana.


Kemudian, tergantung dari orangnya, apakah dengan masuknya orang itu bisa membawa Semesta Shangdi ke arah yang baru: bergabung dengan Dimensi Kekacauan dengan bentuk dunia baru, atau menghilang jauh dan dilupakan, bahkan tidak masuk ke dalam jajaran 324 Semesta.


Semesta Shangdi yang diciptakan Lin Chen sendiri awalnya untuk menghidupkan semua manusia di Bumi yang terbunuh, tapi dengan sejarah yang dirubah, seperti manusia yang dibawanya ke Bintang Xiang tidak ada lagi.


Adapun Dewi Nuwa, Pan Gu, Yuanshi Tianzun dan Taoist Sanqings di Semesta Shangdi, semuanya palsu, hanya ingatan yang ditanamkan.


Kemudian, semua yang ada di Semesta Shangdi, di dasari dari novel yang pernah dibacanya “Kelahiran Kembali Kultivator Abadi”.


"Apakah Gege ingin memindahkannya ke Dimensi Kekacauan?"


Lin Chen terdiam sejenak. Dia menundukkan kepalanya, menatap wajah Yan Xue yang duduk di pangkuannya. "Entahlah, kekuatan terkuat di sana baru Heavenly Realm. Untuk bisa mempertahankan dunia di Dimensi Kekacauan, harus ada Lord Realm dengan 550 Jalur Abadi yang menjaganya. Bahkan meski di Semesta Shangdi sudah aman, tapi setelah bergabung dengan Dimensi Kekacauan, Energi Kekacauan yang berlimpah akan masuk, dan menciptakan bahaya baru."


Yan Xue tahu ini, dan harus mengakui bahwa Semesta Shangdi masih sangat lemah. Bahkan Si Kembar sudah memiliki dunia masing-masing, dengan kekuatan Lord Realm 700 Jalur Abadi.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kalau kita menambah anak?"


Yan Xue memutar matanya. Dia sudah bosan mendengar pertanyaan ini, sampai sekarang, dia sudah melarikan sebanyak 13.241 kali, memiliki 62.230 cucu, 263.070 cicit dan seterusnya. Tapi meski demikian, dia menganggukkan kepalanya malu-malu.

__ADS_1


Lin Chen sangat senang, berdiri membawa Yan Xue ke kamar.


"Tunggu ..." Yan Xue meminta Lin Chen berhenti. "Apakah Gege berniat untuk menemuinya?"


Lin Chen merenung. Banyak yang ingin bertemu dengannya, tapi dia selalu menolak, bahkan cicit dari cicitnya yang ingin bertemu, tidak bisa karena kekuatan yang rendah, apalagi orang lain.


"Tidak, tapi aku akan mengirim sedikit kesadaran. Hanya sebongkah cahaya, jika wujud asliku yang datang, mereka yang ada di Semesta Shangdi tidak akan bisa bertahan."


Yan Xue mengangguk, tahu apa yang dimaksud suaminya. Saat ini, mereka berdua tidak bisa memasuki dunia mana pun di Dimensi Kekacauan, jadi selama ini, mereka hanya tinggal di Altar Dewa.


Lin Chen mengulurkan tangannya, membuka ruang spasial yang hanya muat telapak tangan. Dia menarik tangannya lagi, dan menggenggam sebuah bola hitam yang sangat padat, dia melihatnya sekilas dengan emosi tertentu. Lalu melemparkannya ke salah satu tempat di Dimensi Kekacauan.


Bola yang dilemparkannya tadi adalah Semesta Shangdi.


"Walaupun tidak memenuhi syarat di Dimensi Kekacauan, aku akan mengecualikan Semesta Shangdi. Jika dalam sepuluh ribu tahun masa perlindungan tapi tidak ada seorang pun Lord Realm, maka hanya kehancuran yang didapat."


...***...


Ketika cahaya menghilang, Mo Lian kembali ke Alam Semesta. Dia melihat ruang di bawahnya yang pulih, begitu pun dengan ruang di atasnya, sekarang tidak ada lagi Alam Selestial dan Hanzi di sini. Tidak ada lagi Tiga Alam, hanya ada satu nama, Alam Utama.


Mo Lian melambaikan tangannya, membuat semua kehancuran di Alam Utama pulih perlahan-lahan. Kematian yang disebabkan oleh hancurnya Alam Selestial, kembali bangkit dari kematian dengan bantuan Energi Asal.


