Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 54 : Kabar Tak Mengenakan


__ADS_3

Mo Lian duduk di kursi samping kemudi, sebelumnya ia berencana untuk mencari pelayan yang dapat mengurus kediamannya. Namun karena Mo Fefei sudah mengusulkan untuk memberikan posisi itu pada keluarga temannya, maka Mo Lian memutuskan mengganti rencana hari ini untuk berjalan-jalan di kota bersama Qin Nian.


"Master, mengapa Master mengajakku berjalan-jalan?" Qin Nian bertanya dengan pandangan penuh harap ke depan.


"Karena aku—" Mo Lian menghentikan perkataannya, ia tidak ingin salah menjawab yang mana dapat menyakiti perasaan Qin Nian, tapi ia juga tidak bisa memikirkan jawaban lainnya yang mana malah membuat Qin Nian salah tangkap. "Aku seorang diri di rumah, tidak melakukan apapun, dan kebetulan aku ingin berjalan-jalan di kota. Apakah kau tidak ingin berjalan bersamaku?"


"Bu- Bu- Bukan begitu. Bagaimana mungkin aku tidak ingin berjalan ... bersama Master." Qin Nian menjawab pertanyaan Mo Lian dengan suara yang semakin kecil disetiap kata-katanya.


Mo Lian menolehkan kepalanya menatap wajah Qin Nian dari samping, kemudian ia kembali memfokuskan perhatiannya pada jalanan.


Jika ia tidak memiliki pengalaman hidup selama seribu tahun ataupun tidak menapaki jalan Kultivator Dao, ia dengan senang hati akan berpacaran dengan Qin Nian, bahkan menikah.


Tapi kembali lagi, ia yang sekarang tidak terlalu memikirkan pasangan. Jikapun ia ingin menikah, ini masih terlalu dini, terlebih lagi dengan masalah-masalah yang berdatangan dan misteri-misteri yang ada di Bumi.


Dengan masa hidupnya yang mencapai 2000 tahun. Paling tidak ia akan menikah saat usianya sudah mencapai 100 atau 200 tahun, tapi berbeda halnya jika ibunya memaksanya untuk menikah secepat mungkin.


Puluhan menit kemudian, mobil yang mereka kendarai berhenti di depan taman bermain di Kota Chengdu. Keduanya keluar dari mobil setelah selesai memarkirkan mobilnya, mereka berdua berjalan menuju tempat pembelian tiket, dan kemudian masuk ke kawasan taman bermain.


"Master."


Mo Lian menolehkan kepalanya. "Kau bisa memanggilku tanpa kata-kata 'Master'. Itu memalukan saat berada di tempat seperti ini, berbeda halnya jika berada di tempat yang memang seharusnya."


"Tapi—" Qin Nian yang hendak memberi respon terhenti saat melihat Mo Lian yang mengangkat tangannya. Dengan wajah yang telah memerah, Qin Nian menundukkan kepalanya. "Ba- Baik, Mo Lian," ucapnya pelan.


Mo Lian tersenyum, ia menarik tangan Qin Nian dan mengajaknya menyusuri taman bermain. Terkadang mereka berhenti di stand makanan untuk membeli makanan ringan, dan menyantapnya di kursi panjang yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Ia menolehkan kepalanya menatap wajah Qin Nian dari samping. "Apakah ada yang ingin kau naiki?"


Qin Nian menolehkan kepalanya menatap balik wajah Mo Lian, kemudian ia kembali menolehkan kepalanya menatap ke depan dengan jari telunjuk menyentuh bibirnya. Tidak lama kemudian, ia menunjuk ke arah wahana bermain. "Aku ingin menaiki roller coaster."

__ADS_1


Mo Lian menganggukkan kepalanya, ia berdiri seraya menepuk-nepuk celana bagian belakang. Kemudian ia berbalik menatap Qin Nian sembari mengulurkan tangannya.


Dengan wajah memerah padam, Qin Nian menggapai uluran tangan Mo Lian, ia berdiri dan berjalan bersama Mo Lian menuju tempat wahana roller coaster.


Mereka berdua menaiki roller coaster bersebelahan. Setelah semua kursi terisi, petugas wahana menekan tuas guna menggerakkan roller coaster.


Roller coaster bergerak perlahan, kemudian dalam tiga detik, kecepatannya meningkat tajam hingga 206 km/jam. Tapi bagi Mo Lian yang telah berada ditingkat Ranah Inti Perak, kecepatan seperti ini tidak ada apa-apanya, bahkan ia pun tidak berkedip.


Mo Lian menghela napas panjang. "Terlalu lambat," ucapnya pelan.


Lima menit kemudian, roller coaster berhenti di tempat awal berangkat. Semua orang turun dari tempat duduk mereka dengan tubuh terhuyung, dan beberapa dari mereka ada yang menepi kepinggir untuk menenangkan kepala mereka yang pusing. Berbeda halnya dengan Mo Lian dan Qin Nian, keduanya turun dengan biasa seperti tidak ada hal yang aneh.


