
Qing Tong menggertakkan giginya sampai salah satu giginya patah dan mengeluarkan darah merah gelap seperti tercampur oleh hal yang tidak diketahui. Darah itu bergerak seperti cacing yang menggeliat, menempel di wajahnya membentuk pola aneh.
Pola aneh itu seperti hidup, seperti lintah yang menyerap darah. Itu bergerak di seluruh tubuhnya, termasuk Pohon Perunggu Surgawi yang dililit oleh Rantai Darah.
Pohon Perunggu Surgawi bergetar, kemudian mengeluarkan suara dengung yang membentuk gelombang.
Mo Lian merasakan gelombang getar yang mengenai tubuhnya, membuat tulangnya saling bergesekan. Terasa menyakitkan, tapi dia menahannya dengan menggigit bibirnya.
Kemudian, terdengar suara jeritan burung yang datang dari jauh.
Mo Lian melihat ke arah di mana sumber suara datang, dan dia melihat ada Gagak Berkaki Tiga dengan nyala api yang membungkusnya.
Gagak Berkaki Tiga itu adalah Saudara Pertama, Saudara Ketiga, Saudara Kelima dan Saudari Ketujuh.
Mo Lian melihat mata mereka berwarna hitam dan dari tatapannya mengundangkan kebencian, tapi kebencian itu tidak ditujukan untuknya. Dia tidak tahu mengapa mereka seperti itu, tapi saat melihat Qing Tong, dia mengangguk dan mengerti mengapa mereka memiliki tatapan mata seperti itu.
"Pengendalian Jiwa?"
Qing Tong tidak mengatakan apa-apa, menyeringai dan mendorong kedua tangannya ke depan.
Empat Gagak Berkaki Tiga menukik tajam ke arah Mo Lian. Aura di tubuh mereka terus memadat, semua kebencian mereka yang selama ini tertahan, dilepaskan seluruhnya dan membuat kekuatan mereka meningkat ke tingkat lain.
Mo Lian tidak bisa bergerak karena sedang berusaha menekan Pohon Perunggu Surgawi. Begitu pun Qing Tong yang mempertahankan Energi Yang dari Pohon Perunggu Surgawi agar tidak terserap. Tapi, Qing Tong memiliki keuntungan lebih banyak karena memiliki Gagak Berkaki Tiga di bawah kendalinya.
Melihat kedatangan Gagak Berkaki Tiga yang menyerang, Mo Lian menghela napas dengan emosi. Dua titik cahaya di dahinya keluar, berwarna merah dan biru. Kedua titik cahaya itu adalah Esensi Darah pemberian dari Lan Zhuan Shen dari Ras Naga dan Leluhur Zhu dari Ras Vermillion.
Naga dan Vermillion bekerja sama untuk melawan Gagak Berkaki Tiga yang datang.
Kekuatan keduanya tidak cukup untuk melawan Gagak Berkaki Tiga yang datang bersama-sama, tapi setidaknya bisa menahan mereka berempat untuk sementara waktu.
Naga Petir meraung, membuat langit mengeluarkan kilatan petir yang menyebar seperti sarang laba-laba. Kemudian dengan dorongan, semburan petir keluar dari dalam mulutnya, itu melesat tajam ke arah Saudara Pertama yang memimpin.
Saudara Pertama mengepakkan yang membentang luas seperti mampu menahan matahari, dan benar saja, ada Matahari yang tercipta di atasnya. Matahari itu bukanlah matahari asli, melainkan ilusi yang terbentuk dari energi, namun suhu yang dibawanya nyata.
Saudara Pertama mengepakkan sayapnya lagi, membuat ilusi matahari di atasnya melesat menuju Naga Petir.
Gelombang udara panas menyebar saat ilusi itu bergerak, dengan ruang yang terdistorsi bahkan ada sedikit retakan.
Vermillion menjerit dengan suara yang sama, membuka paruhnya dan menyemburkan napas api yang menyerang ilusi matahari.
Serangan api dan kilatan petir menyatu, menimbulkan serangan yang lebih kuat, bahkan retakan-retakan muncul lebih banyak daripada serangan Saudara Pertama.
Saudara Ketiga, Saudara Kelima dan Saudari Ketujuh tidak tinggal diam, atau bisa dikatakan terpaksa bergerak karena berada di bawah kendali Qing Tong.
