Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 188 : Menggali Makam


__ADS_3

Akar kayu yang sangat kecil seperti cacing itu semakin mengecil seperti sehelai rambut, dan bergerak sangat cepat di lantai keramik, di bagian pembatas keramik untuk tidak diketahui keberadaannya, dan terkadang melewati tanaman hias di sana.


Hingga setelah keluar dari bangunan, akar itu pergi ke dalam semak-semak, dan saat keluar dari semak-semak yang terlihat adalah seorang pemuda tampan berambut hitam dengan potongan rapi.


"Setidaknya membutuhkan empat jam sampai ke Kota Giza. Aku ingin menggali makam di sana dan menemukan benda-benda Mesir Kuno. Jika Ibu mengetahui hal ini, bukan hanya tidak diperbolehkan untuk keluar, mungkin aku akan dikurung beberapa minggu."


Mo Lian menekan kakinya di tanah, kemudian melompat sangat tinggi hingga menembus awan, lalu terbang jauh ke arah barat, pergi ke Kota Giza.


Dalam perjalannya kali ini ia mengenakan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya, agar tidak diketahui oleh Ibunya yang bisa saja melihat berita tentang kejadian aneh nanti.


Penggalian makam ini juga harus dirahasiakan, dan apabila diketahui oleh Pemerintah Mesir, kesalahan bisa dilemparkan ke orang lain, yang indentitasnya tidak diketahui.


Dalam perjalanan, ia bertemu banyak sekali pesawat komersial yang terbang ke arah berlawanan. Untungnya ia berada di ketinggian yang lebih tinggi dari jalur pesawat, sehingga tidak membuat kepanikan.


"Mesir adalah salah satu tempat yang mengandung misteri, terutama Dewa Kematian, Anubis. Jika aku bertemu dengannya, yang tentunya berada ditingkat Jiwa Emas, mungkin aku akan kewalahan karena ini hanyalah sebuah klon."


"Semoga saja aku tidak bertemu dengannya, itu hanya akan menimbulkan kerusakan yang parah pada kota."


Mo Lian terus bergerak sangat cepat, dan terkadang menggunakan sedikit kekuatan dari Dewa Semesta untuk mempercepat laju terbangnya, agar bisa sampai di sana sebelum sore hari.


Hanya dalam hitungan menit saja ia sudah sampai di langit Kota Giza, ini semua dapat terjadi karena kekuatan dari Dewa Semesta diubahnya menjadi kecepatan, agar dapat sampai lebih cepat.


Mo Lian menundukkan kepalanya melihat Piramida dan Great Sphinx. Ia melepaskan energi spiritualnya menuju ke dalam tahun yang jauh di sana, ia merasakan bermacam-macam benda yang menurutnya lumayan berharga, hanya saja untuk sampai ke sana cukup merepotkan.


Barang-barang berharga itu adalah tumpukan emas, berlian, mahkota, maupun pakaian yang entah mengapa, ia merasa semua benda itu masih terjaga sampai sekarang.


Mo Lian juga tidak terlalu terkejut dengan harta yang masih terjaga di dalam sana, karena sangat sulit untuk menggali di sekitar Piramida, di kedalaman lebih dari 50 meter. Menggali dari tempat jauh juga tidak akan berhasil, karena terlalu memakan waktu, dan bisa menghancurkan brangkas yang menyimpan harta di sana.


Brangkas di dalam sana juga tidak seperti pada umumnya, karena terdapat sedikit energi spiritual yang terkandung di dalamnya.


"Belum lama aku tiba di sini, aku sudah menemukan harta. Tapi, itu tidaklah mudah untuk mengambilnya, dan ada belasan penjaga yang berdiri di depan maupun di dalam brangkas."


Mo Lian berdiam di langit untuk beberapa saat, kemudian ia pergi menjauh dari Piramida dan Great Sphinx untuk membangun tenda. Ia tidak ingin memasuki ke dalam tanah sana saat malam hari, karena itu terlalu merepotkan jika penjaga di sana bangun dan mulai melancarkan serangan.


Yang menjaga di sana juga bukanlah manusia ataupun hewan, melainkan sebuah boneka tanpa jiwa, namun memiliki energi spiritual yang terkandung di dalamnya.

__ADS_1


***


Keesokan Harinya


Sebelum Matahari terbit, Mo Lian sudah bangun dari setengah tidurnya karena harus selalu waspada di hamparan pasir seorang diri, meski sebenarnya ini hanyalah klon yang tidak terlalu berdampak pada tubuh utama.


Mo Lian melihat waktu di jam tangannya yang ikut berganda juga. "Masih butuh tiga puluh menit lagi untukku bergerak, tapi bergerak sekarang juga tidak ada perbedaan, bahkan lebih bagus." Ia menyimpan semua barang yang dibawanya.


Mo Lian menekan kakinya di tanah, dan perlahan ia mulai menyatu dengan tanah, turun sangat dalam menuju tempat penyimpanan harta.


Untungnya ia memiliki banyak sekali teknik di pikirannya, meski saat dulu tidak memiliki elemen yang berhubungan. Sehingga ia bisa melakukan banyak hal, salah satunya seperti ini.


