Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 58 : Mengalahkan Wu-Sheng


__ADS_3

Mo Lian menolehkan kepalanya ke arah di mana pria paruh baya yang mengancamnya tadi terlempar. Jarak antara keduanya sendiri cukup jauh, berkisar satu mil. Sebenarnya dari pukulan hingga menembus gedung dan menghantam tanah hanya sejauh 400 meter, tapi karena pukulannya yang sangat keras membuat pria paruh baya itu menggesek tanah dan terciptalah sebuah parit yang cukup besar.


Saat orang-orang di sekitar yang melihat ini, mereka tidak bisa menahan keterkejutan mereka. Selama ini, yang mereka kira jika Kultivator itu hanya ada di kisah-kisah legenda maupun novel, tapi ternyata ada di kehidupan nyata, dan ternyata kekuatannya juga tidak bisa diremehkan. Seperti saat Mo Lian membunuh Wu-Dan tahap Akhir sebelumnya, ia hanya memukulkan tinjunya di udara kosong, dan daratan dalam radius satu mil bergetar hebat.


Mo Lian mengedarkan kesadarannya, kali ini ia bisa mengamati pergerakan dalam radius dua mil. Jika ditambah menggunakan teknik lainnya, ia bisa mengamati pergerakan dalam radius 10 mil bahkan lebih. "Apakah kau akan menyerah?"


Dari kejauhan, di mana tempat kerusakan paling parah terjadi. Melompat siluet manusia berpakaian hitam dengan beberapa luka di tubuhnya. "Aku Tetua Huang! Meski harus mati, aku tidak akan pernah menyerah! Tapi jika aku mati, aku harus membawamu bersamaku!"


Mo Lian menaikkan sebelah alisnya, ia tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh Organisasi Dunia Hitam. Apakah ini adalah trend mengenalkan diri sebelum mati?


Tetua Huang menekan tiga titik akupuntur di tubuhnya menggunakan jempol kanan. Dada bagian kanan, kiri, kemudian bagian antara dada dan pusar. Ia terbatuk dengan seteguk darah segar keluar dari dalam mulutnya, kemudian aura kultivasinya meningkat pesat hingga menembus tingkat Wu-Sheng.


Angin di sekitar berembus kencang, awan hitam juga mulai mengepul di langit kota. Hanya saja tidak dibarengi dengan kilatan petir, bagaimanapun juga ini adalah peningkatan paksa untuk menembus tingkat kultivasi.


"Oh! Peningkatan paksa? Apakah kau yakin dapat membunuhku?"


Tetua Huang menggertakkan giginya, ia menatap tajam Mo Lian dengan nafsu membunuh yang kuat keluar darinya. "Sekarang aku sudah berada ditingkat Wu-Sheng. Meski akan mengalami kemunduran, tapi ini sudah lebih dari cukup untuk membunuhmu!"


Mo Lian terdiam sejenak dengan wajah tampak terkejut, beberapa detik kemudian, ia tertawa terbahak-bahak. Sudah ribuan kali ia mendengar perkataan itu, saat di kehidupan sebelumnya, saat ada yang mengatakan hal tersebut, sudah pasti orang itu akan mati.


Keduanya saling menatap satu sama lain, Tetua Huang menatap tajam Mo Lian dengan nafsu membunuh. Mo Lian menatap Tetua Huang dengan santainya dan tersenyum tipis.


Keduanya saling menatap untuk beberapa detik, kemudian mereka berdua menghilang dari tempat awal mereka berdiri. Ketika mereka muncul, terdengar dentuman yang sangat keras dengan embusan angin kencang menyebar luas, itu tercipta karena pukulan mereka yang saling beradu.


Tetua Huang meringis kesakitan saat pukulannya beradu dengan pukulan Mo Lian, ia tidak menyangka akan merasakan rasa sakit meski ia sendiri sudah berada ditingkat Wu-Sheng. Dengan tergesa-gesa, ia mundur beberapa puluh langkah ke belakang mencoba menjaga jarak dengan Mo Lian, berharap dapat mempersiapkan serangan selanjutnya.


