Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 176 : Kembali


__ADS_3

Mo Lian menggunakan Teknik Budidaya Pemurnian Hitam untuk menyerap aura kematian yang masih tersebar di udara sekitar, yang sedikit meningkatkan kekuatannya, meski masih jauh untuk menembus Ranah Inti Emas tahap Menengah.


"Tubuh Lima Element dan Tubuh Emas, meski memiliki dua tubuh teratas, dan dua Teknik Budidaya, kecepatan kultivasiku masih sangat lambat. Tapi setidaknya, kekuatanku setara dengan Alam dan Manusia tahap Akhir."


Mo Lian melayang perlahan dari atas danau pergi menghampiri Qin Nian yang berada di dalam pelindung buatan naga. Ia menyentuh pelindung itu, dan hancur seketika itu juga. Ia menoleh menatap naga biru. "Urusanku di sini sudah selesai, aku akan kembali ke tempatku berada. Aku harus menyelesaikan beberapa hal."


Mo Lian harus kembali ke Kota Chengdu untuk melakukan perhitungan pada Keluarga Mo, Keluarga Long, dan Keluarga Fang yang masih tertunda. Terutama untuk Keluarga Mo yang membunuh kakek kandungnya, dan mengambil hak asli milik Ayahnya.


Untuk Keluarga Su, meski ia masih menyimpan dendam, tapi ia harus menahannya karena Ibunya selalu mengatakan padanya untuk bersikap tenang dan memanfaatkan.


Naga itu mendekatkan kepalnya pada Mo Lian. "Apakah Hamba boleh mengikuti Anda?"


Mo Lian menghembuskan napas panjang, dan kemudian mengencangkan bibirnya mengungkapkan perasaan bimbang. Memiliki seekor naga yang mengikutinya memang sangat luar biasa, tapi ia berpikiran lain. "Untuk saat ini belum, kau tunggulah di sini sampai keadaanmu benar-benar pulih. Ketika sudah, keluarlah dari dimensi ini, dan carilah keberadaan ku."


"Seharusnya sangat mudah bagimu untuk mencari ku. Bagaimanapun, kau adalah naga yang memiliki kemampuan untuk merasakan energi spiritual sejauh jutaan mil."


Kedatangan Mo Lian ke sini menggunakan alat transportasi modern, sehingga ia harus kembali dengan cara yang sama, sehingga ia harus menahan diri untuk tidak membawa naga, meski ia tahu jika naga bisa berubah bentuk ke manusia ataupun menjadi lebih kecil.


Tapi tetap saja, ia memilih untuk tidak membawa naga di depannya. Ia tidak tahu naga di depannya akan berubah menjadi seorang pria ataukah wanita, karena naga dewasa dapat menyembunyikan jenisnya.


Naga itu terdiam sejenak, kemudian menganggukkan kepalanya sebagai balasan. "Baiklah, Hamba akan memulihkan kondisi tubuhku sampai benar-benar pulih ..."


Naga itu kembali terdiam untuk beberapa saat, dengan cahaya biru yang tiba-tiba muncul di depan kepalanya. Ketika cahaya itu meredup dan menghilang, terlihat sebuah cincin berwarna biru dengan ukiran naga.


"Terimalah Cincin Ruang ini, Anda bisa dengan bebas menggunakan sumber daya yang berada di dalamnya ..." Cincin Ruang itu turun perlahan dengan cahaya biru yang terpancar darinya dan berhenti tepat di depan Mo Lian.


Mo Lian meraih Cincin Ruang itu dan mengenakannya di jari tengah. Ia menengadahkan kepalanya menatap naga yang namanya sendiri tidak diketahuinya. "Terimakasih, aku akan memanfaatkannya dengan baik."

__ADS_1


Naga itu melebarkan kedua tangannya, membuat Mo Lian tertelan oleh cahaya biru muda yang berasal dari energi spiritual. "Hamba akan mengirimkan kalian berdua ke tempat awal kalian datang."


Ketika cahaya itu meredup dan menyusut, Mo Lian dengan Qin Nian menghilang dari tempat awal mereka berdiri, meninggalkan naga seorang diri di dalam dimensi di dalam gunung tinggi.


"Siapa yang menyangka aku akan bertemu dengan Dewa Semesta, orang yang akan menghancurkan Sekte Racun Minghai." Naga itu menengadahkan kepalanya melihat langit-langit ruangan.


Naga itu kembali tertunduk. "Aku memang sudah sembuh, dan apabila mengisi kekuatanku seperti semula, aku membutuhkan waktu ratusan tahun. Namun itu terlalu lama, aku akan beristirahat selama satu tahun di sini, dan kemudian menghampirinya." Ia melingkar seperti ular panjang, kemudian menutup matanya perlahan.


***


Puluhan Ribu Mil dari Gunung Batu


Energi spiritual berfluktuasi di perbukitan hijau dengan hamparan rumput yang luas, serta angin yang bertiup kencang menerbangkan dedaunan pohon. Dari energi spiritual itu memunculkan cahaya biru yang bersinar terang dan samar-samar terdapat dua orang yang berdiri di dalamnya.


