
Mo Lian menunggu Mo Fefei selesai berganti pakaian dengan merebahkan dirinya di atas rerumputan. Ia menutup matanya perlahan, menikmati hembusan angin sejuk yang menerpa kaki dan kemudian wajahnya. Susana di sini sangatlah tenang, meski sebenarnya ada bahaya yang bersembunyi di kegelapan.
Ketika ia baru saja menutup matanya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang menghampirinya dan menghalangi sinar matahari yang mengenai wajahnya.
"Kakak, aku sudah selesai berganti baju. Selanjutnya, kita akan pergi ke mana?"
Mo Lian membuka matanya perlahan, di sebelahnya sudah ada Mo Fefei yang berjongkok. Dengan kedua tangan menyentuh tanah, ia menopang badannya untuk duduk. Ia mendongakkan kepalanya, melihat jauh ke depan. "Kita akan pergi jauh ke sana, mencari rempah maupun herbal, serta meningkatkan kekuatanmu." Ia menunjuk jauh ke tengah-tengah hutan.
Mo Fefei menolehkan kepalanya mengikuti arahan dari Mo Lian. "Apakah tidak masalah jika kita pergi terlalu jauh?"
Mo Lian berdiri dari tempat duduknya. Ia mengangkat tangan kirinya mengusap lembut puncak kepala Mo Fefei. "Tidak apa-apa, kita harus pergi ke sana, mencari tahu apakah ada bahaya yang mengintai. Jika ada, kita akan menghilangkan bahaya itu, sebelum bahaya itu keluar dari sini dan mengacaukan Kota Hanzhong."
Ia tidak tahu apakah di Kota Hanzhong ada Pejuang yang bersembunyi. Namun ia yakin, jika monster seperti ular tadi keluar dari sini, bisa dipastikan Kota Hanzhong akan hancur.
Kekuatan monster dengan Pejuang tentunya berbeda, bahkan jika itu berada ditingkat kekuatan yang sama.
"Baiklah, Kakak." Mo Fefei tahu jika itu hanyalah sebuah alasan. Semua ini dilakukan untuk merubahnya menjadi pribadi yang kuat dan tegas.
"Ngomong-ngomong, mengapa Kakak tidak mengganti pakaian sepertiku? Memalukan rasanya jika hanya aku yang memakainya?" tanya Mo Fefei yang melihat pakaiannya sendiri.
"Memalukan apanya? Tidak ada siapapun selain kita di sini." Mo Lian menjentik ringan dahi Mo Fefei.
Mo Fefei tersentak saat Mo Lian menjentik dahinya, ia mengusap dahinya dengan tangan kanan. "Tapi, tetap saja ..."
Mo Lian menghembuskan napas panjang sembari mengalirkan energi spiritualnya ke sekujur tubuh. Perlahan, cahaya biru memancarkan darinya. Ketika cahaya itu meredup dan menghilang, penampilannya berubah.
Rambut hitam pendek Mo Lian tumbuh dengan cepat hingga sepunggung, alis tajam bagaikan pedang, mata biru kehitaman dengan tahi lalat di bawah mata kirinya.
"Apakah ini sudah cukup?" Mo Lian membetulkan rambut yang menghalangi mata kanannya.
Mo Fefei terdiam sejenak dengan mata terbuka lebar, kemudian ia mendekati Mo Lian dan mendongak. "Ternyata Kakak bisa berubah seperti ini ..." ucapnya kemudian mengalihkan perhatiannya pada lahan di belakang Mo Lian.
Mo Fefei berlari dan mengambil tas selempang miliknya. Ia membuka tas itu dan mengeluarkan handphone, kemudian berlari kembali ke arah Mo Lian. "Kakak! Ayo kita berfoto bersama, aku ingin meng-upload foto kita ke SNS."
__ADS_1
Mo Lian mengangguk kecil dan sedikit membungkukkan badannya agar tingginya sejajar. Kemudian mengambil gambar bersama. Ia tahu jika adiknya sangat aktif di media sosial, ia juga melihat banyak foto maupun video yang diunggah di sana, dan tentunya masih dibatas wajar.
Belasan menit kemudian semenjak mereka berdua mengambil foto bersama. Akhirnya Mo Fefei sudah puas mengabadikan momen ini, dan Mo Lian hanya bisa pasrah dijadikan sebagai model yang harus menuruti semua permintaan Mo Fefei dalam berpose.
"Ayo cepat, kita harus pulang malam ini," ucap Mo Lian yang melayang perlahan, meninggalkan daratan.
Mo Fefei yang mengecek foto di handphone itu mulai panik. Ia menengadahkan kepalanya melihat Mo Lian yang pergi duluan. "Tu- Tunggu Kakak!" Ia menyimpan handphone-nya kembali, dan pergi mengikuti Mo Lian.
Keduanya pergi dengan kecepatan stabil, kecepatan yang bisa ditempuh oleh Ranah Inti Perak. Saat berada di langit, pandangan mereka menjadi lebih luas, seperti tempat matinya ular besar tadi. Di sana terdapat sebuah lubang yang berbentuk seperti telapak tangan, serta darah yang mengalir deras mengisi kolam itu hingga penuh.