Qin Nian menundukkan kepalanya menatap kedua lututnya. Kemudian ia mendongakkan kepalanya menatap wajah Mo Lian. "Maste— Mo Lian. Apakah Anda juga tidak dapat menikmati wahana ini? Sebelumnya aku pernah menaikinya, dan jantungku berdetak kencang. Tapi sekarang, aku merasa seperti menaiki mobil dengan kecepatan tinggi, bukan menaiki roller coaster."


Mo Lian menggelengkan kepalanya dan terkekeh kecil saat melihat ketidaktahuan Qin Nian. Tanpa sadar ia mengangkat tangan kanannya dan mengusap lembut puncak kepala Qin Nian. "Itu wajar saja, bagaimanapun kau yang sekarang sudah berada ditingkat Fase Fondasi tahap Akhir, jadi kecepatan seperti itu sudah tidak terlalu menegangkan ..."


Mo Lian terdiam sejenak, ia menurunkan tangannya dari kepala Qin Nian. "Jika kau sudah berada ditingkat Ranah Inti Perak, kecepatan seperti itu tidak terlalu berarti, itu seperti menaiki sepeda."


Mo Lian menolehkan kepalanya ke sisi lain seraya menggaruk pipi kanannya. Ia merasa canggung saat berduaan bersama Qin Nian saat ini, apalagi saat melihat wajah cantik Qin Nian yang sedang malu-malu. Jangan sampai ibu melihat ini, jika tidak, mungkin saja dia akan memaksaku untuk menikah.


"Apakah ada hal lain lagi yang ingin kau lakukan?" tanya Mo Lian memecah keheningan.


Qin Nian tersadar dari lamunannya, ia mendongakkan kepalanya menatap wajah Mo Lian. "Aku. Aku ingin makan parfait ukuran besar yang berada di sana, mereka mengatakan bahwa jika wanita dan pria bisa menghabiskannya bersama dalam waktu sepuluh menit, maka pemenang akan mendapatkan hadiah," ucapnya menunjuk ke arah cafe yang padat akan antrian.


"Hadiah? Apa hadiahnya?"


"Boneka."


"Boneka?" Mo Lian menaikkan sebelah alisnya keheranan. Jika hadiahnya hanya sebuah boneka, bukankah tidak perlu untuk mengikuti acara seperti itu. Bagaimanapun Qin Nian adalah anak dari Keluarga Qin yang kaya raya, jadi sangat aneh untuk mengikuti acara yang membuang-buang waktu hanya untuk sebuah boneka.

__ADS_1


"Jika hanya boneka. Bukankah kau bisa membeli—" Mo Lian menghentikan ucapannya saat melihat tatapan mata dari Qin Nian yang sepertinya sangat ingin mencoba parfait ukuran besar.


Melihat itu, Mo Lian hanya bisa tersenyum dan menghela napas panjang. "Baikla—"


Sekali lagi, belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba dari dalam saku celananya terdengar nada dering dari handphone-nya. Ia merogoh kantung celananya dan menatap layar handphone, terlihat ada panggilan masuk dari adiknya, Mo Fefei.


"Kakak! Tolong! Perusahaan disera— Dor! Dor! Aahh! ..."


Tutt... Tutt...


Panggilan telepon terputus begitu saja, membuat tubuh Mo Lian bergetar dengan mulut terbuka lebar, dari dalam tubuhnya keluar nafsu membunuh yang kuat. Bahkan Qin Nian yang berada didekatnya mundur beberapa langkah ke belakang dengan keringat dingin mengalir di wajahnya karena tidak tanah dengan tekanan yang dikeluarkan oleh Mo Lian.


"Ma- Ma- Master." Qin Nian berjalan menghampiri Mo Lian dengan langkah kaki yang berat, kemudian menggenggam tangan kanan Mo Lian berharap Masternya dapat kembali tenang.


Mo Lian tersentak ketika ada yang menyentuh tangannya, ia menolehkan kepalanya. Kemudian ia menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan untuk menenangkan diri, ia menatap serius wajah Qin Nian. "Qin Nian. Kita tunda dulu kegiatan hari ini, aku harus pergi ke perusahaan. Ada yang menyerang perusahaan, dan sepertinya mereka bersenjata."


Qin Nian terkejut dengan mata terbuka lebar. "Ma- Master. Biarkan aku mengantar—"


"Tidak! Terlalu lama, aku akan pergi dulu." Mo Lian memotong perkataan Qin Nian, kemudian ia menekan kakinya di tanah dan terbang melesat mengarah pada Perusahaan Meiliafei, meninggalkan Qin Nian seorang di taman bermain.


Melihat Mo Lian pergi, dengan cepat Qin Nian mengambil handphone-nya dari dalam tas dan menghubungi ayah serta kakeknya, ia menceritakan semua hal yang terjadi di Perusahaan Meiliafei menurut perkataan Mo Lian. Dan meminta keluarganya agar membawa ratusan anggota kepolisian untuk pergi menuju perusahaan.


Setelah memberi kabar pada keluarganya, Qin Nian melepaskan high heels dari kakinya dan berlari menuju tempat parkir.


Qin Nian menginjak pedal gas, ia mengemudikan mobilnya menuju Perusahaan Meiliafei dengan kecepatan tinggi.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2