Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 324 : Rahasia Lain di Bumi?


__ADS_3

Hong Xi Jiang menghela napas panjang; akhirnya hidangan di atas meja sudah habis dan ia sangat menyukai rasanya, entah sudah berapa ribu tahun semenjak terakhir kali ia menyantap hidangan. "Karena sudah selesai, mari kita lanjutkan. Bahaya di sini bukan hanya Taotie saja, aku merasa ada Gunung Suci di sini, Kunlun? Tempat para Dewa, datang dan periksa."


Mo Lian menganggukkan kepala; merasakan hal yang sama, ia baru merasakannya sekarang, mungkin karena sudah di Ranah God. Tidak seperti dahulu yang masih Alam dan Manusia, sehingga ada beberapa hal yang masih sulit untuk diulik di Bumi.


"Kalau begitu, besok aku akan pergi ke Gunung Kunlun. Untuk hari ini aku hanya ingin bersantai menikmati kota." Mo Lian masih ingin bersantai-santai bersama ketiganya sekaligus untuk mendekatkan diri.


Hong Xi Jiang menganggukkan kepala; ingin bersantai-santai seperti Mo Lian.


Mo Lian mengeluarkan kartu ATM yang ternyata masih aktif sampai sekarang, mungkin karena perlakuan khusus yang ia dapatkan. "Yue Fu, di dalam kartu ini ada seratus miliar Yuan, dan di kartu satunya ada lima puluh miliar USD."


Hong Xi Jiang menerima dua kartu yang diberikan oleh Mo Lian padanya, dan mulai mengamati kartu itu. "Kartu jelek ini bisa digunakan untuk belanja?"


Kartu jelek? Itu adalah perkataan yang sangat menyakitkan untuk didengar oleh orang-orang yang sangat menginginkan kekayaan, apalagi jumlah di dalam kartu itu sangat banyak, bahkan bisa masuk dalam jajaran 100 orang terkaya hanya dengan membawa dua kartu itu.


(Note : 1 Yuan \= Rp.2.258,56. • ¥100 Miliar \= Rp.225,856 Triliun) — (1 Dollar \= Rp.14.371,45. • $50 Miliar \= Rp.718,572 Triliun)


Mo Lian tersenyum canggung seraya menggaruk pipinya; ada kekesalan saat mendengar ucapan Hong Xi Jiang, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. "Yu- Yue Fu, dua kartu itu adalah satu dari lima kekayaanku di Bumi."


Hong Xi Jiang menoleh ke kiri menatap Mo Lian dengan tatapan ingin tahu. "Berapa Batu Spiritual yang kau dapatkan jika menukar semua kekayaanmu?"


Mo Lian terdiam dan memalingkan wajahnya; tidak ingin menjawab pertanyaan yang tidak pernah ingin ia dengar. Namun karena terus mendapatkan tatapan yang cukup intens dan tajam dari Hong Xi Jiang, mau tidak mau ia menjawabnya, "Menurut nilai tukar emas sekarang ... Batu Spiritual kualitas Tinggi yang kudapatkan ... tidak lebih dari lima puluh."


"Bukankah kau ..." Hong Xi Jiang menatap tajam Mo Lian dan suara yang keluar darinya terdengar seperti menghina. "Sangat miskin."


Perkataan Hong Xi Jiang sangat mengejutkan semua orang yang berada di sekitar. Jika Mo Lian yang memiliki $325 Miliar dianggap sangat miskin, lalu bagaimana dengan mereka yang bahkan tidak memiliki satu dari seratus ribunya?


Mo Lian tidak bisa berkata-kata lagi dan merasa menyesal karena mengungkapkan tentang kekayaannya di Bumi. Tapi jika menghitung kekayaan di Bintang Utama, ia memiliki ratusan juta Batu Spiritual dari hasil rampasan perang.


Hong Xi Ning tertawa kecil melihat Mo Lian yang tidak berdaya di hadapan Ayahnya.


Hong Xi Jiang dan Wang Yue Fei berdiri; celah ruang terbuka tepat di belakang mereka saat melalukan gerakan sederhana itu.

__ADS_1


Wang Yue Fei datang mendekati Mo Lian. "Ibu pergi dulu, terima kasih atas uangnya." Ia mengecup pelipis Mo Lian, lalu menyusul Hong Xi Jiang.


Mo Lian tersenyum ringan; sangat menyukai sikap Wang Yue Fei yang lembut dan penyayang. Ia sangat bersyukur memiliki mertua yang baik hati, yang satunya jujur dengan sikapnya, dan yang satunya lagi terlihat kasar dan keras di luar, namun baik hati di dalam.


"Sekarang, apakah kita harus pergi?" tanya Mo Lian—ia sudah mulai panas dan gerah, banyak sekali orang-orang yang berkumpul, bahkan para pengawal yang bersembunyi sampai harus turun tangan untuk membuat pagar pembatas.


Hong Xi Ning menganggukkan kepalanya. "Iya, ini adalah pertama kalinya ada yang mendekat sampai jarak ini."


Biasanya tidak pernah ada yang mendekati Hong Xi Ning, bahkan saat ia datang ke tempat makan, semua pengunjung di sana akan keluar untuk memberikan ruang padanya agar bisa minum dengan tenang. Jarak terdekat orang asing yang mengobrol dengannya adalah 800 meter, kecuali Penatua.


