
Pada saat ini di dalam Aula Sekte sudah terduduk para Penatua dengan kepala tertunduk ke bawah melihat lutut masing-masing, bersama dengan murid langsung Mo Lian yang berdiri di sebelah Penatua.
Mo Lian menatap tajam semua orang di dalam ruangan, bahkan Ibu dan Adiknya, kali ini ia akan bersikap sebagaimana seorang Patriak. Ia tidak membeda-bedakan mana keluarga, bahkan Ayahnya juga duduk di sebelahnya dengan pandangan yang sama.
"Jadi, bagaimana mungkin kalian tidak bisa membedakan orang? Kalian semua sudah berlatih dengan baik, bahkan di antara kalian sudah ada yang menembus Ranah Inti Emas!" Mo Lian menghentakkan kaki kanannya pada lantai, membuat bangunan bergetar hebat.
Mo Lian menolehkan kepalanya melihat Qin Nian yang tertunduk seraya memeganginya perutnya. "Dan kau, Qin Nian, kita sudah sering bersama. Bagaimana mungkin kau tidak bisa mengenali perbedaannya, ilusi yang digunakannya hanyalah tingkat rendah. Kalian bisa melindungi diri sendiri dengan cara mengalirkan energi kalian pada kepala dan mata kalian, bukankah sudah pernah aku ajarkan?"
Mo Lian tidak habis pikir semua orang di sini bisa masuk dalam kendali orang dari Klan Vampir yang kekuatannya hanya sebatas Ranah Inti Emas tahap Awal. Klan Vampir memang hebat dalam mengendalikan pikiran serta menyamar, tapi seharusnya murid-muridnya mampu menangkal hal itu karena semua pelatihan yang dijalani.
Tapi, ia juga turun andil dalam kelemahan anggota Sekte Dongfangzhi. Ia terlalu memanjakan mereka, seandainya sebelum ia pergi dulu ia menghajar satu persatu agar meningkatkan mental mereka, mungkin mereka akan lebih siap dan tidak akan terjadi hal seperti ini.
Meski demikian, ia masih tetap kecewa dengan tiga orang Ranah Inti Emas yang bisa-bisanya masuk dalam kendali.
"Lalu, mengapa orang yang bukan dari Sekte Dongfangzhi juga turut hadir di sini?" Mo Lian kembali menolehkan kepalanya melihat Ong Hei Yun yang berdiri di sebelah Qin Nian.
Semua orang hanya terdiam dengan kepala tertunduk, tidak ada satupun dari mereka yang berani membalas perkataan Mo Lian, bahkan untuk mengangkat kepala pun mereka harus berpikir dua kali.
Mo Lian menekan kedua tangannya pada sandaran lengan, ia menopang badannya untuk berdiri dari tempat duduknya. "Aku akan kembali bepergian, aku akan pergi ke Amerika untuk membantai Keluarga Rosth. Sekte Dongfangzhi akan diurus oleh Ayahku saat kepergian ku!"
Su Jingmei mendongak menatap wajah Mo Lian dengan air mata yang mengalir deras. "Li- Lian'er, jangan pergi lagi. Ibu mohon."
Mo Lian terdiam sejenak sembari melihat Ayahnya yang berdiri di sebelahnya. Kemudian keduanya mengangguk secara bersamaan. "Kalian semua, keluar! Biarkan aku berbicara dengan Ibu dan Adikku."
"Kalian juga." Mo Lian mengalihkan pandangannya pada Wei Yian Fei dan Wei Yian Ning yang berdiri di belakangnya.
Wei Yian Fei dan Wei Yian Ning tersentak dari lamunannya, mereka masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. Dalam waktu beberapa jam ini mereka melihat sesuatu yang sangat asing bagi mereka, tapi terlihat sangat menakjubkan.
Bahkan saking terkejutnya, mereka hanya bisa terdiam dengan mulut terbuka sepanjang jalan.
__ADS_1
Semua orang berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan keluar setelah memberikan salam pada Mo Lian.
Setiap langkah yang diambil Qin Nian, ia akan terus meneteskan air mata, ia merasakan rasa sakit di dada kirinya. Sakit ini bukan berasal dari tendangan Mo Lian, tapi kekecewaan pada dirinya sendiri, ia pernah mengatakan bahwa akan mencintai Mo Lian tidak peduli apa statusnya, tapi ia malah membuat Mo Lian kecewa atas tindakannya sendiri.
Setelah semua orang keluar dari ruangan, Su Jingmei berjalan tertatih dan bahkan tersandung, kemudian hampir terjatuh, namun dengan sigap ditahan oleh Mo Qian yang sudah tiba di tempat.
Seharusnya Su Jingmei marah dan menampar wajah Mo Qian karena menghilang untuk waktu yang sangat lama, tapi saat ini ia tidak memiliki hal untuk melakukan hal itu. Bagaimanapun ia sudah melakukan tindakan yang cukup merugikan, dan membawa orang asing yang bukan anaknya ke dalam wilayah Sekte Dongfangzhi.
"Ka- Kakak, maafkan aku." Mo Fefei berjalan menghampiri Mo Lian dengan kepala tertunduk.
