Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 423 : Mengumpulkan Herbal


__ADS_3

Ketika Keluarga Guo sedang dilanda masalah yang bisa memengaruhi masa depan mereka dan fondasi keluarga mereka, yang entah apakah masih bisa bertahan atau tidak di Kota Louhu. Mo Lian, saat ini hidup santai dengan caranya sendiri, yaitu memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat di sekitar Paviliun Jarum Emas.


Bahkan meski tidak lama lagi akan ada masalah yang datang ke Paviliun Jarum Emas, Mo Lian tidak terlalu memikirkannya karena itu belum terjadi dan sepertinya tidak dalam waktu dekat.


Karena Utusan dari Sekte Boneka terbunuh, tentunya Keluarga Guo akan bermasalah dengan Sekte Boneka dan tidak punya waktu untuk berurusan dengan Paviliun Jarum Emas. Bahkan meski masalahnya dengan Sekte Boneka telah berakhir, Keluarga Guo pastinya tidak akan langsung mengambil tindakan pada Paviliun Jarum Emas karena harus membuat rencana dan mengamati.


Bagaimanapun, Tim Bayangan dikalahkan!


Ngomong-ngomong, baru dua hari semenjak Paviliun Jarum Emas membuka untuk bisnis, tapi sudah mulai membangun reputasi yang baik di sekitar.


Ketua Wuxu dan Penatua Hang juga berkunjung sesekali, bukan karena ingin membeli ramuan, tapi karena ingin membaca buku. Buku itu sendiri memang dibiarkan Mo Lian begitu saja dan semua orang bisa membacanya dengan gratis, asalkan tidak membawanya pulang atau membuat masalah.


Jika membuat masalah, maaf saja, ada dua Dewa Pemula dan satu Dewa Bumi yang siap mengusirnya.


...


Pada saat ini, Mo Lian sedang membaca buku teknik yang dibuat oleh Hong Xi Ning dan Yun Ning, yang rencananya akan digunakan untuk pengawal yang bekerja di Perusahaan Pengawalan Yun. “Teknik Tinju Pemecah Angin”


Teknik ini hampir sama seperti yang ada di Sekte Dongfangzhi, hanya saja tidak menggunakan kekuatan kekerasan. Teknik ini lebih menempatkan pada kecepatan dan ketepatan serangan.


Tidak seperti teknik kultivasi yang dipenuhi kata-kata Dao yang tidak mudah untuk dipahami, teknik kultivasi Pendekar hanya gerakan-gerakan yang harus dilakukan dengan tepat untuk mampu menyerap energi.


"Ning'er menggabungkan Teknik Kultivasi Kultivator dan Pendekar?" Mo Lian mendongak menatap Hong Xi Ning yang duduk di seberang.


Hong Xi Ning hanya mengangguk kecil sebagai balasan dan tetap tenang saat menyesap teh hitam hangat kesukaannya.


Mo Lian mengangguk kecil, lalu kembali melihat gerakan pukulan yang tertera di buku. "Ngomong-ngomong, hari ini aku akan keluar untuk mencari herbal di hutan selatan di sekitar sungai. Aku harap kalian bertiga menjaga di sini, dan apabila ada pasien, Ning'er bisa mengobatinya."


Hong Xi Ning memiliki kemampuan yang tidak perlu ditanyakan, karena Mo Lian sendiri belajar semua kemampuannya dari Hong Xi Ning. Dan Hong Xi Ning sudah mengambil tes di Paviliun Jari Keajaiban, sehingga memiliki hak untuk mengobati.


"Herbal?" Minat Hong Xi Ning terusik. "Bukankah Nan Ren memiliki persediaan yang tak terhitung jumlahnya?"


Mo Lian menutup buku, meletakkannya di atas meja. Dia menopang dagunya dengan tangan kanan yang sikunya bertumpu di atas meja. "Ning'er, herbal yang kita miliki rata-rata berusia sepuluh ribu tahun, dan yang termuda adalah seratus tahun. Jika kita menggunakannya, bahkan meski tidak memakai metode menyuling pil, energi di dalamnya masih tidak mampu ditahan Pendekar, apalagi orang biasa ..."


Mo Lian tersenyum hangat saat menatap Hong Xi Ning. "Ngomong-ngomong, Ning'er sangat cantik dan elegan."


Awalnya Hong Xi Ning mengangguk ketika mendengar tentang herbal dan setuju akan hal itu. Tapi setelah berhenti sejenak, dia tiba-tiba ingin memukul Mo Lian karena memberikan pujian seperti itu di saat banyak pembeli yang datang.


"Apakah Nian'er cantik?"


Mo Lian menoleh ke belakang melihat Qin Nian yang melayani pembeli. "Tentu, Nian'er cantik seperti bunga matahari, selalu membawa kehangatan."


Qin Nian tersenyum hangat dan senang ketika mendengarnya.


Pembeli yang mengantri tidak bisa berkata-kata, tapi mereka senang melihat kegembiraan di sini dan keramahan pemilik. Harganya pun murah, dan ada obat-obatan yang disukai anak-anak, tidak seperti ramuan lain yang terasa pahit.

