Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 481 : Diagram Yin dan Yang: Api


__ADS_3

—1 Bulan Kemudian—


Tubuh Mo Lian diselimuti oleh api yang sangat panas dan terkadang terdengar raungan naga yang mengancam darinya meski 3 Naga Api terus memudar setiap waktunya.


Chu Yeyu merenungkan sesuatu ketika melihat kemajuan Mo Lian, berpikir hadiah apa lagi yang harus diberikannya. "Haruskah aku menghadiahinya pelukan lagi?"


"Bocah ini adalah orang normal. Kultivator lain yang kutemui, tidak pernah melihatku sebagai wanita, mereka selalu fokus latihan dan latihan, mengatakan bahwa wanita hanya beban yang memperlambat proses pengembangan diri. Coba lihat dia, dia memiliki tiga istri, dan dari apa yang dikatakan Yue Fei setelah memata-matai kehidupannya, hubungan suami-istri mereka sangat harmonis."


Jujur, itu mengejutkan Chu Yeyu. Meski dia tidak pernah menjalin hubungan, dia setidaknya tahu pasangan suami-istri dari seorang kultivator sangat jarang berhubungan. Biasanya hanya akan berlatih bersama, kalaupun berhubungan, itu pun hanya karena Kultivasi Ganda, bukan kebutuhan.


Chu Yeyu menengadahkan kepalanya melihat langit merah dengan api yang terbang ke mana-mana. "Aku harus memberi pelajaran kepada semua pria di luar sana, mereka harus melihatku sebagai wanita."


Tiba-tiba Chu Yeyu menunduk saat merasakan perubahan pada Mo Lian. "Baru sebulan setelah membentuk Tiga Naga Api, dan sekarang dia hampir selesai?" Ada kejutan di matanya, ini lebih cepat dari yang diharapkan.


Chu Yeyu menunduk ke kanan melihat rotan yang berlumuran darah kering. "Apakah aku tidak bisa memukulnya lagi?"


Chu Yeyu menggelengkan kepalanya, dia membuang pikiran tentang mencambuk Mo Lian, dia takut Wang Yue Fei datang kepadanya dan meminta pertanggungjawaban karena membuat menantunya terluka seperti ini. Dia bisa tahu bahwa Wang Yue Fei sangat menyayangi Mo Lian, dan itu bukan lagi rahasia, semuanya tahu.


Energi merah seperti ular kecil keluar dari hidung Mo Lian, itu menari-nari dan membawa aura kekacauan yang panas sebelum masuk kembali. Dari waktu ke waktu, Diagram Yin dan Yang (Api) di belakangnya terus memadat, memperjelas wujudnya.


Getaran kecil tercipta, gunung-gunung api mulai memuntahkan magma perlahan seperti tangisan.


Chu Yeyu mengangguk kecil mengungkapkan kepuasannya karena melihat muridnya yang sudah meningkat pesat.


Mo Lian terus mengatur Diagram Yin dan Yang (Api) untuk terus memadat, ini menghabiskan banyak energi dalam arti lain. Tenaganya dikuras habis dan konsentrasinya harus berada ditingkat lain agar tidak putus di tengah jalan dan malah mengulangnya kembali.


Dengan Mo Lian sebagai pusatnya, dia melepaskan tekanan kuat yang merusak tanah di bawahnya. Retakan-retakan bermunculan membentuk sarang laba-laba yang menyebar, lava panas naik ke permukaan tanah merah, itu bergerak ke arahnya dan memasuki tubuhnya perlahan-lahan melalui pori-pori kulitnya.


Pakaian yang dikenakannya terbakar, memperlihatkan tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun dan otot-otot tubuhnya yang kuat.


Chu Yeyu memicingkan matanya saat perhatiannya tertuju pada bagian bawah tubuh Mo Lian. "Apakah milik laki-laki memang sebesar itu?"


Mo Lian tidak sadar bahwa Chu Yeyu sedang memperhatikan setiap sudut tubuhnya. Dia hanya fokus pada Diagram Yin dan Yang (Api) sehingga bisa menyelesaikannya dalam waktu dekat, kemudian kembali ke istri-istrinya.

__ADS_1


***


Tidak diketahui sudah berapa lama waktu berlalu, Diagram Yin dan Yang (Api) terus memadat dan bahkan saat ini sudah bisa menghalangi sinar matahari, tidak lagi samar-samar seperti sebelumnya.


Kekuatannya terhadap kendali Elemen Api sudah meningkat pesat, dan merasa sudah berada di ambang Dao Api. Bahkan mungkin, sudah mencapai tingkatan yang sama, tapi menggunakan metode yang berbeda dalam penguasaannya.


Diagram Yin dan Yang (Api) bergetar dan mengeluarkan suara dengung yang menggetarkan bumi. Gunung-gunung mulai memuntahkan magma panas yang melonjak ke langit, membuat langit merah menjadi lebih merah dengan suhu panas yang menyebar.


Magma yang sudah naik ke langit, tiba-tiba turun lagi seperti hujan yang setiap kali jatuh menghantam tanah, akan menimbulkan ledakan keras yang mengguncang bumi. Tanah berlubang, magma yang berada di kedalaman tanah mulai naik mengisi lubang.


Duarr!


Tanah meledak, pilar api melonjak naik ke langit, kemudian berubah menjadi naga api yang mengeluarkan raungan keras. Naga api itu berputar-putar di langit untuk beberapa saat, kemudian melesat jatuh menghantam Mo Lian.


Ledakan yang diharapkan tidak terjadi, naga api itu memasuki tubuh Mo Lian, menimbulkan perubahan pada kekuatannya yang terus meningkat.


