Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 163 : Hua Canting


__ADS_3

Ketika ia dan Mo Fefei keluar dari dimensi yang berada di Tebing Shiuhai, langit sudah mulai gelap, menandakan pagi sudah berganti malam, meski baru terlewat beberapa jam saja di dalam sana.


Dengan segera ia membawa Mo Fefei untuk meninggalkan tempat ini. Ia menggendong Mo Fefei di kedua tangannya, kemudian melompat dari satu tempat ke tempat lain dan mendarat sejenak di tempat di mana mereka berhenti.


Mo Lian berencana mengeluarkan Lamborghini Veneno Roadster dari dalam Cincin Ruang. Namun diurungkannya saat merasakan puluhan orang di jalan saat mereka berdua dicegat oleh ratusan pemuda dan pemudi.


Puluhan orang yang dirasakannya itu adalah polisi yang mengecek keadaan di sana, mengecek bagaimana peristiwa yang mengakibatkan terlukanya ratusan orang.


Karena itulah ia memutuskan untuk membawa Mo Fefei dengan terbang, daripada harus melewati jalanan. Bukan hanya terlalu lambat, namun juga bisa menjadi masalah jika mendapatkan pertanyaan dari kepolisian.


Meski demikian, ia tetap akan kembali ke Hotel Luoli dengan menggunakan mobil.


***


Keesokan Harinya


Hari ini adalah hari di mana acara reuni akan terlaksana. Reuni diadakan pada malam hari pukul 19.00 waktu setempat di restoran terkenal di Kota Hanzhong. Yang makanan paling murahnya dihargai dengan harga ¥2000.


Mo Lian hanya berdiam diri di dalam kamarnya tanpa pergi ke mana-mana. Ia hanya ingin fokus berkultivasi untuk meningkatkan kekuatannya yang terbilang rendah. Sudah sangat lama semenjak terakhir kali ia berkultivasi.


Berbeda dengan Mo Fefei, ia pergi mengunjungi rumah temannya di salah satu tempat di Kota Hanzhong. Kepergian Mo F Fei sendiri tidak menggunakan mobil barunya, melainkan menaiki taxi yang dipanggil melalui panggilan telepon.


Alasan mengapa tidak menggunakan mobil karena untuk tetap menjaga kerahasian, dan akan diperlihatkan saat sudah waktunya.


Mo Lian berkultivasi sepanjang hari tanpa memedulikan sekitar, itu karena kamarnya sudah dipasang mantra untuk menghalau siapapun yang tidak diizinkan tidak dapat memasuki ruangan, bahkan jika orang kth memiliki kunci kamar.


Ketika ia membuka matanya perlahan, ia mendengar ketukan dari balik pintu di depannya. Ia menghembuskan napas panjang, kemudian beranjak turun dari tempat tidur menuju pintu keluar.


Saat ia membuka pintu, terlihat seorang wanita muda yang sangat cantik. Berambut panjang berwarna cokelat kehitaman, mengenakan gaun pesta berwarna biru malam dengan hiasan berlian di bagian dada, serta membawa tas kecil berwarna putih.


Tangan Mo Lian terangkat perlahan dan membelai lembut pipi wanita muda yang sangat cantik itu. "Kau mengenakan make up, untuk siapa kau berdandan seperti ini? Apakah Fefei kecil sudah memiliki orang yang disukai?" Ia mengerutkan keningnya.


Mo Fefei terkekeh kecil saat melihat ekspresi tak senang Mo Lian. "Apakah Kakak tidak senang jika aku memiliki seseorang yang ku sukai?"


"Bukan begitu. Aku tidak masalah jika kau ingin berpacaran, hanya saja, kau harus membawa orang itu ke depanku. Aku ingin melihatnya sendiri, dan memastikannya. Jika dia berbuat macam-macam, aku akan mematahkan tulangnya!"


Mo Fefei kembali terkekeh saat mendengar jawaban itu. "Sudahlah, cepat Kakak mandi saja, sebentar lagi acaranya akan dimulai." Ia mendorong tubuh Mo Lian untuk masuk kembali ke dalam kamar.


