
Seorang pria tua berambut putih dengan pakaian yang sama tanpa hiasan, kulitnya pucat seperti orang yang hampir mati. Dia bungkuk saat berdiri dengan buruh bantuan tongkat kayu berwarna cokelat, dengan kepala naga di bagian pegangannya.
Jika bukan karena kabut merah yang keluar darinya, banyak orang tidak akan menganggapnya serius dan hanya melihatnya seperti orang tua biasa yang lemah.
Yang mungkin, akan terjatuh hanya dengan tiupan angin.
Mo Lian tersenyum tipis; tidak ada rasa takut, meski jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. "Dewa Surga ..." Suaranya pelan, dan penuh penekanan seperti sudah menantikannya sejak lama.
"Lemah!"
Pria tua itu memandang Mo Lian dan mengutuk.
Mo Lian tidak menanggapinya dengan serius, dia sudah melihat sedikit ingatan Jia Shenjun dalam pertempuran beberapa puluh ribu tahun lalu, dan mengetahui bahwa pria tua di depannya tidak ada dalam peperangan itu.
"Kau bahkan tidak ikut berperang, tapi bersikap sombong seperti itu. Aku menduga, kau hanya bermulut besar, dan menikmati semua kenikmatan setelah para pendahulu kalian terbunuh. Untuk orang yang bahkan tidak pernah berperang mengatakan hal itu, sungguh konyol."
Untuk seorang yang sudah sering bertarung dan berpengalaman, harusnya tidak mudah terkena provokasi seperti ini. Tapi, pria tua itu terlihat gemetar dengan kepala tertunduk. Kabut merah yang menyelimuti tubuhnya meluas.
Bang!
"Kau benar-benar mencari kematian!" Pria tua yang merupakan Sesepuh Pertama itu sangat marah. Dia paling membenci apabila ada yang mengungkit masalah tentang perang puluhan ribu tahun lalu. Bagaimanapun, itu adalah aib baginya karena menangis melihat Generasi Pertama yang kembali dan mati.
Sesepuh Pertama meledak-ledak dalam amarah dengan kabut yang menyelimutinya.
Mo Lian masih tetap diam mengamati; dia mencari tahu dari ras mana Sesepuh Pertama berasal.
Ketika sedang melihat, tiba-tiba punggungnya terasa dingin, seperti bahaya yang mengancam nyawanya. Tanpa membuang waktu ataupun menoleh, Mo Lian langsung terbang ke bawah.
Swosh!
Lintasan pedang berwarna merah terlihat di atas kepalanya. Lintasan pedang yang menyebar ke seluruh tempat di depannya yang sebelumnya tempat Matahari berada. Tebasan itu mengandung kekuatan yang tak terbayangkan; ruang-ruang terlihat retak dan pecah, dan dari dalam ruang terlihat ada cairan merah seperti darah.
Mo Lian tahu Sesepuh Pertama benar-benar marah dan berada di belakangnya. Serta merasakan aura yang lebih lemah dari Sesepuh Pertama, tapi lebih kuat dari Komandan Pertama sedang berada di dalam gerbang. Kemungkinan, mereka adalah Sesepuh lainnya.
Tapi meski begitu, Mo Lian sangat bersemangat!
Mo Lian berbalik seraya mendorong tangan kanannya ke atas depan. Tangan kanannya memegang sebuah pedang yang muncul entah dari kapan.
Hanya dengan satu gerakan tangan, samar-samar terlihat ada ribuan bayangan pedang yang menyerang Sesepuh Pertama.
Sesepuh Pertama terkejut, tapi kemudian tersenyum. Dia kagum dengan kecepatan Mo Lian, tapi kecepatan saja tidak bisa mengalahkannya. Dengan santainya, dia mengangkat tongkat kayu dan menangkis setiap serangan.
Pedang dan kayu bertemu, tapi suaranya terdengar keras seolah-olah logam besar sedang bertabrakan, bahkan percikan api seperti sambaran api matahari terlihat menyebar.
...
Keduanya terus bertukar pukulan untuk beberapa detik dan tidak tahu berapa ribu serangan yang sudah dilepaskan. Karena jauh dari Bumi, Bumi yang jaraknya ratusan juta mil hanya mendengar suara dentuman biasa.