__ADS_1
Ketiganya tidak memunculkan ilusi matahari, tapi memberikan energi mereka kepada Saudara Pertama.
Ilusi matahari itu mendapat energi berlimpah, membuat kekuatannya bertambah dan ukurannya berkali-kali lebih besar dari sebelumnya.
Ketika serangan Saudara Pertama bertemu dengan serangan Vermillion dan Naga Petir, ledakan Supernova terjadi yang menghempaskan apa pun di sekitarnya. Ruang yang memisahkan pertempuran antara Mo Lian dan Qing Tong dengan yang lain, akhirnya pecah.
Pohon Surgawi dan Pohon Zhillao mendapat kerusakan yang cukup parah, banyak dahan yang patah, dedaunan lebat terbakar menjadi abu.
Qing Tong tidak lebih baik, salah satu tangannya patah karena harus menahan dampaknya, dan tangan yang lain telah kehilangan kulit dan dagingnya.
Mo Lian tidak mendapatkan luka karena dampak yang bergerak ke arahnya diserap oleh Kunpeng, sehingga tidak ada sedikit pun luka. Melihat keadaan Qing Tong, dia melangkah mundur seraya mendorong kedua tangannya ke depan, seolah mencoba menggapai sesuatu. Setelah berhasil, dia mengepalkan tangannya dan menariknya sekuat tenaga.
Pohon Perunggu Surgawi bergetar hebat dengan suara dengung yang terdengar menyakitkan di telinga. Batang pohonnya yang ditembus oleh Sabit Darah, mulai terkontaminasi oleh darah pekat yang menyebar perlahan.
Booom! Booom! Booom!
Hong Xi Jiang dan Kaisar Giok masih bertukar pukulan.
Kaisar Giok melihat ke arah di mana ledakan keras terbentuk dengan api besar seperti kehancuran galaksi. Dia membelalakkan matanya ketika melihat Qing Tong yang berubah dan Pohon Perunggu Surgawi yang terlihat rapuh. Dia melihat para Dewa Abadi yang masih bertarung melawan Wang Yue Fei dan yang lain. "Kalian semua! Alihkan serangan kalian ke bocah itu!"
Hong Xi Jiang tiba di depan Kaisar Giok yang baru saja menyeimbangkan tubuhnya karena terlempar. Dia mengulurkan tangannya, menangkap kepala Kaisar Giok dan mencengkeramnya sekuat tenaga.
Kaisar Giok mengangkat kedua tangan, menggenggam tangan Hong Xi Jiang yang mencengkeram kepalanya. Dia berteriak keras dengan rasa sakit yang terfokus di kepalanya, bahkan dia bisa mendengar retakan dari kepalanya sendiri.
Sementara itu, Dewa Abadi yang sedang mengepung Wang Yue Fei, ketika mendengar teriakan Kaisar Giok, mereka melihat Mo Lian yang bertarung melawan Qing Tong.
Tanpa mempertanyakan mengapa Kaisar Giok meminta mereka membantu Qing Tong, mereka langsung mengabaikan Wang Yue Fei dan menyerang Mo Lian dengan kekuatan penuh.
Berbagai serangan berbeda ukuran dan bentuk melesat ke arah Mo Lian. Dari waktu ke waktu, serangan itu akan bertambah kuat dan cepat.
Dengan tangan terkatup, Mo Lian menggerakkan dua jarinya. Kunpeng yang berada di sisi lain, tiba-tiba muncul di belakangnya dan membuat mulutnya, mengeluarkan jeritan yang memekakkan telinga.
Ribuan lubang hitam tiba-tiba muncul, menangkap setiap serangan yang ada.
Tidak hanya itu, Kunpeng memancarkan sinar dengan cahaya merah-emas. Kemudian membesar melebihi apa pun yang ada di sini, bahkan Pohon Perunggu Surgawi dan Yun Surgawi tidak ada apa-apanya.
Kunpeng membuka mulutnya lebar-lebar, kemudian menarik napas dalam-dalam memberikan daya hisap yang sangat kuat.
Dewa-dewa Abadi tertarik oleh hisapan Kunpeng. Meski tidak seberapa, tapi itu mengganggu.
Wang Yue Fei mengambil kesempatan ini untuk membunuh mereka semua, dan yang lain membantu Mo Lian untuk melawan Gagak Berkaki Tiga.