Mo Lian yang melihat itu tidak tinggal diam, ia bergerak bagaikan kilat pergi menuju ke belakang Tetua Huang. Dengan tangan kanannya yang terkepal, ia mengayunkan tangannya memukul punggung Tetua Huang dengan sepertiga kekuatan fisiknya.


Tetua Huang menukik tajam bagaikan peluru yang ditembakkan dari senapan menuju gedung seberang.


Saat Tetua Huang hampir menabrak dinding kaca. Tiba-tiba di depannya telah muncul Mo Lian dengan tangan kanan terkepal. Mo Lian memukulkan tinjunya pada perut Tetua Huang menggunakan kekuatan fisiknya yang sama seperti sebelumnya.


Bam!


Sekali lagi, Tetua Huang melesat tajam ke langit gedung Perusahaan Heiqiu.


Tidak berhenti disitu saja, dengan kecepatan tinggi bagaikan teleportasi, ia sudah tiba di atas Tetua Huang dengan kedua tangan saling menggenggam. Ia mengayunkan kedua tangannya secara vertikal ke arah kepala Tetua Huang, membuat Tetua Huang kembali melesat kencang menembus gedung berlantai 30 hingga ke dasar.


Gedung berlantai 30 itu bergetar hebat akibat tertembus di tengah-tengahnya, ditambah dengan guncangan tanah sekitar. Perlahan, gedung semakin bergoyang karena tidak kuat menahan guncangan, kemudian runtuh menjadi puing-puing.

__ADS_1


Entah mengapa Mo Lian sangat suka sekali menggunakan hal semacam ini saat bertarung menggunakan kekuatan fisiknya. Sama saat bertarung dengan Lao Tzu, Kapten Pasukan Taring Naga.


Saat pertarungan ini berlangsung, di seberang gedung perusahaan banyak sekali pejalan kaki yang mengambil gambar kejadian. Bahkan ada pula yang dengan sengaja naik ke atap rumah warga untuk bisa melihat pertarungan lebih jelas, karena hal ini pula membuat lalu lintas menjadi terhambat.


Mo Lian sendiri tidak merasa khawatir karena menggunakan kekuatan fisiknya sebanyak 33%, itu karena penghuni gedung perusahaan telah diungsikan, bagian sekitarnya juga terdapat tanah lapang yang lumayan luas dan tidak ada bangunan. Sehingga tidak terlalu berdampak pada bangunan yang jaraknya lumayan jauh.


"Aku tahu kau belum mati. Apakah hanya segitu saja?" Mo Lian menatap tajam ke arah reruntuhan.


Tumpukan puing-puing bangunan bergetar, tidak lama kemudian muncul siluet manusia berpakaian hitam compang-camping dengan darah segar merembes keluar dari pori-pori kulitnya. "Bagaimana mungkin? Aku sudah berada ditingkat Wu-Sheng! Mengapa aku tetap tidak bisa menahan pukulanmu!"


Mo Lian menggelengkan kepalanya dan terkekeh kecil melihat tingkah Tetua Huang. "Apakah karena kau telah naik ketingkat Wu-Sheng berpikiran dapat mengalahkanku? Bahkan jika Pemimpin Organisasi Dunia Hitam di sini, dia akan bertekuk lutut di hadapanku!"


Wajah Tetua Huang menghitam karena amarah, terlihat urat-urat lehernya mengeras. Ia menengadahkan kepalanya melihat langit yang tinggi. "Dengan mengorbankan 1000 tahun masa hidupku! Buat aku ketingkat selanjutnya dari tahap Wu-Sheng!" teriaknya lantang.


Gemuruh di langit yang tertutupi awan hitam dapat didengar. Angin di sekitar kembali berembus kencang seperti menanggapi permintaan dari Tetua Huang, aura dalam tubuhnya kian meningkat pesat, namun berbanding terbalik dengan penampilannya yang berubah menjadi pria tua berambut putih panjang dan kerutan memenuhi wajahnya.


