Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 290 : Mo Fefei Menangis


__ADS_3

Seringai dingin terlihat jelas di wajah Mo Lian saat melihat pemandangan di mana Ras Iblis dibantai oleh klon yang sengaja ia tinggalkan di Bintang Utama, untuk menjaga apabila terjadi hal seperti ini, di mana ia sedang bepergian ke tempat lain.


Konyol mengatakan bahwa Dao Immortal ingin menjaga Bintang Utama yang di sana terdapat 3 Heavenly Immortal. Tapi inilah kenyataannya, ia menjaga karena Heavenly Immortal itu sedang dalam masa-masa krusial untuk menembus Ranah.


Duarr! Duarr! Duarr!


Suara keras dengan nyala api yang besar terus terdengar bersahutan, membuat Guan Xan merasa sangat marah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya tidak bisa digerakkan, bahkan kelopak matanya pun tidak bisa bergerak.


"Bukankah ini indah?"


Guan Xan tidak bisa berkata-kata, hanya diam menatap Mo Lian ngeri. Ada ketakutan di matanya, dan merasa menyesal karena telah datang ke Alam Semesta, yang mana membuatnya sekarat seperti ini.


Mo Lian menunduk melihat Guan Xan saat merasakan fluktuasi energi spiritual, terlihat Guan Xan yang mulai terselimuti oleh energi merah dan ada retakan di permukaan kulitnya. Di celah retakan ada cahaya berwarna merah yang mengikuti pola retakan, itu adalah tanda bahwa Guan Xan ingin meledakkan diri.


Tanpa berbasa-basi, Mo Lian menarik kaki kanannya ke belakang, memutar tubuhnya lalu melemparkan Guan Xan jauh dari Bintang Utama.


Wush! Duarr!


Guan Xan melesat bagaikan cahaya merah, yang kemudian meledak seperti ledakan Supernova yang mengerikan, menggetarkan bintang-bintang di sekitar maupun membuka celah ruang yang sangat besar.


Ada cahaya merah yang berada di dalam celah ruang, yang merupakan Alam Hanzi. Untungnya celah ruang itu hanya muncul dalam waktu singkat, dan kembali menutup. Serta di sana tidak ada satu pun makhluk, jika tidak, bisa saja makhluk dari Alam Hanzi keluar.


Mo Lian mengangkat tangan kanannya melindungi wajahnya agar tidak terkena pecahan asteroid yang bergerak ke segala arah. Bahkan ia juga melihat bintang-bintang yang mulai meledak satu per satu secara beruntun karena efek dari Guan Xan.


Mo Lian tidak bisa berbuat banyak, tapi untungnya bintang-bintang yang meledak adalah Bintang Terbengkalai. Bukan seperti Bumi, tapi memang bintang yang tidak dihuni lagi karena auranya yang sudah habis.


"Sepertinya aku tidak boleh terlalu banyak bermain-main." Mo Lian menurunkan tangan kanannya, lalu ia mengarahkan tangan kirinya ke belakang, dan mengepalkannya.


Hanya dengan tangan terkepal, ratusan musuh yang menyerang Bintang Utama terbunuh dengan tubuh yang meledak menjadi kabut darah.


Mo Lian ingin langsung turun ke Alam Hanzi saat ini juga, tapi sayangnya ia harus menunggu Hong Xi Ning selesai dari kultivasinya, barulah ia bisa berpamitan. Ia juga harus menemani Mo Fefei yang terlihat sangat marah padanya karena harus ditinggal.


"Lebih baik aku kembali dulu."


Mo Lian berbalik melihat Bintang Utama, terbang dengan kecepatan penuh yang mampu menyingkat ratusan ribu mil dalam hitungan detik saja. Tapi apabila ia berpindah tempat atau beteleportasi, ia bisa bergerak miliaran mil seperti bernapas.


Membutuhkan kurun waktu kurang dari satu menit untuk berhasil memasuki Bintang Utama, dan kebetulan ia langsung berada di langit Kota Zhan, sehingga tidak memakan waktu lagi untuk menemui Mo Fefei yang masih marah.

__ADS_1


"Ah..." Mo Lian merasa tidak nyaman saat melihat Mo Fefei yang berdiri di depan Can Qi Meiliafei dengan wajah kesal, kedua tangannya berada di pinggang.


Mo Fefei yang berada di jalanan itu menjadi pusat perhatian, karena merupakan adik kandung dari Mo Lian yang sudah bisa dianggap Patriak dari Sekte Zhongjian. Dan, Mo Fefei adalah pemilik dari Paviliun Fei Xiao.


Mo Lian turun perlahan di depan Mo Fefei, dan pada saat itu juga ia mendapatkan pukulan telak di ulu hatinya. Walaupun pukulan itu tidak terlalu kuat, dan tidak berdampak pada tubuhnya, bahkan tidak ada goresan sama sekali, ia tetap berpura-pura merasa sakit.


"Kakak!" Mo Fefei kembali memukul perut Mo Lian dengan sangat kuat. "Aku ingin Kakak menemani ku!"


Mo Lian menundukkan kepalanya dengan senyum indah yang terukir. Ia mengusap kepala Mo Fefei, dengan perut dan dadanya yang masih terus mendapatkan pukulan. "Maafkan aku. Tapi, kau sudah berusia dua puluh lima tahun, sudah waktunya untuk mencari pasangan hidup ..."


"Jangan terus bersikap seperti anak kecil."


Banyak yang terkejut dengan perkataan Mo Lian, seketika itu juga para pria yang tidak jauh dari sana mulai membenarkan penampilan mereka, agar mendapat perhatian dari Mo Lian atau Mo Fefei.