Melihat keadaan terbalik, Qing Tong menggertakkan giginya. Dia menatap tajam Mo Lian dengan kebencian penuh. "Kau tidak bisa membunuhku. Jika kau membunuhku, Dao Surgawi akan menghilang, dan fondasi Tiga Alam akan rapuh. Tanpaku, Tiga Alam akan hancur!"
__ADS_1
Mo Lian menarik napas dalam-dalam. Setelah menstabilkan semua beban yang dibawanya, dia menurunkan kedua tangannya. Dengan langkah kecil, dia tiba di depan Qing Tong.
Mo Lian mengangkat tangannya, mengepalkan erat-erat.
Bang!
Hanya dengan mengepalkan tangannya, dentuman keras terdengar dengan gelombang kejut. Ruang terdistorsi, badai angin bagaikan pedang terbentuk, petir menyambar, waktu sedikit melambat dan detik berikutnya waktu di sekitarnya mulai kacau.
Tanpa memberi kesempatan bagi Qing Tong untuk bereaksi, Mo Lian memukul dada Qing Tong sekuat tenaga.
Booom!
Pukulannya mengenai dada Qing Tong, membuatnya terhempas dan hubungannya dengan Pohon Perunggu Surgawi terputus. Kendali Qing Tong dengan Gagak Berkaki Tiga juga menghilang.
Mo Lian merentangkan kedua tangannya, ratusan ribu pedang muncul di belakangnya. Kemudian dengan melambaikan tangannya, ratusan ribu pedang itu melesat menuju Qing Tong, lebih tepatnya, mengarah ke dada Qing Tong yang berdarah.
Darah di dada Qing Tong terlihat berbeda, darah itu sangat gelap, dan di bawah kendali Dewa Kematian, darah Qing Tong memakan tubuhnya sendiri.
Melihat pedang yang datang, Qing Tong menstabilkan tubuhnya yang kehilangan keseimbangan. Tapi sebelum sempat bertindak, Chu Yeyu datang di belakangnya dan menangkap kepalanya.
Chu Yeyu mencengkeram erat kepala Qing Tong. Percikan api menyala, menyambar Wing Tong dan menyelimutinya.
"Aaarrrgghh!" Qing Tong berteriak keras. Rasa sakit yang dirasakannya melebihi apa pun yang pernah dialaminya.
Di sisi lain, pedang yang dilepaskan Mo Lian terus melesat, dan pada akhirnya menusuk dada Qing Tong. Tapi tidak seperti yang diharapkan oleh orang lain di mana pedang menembus, pedang itu memasuki dada Qing Tong melalui darah di dadanya.
"Aaarrrgghh!" Qing Tong kembali berteriak, dan ini lebih keras dan panjang karena setiap kali pedang memasuki dadanya, sakitnya menyebar. Tidak hanya sakit di fisik, tapi jiwanya juga merasakan sakit yang lebih parah. Energi di dalam tubuhnya terus dicabik-cabik, dikikis sedikit demi sedikit dan diserap oleh Pohon Yin Surgawi.
Mo Lian mengerutkan keningnya saat melihat Qing Tong yang tidak mati.
Wang Yue Fei tiba di samping Mo Lian dan berkata, "Kaisar Giok dan Pohon Perunggu Surgawi sulit untuk dibunuh kecuali kita menyerangnya sampai habis tanpa meninggalkan apa pun, atau kita bisa mengusirnya dari Tiga Alam."
Mo Lian mengangguk, dan bertanya, "Apakah Yue Fu belum selesai?"
Wang Yue Fei menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Belum. Sebenarnya, menghancurkan Alam Selestial mudah. Kekuatan kami bisa membunuh semua bawahan Kaisar Giok, tapi yang menyulitkan kami hanyalah Kaisar Giok dan Pohon Perunggu Surgawi itu sendiri. Karena itulah, kami menunggumu mengembangkan Pohon Yin Surgawi dan melemahkan Pohon Perunggu Surgawi."
Mo Lian mengangguk kecil. Dia merasa ada yang salah, semua ini selesai dengan cepat, tidak ada tantangan sama sekali seperti yang dia duga. Sebelumnya, Hong Xi Jiang mengatakan sangat sulit menyerang Alam Selestial, tapi melihat sekitar, itu nampak mudah.
"Mungkin, ada bahaya tersembunyi. Pohon Perunggu Surgawi hanyalah dasar?"
...
***
__ADS_1
*Bersambung...