Wu-Sheng tahap Menengah, Wu-Sheng tahap Akhir. Peningkatan aura kultivasi Tetua Huang berhenti saat basis kultivasinya telah berada ditingkat Wu-Sheng tahap Akhir, satu langkah lagi untuk dapat menembus Ranah Inti Emas. Tapi tetap saja, ia tidak dapat memanggil Kesengsaraan Petir.


Melihat itu, Mo Lian terperangah dengan mulut terbuka. Ia tak berharap akan melihat sesuatu seperti ini di Bumi, bukan hanya mengorbankan peningkatan kultivasi, tapi juga mengorbankan masa hidup.


"Hahaha! Aku sekarang berada ditingkatan yang sama seperti Pemimpin. Kita lihat, apakah yang kau katakan tadi benar atau hanya omong kosong!" Tetua Huang menginjak udara kosong di bawah kakinya, ia terbang melesat tinggi dan berhenti saat tingginya telah sejajar dengan Mo Lian.


Tetua Huang mengalirkan energi spiritual pada tangan kanannya, terlihat pedang spiritual berwarna hitam. Ia mengangkat pedang itu mengarah ke langit, kemudian mengayunkannya secara vertikal ke arah Mo Lian. "Matilah!"


Mo Lian tidak habis pikir jika lawannya akan mengeluarkan serangan itu, bukan karena takut mengenainya. Tapi takut jika serangan itu dapat membunuh penduduk kota yang berada di bawah, bagaimanapun mereka berdua bertarung di tengah-tengah perkotaan.


Ia mengalirkan energi spiritualnya menyebar ke seluruh tubuhnya. Seketika terbentuk siluet telapak tangan yang besarnya lebih dari 15 meter, ia kembali mengalirkan energi spiritual ke telapak tangannya, ia membuat gerakan telapak tangan yang saling menyentuh. Saat itu juga, siluet telapak tangan yang berada di atas Mo Lian ikut bergerak dan menangkap siluet bulan sabit.


Boom! Wush!


Dentuman keras memekakkan telinga kembali terdengar, embusan angin kencang juga ikut menyebar lebih luas dari sebelumnya. Embusan angin kali ini seperti badai besar yang menimpa kota, pepohonan yang tertanam di pinggir jalan tercabut dari akarnya, kaca-kaca tebal yang sebagai dinding dari gedung sekitar juga pecah berkeping-keping hanya karena dentuman kerasnya.


Mo Lian mengumpat dalam hati saat melihat kerusakan yang terjadi, ia hanya berharap jika bukan dirinya yang harus disalahkan dan mengganti kerugian semua ini. Ia sangat yakin akan memakan lebih dari 100.000.000 Yuan untuk mengganti semua kerugian dan memperbaiki fasilitas umum yang rusak, ditambah dengan kerusakan gedung seberang jalan.


Jika saya Mo Lian tidak berlama-lama, maka kerusakan ini tidak akan pernah ada. Tapi, jika ia mengakhirinya dengan cepat, takutnya Tetua Huang akan mati dan ia tidak dapat mengetahui informasi lebih jauh tentang Organisasi Dunia Hitam.


Krak! Crash!


Siluet bulan sabit berwarna hitam pekat itu retak, dan hancur berkeping-keping menjadi potongan cahaya hitam. Tetua Huang yang melihat itu tersentak tak percaya, tanpa sadar ia mundur beberapa langkah ke belakang.

__ADS_1


"Mau ke mana kau? Ini semua salahmu!"


Terdengar suara dingin dengan nafsu membunuh yang kuat di belakang Tetua Huang. Ia menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, terlihat Mo Lian yang menatapnya tajam.


Mo Lian meregangkan tangan kirinya menangkap leher Tetua Huang. "Wu-Sheng tahap Akhir? Omong kosong!"


Dengan amarah yang memuncak, amarah yang bukan karena ancaman dari Tetua Huang, melainkan kesal karena ia harus mengganti kerugian kota.


