
Mo Lian mengabaikan semua Armada Besar kecuali Komandan Pertama dan Kedua yang masih hidup, meski belum kembali ke tubuh fisik mereka. Dia bisa memanfaatkan keadaan sekarang, tapi tidak memilihnya dan menunggu keduanya kembali. Akan sangat menyenangkan untuk memberi kesempatan pada mereka, kemudian patahkan semangat hidupnya.
Dia duduk bersila, menunggu Komandan Pertama dan Kedua bergerak. Formasi Array 10 Pedang Semesta dan Keabadian maupun Niat Pedang masih berdiri kokoh di belakangnya. Terkadang ada mengeluarkan suara mendesing dan dengungan yang menggetarkan tulang-tulang sampai berderak.
...
Komandan Pertama adalah yang pertama kembali setelah melakukan perjuangan yang cukup berat untuk datang. Dia telah menghabiskan banyak Kekuatan Jiwa untuk meningkatkan kecepatannya.
Dengan amarah yang membara saat napasnya terengah-engah, Komandan Pertama menatap tajam Mo Lian dan berkata, "Kau! Hari ini kau beruntung, aku akan membiarkanmu lolos kali ini. Jika ada hari lain, kau pasti mati!"
Bahkan sebelum menyelesaikan kalimatnya, Komandan Pertama langsung berbalik, mengabaikan Komandan Kedua dan Armada Besar yang tertinggal. Walaupun dia sangat marah, dia tidak bodoh.
Komandan Ketiga bisa dibunuh dengan mudah sampai menghancurkan Inti Jiwa. Kalaupun dia lebih kuat dari Komandan Ketiga, Komandan Pertama tidak bodoh untuk mencari masalah lebih jauh.
Komandan Kedua yang masih berusaha dan Armada Besar dibiarkan terdiam tanpa kata. Tidak akan pernah memercayai hal ini jika tidak mendengarnya langsung dari Komandan Pertama.
Untuk mengatakan banyak sekali omong kosong dan melarikan diri? Bahkan meninggalkan rekan-rekan yang dibawa dan memercayainya? Jika Sesepuh mengetahui akan hal ini, Komandan Pertama tidak akan dibiarkan hidup. Bahkan jika bisa hidup, pastinya akan mendapatkan hukuman berat yang membuat Komandan Pertama merasa mati adalah berkah.
Mo Lian, yang masih duduk bersila, memandang Komandan Pertama yang melesat seperti cahaya. Dia terdiam dengan mulut terbuka lebar.
"Kau membiarkanku lolos? Bahkan aku tidak bergerak, aku tetap tenang di sini."
Mo Lian mengangkat tangan kanannya mengarah pada Komandan Pertama yang jaraknya sekitar miliaran mil dan terus bertambah. Jika ruang di Galaksi Bima Sakti tidak disegel, mungkin Komandan Pertama akan bisa melarikan diri dengan mudah.
"Karena kau terlihat kesal dan tidak ingin membiarkanku lolos, maka datanglah kemari."
Saat Mo Lian mengatakannya, pusaran hitam seperti lubang muncul di tangannya. Itu memiliki gaya gravitasi yang berkali-kali lebih kuat dari lubang hitam itu sendiri. Mampu menelan apa pun di depannya, tapi Mo Lian hanya mengincar Komandan Pertama yang mengatakan omong kosong.
Komandan Pertama yang awalnya tersenyum lebar, tapi tiba-tiba merasakan tarikan kuat dari belakangnya. Merasakan ada yang aneh dari belakangnya, dia menoleh untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Mata Komandan Pertama terbuka lebar, memperlihatkan ketakutan yang tidak dapat dijelaskan. Wajahnya menghitam karena amarah yang lebih besar, serta ada teror yang menggetarkan jiwanya.
Walaupun Komandan Pertama adalah Generasi Ketiga dan merupakan yang terkuat, tapi selama ini tidak ada pertempuran yang berarti. Dia tidak pernah menemukan lawan yang kuat selain Sesepuh.
"Tidaaakkk! Lepaskan aku!"
Armada Besar yang melihat itu, panik dan pergi berbalik, dengan sebagian lainnya menyerang Hong Xi Jiang. Mereka tahu Hong Xi Jiang adalah dalang yang menyegel ruang di Galaksi Bima Sakti, dan jika membunuhnya, maka segelnya akan lepas.
Tapi, mereka memilih lawan yang salah.
__ADS_1
Masih dengan memandang Mo Lian yang berada di kejauhan, Hong Xi Jiang mengibaskan tangannya seolah-olah manusia yang mengusir nyamuk.
Duarr! Duarr! Duarr!
Satu demi satu Armada Besar meledak seperti kembang api, menimbulkan gelombang kejut dengan suara yang memekakkan telinga. Karena ledakan, dalam radius miliaran mil dari Bumi, semuanya benar-benar kosong.
Di sisi lain, Mo Lian melirik Komandan Kedua yang telah berhenti bergerak. Sepertinya tidak lagi tertarik untuk kembali ke tubuh fisik, dan memilih untuk meninggalkannya.
"Dia hanyalah Kesadaran Spiritual. Inti Jiwa dan semua kultivasinya ditinggal?" Mo Lian membuka matanya lebar saat samar-samar melihat Komandan Kedua yang melarikan diri.