Tapi, berbeda dengan Mo Fefei yang terlihat sangat marah. Mo Fefei mundur selangkah, mengalirkan energi biru tua keunguan di tangan kanannya, lalu melepaskannya memukul perut Mo Lian. "Aku benci Kakak!"


Boom!


Mo Fefei berbalik memasuki Can Qi Meiliafei langkah kaki berat, sampai meninggalkan jejak di tanah.


Mo Lian melambai-lambaikan tangannya untuk menghilangkan debu yang menutupi wajahnya karena pukulan Mo Fefei. "Sepertinya aku terlalu berlebihan. Aku sudah merawatnya selama lima belas tahun, tentunya dia akan marah."


Pemandangan ini tidak pernah diharapkan oleh semua orang, pukulan Mo Fefei yang sangat kuat itu mampu membunuh Alam dan Manusia. Tapi, tidak berdampak sama sekali terhadap Mo Lian. Mereka sangat penasaran dengan kekuatan Mo Lian yang sekarang, karena sudah lima tahun tidak terlihat.


Kembali lagi pada Mo Lian, ia sudah berada di lantai teratas. Ia membuka pintu perlahan, memasuki ruangan kerja Ayah dan Ibunya, terlihat Mo Fefei yang memeluk erat pinggang Su Jingmei dan menangis.


"Lian'er ..." Su Jingmei menoleh ke kiri, ke arah pintu yang baru saja terbuka dengan tatapan tajam.


Mo Lian menggaruk pelipisnya, lalu mengembuskan napas panjang dan berjalan menghampiri Mo Fefei. Ia duduk di sofa, mengusap lembut punggung Mo Fefei. "Fefei, maafkan aku."


Su Jingmei menaikkan sebelah alisnya saat menatap Mo Lian, seperti menanyakan tentang masalah yang terjadi.


Mo Lian menceritakan tentang apa yang terjadi di depan Can Qi Meiliafei pada Su Jingmei melalui transmisi suara.


Su Jingmei sedikit terkejut, kemudian tersenyum tipis. "Tentu saja dia sangat marah, dari kecil kau sudah merawatnya. Kau sudah dianggap sebagai teman, sahabat dan ayah baginya. Kalian juga selalu tidur bersama saat kecil ..."


"Bahkan saat Ibu sudah merenovasi rumah, dan kalian memiliki kamar masing-masing, setiap malam dia selalu menyusup ke kamarmu ketimbang ke kamar Ibu."

__ADS_1


Mo Lian terdiam sejenak, kemudian mengusap lengan kiri Mo Fefei. "Fefei."


"Pergi!" Mo Fefei menepis tangan Mo Lian.


Mo Lian terdiam tak bersuara lagi, tapi ia tetap ingin menyentuh Mo Fefei, meski saat hampir menyentuh pundaknya, ia menarik tangannya lagi.


Mo Lian berdiri dari sofa, lalu berjalan menuju pintu keluar dan menutupnya lagi. Ia duduk di samping pintu, menunggu Mo Fefei kembali tenang, barulah ia akan meminta maaf lagi.


Ini adalah pertama kalinya dalam 25 tahun ia mendapatkan penolakan dari Mo Fefei. Ada rasa sakit di dadanya, lebih sakit daripada saat menerima penolakan cinta dari Hong Xi Ning.


"Aku sudah terlahir kembali, aku sudah bertekad untuk membahagiakan mereka. Tapi, apa yang aku lakukan."


Mo Lian bersandar pada dinding seraya menengadahkan kepalanya melihat langit-langit lorong.


Waktu terus berjalan, detik ke menit, menit ke jam. Bahkan sampai tengah malam, Mo Lian tetap terjaga dan duduk bersandar di samping pintu.


Mo Qian dan Su Jingmei tidak keluar dari ruangan, ia bisa mengerti hal itu karena di dalam sana ada ruangan terpisah, terdapat kamar, dapur, bahkan kamar mandi. Ia bisa menebak mengapa Ayah dan Ibunya tidak keluar, karena mereka sedang membujuk Mo Fefei untuk memanfaatkannya.


Krek...


Pintu terbuka perlahan, membuat Mo Lian menoleh ke kiri dan mendongak dengan cepat, berharap yang keluar adalah Mo Fefei, tapi ternyata itu adalah Mo Qian, Ayahnya.


Mo Qian menutup pintu, lalu duduk di samping Mo Lian. "Ayah tahu niatmu baik, dan Ayah tidak pantas mengatakan ini karena menelantarkan keluarga selama empat belas tahun. Tapi, Ayah harap kau jangan memaksa atau meminta Fefei untuk menikah, kecuali dari keinginannya sendiri ..."


Mo Qian terdiam sejenak seraya mengembuskan napas, kemudian melanjutkan perkataannya, "Walaupun sebagai seorang Ayah, aku ingin Xiao Fei memiliki keluarganya sendiri. Dia sudah besar dan dewasa, jika ini di Bumi, dia harusnya sudah menjadi seorang ibu."


Mo Lian hanya diam tak bersuara. Ia menundukkan kepalanya, bertumpu pada kedua lengan yang bertopang pada kedua lututnya.


"Xiao Fei sudah tidur dengan Ibunya." Mo Qian menepuk-nepuk pundak kiri Mo Lian seraya berdiri. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku karena terlalu lama duduk di kursi. "Bagaimana kalau kita keluar? Ayah akan mentraktirmu arak terbaik di Kota Zhan."


Mo Lian masih diam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya berdiri menerima ajakan dari Mo Qian. Saat ia berdiri, ia meninggalkan satu klon untuk berjaga di depan ruangan.


"Baik." Mo Lian berjalan membuntuti Mo Qian yang berada di depannya.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2