__ADS_1


Hong Xi Ning tertawa kecil dan ikut bahagia. Meski sudah sering mendengar Mo Lian memuji, bahkan setiap hari, mereka tetap senang dan tidak pernah bosan mendengarnya.


"Berapa lama kita akan tinggal di sini?" tanya Hong Xi Ning. Walaupun sudah tahu bahwa mereka akan tinggal cukup lama saat pembicaraan sebelumnya, tapi saat itu adalah saat-saat mereka belum tiba di Bintang Hijau.


Mo Lian melihat sekeliling dengan ekspresi tidak nyaman. Hong Xi Ning segera tahu dan memasang array dengan metode energi spiritualnya sebagai media.


Setelah dirasa aman, Mo Lian menjawab, "Satu atau dua tahun. Ning'er tahu, pertempuran sebelumnya adalah pukulan berat bagiku, aku terluka parah, meski sekarang sudah pulih, aku masih belum ingin kembali bertempur. Apalagi, tempat yang akan kita datangi nanti adalah Wilayah Barat, di sana lebih keras dari Wilayah Selatan."


Hong Xi Ning mengerti, dan setiap kali mengingat kembali pertempuran itu, dia merasa sedih. "Nan Ren, jangan paksakan dirimu seperti sebelumnya. Kami tidak bisa melihatmu terluka."


Mendengar itu, Mo Lian merasa dirinya sangat lemah sampai harus dikhawatirkan istri-istrinya di saat dirinya membiarkan mereka terbunuh meski hanya tubuh fisik. Tapi itu tetaplah terbunuh dan membuatnya merasa terpukul.


Mo Lian menenggak teh sampai habis dalam sekali teguk, lalu berdiri. "Aku pergi dulu, aku akan kembali saat waktu makan siang nanti." Ia mengecup kening Hong Xi Ning, lalu pergi ke meja kasir untuk memberikan kecupan yang sama untuk Qin Nian.


Mo Lian juga mengunjungi Yun Ning di seberang jalan untuk berpamitan dan memberikan kecupan hangat.


Setelah itu, Mo Lian berjalan ke hutan di selatan kota. Karena rumah yang dibelinya di sekitaran pusat kota dan agak sedikit ke selatan, dia tidak perlu memakan waktu lama untuk sampai di luar kota.


Mo Lian yang sudah berada di luar kota, bisa merasakan hawa membunuh yang ditujukan untuknya, tapi dia tidak terlalu peduli. Dia tidak merasa orang-orang yang mengikutinya dari Keluarga Guo, mengingat mereka dalam keadaan terpuruk. Adapun yang mengikutinya sekarang, kemungkinan mereka berasal dari bisnis yang sama sepertinya.


Karena Paviliun Jarum Emas mendapatkan reputasinya dan sering dikunjungi oleh pelanggan, pastinya toko dengan bisnis yang sama akan merasa tersaingi.


Mo Lian melihat sekeliling, penjaga gerbang terlihat menganggur. "Area selatan adalah area hutan, tidak banyak orang yang keluar-masuk dari sini."


Mo Lian melangkah dan masih merasakan ada yang mengikutinya. "Aku tidak bisa membuka Cincin Ruang. Tapi, aku memiliki alat lain yang diberikan Leluhur Zhu, itu bisa memiliki kegunaan seperti Cincin Ruang dan bisa digunakan oleh manusia biasa."


Mo Lian berjalan perlahan di pinggir jalan dengan meletakkan kedua tangannya di belakang pinggang. Dia menghirup udara segar di pagi hari, angin sepoi-sepoi mengenai wajahnya yang halus dan menerbangkan rambut panjangnya, membuatnya terlihat seperti Dewa Abadi.


Ketenangan Mo Lian menarik kekaguman orang-orang yang berada di sekitar, tidak banyak, tapi pastinya rumor akan terbesar dengan cepat dan mungkin ada yang mengenalnya. Dengan demikian, Paviliun Jarum Emas akan memiliki lebih banyak pelanggan dan reputasinya pasti akan meluas ke kota-kota lain.


Mo Lian tertawa dalam hatinya saat membayangkan terlalu jauh ke depan.


Sampai beberapa waktu, Mo Lian sudah melihat aliran sungai dan menemukan banyak orang yang memancing maupun menjala ikan. Sungai itu cukup lebar, setidaknya dua puluhan meter dan perlu sampan untuk menyeberanginya. Arusnya tenang dan tidak terlalu dalam, karena itu di beberapa titik ada yang sedang mandi.


Tanaman herbal berada di seberang sungai, dan dia sudah bisa melihatnya. Tapi sangat sedikit yang memetik herbal, karena kebanyakan tidak ada yang dapat mengindentifikasi herbal. Jadi meski orang-orang di sini tahu bahwa herbal berharga, tapi karena tidak bisa mengindentifikasi, maka tidak tahu apa yang diinginkan pasar.


Mo Lian melihat sekeliling dan menemukan pria paruh baya yang mengendalikan sampan. "Paman! Bawa aku ke seberang."