__ADS_1
Mo Lian melangkah mundur setelah cukup bertukar serangan, tapi saat melihat Sesepuh Pertama yang maju, dia memutuskan untuk menyerangnya lagi.
Mo Lian mengayunkan pedangnya mengincar tongkat yang dibawa Sesepuh Pertama. Itu cukup sulit karena harus menyerang secara menyilang dalam jarak dua meter.
Tebasan pedangnya menciptakan garis pedang berwarna biru bagaikan bulan sabit yang menyerang tangan kanan Sesepuh Pertama.
Sesepuh Pertama tersenyum. "Serangan kecil." Dia mengayunkan tongkat yang dibawanya.
Ayunan tongkat Sesepuh Pertama menghancurkan serangan Mo Lian, menimbulkan ledakan keras yang memekakkan telinga. Serangan itu belum berakhir meski sudah menghancurkan serangan Mo Lian, lintasan pedang merah terus melesat.
Slash!
Tangan kanan Mo Lian yang memegang pedang terpotong dengan rapi seperti mentega.
Walaupun terpotong, Mo Lian tidak memperlihatkan perubahan ekspresi. Dia mengabaikan tangannya dan langsung mengayunkan tinju kirinya; memukul tongkat kayu berkepala naga.
Tidak hanya itu, tangannya yang terpotong itu beregenerasi dan membentuk tubuh baru, begitupun dengan bahunya yang menumbuhkan tangan baru. Dengan demikian, sekarang ada dua Mo Lian.
Sesepuh Pertama tidak memperlihatkan perubahan. Kemarahannya yang sebelumnya sudah tenang karena menganggap bahwa Mo Lian tidak ada apa-apanya dan hanya tahu cara memprovokasi tanpa bukti nyata.
Bang!
Tinju Mo Lian ditahan oleh tongkat kayu Sesepuh Pertama; gelombang kejut dengan warna biru dan merah saling bertabrakan. Dari jauh, itu seperti dua tirai kain yang berada bersebelahan.
Tiba-tiba, terdengar suara retakan di permukaan tongkat kayu, membuat senyum Sesepuh Pertama membeku.
Dengan Niat Pedang, kekuatan cengkeramannya seperti jutaan pedang yang terus menyerang bersamaan.
Crack! Duarr!
Tongkat kayu itu patah, kemudian meledak dengan nyala api yang lebih besar daripada Matahari yang hancur. Ledakan itu menghempaskan keduanya; berpisah dengan jarak ratusan mil.
Suara mendesing!
Tubuh Mo Lian yang tercipta dari potongan tangan sudah berada di belakang Sesepuh Pertama entah dari kapan, seolah-olah sudah menunggu di sana dan mengetahui bahwa Sesepuh Pertama pasti akan datang kemari.
Sesepuh Pertama terlihat berantakan, memuntahkan seteguk darah berkali-kali ketika artefaknya hancur dan merusak jiwanya karena terkena serangan balasan. Pakaian putihnya terlihat compang-camping dan banyak warna hitam bekas pembakaran.
Merasakan ada yang aneh, Sesepuh Pertama menoleh ke belakang. Dia mendapati adanya pedang berwarna putih yang tingginya ratusan ribu mil sedang jatuh dengan tebasan ke arahnya.
"Jia Shenjun ..." Walaupun tidak pernah melihatnya langsung, tapi Sesepuh Pertama telah mendengar bagaimana serangan pedang Jia Shenjun dari Generasi Pertama yang selamat.
Kesadaran Spiritual-nya bergetar ketika merasakan bahaya saat melihat pedang yang jatuh. Dia bersiap-siap untuk mundur, tapi suara desingan lain terdengar dari belakangnya, dan mendapati ada tangan biru dengan ukuran normal.
Sesepuh Pertama mengepalkan tangan kirinya, berbalik dan mengayunkan tinjunya. "Pukulan Penghancur Dunia!"
Tiba-tiba terdengar suara kerbau yang melenguh, dan detik berikutnya terlihat ada siluet kerbau yang ukurannya berkali-kali lipat dari Matahari. Itu memiliki mata merah menyala, kulitnya berwarna emas seperti zirah, dan tanduknya seperti naga.
__ADS_1
"Artefak!" Sesepuh Pertama mengeluarkan lampu berwarna biru dengan bentuk persegi, itu seperti lampu gantung. Bagian dalamnya terdapat api merah yang menyala, dan bagian rangkanya terdapat pola-pola aneh.
