
"Sekarang, mari kita mulai permainannya!"
Tiba-tiba ada cincin biru yang lebih besar dengan diameter sekitar delapan puluhan mil, mengurung semua Dao Immortal dalam satu tempat agar tidak pergi jauh-jauh. Jika melanggar, orang itu akan terbunuh.
Dengan adanya cincin ini, tidak akan ada yang berusaha kabur dan permainkan akan berlangsung lebih cepat.
Duarr!
Pertarungan hidup dan mati sudah dimulai, dengan adanya ledakan yang sangat keras, membuat beberapa Dao Immortal yang baru menembus itu meledak karena terkena serangan dari Patriak Paviliun Naga Merah.
Patriak Paviliun Naga Merah adalah yang terkuat dari Aliansi Surgawi Emas, sehingga tidak terlalu mengejutkan jika serangannya mampu membunuh sesama Dao Immortal dengan mudah. Tapi, tidak memiliki kekuatan untuk berurusan dengan Mo Lian, yang kekuatannya berada di luar nalar.
Teknik-teknik kuat ataupun pukulan sederhana dilepaskan, dentuman-dentuman maupun pukulan terus terdengar. Dan, cincin besar puluhan mil itu juga semakin mengecil seiring dengan berjalannya waktu.
"Cincin besar itu akan berhenti mengecil saat hanya tersisa tiga orang saja dari kalian. Jika masih ada yang hidup, bahkan jika hanya lebihan satu orang. Cincin itu akan mengecil saat itu juga dan memotong tubuh kalian menjadi dua bagian."
Tubuh Mo Lian semakin membesar secara signifikan, kemudian kedua tangannya mengelilingi cincin puluhan mil itu. "Kalian hanya memiliki waktu sepuluh menit, jika waktu habis dan tersisa lima orang. Aku akan meledakkan kalian!"
Kekuatan yang diperlihatkan oleh Mo Lian ini sangat mengerikan, mereka merasa tidak akan ada yang bisa mengalahkannya. Tapi tidak sedikit pula yang menganggap Mo Lian terlalu naif karena memperlihatkan semua kekuatan.
Namun untuk Mo Lian, ini belum seberapa. Ia menguasai 11 Element, dan semuanya bisa membentuk tubuh dengan ukuran yang sama seperti Dewa Semesta dan Pohon Dunia. Tapi, untuk benar-benar mampu melakukan hal itu tanpa efek samping, setidaknya harus menembus Heavenly Immortal.
Pertarungan ini disiarkan melalui Mata Langit di Sekte Zhongjian, dan dilihat oleh semua orang.
Mo Lian berdecak kesal saat melihat Dao Immortal yang bertarung tidak bersungguh-sungguh, tidak ada yang berencana untuk menyelesaikan permainan. Hanya setengahnya saja yang terbunuh dan ini melukai harga dirinya sebagai pembuat game.
"Waktu habis!" Mo Lian menyentuhkan kedua telapak tangannya.
Bang!
Dentuman keras yang memekakkan telinga terdengar dan mampu menggetarkan bintang-bintang di sekitar. Ketika Mo Lian membuka tangannya, sudah tidak ada apa-apa lagi di sana, bahkan tidak ada mayat dari lima puluhan Dao Immortal.
Sebelum membunuh, Mo Lian sudah memindahkan semua sumber daya dari Cincin Ruang musuhnya ke dalam Dunia Kecil. Dengan sumber daya ini, ia bisa menembus tahap Menengah dari Dao Immortal.
"Membosankan." Mo Lian mengecilkan tubuh seraya mengembalikan Pohon Dunia ke dalam tubuhnya.
Dalam pertarungan ini, Mo Lian tidak merasakan semangat sama sekali, berbeda di saat ia melawan Dao Immortal saat masih di Bumi. Itu adalah salah satu pertarungan hebat, yang mempertaruhkan nyawa sebelum akhirnya ia memakai Dewa Semesta.
"Tapi, setidaknya aku sudah mendapatkan banyak sumber daya, sekte-sekte mereka juga sudah aku kosongkan dan hancurkan. Sumber daya yang bertahan untuk dua puluhan ribu tahun, akan aku habiskan untuk kultivasi."
__ADS_1
"Aku harap bisa menembus Dao Immortal tahap Akhir, harap-harap bisa mencapai Heavenly Immortal. Kemudian turun ke Alam Bawah untuk melanjutkan petualangan."
Mo Lian mendongak menatap Bintang Utama, lalu mengibaskan tangannya membuka celah ruang di depannya. Ia memasuki celah ruang untuk berpindah.
***
Sekte Zhongjian, Kota Zhan, Bintang Utama
Celah biru tercipta di langit Sekte Zhongjian, dari sana terlihat Mo Lian yang melayang turun perlahan mengenakan Cheongsam Suit berwarna merah dengan motif yang sama seperti milik Hong Xi Ning.
Hong Xi Ning melompat di udara seperti melompat di taman. Ia menghampiri Mo Lian dan memeluknya erat. "Apakah kekuatanmu kembali naik? Sebelumnya aku tidak melihat kau menggunakan pohon untuk menyerang."