Pria paruh baya yang sedang beristirahat, mengikuti arah sumber suara, lalu mengangguk dan berkata, "Naik."


Mo Lian melangkah ke atas sampan, dan saat sampan hendak bergerak, tiba-tiba ada beberapa pria yang mengikuti.


Pendayung sampan bingung dengan kedatangan yang tiba-tiba, tapi tidak terlalu peduli dan merasa sedikit senang karena banyak yang naik sampan.


Mo Lian berdiri di bagian depan, diam mengikuti embusan angin segar.

__ADS_1


Saat sudah sampai di seberang, Mo Lian memberikan Tael Perak. Jumlah itu terlalu besar, tapi dia tidak memiliki uang kecil.


Mo Lian langsung menyingsing lengan bajunya dan mulai mengambil herbal di tepi sungai. Herbal di tepi sungai disinari sinar matahari dan mendapatkan kesegaran dari aliran air sungai, membuat herbal lebih berkualitas.


Orang-orang yang mengikutinya juga bertindak normal dan memetik herbal secara asal.


Mo Lian sangat senang dengan hal yang dilakukannya saat ini. Bagaimanapun dia tidak pernah melakukannya, di kehidupan sebelumnya saat di Bumi, kedua kakinya lumpuh dan bergantung pada ibunya, jadi tidak bisa melakukan hal semacam ini. Kemudian dibawa ke Sekte Zhongjian, dia tidak bisa melakukan hal-hal sederhana karena merupakan murid langsung dari Hong Xi Ning.


Sekarang, memetik herbal semacam ini tanpa ada persaingan antar kultivator, membuatnya sedikit bahagia.


Mo Lian tersenyum tipis. "Benar, kebahagiaan bisa datang dari mana saja."


"Anak muda, apakah kau dari Paviliun Jarum Emas?" Suara wanita terdengar, itu terdengar sedikit tua.


Mo Lian yang sedang berjongkok, mendongak menatap wanita paruh baya yang mengenakan pakaian merah sedikit kusam dan memakai caping bambu. "Halo, Bibi. Saya dari Paviliun Jarum Emas." Ia berdiri, lalu sedikit membungkuk.


Kemudian tatapannya tertuju pada ember kayu yang dibawa wanita paruh baya. "Bibi, apakah Anda menjual ikan-ikan ini? Jika iya, tolong kirim ke toko saya, istri saya pasti akan membelinya dengan harga memuaskan."


Wanita paruh baya itu sedikit terkejut melihat Mo Lian yang membungkuk, karena biasanya Tabib yang ditemuinya akan selalu berdiri tegak dengan kepala terangkat. Tapi di sini, Tabib Master sangat rendah hati.


Wanita itu tersenyum tipis dan memberanikan diri untuk menepuk pundak Mo Lian. "Tidak masalah, Bibi akan datang untuk menjual ikan-ikan ini. Adapun ini, aku mendapatkan Kecoak Air, aku harus membuangnya."


Kecoak Air? Mo Lian melihat lebih dekat ke ember kayu, dan melihat lobster sebesar lengan dengan capit yang besar.


Mo Lian benar-benar tidak mengerti, di Bintang Utama, penduduk tidak memakan lobster dan menganggapnya sampah, dan di Bintang Hijau juga sama. Jika di jual di Bumi, banyak orang kaya yang akan menawarnya karena ukuran ini sangat sulit ditemukan.


"Bibi, Anda bisa menjualnya di tempat saya, ini sangat enak, Anda bisa mencobanya nanti siang. Istri saya bisa memasaknya."


Wanita itu tercengang, kemudian menunduk melihat Kecoak Air. Dia ragu apakah ini bisa dimakan? Bagaimanapun, melihatnya membuatnya jijik karena kaki-kakinya bergerak liar dan ada capit besar.


Mo Lian tidak mengatakan apa-apa lagi, dia melambaikan tangannya dan memasuki hutan lebih dalam. Dia ingin mencari herbal yang sudah matang, tidak baik memetik semua herbal di sungai karena mereka harus tumbuh lebih banyak. Alasan lainnya, ingin menyelesaikan masalah dengan orang-orang yang mengikutinya.


Mo Lian terus masuk bagian terdalam sampai sinar matahari yang menyinari tidak terlalu banyak, sebagian besarnya terhalang oleh dedaunan yang bersentuhan membentuk dinding alam.


"Tidak ada herbal di sini, kebanyakan racun dan jamur." Mo Lian menghela napas, sudah menduganya.


Mo Lian meregangkan otot-otot tubuhnya. "Jadi, dari mana kalian berasal? Tabib Guru atau Tabib Master mana yang menyuruh kalian?"


Mo Lian berbalik dan melemparkan enam jarum ke arah pohon-pohon di belakang.


Pohon itu perlahan kehilangan vitalitasnya dan membuatnya layu, daun-daun mulai berubah menjadi kuning dan berjatuhan seperti musim gugur.


Pada saat itu, terlihat delapan orang yang keluar dari masing-masing pohon dengan ekspresi terkejut, tapi mereka tidak panik dan menatap tajam Mo Lian dengan niat membunuh.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2