Hewan-hewan lain dari berbagai tempat juga datang ke dua mayat monster tadi untuk memakan dagingnya. Mo Lian yang melihatnya tidak tinggal diam, ia menggunakan kekuatan jiwanya untuk mengambil Inti Spiritual dan menyimpannya. Sedangkan untuk bahan lainnya, ia tidak membutuhkannya, karena tidak berguna, berbeda dengan ular putih di Gunung Kunlun.
Dengan pandangan lurus ke depan, Mo Lian berucap, "Siapa saja yang akan datang ke acara reuni?"
Mo Fefei menolehkan kepalanya ke kanan menatap Mo Lian, kemudian mengaligkan pandangannya melihat daratan. "Semua orang di kelas." Suaranya terdengar pelan seperti orang yang kehilangan semangat.
"Berarti dia datang? Apa yang akan kau lakukan jika dia mengancam mu seperti dulu? Apakah Kakakmu yang tampan ini perlu turun tangan?"
Mo Fefei menggeleng pelan dengan tangan kanan menyentuh dadanya. "Terimakasih, tapi tidak perlu. Aku sudah belajar banyak hari ini, aku tidak ingin menyusahkan Kakak lagi."
"Jadi, akan menyedihkan rasanya jika adikku memilih untuk tidak mengandalkan kakaknya lagi."
Mendengar itu, Mo Fefei tidak bisa menahan tangisnya. Air mata mulai mengalir membasahi wajahnya dan terbang tertiup angin. Namun kesedihannya itu tidak bertahan lama, dan berubah menjadi rasa kesal.
"Apalagi saat kecil aku yang memandikanmu, menyuapimu—"
Buk!
Mo Fefei memukul tulang rusuk Mo Lian dengan kerasnya hingga menimbulkan suara. Ia tidak pernah mengingat hal itu, namun ia mengetahuinya dari Ibu yang bercerita saat mereka semua pindah ke Mansion Bai Long.
"Kakak, itu memalukan." Wajah Mo Fefei memerah.
Mo Lian terkekeh kecil dan kembali fokus dengan perjalanannya menuju kedalaman hutan yang entah berada di mana. Dari awal mereka meninggalkan bukit hingga sekarang, mereka masih belum melihat ujung hutan ini.
__ADS_1
Hingga belasan menit berlalu, tiba-tiba Mo Lian menghentikan gerakannya dan melayang di langit sembari menunduk melihat ke bawah.
Mo Fefei yang terus terbang ke depan itu berbalik dan menghampiri Mo Lian. "Kakak, ada apa? Mengapa berhenti tiba-tiba?" tanyanya sembari melihat ke bawah.
"Aku merasa di kedalaman tanah sana, ada sesuatu yang mengeluarkan aura kuat. Aura ini berasal dari suatu benda yang cukup berbahaya, kemungkinan besar itu adalah peninggalan dari Kultivator Zaman Kuno."
Mo Fefei menoleh menatap Mo Lian, kemudian kembali melihat hutan yang rimbun. "Apakah kita akan turun?"
Mo Lian mengangguk kecil, kemudian menjawabnya, "Tentu saja. Benda itu kemungkinan sebuah artefak, dan bisa saja benda itu adalah barang yang dicari oleh pria tua yang kita temui di bandara."
Mo Fefei memiringkan kepalanya. "Pria tua? Pria tua yang mana? Aku tidak pernah melihatnya?" tanyanya heran.
Mo Lian hanya diam tak menjawab pertanyaan itu. Kemudian ia turun perlahan dari langit dan menembus dedaunan yang sangat lebat, menutupi sinar matahari untuk tidak menyinari tanah di bawahnya.
Di sini sangatlah gelap, seperti malah hari, namun masih bisa melihat sekitar. Tanah di sini juga sangat berbeda sekali dengan tanah di luar, tanah di sini berwarna hitam dengan aura hitam yang samar-samar keluar dari retakan tanah.
Aura ini sama seperti aura yang dilihatnya di kedalaman Segitiga Bermuda.
Ketika Mo Fefei mendarat di sebelahnya, tubuh Mo Fefei bergidik ngeri saat merasakan aura sekitar. Dengan cepat ia mengarahkan telapak tangannya dan melindungi Mo Fefei dengan energi spiritualnya. Aura di sini memang sangat mengerikan, tidak bisa ditahan oleh Ranah Inti Perak belaka. Namun berbeda dengan Mo Lian, yang bisa mengubah aura di sini menjadi energi murni.
Mo Lian menolehkan kepalanya melihat sekitar, sembari menyebarkan kesadarannya mencari tahu apakah ada hal mencurigakan lain di sini. Hingga tak lama kemudian, kesadarannya menangkap sebuah gundukan tanah setinggi sembilan meter, dengan pintu yang terhalang oleh batu besar.
Dari celah-celah antara pintu dengan batu, ia merasakan aura yang lebih kuat dan berat keluar dari sana.
Mo Lian mengalihkan perhatiannya pada sisi kanannya, atau arah selatan. Sepertinya bukan hanya sebuah artefak, namun juga ada senjata. Pria tua itu datang kemari untuk mencarinya, tapi dia mati terbunuh karena monster-monster di sini
Namun, ada hal lain yang mencurigakan. Yaitu, bagaimana cara pria tua itu bisa menemukan tempat ini?
Sepertinya, aku harus datang berkunjung ke tempat mereka!
..
***
__ADS_1
*Bersambung...