Mo Lian yang sudah berada di dalam kamar langsung bergegas pergi menuju kamar mandi, untuk membersihkan dirinya karena belum mandi semenjak kepulangannya dari Tebing Shiuhai.

__ADS_1


Belasan menit kemudian. Ia keluar dari dalam kamar dengan mengenakan celana hitam panjang, kaus putih polos dengan kemeja berwana merah sebagai lapisan luar. Untuk rambutnya, ia menggunakan rambu panjangnya yang menjuntai ke punggung.


"Aku sudah selesai." Mo Lian menatap Mo Fefei yang duduk di sofa yang berada di ruang utama.


Mo Fefei mendongak ke arah sumber suara. "Apakah Kakak hanya menggunakan pakaian itu? Aku mendapatkan kiriman dari salah satu orang yang sudah datang duluan, para gadis-gadis membawa pasangan masing-masing yang berpakaian sangat rapi dan mengenakan jas," tuturnya yang berjalan menghampiri.


Mo Lian mengangkat tangannya secara bergantian, melihat pakaian yang dikenakannya. "Ini sudah lebih dari cukup, lagi pula itu hanyalah acara reuni biasa."


"Cih cih cih ..." Mo Fefei berdecak berkali-kali sembari menggelengkan kepalanya. "Itu bukanlah acara reuni biasa, melainkan acara ajang pamer harta."


Mo Lian terdiam tak bisa berkata-kata. Apa yang dikatakan Mo Fefei adalah kebenaran, acara reuni sekarang bukan lagi acara kumpul-kumpul, melainkan acara untuk memamerkan kekayaan.


"Aku menggunakan ini saja. Ayo kita berangkat," ucap Mo Lian yang mengangkat lengannya.


Mo Fefei mengangguk kecil dan berpegangan pada lengan Mo Lian. Kemudian berjalan menuju pintu keluar.


Keduanya menaiki lift yang tidak jauh dari tempat mereka berada, dan hanya membutuhkan hitungan menit saja untuk sampai ke lantai dasar.


Untuk pergi ke Hua Canting, Mo Lian adalah orang yang mengemudikan mobil, meski ia sendiri tidak bisa mengemudi. Ia akan menggunakan kekuatan jiwanya untuk mengendalikan mobilnya, dan tangannya akan bergerak-gerak mengikuti ke mana ia mengendalikan.


Belasan menit lainnya telah terlewati, mobil sudah berada di suatu halaman parkir yang sangat luas. Halaman yang dimiliki oleh restoran terkenal di Kota Hanzhong, restoran itu memiliki bangunan empat lantai, memiliki gaya China klasik yang sangat megah.


Mo Lian turun dari mobil dengan kaki kiri menyentuh tanah terlebih dahulu, kemudian memutar menuju pintu lainnya untuk membantu Mo Fefei turun.


Mo Fefei mendongak sembari meraih tangan Mo Lian yang menawarkan bantuan. "Terimakasih, Kakak."


Keduanya berjalan menuju bangunan yang dijaga oleh empat penjaga keamanan. Mereka berdua dapat masuk dengan mudahnya tanpa menjalani pemeriksaan.


Ketika baru saja masuk, Mo Fefei melepaskan tangannya pada lengan Mo Lian dan berlari kecil menghampiri wanita yang dirasa seumuran dengannya.


Mo Lian mengerutkan keningnya, kemudian tersenyum tipis saat mengetahui orang yang dihampiri Mo Fefei ternyata adalah teman masa kecil Adiknya, yang juga orang yang selalu dekat dengan Mo Fefei.


"Apakah ada masalah?" Mo Lian menghampiri keduanya saat mendengar pembicaraan mereka berdua.


Mo Fefei berbalik menatap Mo Lian. "Kakak, kita tidak bisa menaiki lantai empat jika tidak memiliki kartu member ataupun diizinkan masuk oleh orang yang berada di sana," ucapnya panik.