Mo Lian berdiri dari tempat duduknya seraya mengangkat tangannya; ada pusaran cahaya biru yang terhubung dengan bagian luar dari Ascott Raffles. Dengan lambaian tangannya, ia membawa tiga wanita untuk masuk terlebih dahulu, barulah ia masuk setelah memberikan pesan.


"Aku pergi dulu, beri tahu Pak Tua Lee untuk tidak perlu menunggu ku."


Puluhan orang yang berjaga, menangkupkan kedua tangan dengan maksud membalas salam maupun memberi hormat. "Baik, Leluhur Mo!"


Mo Lian yang sudah keluar dari Ascott Raffles, membawa ketiganya untuk pergi ke Beijing, mereka ingin mendatangi Kota Terlarang yang merupakan kompleks Istana Kekaisaran dan kediaman Kaisar Tiongkok beserta anggota rumah tangganya selama periode Dinasti Ming dan Dinasti Qing, antara tahun 1420 sampai 1924. Tempat ini juga menjadi pusat pemerintahan Tiongkok hampir selama lima abad.



Keberadaan mereka saat ini tidak diketahui, karena mereka berada di dalam formasi array yang dibuat Mo Lian yang mampu menyamarkan keberadaan mereka dengan atmosfer sekitar.


"Sepertinya benar-benar ada Dewa yang pernah tinggal di Bumi. Mungkin seratus ribu tahun lalu?" ucap Hong Xi Ning tak percaya—ternyata sejarah Bumi lebih panjang dan misterius ketimbang Sekte Zhongjian.


Bumi, Bintang Terbengkalai ternyata memiliki formasi array yang sangat sulit ditembus. Jika ia tidak menyerap Esensi Darah Hundun untuk menembus Heavenly Immortal tahap Akhir dan meningkatkan beberapa teknik, ia tidak akan sadar jika Kota Terlarang ini bukanlah kota biasa.


Mo Lian mengalirkan energinya; melewati kedua mata Qin Nian maupun Yun Ning.


"I- Ini ..." Qin Nian kehabisan kata-kata untuk menjelaskan apa yang ia lihat; pemandangan Kota Terlarang berubah total hanya karena energi yang melewatinya.


Tempat yang indah ternyata memiliki rahasia yang mengerikan, ada pedang setinggi gunung yang menancap di sudut Kota Terlarang, dan pedang-pedang itu saling terhubung dengan rantai hitam, lebih besar dari rantai kapal dan dilumuri darah.

__ADS_1


Tangan yang lebih besar dari gunung juga terlihat berada di tengah-tengah Kota Terlarang, dan ditembus oleh tombak yang lebih tinggi dari pedang. Kemudian, di puncak tombak ada kepala yang tertusuk dengan mata terpejam yang mengalirkan darah.


"Ras Raksasa." Mo Lian tidak pernah melihat Ras Raksasa, tapi ia tahu bahwa itu ada dan menurut catatan yang pernah ia temukan dulu, Ras Raksasa telah musnah karena pertempuran besar.


Tapi, Mo Lian tidak pernah menduga Ras Raksasa akan melalukan pertempuran besar di dimensi lain di Bumi.


Yun Ning memutar tubuhnya melihat sekitarnya, tubuhnya gemetaran karena tidak mampu melihat semuanya dan memilih menutup mata.


Bukan hanya mayat-mayat dari Ras Raksasa, tapi terlihat ada sayap putih yang berlumuran darah tergeletak di tanah. Ada juga tubuh besar lain yang sepertinya lawan dari Ras Raksasa, tubuhnya dalam posisi berlutut dengan kedua lutut menyentuh tanah, kedua tangannya lemah menyentuh tanah dan kepalanya tertunduk.


Ada sayap yang salah satunya telah terpotong, dan tubuh raksasa itu tertembus oleh pedang dari bagian tengkuk sampai menusuk tanah.


"Apakah ini dari Ras Malaikat? Mereka dari Alam Selestial? Mengapa mereka turun ke Bumi? Apakah karena Ras Raksasa?"


Mo Lian yang sebelumnya menganggap dirinya sangat berpengetahuan, ternyata pengetahuan yang ia miliki sangatlah dangkal, masih banyak hal lain yang tidak ia ketahui, bahkan kampung halamannya saja masih menyimpan banyak sekali rahasia.


Mo Lian menengadahkan kepalanya melihat langit merah dan mulai turun hujan darah berbau amis yang sangat menyengat. "Tidak baik." Ia menghilangkan energi di mata Qin Nian dan Yun Ning.


Qin Nian dan Yun Ning tidak akan mampu menahan tekanan saat melihat hujan darah, karena itulah Mo Lian menariknya kembali.


Ini adalah pemandangan lain yang dilihat Mo Lian saat datang ke Bumi, tapi ia bersikap biasa-biasa saja seperti tidak ada yang aneh dengan Bumi. Ia tidak ingin membuat orang-orang sekitarnya merasa takut, tapi sepertinya Qin Nian dan Yun Ning masih gemetaran.


Mo Lian mengeluarkan Energi Sejati-nya untuk menyelimuti Qin Nian dan Yun Ning, membuat perasaan mereka berdua menjadi lebih tenang dan teratur, tidak lagi merasa gugup maupun gemetaran karena takut.


"Kalian semua, rahasiakan dulu tentang ini. Dan sepertinya, Yue Fu sudah mengetahuinya, mengingat dia sudah memasuki Ranah God."


Ketiganya menganggukkan kepala bersamaan, kemudian mereka melayang turun untuk melanjutkan wisata mereka di Kota Terlarang.


...


***

__ADS_1


*Bersambung..


__ADS_2