
Pikirannya dipenuhi tentang identitas asli Hong Xi Jiang, tapi itu tidak penting untuk saat ini. Ia merasakan adanya riak di angkasa seperti permukaan air, dan hal ini memberi harapan pada Aliansi 10.000 Ras yang seperti melihat penyelamat mereka.
Ketika Mo Lian sedang melihat ke angkasa luas, tiba-tiba...
Bang!
Serangan keras diarahkan padanya dari belakang dan meledak dengan kekuatan luar biasa. Api menyala di angkasa yang kedap udara dengan gelombang kejut. Celah spasial terbuka, mengeluarkan badai ruang yang terlihat seperti pedang yang menyayat secara membabi-buta.
"Nan Ren!" Hong Xi Ning berteriak keras dengan air mata di matanya.
Hong Xi Jiang tetap tenang. "Jangan menangis, bantu dia. Bukankah kau memiliki banyak keahlian? Dalam keadaan seperti ini, cobalah untuk tenang."
Hong Xi Ning tersentak, kemudian menganggukkan kepalanya. Ia langsung mengeluarkan pedang, kuas, bendera array, kertas berwarna kuning, dan lain sebagainya karena panik. Ia menguasai segala hal dalam kultivasi: Mantra, Talisman, Pemurnian Pedang, Alkimia, Suara, Array, dan Ramalan Bintang, meski dalam hal ramalan tidak terlalu mahir.
Apalagi Ramalan Bintang harus menerima Hukuman Surgawi, yaitu Kesengsaraan Petir dengan kekuatan yang luar biasa. Bagaimanapun, meramal adalah langkah untuk mengorek rahasia Surga, dan itu bisa memengaruhi Sebab dan Akibat.
Ramalan Bintang juga hanya terbatas pada mengetahui tempat tinggal seseorang hanya dengan sedikit aura atau bahkan sehelai rambut, dan tidak terbatas pada jarak, termasuk mendapatkan informasi dari target. Tapi, tidak bisa melihat masa depan.
Cahaya biru muda berkumpul di samping Hong Xi Ning, membentuk tubuhnya yang lain. Ia memegang Guqin, dan yang lain tanpa membawa apa-apa, tapi energi spiritual bergerak seperti Bulan yang mengelilingi Bumi.
"Tch! Menyerang saat aku lengah, tapi, aku tidak bisa menyalahkan kalian, ini adalah perang." Api yang menyala di tengah-tengah mulai menghilang dan memperlihatkan Mo Lian dalam kondisi baik-baik saja tanpa luka.
Hong Xi Ning tersenyum, lalu mengambil duduk bersila di samping Hong Xi Jiang dengan Guqin di pangkuan.
Wang Yue Fei, memiliki kekuatan tempur yang luar biasa, bagaimanapun selama ini selalu berpetualang bersama Hong Xi Jiang ke medan perang, dan tentunya pengalaman yang dimilikinya luar biasa.
Walaupun Wang Yue Fei tidak terlalu tahu kekuatan Dewa Merah dan Dewa Hitam, ia tahu mereka sangat kuat. Itu saja.
Hong Xi Ning mengatur napasnya, kemudian memetik senar Guqin dengan lembut.
Zheng...
Tiba-tiba suasana menjadi sunyi, semua orang yang berada di luar angkasa berhenti melakukan aktivitas mereka dan perhatian tertuju pada Hong Xi Ning.
Mereka merasakan gemetar yang tidak dapat dijelaskan ketika energi tak kasat mata menyelimuti tubuh mereka. Mereka seperti merasakan ada tangan-tangan dengan kuku tajam yang membelai tubuh mereka. Bukan rasa nyaman, tapi sakit yang dingin menusuk tulang.
Wang Yue Fei hanyalah tahap Awal dari Dewa Pemula. Meski tidak membantu banyak, tapi ia tetap melepaskan serangan.
Bang!
Tubuhnya mengeluarkan aura kuat dengan kilatan petir berwarna ungu yang mengelilinginya. Kemudian terlihat ada ratusan juta kilatan petir kecil seperti cacing yang mengelilingi tubuhnya.
"Apakah aku harus memberi tahu nama teknik seperti kalian saat menyerang?" Wang Yue Fei mengangkat tangannya lurus ke depan. "Tapi, bukankah itu bodoh?"
Wang Yue Fei mengepalkan tangannya, semua cacing petir itu melesat sangat cepat setelah Hong Xi Ning memainkan dua nada yang berbeda secara bersamaan. Nada rendah untuk menahan gerakan lawan, dan nada tinggi yang cepat untuk membantu Wang Yue Fei.