Hingga saat cahaya itu meredup, terlihat Mo Lian dan Qin Nian yang berdiri bersebelahan.


Bisa dilihat jika di robekan ruang itu terdapat hamparan rumput di atas bukit, dengan langit berwarna jingga dari ufuk timur, yang artinya di sana sudah menunjukkan waktu pagi hari. Di atas bukit juga terlihat banyak tenda, dengan orangnya sekali yang menghirup udara segar.


Orang-orang yang berada di sana tidak menoleh ke arah Mo Lian, yang artinya tidak ada yang menyadari jika ia telah membuka ruang, atau bisa dikatakan orang yang berada di dalam dimensi ruang bisa melihat ke luar, namun tidak sebaliknya.


Mo Lian merangkul pinggang Qin Nian, kemudian melompat memasuki celah ruang yang dibukanya tadi.


Celah ruang itu kembali menutup sesaat setelah Mo Lian dan Qin Nian melompat masuk ke dalam, yang kemudian mereka berdua berpindah ke tempat seberang.


Kedatangan Mo Lian ini mengejutkan semua orang yang berada di atas bukit, terlebih lagi dengan tiupan angin yang cukup kencang.


Mo Lian dan Qin Nian melayang di atas jurang di mana tempat mereka berdua masuk maupun keluar dari dimensi ruang. Ia menoleh melihat sekitar, mencari keberadaan Wanda, namun tidak satupun dari puluhan orang yang memandanginya.

__ADS_1


Mo Lian menoleh ke kanan, melihat jauh di mana mobil terparkir. Ia merasakan keberadaan Wanda di dalam salah satu rumah warga, dengan sopir yang tidur di dalam mobil. "Aku akan memberikan mereka berdua uang tip nanti," gumamnya kemudian terbang turun menuju hutan pohon karet.


Ketika sudah mendarat di tengah-tengah hutan karet yang tidak terlalu luas, Mo Lian dan Qin Nian berjalan kaki menuju lahan kosong yang digunakan sebagai tempat parkir. Ia mengambil handphone dari dalam Cincin Ruang, dan terlihat bawa waktu sudah berjalan dengan cepat. Di sana tertulis hari Rabu tanggal 3 Maret 2021, yang artinya sudah dua hari semenjak ia memasuki dimensi ruang.


Belasan menit berlalu, ia sudah berada di tempat mobil terparkir dan duduk di samping pintu masuk setelah mengeluarkan sofa dari penyimpannya. Ia tidak ingin membangunkan sopir yang masih beristirahat di dalam mobil.


Satu jam kemudian, pintu mobil terbuka perlahan dan memperlihatkan pria yang berusia tiga puluhan tahun sedang berjalan keluar sembari meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku.


Pria itu tersentak saat menyadari bahwa Mo Lian dan Qin Nian sudah menunggu di sana. Dengan cepat ia sedikit membungkukkan badannya. "Maaf, saya tidak menyadarinya ..."


Mo Lian sedikit mengangkat tangan kanannya. "Tidak masalah, satu jam dari sekarang kita akan berangkat. Kau bisa makan dulu di toko depan menggunakan uangmu, saat kembali nanti aku akan menggantinya, ditambah dengan uang bonus."


Pria itu terdiam untuk beberapa saat mencoba memproses perkataan Mo Lian kata demi kata, kemudian mengangguk kecil dan pergi ke toko depan.


Mo Lian bersandar pada sandaran sofa dengan mata terpejam untuk menunggu waktu kepulangan. Ia juga tidak perlu sarapan, karena ia sendiri tidak pernah lapar setelah menembus Ranah Inti Perak. Ia bisa menahan lapar hingga puluhan bahkan ratusan tahun lamanya tanpa makan sedikitpun.


Naga itu sudah kembali tidur, mungkin membutuhkan seratus tahun untuknya dapat kembali pulih total, mengingat kultivasinya yang turun drastis dan luka yang dialaminya dulu, batin Mo Lian.


Tapi semoga saja dia bisa selesai dengan cepat, karena hanya membutuhkan waktu satu tahun lagi sebelum Masterku datang. Jika aku bertemu dengannya nanti, apa yang akan terjadi? Entahlah, semoga saja hubunganku dengannya bisa sama seperti dulu.


Walaupun Mo Lian berharap bisa kembali seperti dulu, tapi tidak semana mestinya bisa sama. Bisa saja saat bertemu nanti ia akan diserang Masternya karena memiliki pedang milik Sekte Racun Minghai. Maka jika begitu, ia hanya bisa meminta Masternya untuk melihat ingatannya dulu, meski sebenarnya ingatan itu sangat rahasia.


"Hah ..." Mo Lian menghembuskan napas panjang sembari membuka matanya perlahan. "Hari yang sangat melelahkan, aku ingin cepat-cepat pulang dan meminta Ibu untuk memelukku ..."


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2