"Sayang..."


Mo Lian tertegun, dia berbalik perlahan dan melihat Hong Xi Ning yang menatapnya dengan mata merah dan air mata yang mengalir.


Hong Xi Ning melesat ke arah Mo Lian dan masuk ke dalam pelukannya.


Mo Lian memeluk erat Hong Xi Ning, kemudian saat Qin Nian dan Yun Ning datang menghampiri, dia mengecup kening keduanya secara bergantian saat masih memeluk Hong Xi Ning. "Aku senang kalian baik-baik saja."


Dia membuka tangannya lebih lebar, menerima ketiganya di pelukannya secara bersamaan. Dia sangat mencintai mereka, dan sangat marah saat mengetahui bahwa mereka terluka, tapi setelah dia menguasai Energi Asal, kematian dan kehidupan berada di genggaman tangannya, dia bisa menghidupkan tanpa harus mengandalkan Jalan Enam Reinkarnasi.

__ADS_1


"Apakah semuanya berakhir?" Hong Xi Jiang masih tidak yakin, terutama ketika mendengar penjelasan singkat Mo Lian saat masih di Alam Selestial. Ada keberadaan lebih kuat dari Dewi Nuwa. Tiga Alam tidak lagi ada, apakah Dewi Nuwa, Pan Gu, Yuanshi Tianzun dan Taoist Sanqings akan datang untuk meminta pertanggungjawaban?


Mo Lian tidak tahu harus mengatakan apa, karena dia sendiri merasa informasi yang didapatnya di Domain Dewa tidak sepenuhnya benar, ada informasi yang mengada-ada, dan dia menebak sesuatu. Tebakan paling liar yang dipikirkannya, adalah Tiga Alam ini hanyalah papan catur, atau bahkan mungkin hanyalah tiruan.


Tepat saat Mo Lian hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba ada getaran yang mengguncang Alam Utama. Guncangan ini sangat terasa, seperti sedang berada di lantai teratas gedung pencakar langit saat sedang gempa bumi.


Kemudian ada energi yang sangat familiar, itu adalah Energi Asal yang didapat Mo Lian dari Domain Dewa. Kemudian dia merasa aturan di Alam Utama telah berubah, dengan perluasan wilayah yang cukup besar, dia juga merasakan adanya ranah lain di atas Garis Dewa atau Jalan Belantara.


Perubahan itu bukan hanya sekedar itu, tapi dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya saja, dia merasakan adanya eksistensi kuat yang sepertinya tengah menggenggam Alam Utama.


Apakah mungkin...


Mo Lian memikirkan eksistensi yang mampu memanifestasikan Dewi Nuwa dari pecahan kekuatannya. Tapi dia menggelengkan kepalanya, membuang pemikiran itu.


"Apakah Tiga Alam hanyalah dunia kecil di suatu tempat di luar sana?" Tiba-tiba Hong Xi Jiang mengajukan pertanyaan.


Mendengar itu, Mo Lian tidak terlalu terkejut, dia sudah bisa menebaknya. Tapi ada pemikiran yang lebih liar daripada yang dipikirkan Hong Xi Jiang. "Apakah ... Tiga Alam ini ... hanyalah tiruan?"


Ketika pemikiran Mo Lian diutarakan, bukan hanya Hong Xi Jiang, rekan-rekan lain yang sudah dihidupkan saat masih di Alam Selestial dan baru datang, terdiam membeku tanpa kata dengan mulut terbuka lebar membentuk “O”.


Ya... Saat mereka memikirkannya, mereka merasa ada yang salah. Tidak ada lagi Tiga Alam, mereka menang, harusnya mereka bahagia, tapi ada perasaan kosong, seolah semua misteri belum terungkap.


Tapi, jika ini memang tiruan, untuk apa tempat ini diciptakan? Untuk apa mereka ada? Apakah yang menciptakan mereka terlalu bosan dan membuat permainan catur, dengan mereka yang ada di sini sebagai bidaknya?


Ketika getaran berhenti, dan sebelum Mo Lian bisa menghela napas, tiba-tiba ada bola cahaya putih yang muncul di depan mereka, itu bersinar terang dan sangat menyilaukan mata. Tapi tidak ada rasa sakit seperti yang diharapkan, hanya perasaan hangat yang membungkus.


Meski demikian, Mo Lian tidak mengendurkan kewaspadaannya, melainkan meningkatkannya berkali-kali.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2