Mo Lian mengerutkan keningnya, merasakan bahaya yang datang dari petir-petir. Tapi, ia masih tetap diam karena masih ragu, karena saat menerobos Ranah Dewa Hitam, ia tidak memperlihatkan perubahan, bukankah memalukan jika takut karena petir kecil.
Namun, setelah merasakan energi Hong Xi Jiang menyelimuti cacing petir. Tanpa ragu, Mo Lian langsung berpindah dalam sekejap mata.
__ADS_1
Cacing petir melintas sangat cepat, membuat Shang Jin dan ribuan lainnya merasakan teror yang tidak bisa dijelaskan. Tanpa membuang waktu, mereka pergi ke segala arah, tidak peduli dengan sekitar bahkan saling menyerang satu sama lain untuk menggunakannya sebagai tameng hidup.
Tapi, semua itu terlambat.
Mo Lian yang berada di samping Hong Xi Jiang, sudah memasang pelindung yang mengurung ruang antara Bumi dan Bulan.
Booom! Booom! Booom!
Cacing petir itu menyala, kemudian meledak dengan sambaran petir yang tak terbayangkan. Petir yang menyambar akan terbelah, kemudian meledak lagi dan terbelah lagi. Itu adalah proses berulang tanpa akhir.
Raungan, ratapan, teriakan, tangisan. Semuanya terdengar di dalam pelindung yang dipenuhi oleh badai petir yang menggetarkan angkasa. Semua Dewa Merah mati tanpa terkecuali, dan Dewa Hitam masih hidup, meski mereka tidak bisa dibilang baik.
Ada yang kehilangan tangan dan kaki.
Mo Lian mengibaskan tangannya; ada Pedang Petir yang muncul di tangannya dan riak petir itu membuka celah-celah kecil di sekitar. Setelah membunuh banyak Dewa Merah, ia merasakan perasaan tidak nyaman, dan sepertinya Dewa Bumi akan datang berkunjung tidak lama lagi.
Dengan kecepatan tiada tara, Mo Lian berpindah ke dalam pelindung yang baru saja ditingkatkan lagi.
Hong Xi Jiang tidak seperti Mo Lian yang sangat senang menghancurkan, karena itulah ia ingin mempertahankan planet yang bisa disebut sebagai Bintang Terbengkalai. Bagaimanapun, mereka tetap berguna untuk pemeliharaan galaksi.
Mo Lian tiba di depan Shang Jin yang sudah pulih setelah menelan beberapa pil.
Shang Jin melihat kedatangan Mo Lian, dan langsung mengangkat kedua tangannya bersama dengan sepasang sayap yang menutupi.
Dentang!
Suara logam keras terdengar saat pedang Mo Lian menghantam sayap putih yang sudah diselimuti Baja Surgawi. Ini terjadi dengan sangat cepat, sehingga membuat Mo Lian sedikit terkejut.
Suara sitar kembali terdengar, tapi dengan suara keras dan cepat seperti semangat perang.
Fluktuasi energi berkumpul di sekitar Mo Lian dan Shang Jin. Tiba-tiba, ada ilusi pasukan berkuda yang datang dengan membawa tombak besar dan pedang.
Pasukan berkuda itu berlari ke arah yang berlawanan, menyerang 10 Dewa Hitam lain untuk menjauhkannya dari Mo Lian. Meski satu pasukan hanya bertahan 0,1 detik, tapi bagi Dewa Hitam, itu cukup membuang waktu.
Mo Lian mengayunkan kakinya, menendang Shang Jin yang masih dalam perlindungan sayap Baja Surgawi.
Tendangan Mo Lian menggunakan kekuatan penuhnya, berbeda dengan tebasan pedang yang bahkan tidak sampai lima persen.
Bang!
Shang Jin kembali terhempas untuk kedua kalinya, membelah ilusi pasukan berkuda dan menabrak salah satu dari Dewa Hitam sampai mengakibatkan patah tulang. Keduanya terus melesat, sampai menabrak dinding pelindung dan menimbulkan suara keras yang menggelegar.
Mo Lian mengangkat Pedang Petir; 9 Pedang Dewa lain datang mengelilinginya, melepaskan kekuatan yang luar biasa. Pada saat itu juga, 9 Niat Pedang datang, melepaskan cahaya berbeda warna dan salah satunya terbang ke Pedang Petir.
Setiap Niat Pedang, melambangkan satu gerakan. Kali ini, ia menggunakan Niat Pedang Tebasan Pemotong Surga.
Mo Lian mengayunkan pedangnya secara vertikal.