Hua Canting berbeda dari restoran lainnya. Di sini menggunakan kartu member untuk dapat menaiki lantai tiap lantai, dan lantai dasar biasanya digunakan untuk menerima tamu, itulah mengapa di lantai satu ini terlihat sangat sepi tanpa adanya meja maupun kursi.


Mo Lian mengangguk kecil, kemudian berjalan menuju meja resepsionis. "Harus membayar berapa untuk bisa menaiki lantai teratas?" tanyanya langsung tanpa berbasa-basi.

__ADS_1


Resepsionis terdiam dengan mulut terbuka saat melihat wajah tampan Mo Lian yang melebihi aktor terkenal di Huaxia. "Ah! Ma- Maaf. Tidak semua orang bisa menaiki lantai teratas, bahkan jika orang itu mampu membayar kartu member. Untuk naik ke sana, setidaknya harus mengenal maupun diberikan kartu khusus secara langsung oleh Presiden Hua Canting."


Mo Lian mengencangkan bibirnya. Ini sangat merepotkan jika harus menunggu orang penting di Hua Canting, ia juga tidak bisa asal masuk ke sana. Ia mengepalkan kedua tangannya, ia benar-benar ingin menghajar orang yang mengadakan acara ini karena tidak mengizinkan mereka untuk naik, dan malah merendahkannya.


"Tuan Mo?"


Mo Lian berbalik saat ada yang memanggil namanya. Terlihat pemuda berambut hitam dengan potongan rapi, mengenakan jas hitam sedang berjalan dari pintu masuk mengarah padanya. Pemuda itu adalah Murong Di, cucu dari Murong Xianshi.


Ketika Murong Di datang, resepsionis wanita yang berdiri di balik meja itu memberikan hormat dengan cara membungkukkan badannya.


"Apa yang Anda lakukan di sini?"


"Aku bersama Adikku ingin pergi ke lantai empat, namun kami tidak bisa pergi ke sana karena tidak memiliki Kartu Keanggotaan VIP, maupun undangan langsung dari orang yang berada di sana," jelas Mo Lian.


Murong Di menaikkan sebelah alisnya. "Kalau begitu, bagaimana jika aku yang mengantarkan Anda."


Mo Lian mengerutkan keningnya keheranan.


"Ah!" Murong Di mengulurkan tangannya. "Aku akan memperkenalkan diri sekali lagi, Murong Di Presiden dari Hua Canting."


Mo Lian mengulurkan tangannya, membalas salam Murong Di. "Mo Lian, Ketua Divisi Penelitian Obat di Perusahaan Meiliafei ..."


Mo Lian tidak lagi merasakan identitasnya di Perusahaan Meiliafei. Bagaimanapun ia sudah memberikan kartu namanya.


"Dan Adikku, Mo Fefei. Asisten dari Wakil Ketua Divisi Penelitian Obat di Perusahaan Meiliafei." Ia mengarahkan tangan kirinya pada Mo Fefei.


Mo Fefei tidak memiliki jabatan apapun di Perusahaan Meiliafei, namun Mo Lian bisa dengan bebas memutuskan siapa saja yang ingin dimasukkannya ke dalam Divisi, maupun mengeluarkan mereka.


Murong Di tersenyum, ia tidak terkejut dengan identitas Mo Lian. Ia melepaskan tangannya dari Mo Lian, kemudian mempersilakan Mo Lian untuk naik terlebih dahulu. "Silakan, Anda bisa pergi duluan. Aku akan berdiri di belakangmu."


Mo Lian mengangguk kecil, dan pergi menuju tangga yang menghubungkan antar lantai, bersama dengan Mo Fefei maupun sahabat Mo Fefei.


Murong Di yang berdiri di belakang Mo Lian melirik resepsionis. "Buatkan Kartu Keanggotaan Khusus Keluarga Murong untuknya," pintanya kemudian pergi mengikuti Mo Lian.


Resepsionis itu terdiam dengan mulut terbuka lebar. Ia masih belum dapat menangkan dirinya mengenai informasi yang didapatnya barusan, ia tidak berharap jika pemuda tampan yang ingin menaiki lantai teratas ternyata memiliki kedudukan penting di Perusahaan Meiliafei.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2