Tetua Huang yang lehernya dicengkeram Mo Lian mencoba melepaskan diri, ia mengalirkan energi spiritual pada kedua tangannya untuk dipukulkan ke arah Mo Lian. Namun baru saja energi spiritual dialirkan, tiba-tiba ia merasakan rasa sakit di kedua tangannya. Ia menolehkan kepalanya secara paksa, terlihat siluet tangan berwarna biru tengah menggenggam tangannya.


Mo Lian menatap tajam Tetua Huang. "Katakan! Di mana markas utama kalian?"


Tetua Huang mendengus dingin, kemudian menjawab pertanyaan itu, "Heh! Le- Lebih baik aku mati, daripada harus memberitahumu! Meski kau bisa mengalahkanku, tapi kau tidak akan bisa mengalahkan Pemimpin!"


Mo Lian terdiam, ia a menjadi sangat penasaran dengan orang yang dipanggil 'Pemimpin' ini. Bagaimana tidak, pasalnya dua tetua mengatakan padanya bahwa ia tidak akan bisa mengalahkan Pemimpin Organisasi Dunia Hitam.


Mo Lian menghela napas panjang, ia menggerakkan ujung jarinya. Tiba-tiba siluet tangan berwarna biru itu bergerak menanggapi perintah Mo Lian, siluet tangan itu menarik tangan Tetua Huang hingga terdengar suara renyah, menandakan bahwa pergelangan tangan Tetua Huang telah terputus.


"Aaarrrgghh!" Tetua Huang berteriak kesakitan saat lengan kirinya terputus, terlihat darah segar mengalir deras darinya.


"Katakan!"


"Ti- T- Tidak akan!" Tetua Huang tetap kekeh untuk tidak memberitahukan kepada Mo Lian.


Sama seperti sebelumnya, Mo Lian kembali memutus lengan kanan Tetua Huang. Darah segar kembali mengalir deras, hal itu tidak berhenti disitu saja, ia akan melepaskan anggota tubuh Tetua Huang jika ia tidak mendapatkan jawaban. Dan bisa ditebak, dalam kurun waktu kurang dari lima menit, Tetua Huang sudah kehilangan dua lengan dan dua kaki.


"Kalau begitu. Mengapa kalian tidak bergerak lebih awal? Bukankah kalian memiliki kekuatan yang besar? Sejauh ini aku sudah bertemu beberapa orang setengah Wu-Dan, Wu-Dan tahap Menengah, Akhir. Dan Pemimpin kalian yang berada ditingkat Wu-Sheng tahap Akhir, seharusnya kalian dapat dengan mudah menguasai seluruh Daratan Huaxia."


Tetua Huang meringis kesakitan, ia menatap wajah Mo Lian dengan tatapan kosong seperti orang yang jiwanya telah rusak karena semua penyiksaan ini. "A- A- Aku. Ti- Tidak tahu, kami juga menanyakan itu pada Pemimpin. Ta- Tapi dia hanya mengatakan bahwa belum waktunya, karena ... ke depannya akan ada peristiwa besar ... yang terjadi."


Peristiwa besar? Apa itu? Merasa tidak jelas dengan apa yang dikatakan Tetua Huang. Mo Lian memutuskan untuk menggunakan Teknik Pencarian Jiwa pada Tetua Huang. Ketika ia membuka matanya perlahan, senyum masam terlihat menghiasi wajahnya, informasi yang didapatnya tidak ada yang berguna. Lokasi markas utama Organisasi Dunia Hitam juga tidak diketahui, wajah Pemimpin mereka juga tertutupi oleh bayangan.


"Apa yang kau maksud dengan peristiwa besar tad—" Mo Lian hendak menanyakan pertanyaan yang menanggungnya, namun ia hentikan karena melihat Tetua Huang yang sudah kehilangan nyawa.


Melihat itu, ia melepaskan cengkeramannya dan membiarkan tubuh kosong Tetua Huang jatuh ke tanah.


Mo Lian mendongakkan kepalanya melihat langit yang telah kembali seperti semula. "Peristiwa besar? Apa itu?"


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2