Cahaya biru muncul saat pedang diayunkan, itu bergerak sangat cepat membelah angkasa menjadi garis lurus. Aura yang dilepaskan sangat kuat, bahkan sebelum cahaya itu jatuh, Shang Jin yang sudah menghantam dinding, tidak bisa terlalu banyak bergerak, seperti ada ruang yang menahan mereka.
__ADS_1
Bang!
Pedang biru jatuh tepat di atas Shang Jin dan menghancurkan dinding pelindung menjadi dua bagian seperti pisau panas yang memotong mentega.
Pedang itu terus melesat setelah membelah pelindung. Cahaya biru dari pedang bertahan untuk waktu yang lama, dan ini membuat Dewa Hitam lainnya terdiam membeku, menghentikan pergerakan mereka untuk melihatnya.
Setidaknya dua puluhan detik berlalu, dan cahaya pedang memudar. Shang Jin dan salah satu Dewa Hitam yang sebelumnya menghantam dinding, telah mati tanpa meninggalkan jejak.
Mars, yang jaraknya sudah berkali-kali lipat, terbelah dua dengan rapi.
Semua orang tahu, dalam pertarungan Ranah Dewa, bukan hal aneh untuk menghancurkan bintang atau bahkan galaksi. Tapi, yang harus diketahui, serangan Ranah Dewa sangat menghancurkan, tidak ada yang pernah membelah bintang dengan tebasan rapi. Kalaupun ada, pemahaman dalam pedang sangat tinggi sampai bisa membelahnya.
Dewa Hitam yang di sini sangat dikejutkan, karena bahkan Dewa Bumi di pihak mereka tidak bisa membelahnya, meski sangat mudah bagi mereka untuk menghancurkan bintang hanya dengan bernapas.
Mo Lian berbalik, melihat 9 Dewa Hitam yang tersisa. Dengan sedikit gerakan, ia sudah tiba dengan posisi seperti telungkup dan tangannya mengangkat pedang.
Dewa Hitam dengan penampilan seperti manusia, tersentak ketika mendapati pedang di atas kepalanya.
Tapi sebelum pedang menyentuh kepalanya, tiba-tiba ada ledakan keras di luar pelindung dan ruang spasial terbuka.
Dari ruang itu terlihat seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian hitam legam, matanya merah dengan rambut hitam. Aura hitam mengelilingi tubuhnya seperti kabut. Penampilannya memang terlihat muda, tapi usianya lebih dari 100.000 tahun.
Pria itu berasal dari Ras Ular Hitam, dan merupakan Tetua Kesembilan—Dewa Bumi tahap Awal, hampir menembus tahap Menengah.
"Berhenti!"
Ruang terdistorsi di sekitar Mo Lian yang memperlambat gerakannya. Tapi Mo Lian mengabaikannya menggunakan Hukum Waktu setelah memahami Element Waktu sampai ke tingkat tertinggi.
Kecepatannya lebih cepat, berkali-kali dari waktu di sekitar. Dengan tebasan, ia membunuh Dewa Hitam di depannya.
Kemudian, Mo Lian berbalik dan melemparkan Pedang Petir ke arah Dewa Bumi. Ia juga menghilangkan pelindung yang menghalangi.
Dewa Bumi tersentak melihat Pedang Petir yang melesat, terutama dengan kematian Dewa Hitam yang lebih cepat daripada serangannya. Ketika melihat Pedang Petir yang datang setelah merobek ruang, ia tidak bisa berbuat banyak selain memiringkan kepalanya.
Slash!
Pipinya mengeluarkan darah dari luka di wajahnya saat terkena sayatan pedang, dan itu tidak bisa disembuhkan dalam waktu dekat. Ada kilatan petir yang memaksa luka itu untuk tetap terbuka.
Mo Lian mengangkat tangannya, mendapatkan kembali Pedang Petir. "Dewa Bumi?" Ia mengangkat sebelah alisnya. Kemudian ia tersenyum dingin. "Tempat ini sudah tidak bisa menampung pertarungan ini, meski Bumi tetap selamat, tapi akan sangat sepi jika bintang-bintang di sekitar menghilang."
Tetua Kesembilan masih membeku dalam kejutan. Kemudian ia menyentuh pipinya dan melihat darah di tangannya. Ketika itu juga, kekuatan yang tak terbayangkan meledak darinya.
Tata Surya bergetar hebat, Matahari nampak seperti lampu yang kehilangan dayanya, beberapa bintang mulai meledak satu per satu.
Mo Lian sudah mengharapkan ini terjadi. Bagaimanapun, pihak lawan adalah Dewa Bumi.
Bumi sudah kembali, tapi Tata Surya dan Galaxy Bima Sakti belum pulih. Masih bisa dibilang sebagai tempat tandus.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...