Mo Lian terdiam dengan wajah datar, kemudian ia menghembuskan napas panjang dengan senyum tipis. Kemudian ia memeluk erat Adiknya, ia paling tidak bisa melihat Adik kecilnya yang sudah dirawatnya selama belasan tahun menangis seperti itu.
"Kakak, siapa pria yang bersama dengan Kakak?" tanya Mo Fefei dengan suara bergetar di dada Mo Lian.
"Dia adalah Ayah kita yang menghilang dalam perang lima belas tahun lalu," jawab Mo Lian yang mengusap punggung Mo Fefei serta mengelus puncak kepalanya.
Mo Fefei tersentak, ia mendongak menatap wajah Mo Lian dengan mata lebar meminta kepastian, kemudian mengalihkan pandangannya pada Mo Qian setelah melihat Kakaknya yang mengangguk.
Mo Qian yang masih memeluk erat Su Jingmei itu menoleh ke arah sumber suara, kemudian menganggukkan kepalanya dan membuka tangan kirinya untuk memeluk Mo Fefei.
Tidak lama kemudian, Su Jingmei melepaskan pelukannya dan mendorong Mo Qian untuk sedikit menjauh, ia mendongak menatap Mo Qian dengan air mata yang mengalir deras. "Se- Selama ini ke mana saja dirimu, sayang?" tanyanya tersedu-sedu.
Senyum pahit terlihat di wajah Mo Qian. Ia menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan mencoba mempersiapkan diri, lalu menjelaskan semuanya dari awal peperangan yang terjadi di Pegunungan Himalaya.
Penjelasan ini tidak jauh berbeda dengan penjelasan yang didengar Mo Lian dari Ong Lei Yang. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan saat tiba di Negeri Surgawi, pertempuran yang terjadi di sana, kemudian ditangkap oleh Istana Surgawi dan dipenjarakan di sana.
Hingga belasan tahun berlalu, akhirnya Mo Lian datang menyelamatkannya.
Mendengar cerita itu, Su Jingmei dan Mo Fefei kembali menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
Puluhan menit kemudian, setelah semuanya kembali tenang, akhirnya giliran Mo Lian yang membuka suaranya.
"Ibu, bagaimana Ibu bisa bertemu orang dari Klan Vampir?" tanya Mo Lian serius dengan pandangan sedikit khawatir.
Su Jingmei terdiam sejenak dengan mata terpejam mencoba mengingat kembali hal yang pernah terjadi beberapa hari terakhir. Tidak lama kemudian, ia membuka matanya kembali dan mulai menjelaskan.
"Seminggu yang lalu, Ibu mendapat tamu, orang itu seumuran denganmu dan berambut pirang. Dia ingin bekerjasama dalam jangka panjang, saat dia masuk ke dalam ruangan, dia mengamati ruangan dan melihat fotomu dengan tatapan serius. Setelah itu ..."
Su Jingmei terdiam sejenak mencoba mengingat kembali, kemudian melanjutkan perkataannya, "Tiba-tiba pandangan Ibu menjadi gelap, semua hal yang dikatakannya seperti perintah mutlak yang tidak bisa ditolak. Ibu juga merasa jika Ibu tertidur jauh di ruangan kosong, setelah itu Ibu tidak mengingat apapun."
Mo Lian mengangguk kecil, apa yang diduganya ternyata benar. Itu adalah teknik mengendalikan pikiran, setelah korban masuk dalam kendali, korban tidak akan dapat mengenali siapapun di sekitarnya, bahkan jika sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan selama ratusan tahun diminta untuk saling membunuh, itu bisa terjadi.
Untuk lepas dari kendali haruslah memiliki kekuatan jiwa yang lebih besar, ataupun dibantu oleh orang sekitar.
"Apakah dia hanya sendirian?" Mo Lian berpikiran masih tidak mungkin untuk dapat mengendalikan pikiran Ranah Inti Emas seperti Wu Yengtu, kecuali ada lagi orang yang lebih kuat.
"Jika diingat kembali, dia bersama pria tua. Untuk pria muda itu, tidak ada aura Kultivator dari tubuhnya, namun pria tua itu sangat kuat, bahkan bisa mengubah suhu hanya dari napasnya saja," jawab Su Jingmei sembari mengusap dagunya.
Mo Lian kembali mengangguk, akhirnya ia mendapatkan kejelasan mengapa Wu Yengtu dapat masuk dalam kendali. Untuk kekuatan pria tua itu, ia menduga berada di Ranah Alam dan Manusia, dan sekarang mungkin saja masih berada di Daratan Huaxia menjaga buku-buku teknik yang dibawa.
Tapi, tidak butuh waktu lama untuk pria tua itu kembali ke Sekte Dongfangzhi.
Tentunya pria tua itu dapat merasakan apakah pria berambut pirang itu sudah terbunuh ataukah belum. Meski ia tidak terlalu mengetahui pengetahuan Klan Vampir di Bumi, tapi ia memiliki pengetahuan tentang Ras yang hampir sama.
Di Galaxy Pusat sana, ada Ras serupa yang dapat merasakan aura masing-masing, meski jaraknya terpisah ratusan ribu mil jauhnya.
Mo Lian menghembuskan napas panjang, ia baru saja kembali dari Negeri Surgawi, dan sekarang harus kembali berperang. Sepertinya, hari-hari tenang di Bumi tidak akan bertahan lama.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...