Mo Lian mengangkat tangan kirinya dan menggaruk belakang kepalanya. Pertempuran menegangkan yang diharapkannya ternyata tidak semenarik itu. Dia sudah senang karena mendapatkan lawan yang lebih kuat dari Zhu Tong dan Lu Yi, tapi mereka bertiga pengecut. Bahkan Lu Yi yang lebih lemah dari mereka, terasa lebih kuat dalam bertarung.
Komandan Pertama terus melesat mundur karena gravitasi yang menariknya. Dia meronta-ronta seperti anak kecil yang tenggelam seraya membual dengan panik, "Sesepuh Pertama adalah Dewa Surga! Jika kau membunuhku! Sesepuh akan datang dan membalaskan dendam ku!"
"Aku adalah murid langsungnya, kau akan mati, seluruh keluargamu akan dikubur, seluruh bangsamu akan diledakkan!" Komandan Pertama terus mengumpat dengan kemarahan dan air mata yang mengalir deras karena ketakutannya.
Mo Lian sedikit menegang saat mendengar Dewa Surga, kemudian sudut bibirnya meringkuk membentuk senyum yang tidak bisa disebut senyuman. "Biarkan dia datang, aku Dewa Bumi sudah tidak membuatku kesulitan. Mungkin, hanya Dewa Surga, Organisasi Penjarah Spiritual dan Alam Selestial yang membuatku hati-hati."
Mo Lian menarik tangan kanannya yang lurus ke depan, itu membuat gravitasi yang menarik bertambah.
Whooooosh!
Kemudian, dengan kepalan tangan Mo Lian. Tiba-tiba...
Sraak!
Seolah-olah kain yang robek, ratusan celah terbuka secara bersamaan. Dari dalam celah terlihat pedang berwarna biru yang telah diberikan kekuatan dari Pedang Semesta dan Keabadian serta Niat Pedang.
Ratusan pedang itu menusuk tubuh Komandan Pertama, kemudian menebas kepalanya. Tidak ada ledakan seperti sebelumnya.
Kesadaran Komandan Pertama terus berubah dan pandangannya menghitam. Kemudian dari dalam tubuhnya, terlihat ada Inti Jiwa dengan diselimuti energi ungu seperti nyala api. Inti Jiwa itu terbang, kemudian kembali melarikan diri dengan ganasnya.
"Datang."
Jeritan Kunpeng terdengar ketika mulutnya terbuka dan gaya gravitasi kembali muncul dengan tarikan yang lebih kuat dari sebelumnya. Itu bahkan lebih kuat dari gravitasi yang dimiliki Mo Lian.
Hanya dalam waktu singkat, Inti Jiwa Komandan Pertama telah ditelan.
Mo Lian tersenyum dengan mata berkilat. "Organisasi Penjarah Spiritual..."
__ADS_1
Dia sangat tertarik, ingin pergi ke sana sesegera mungkin. Siapa tahu, dia bisa mendapatkan Teknik Kultivasi yang lebih tinggi dari tingkat Surga.
Mo Lian berdiri dan berpindah di depan tubuh Komandan Kedua yang melayang. "Meski kau sudah melarikan diri dengan Kesadaran Spiritual, aku tahu kau masih bisa mendengar ku. Ada berapa banyak Sesepuh yang dimiliki Aliansi Sepuluh Ribu Ras? Apakah ini sudah semuanya? Apakah masih ada Armada Besar lainnya di belakang?"
Tidak ada balasan untuk beberapa saat, sebelum akhirnya terdengar jawaban yang terdengar kesal, "Persetan denganmu!"
Mo Lian terdiam, tangan kanannya terangkat. Suara mendengung terdengar dari belakang punggungnya saat Niat Pedang telah menyatu menjadi satu.
Tangannya diselimuti oleh cahaya putih yang menyilaukan mata dan cahaya itu melesat naik ke atas membentuk sebuah pedang besar.
Dengan ayunan tangannya, suara mendesing dikeluarkan—menambah kengerian yang dilepaskan.
Tekanan mematikan memborbardir Komandan Kedua yang hanya berjarak beberapa meter.
Tepat saat itu, saat pedang putih melesat turun dan hampir mengenai kepala Komandan Kedua. Tiba-tiba terdengar suara mendesing yang sama, itu tidak terlalu kuat.
Bang!
Dentuman keras yang memekakkan telinga berasal dari pedang yang jatuh. Suara itu ditimbulkan karena pedangnya yang dihantam oleh energi merah membentuk pedang tajam. Aura pedang itu memancarkan tekanan yang tidak berbeda dengan tekanan yang dilepaskan Mo Lian.
Kemudian, dari atasnya, terdengar suara serak dan berat yang menggema.
"Bangsa Zhongguo memiliki Dewa Pedang? Tapi, kau sangat lemah! Kau bahkan tidak sepersepuluh dari Jia Shenjun!"
Mo Lian tetap tenang. Dia menengadahkan kepalanya dalam sudut 45°, melihat sebuah pintu besar berwarna merah yang memancarkan aura kuno.
Pintu itu berderak seperti pintu berkarat, dan ketika pintu terbuka; kabut merah keluar darinya dengan tekanan yang mematikan.
"Kau bahkan membunuh muridku, dendam ini, tidak bisa dihilangkan!"
Mo Lian tetap tenang, tidak ada rasa takut atau apa pun. Dia bahkan sangat bersemangat, dari tekanan yang dikeluarkan, itu lebih kuat dari Komandan Pertama.
Dengan senyuman, Mo Lian bergumam, "Dewa Surga..."
...
***
*Bersambung...
__ADS_1