Kekuatannya meledak-ledak di dalam tubuhnya, seolah ingin melepaskan semua dan membakar apa pun yang ada di sekitar.


Chu Yeyu tidak menghentikan Mo Lian dalam menghancurkan tempat latihan yang dibuatnya, dia bisa mengembalikannya dengan jentikkan jari, jadi tidak perlu terlalu berlebihan sampai menghentikan Mo Lian dari latihannya.


Perlahan, aura panas yang di tubuh Mo Lian mulai turun secara signifikan. Api yang membakar tubuhnya mulai padam dengan asap putih yang menyelimuti tubuhnya.


Diagram Yin dan Yang (Api) masih melayang di belakang punggungnya, tapi tidak lagi membawa kehancuran seperti sebelumnya karena sekarang dia sudah bisa mengendalikan diri.


Mo Lian membuka matanya perlahan seraya mengembuskan napas. Dia menarik napas dalam-dalam, tidak lagi merasakan sakit karena panasnya, dia bahkan merasa lebih nyaman saat menghirup udara panas di sini.


Mo Lian mendongak menatap Chu Yeyu, dan saat hendak membuka mulutnya, tiba-tiba dia merasa ada yang aneh. Dia mengerutkan keningnya, kemudian menunduk, apa yang dilihatnya adalah ularnya yang mengenai lava panas.


Dia tersentak, kemudian menutup matanya menahan rasa malu dan menggunakan energinya untuk menciptakan pakaian. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia berpenampilan seperti ini, bahkan meski itu hanya beberapa detik, ini tetaplah memalukan.


"Itu ..." Mo Lian mengangkat kepalanya dengan kaku. Dia mengatur napasnya, dan setelah tenang, dia berlutut seraya menangkupkan kedua tangannya. "Terima kasih, Guru."


Chu Yeyu menganggukkan kepalanya, dia puas dengan kinerja Mo Lian. "Bagus, bagus. Ngomong-ngomong, apakah kau sering berlutut?"

__ADS_1


Mo Lian sedikit memiringkan kepalanya, bingung dengan pertanyaan itu. Tapi meski begitu, dia tetap menjawabnya, "Aku hanya berlutut di orangtua, mertua dan istri-istriku. Adapun bersujud, orangtua dan Jia Shenjun, Leluhur yang mengajarkanku Sembilan Niat Pedang."


"Kau berlutut di depan istrimu?" Chu Yeyu merasa aneh, tapi dia tetap penasaran.


"Ya ..." Mo Lian menggaruk kepalanya. "Bukankah itu wajar? Berlutut, mengambil tangannya dan menciumnya, kemudian memberikan kata-kata indah."


Chu Yeyu memiringkan kepalanya saat melipat kedua tangannya di depan dada. Dia masih tidak mengerti mengapa harus berlutut di depan istri, tapi dia mengabaikannya, dan bertanya yang lain, "Siapa Jia Shenjun?"


"Ini dimulai 50.000 tahun yang lalu, saat Aliansi Sepuluh Ribu Ras menyerang Planet Biru. Kekuatan Dewa Bumi dan Surga diturunkan. Banyak Dewa Merah, Hitam dan Bumi yang dikerahkan untuk menghalau, dan yang paling berkontribusi terhadap mempertahankan Planet Biru adalah Jia Shenjun."


Mo Lian terdiam sejenak, kemudian menambahkan, "Beberapa tahun yang lalu, aku datang ke Dunia Kecil yang ditinggalkan, dan mendapatkan warisan darinya. Dia bahkan menggunakan kekuatan yang tersisa untuk meningkatkan kekuatanku, padahal dia bisa menggunakannya untuk bereinkarnasi, tapi dia lebih memilih mengorbankan dirinya untuk Ras Manusia di masa depan. Saat itu aku masih Dewa Pemula, dan karenanya, aku hampir menembus Dewa Hitam."


Chu Yeyu mengangkat sebelah alisnya. "Ada manusia seperti itu? Menarik sekali, dia sama seperti Kaisar Manusia saat itu. Mengorbankan diri untuk mempertahankan Alam Manusia agar tetap memiliki Energi Yin dan Yang."


Chu Yeyu menengadahkan kepalanya melihat langit merah. Dia tersenyum dan sepertinya pikirannya sedang pergi untuk mengingat-ingat kembali perang Tiga Alam. Kemudian, tiba-tiba kedua tangan yang melipat di depan dada, terkepal.


Mo Lian tersentak, kedua tangannya jatuh di tanah untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Tekanan yang dikeluarkan Chu Yeyu sangat kuat, dia merasakan getaran di tubuhnya, dan rasa sakit datang langsung ke Inti Jiwa-nya. "Gu- Guru ..."


Chu Yeyu tersadar, dia langsung menarik kembali aura membunuhnya. Dia melambaikan tangannya seolah menepis nyamuk, membuat Mo Lian langsung berdiri tegak dan semua luka pulih.


Dia memandang Mo Lian untuk beberapa waktu, kemudian dia melambaikan tangannya lagi. "Kau sudah selesai di sini, sekarang pergi ke Pan Shanyu. Sebelum itu, kau bisa pergi ke istrimu, tapi hanya satu hari."


Mo Lian membungkuk, menangkupkan kedua tangannya. "Terima kasih, Guru!"


Setelah itu, Mo Lian meninggalkan tempat dalam sekejap mata tanpa menunggu Chu Yeyu membalas.


Chu Yeyu terdiam tanpa bisa berkata-kata lagi ketika melihat Mo Lian yang langsung pergi. Meski dia yang memintanya untuk pergi, tapi untuk benar-benar pergi langsung tanpa berbasa-basi terlebih dahulu atau menundanya sebentar, itu benar-benar keterlaluan.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2