Setelah turun sampai jarak tertentu, perlahan ia mengangkat tangannya, mengarahkannya ke depan, ke arah aura yang dirasakannya. Tiba-tiba tanah maupun bebatuan di depannya terbelah, cukup untuk dilewati oleh satu orang.


Ketika bebatuan di depannya sudah terbelah, ia bergerak sangat cepat ke depan, dengan terus membuka bebatuan untuknya lewat.


Belasan menit kemudian, Mo Lian tidak bisa lagi bergerak ke depan, karena hanya dalam beberapa meter lagi, ia akan menemui penjaga yang menjaga harta.


Mo Lian menyentuh dinding di depannya. "Saat aku berada di langit, aku hanya merasakannya samar-samar, ternyata ada ruang luas di depan," gumamnya.


Tiga tombak itu berwarna hitam, dan terpancar aura hitam yang mematikan, bisa mengurangi masa hidup dan mengunci pergerakan.


Mo Lian memiringkan kepalanya menghindari serangan, dan menyampingkan tubuhnya untuk menghindari serangan yang terarah pada kedua pundaknya.


Mo Lian memegang dua batang tombak, dan mengalirkan energi spiritualnya yang berubah menjadi api yang membara. Api itu bergerak sangat cepat membakar semua tombak, menjulur pada pengguna tombak yang seluruh tubuhnya dililit oleh perban, dan menggunakan jubah hitam.


"Khaahh!" Ketiga pengguna tombak itu berteriak saat tubuhnya terbakar, hingga akhirnya berubah menjadi abu.


"Ruangan ini setidaknya setengah dari lapangan sepakbola, dan melihat dari besarnya brangkas di depan, pastinya memiliki jumlah yang berlimpah. Aku akan mengeluarkan seluruh energi murni yang terkandung di dalam artefak, kemudian menggunakannya untuk meningkatkan kekuatanku." Mo Lian berjalan menuju brangkas batu yang berada di depannya, kemudian menyentuhnya.


Saat Mo Lian masih menyentuh dinding di depannya, tiba-tiba ia menundukkan kepalanya, menghindari serangan tombak lain yang berasal dari kiri dan kanannya.


"Khaahh!" Teriakan lain kembali terdengar, dan itu berasal dari dua orang yang kepalanya tertembus oleh tombak.


Mo Lian kembali menyentuh dinding di depannya, kemudian ia mundur jauh ke belakang.

__ADS_1


Duarr!


Ledakan besar terjadi di depan Mo Lian, menghancurkan dinding brangkas di depannya, menciptakan asap cokelat yang sangat tebal dan menghalangi pandangan.


Dari dalam asap cokelat itu mulai terlihat siluet manusia yang berjumlah lima orang, yang berada di barisan terdepan setidaknya setinggi lebih dari dua meter, memegangi tongkat yang ujungnya berbentuk seperti mata tombak, namun sedikit berbeda.


Ketika siluet lima orang itu terus melangkah maju hingga memperlihatkan wujud aslinya, yang terlihat ternyata bukanlah manusia, dan juga hewan. Pemimpin yang berada di barisan terdepan adalah Anubis, Dewa Kematian yang dipercaya oleh Mesir Kuno.


"Ternyata benar-benar ada," ucap Mo Lian yang menutupi wajahnya dengan lengan kirinya.


Anubis itu terus melangkah baju seorang diri, sampai jaraknya hanya tersisa sepuluh meter dari Mo Lian, barulah berhenti. "Aku tidak pernah menyangka akan ada yang memasuki tempat ini, ini sudah ribuan tahun berlalu, bahkan saat kerajaan masih terbentuk, tidak ada satupun dari mereka yang bisa pergi ke sini."


"Manusia, aku tidak akan mentolerir siapapun yang masuk ke dalam sini. Aku akan membunuhmu hari ini juga."


Mo Lian memiringkan kepalanya tidak tahu apa yang diucapkan Anubis di depannya, tapi entah mengapa ia merasa jika ia ditantang oleh Anubis itu. Ia menengadahkan kepalanya melihat langit gua yang diciptakannya tadi. "Bertarung di sini hanya akan menjadi kerugian, aku tidak bisa bergerak dengan bebas, dan ada risiko terkubur di sini."


Tiba-tiba Mo Lian kembali memiringkan kepalanya, dan terjadi ledakan yang sangat besar jauh di belakangnya. Ledakan itu terjadi karena serangan yang dilepaskan oleh Anubis, itu terlihat dari tombaknya yang berasap dan memancarkan aura hitam yang menekan.


"Hampir menembus Jiwa Emas!"


Bang!


Mo Lian melepaskan auranya yang sama, dengan jubah emas yang samar-samar terlihat, namun ia usahakan untuk membaur dengan udara sekitar, agar Ayahnya tidak mengetahui jika dirinya sekarang berada di sini.


Mo Lian mengangkat tangannya ke udara, membuat lubang yang menembus Piramida hingga memperlihatkan langit biru jauh di atas sana.


Mo Lian menekan kakinya di tanah, kemudian melesat naik ke langit yang tinggi.


Anubis itu memutar tombaknya, kemudian menghentakkan keras, menciptakan getaran hebat seperti gempa bumi. "Mencoba melarikan diri setelah mengusik ketenangan dan membunuh bawahanku? Tidak akan ku biarkan!"


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2