Sesepuh Pertama meludahkan darah ke arah artefak yang merupakan Lampu Penyelamat Jiwa.
Pedang putih di atas kepala Sesepuh Pertama meredup, kemudian menghilang seperti uap air. Kemudian dia merasakan sakit yang menyiksa di dalam kepalanya untuk satu detik, sebelum akhirnya menghilang dan digantikan dengan retakan-retakan pada Lampu Penyelamat Jiwa.
Lampu Penyelamat Jiwa adalah Artefak Surga tingkat Tinggi, itu berguna untuk memindahkan serangan yang diterima jiwa.
Sesepuh Pertama bernapas dengan terengah-engah, dia mengalami kerugian besar.
Booom!
Seperti tidak pernah dibiarkan beristirahat, Sesepuh Pertama mendengar suara ledakan keras yang berasal dari belakangnya. Dia mencoba menoleh, dan melihat Pukulan Penghancur Dunia telah hancur berkeping-keping menjadi serpihan cahaya merah.
Mo Lian (Tubuh Utama), tersenyum tipis saat menatap Sesepuh Pertama dengan dingin. "Kekuatan Spiritual-mu memang telah mencapai Dewa Surga. Tapi Kekuatan Fisik dan Jiwa-mu, hanya sampai batas Dewa Bumi ..."
"Kau terlalu terburu-buru menerobos sampai merusak fondasi di dalam tubuhmu. Kekuatanmu sangat lemah, tapi harus diakui, kau berhasil memotong tanganku."
Mo Lian terus mencoba memprovokasi Sesepuh Pertama, dan tetap bersiaga apabila 234 Sesepuh lain di dalam Gerbang Teleportasi datang bergabung. Walaupun dia tidak takut, akan sulit menghadapi mereka bersama dengan ramahnya yang sekarang.
Pandangannya menyapu Komandan Kedua yang belum dibunuhnya, kemudian kembali melihat Gerbang Teleportasi. Mo Lian mengerutkan keningnya.
Seolah-olah mengetahui isi pikiran Mo Lian, Hong Xi Jiang yang berada di kejauhan mengirimkan transmisi suara.
"Tidak perlu khawatir, aku memang sengaja membiarkan mereka datang, tapi mereka tidak akan bisa keluar dari sini. Bahkan artefak yang mereka bawa sudah aku ubah susunan polanya."
Mo Lian mengangkat sebelah alisnya, lalu mencoba melihat pintu itu dengan saksama. Benar saja, ada sedikit perbedaan pada aura yang dipancarkan, dan ada beberapa pola yang telah diubah dari ratusan ribu pola yang tersedia.
Walaupun hanya satu pola yang berubah, untuk membawa Dewa Surga dan 234 Dewa Bumi, itu sangat berisiko tinggi dan mungkin bisa meledak saat berpindah.
Sesepuh Pertama menggertakkan giginya, kemudian menghela napas untuk menangkan dirinya. "Kalian lihat? Dia bahkan bisa membuatku seperti ini, dan kalian mengatakan bisa membunuhnya sendiri?"
Tidak ada balasan dari dalam pintu, tapi bisa dijelaskan bahwa orang-orang di dalam merasa malu karena terlalu percaya diri.
Tapi, tidak lama kemudian, ledakan datang dari dalam pintu dengan aura penindasan yang tak terbayangkan. Pusaran merah datang di atas kepala Mo Lian dengan diameter ratusan ribu mil, itu mencoba menekannya agar tidak mampu bergerak.
Kemudian, satu demi satu cahaya dengan siluet seperti manusia terbang keluar dari Gerbang Teleportasi. Itu mengelilingi Mo Lian.
Saat cahaya meredup, tidak menghilang, terlihat wujud manusia yang sedikit aneh. Mereka mengangkat kedua tangan di depan dada dan saling menyentuh.
Mo Lian menengadahkan kepalanya melihat pusaran. "Menyegel energi spiritual, memperlambat gerakan, merusak jiwa, menggerogoti tubuh, dan menyedot kehidupan ..."
Tidak ada ketakutan di wajahnya. Dia sudah langsung bisa melihat kelemahan Formasi Penyegelan Spiritual dan Kematian dari Aliansi 10.000 Ras. Dari auranya, ini lebih rendah daripada Zaman Keemasan.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...