Mo Lian menundukkan kepalanya menatap Hong Xi Ning seraya memeluk pinggangnya. "Aku mendapatkannya setelah menciptakan Dunia Kecil. Aku hampir mati saat membuatnya, apakah kau tidak kasihan padaku?" Ia mendekatkan bibirnya ke bibir Hong Xi Ning.
"Cukup!" Hong Xi Jiang menarik keras baju Mo Lian dari belakang. "Kalian berdua baru bertunangan, belum menikah, jangan bertindak lebih jauh lagi!"
Mo Lian tersenyum canggung dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Ba- Baik."
Hong Xi Jiang berdehem lalu berucap, "Acara akan kembali dilanjutkan, para tamu bisa dengan bebas memesan makanan yang ada di Kota Zhan. Semua biaya akan ditanggung olehku!"
"Bahkan jika pengemis atau petani, biarkan mereka makan. Namun, apabila itu bandit atau orang yang membuat keributan, kalian boleh membunuhnya."
Mo Lian dan Hong Xi Ning kembali duduk di kursi yang telah disiapkan, dan acara dilanjutkan dengan memberikan hadiah untuk bintang utama hari ini. Hingga malam hari, lampion merah dinyalakan dan diterbangkan ke langit, memenuhi langit malam dengan cahaya terang nan indah.
Walaupun tidak melakukan apa-apa, Mo Lian dan Hong Xi Ning tidur di ruangan maupun kasur yang sama.
"Bolehkah?" Mo Lian mengangkat dagu Hong Xi Ning.
Hong Xi Ning sedikit membuka mulutnya, dan menutup matanya perlahan sebagai balasan.
Mo Lian mendekatkan bibirnya ke bibir Hong Xi Ning, lalu menciumnya lembut.
Hong Xi Jiang sangat marah saat mengetahui Mo Lian yang tidur bersama dengan Hong Xi Ning, namun Wang Yue Fei menenangkan suaminya.
Wang Yue Fei sendiri sangat bahagia apabila mereka berdua cepat-cepat melakukannya, agar ia bisa menggendong bayi kecil.
"Puah..." Hong Xi Ning mendorong dada Mo Lian karena ia kehabisan napas.
Mo Lian menahan kedua pundak Hong Xi Ning. "Lagi." Ia langsung saja mencium bibirnya tanpa menunggu persetujuan.
__ADS_1
Hong Xi Ning terus mencoba meminta untuk berhenti, namun Mo Lian tidak membiarkannya beristirahat, selalu saja mencium bibirnya berkali-kali.
Mo Lian mendorong tubuh Hong Xi Ning ke kasur secara hati-hati agar tidak melukai. "Ning'er, Yue Mu meminta seorang cucu. Bagaimana kalau—"
Hong Xi Ning menghentikan ucapan Mo Lian dengan menyentuhkan hari telunjuk pada bibir Mo Lian. "Aku tidak masalah dengan hal itu. Tapi, bisakah kau berikan aku waktu? Aku harus mempersiapkan diri untuk melakukannya." Ia memalingkan wajahnya yang memerah.
Mo Lian yang berada di atas Hong Xi Ning dalam posisi seperti push up itu mengangguk kecil. "Baiklah, aku akan menunggu sampai Ning'er siap."
Mo Lian kembali mengecup bibir, kening, pipi Hong Xi Ning. Lalu ia merebahkan tubuhnya di samping Hong Xi Ning, menggunakan lengan kirinya untuk digunakan sebagai bantal tunangannya itu.
Hong Xi Ning mendekatkan tubuhnya pada Mo Lian, tangan kirinya di atas dada Mo Lian dan menutup matanya perlahan. "Selamat tidur, Sayang."
Mo Lian menunduk melihat Hong Xi Ning, ia masih tidak mempercayai hal ini. Wanita yang selalu ia dambakan, akhirnya menjadi tunangannya, dan bahkan tidur bersama.
***
Keesokan Harinya
Banyak pembicaraan tentang Mo Lian di Bintang Utama ataupun sekitarnya, reputasinya meningkat tajam sebagai Kultivator yang sangat kuat. Ia juga dianggap sebagai Pahlawan karena membunuh Kultivator Iblis.
Awalnya memang banyak yang meragukan Mo Lian yang menganggapnya asal bicara, namun setelah apa yang diperlihatkan oleh Aliansi Surgawi Emas, pandangan masyarakat berubah dan banyak yang meminta untuk menghancurkan Aliansi Surgawi Emas sampai ke akar-akarnya.
Mo Lian dan Hong Xi Ning duduk bersama di balkon, ditemani oleh Wang Yue Fei di sana.
Wang Yue Fei memandangi wilayah sekte yang sedang diperbaiki, lalu mengalihkan pandangannya pada Mo Lian dan Hong Xi Ning di seberangnya. "Apakah kalian sudah melakukannya?"
"Uhuk-uhuk!" Mo Lian tersedak saat mendapati pertanyaan yang memang sudah ia duga, tapi tetap saja mengejutkan.
Hong Xi Ning mengambil sapu tangan dan membersihkan bibir Mo Lian. "Hati-hati."
Mo Lian tersenyum tipis menatap hangat wajah Hong Xi Ning. "Terimakasih."
"Kami belum melakukannya." Mo Lian menatap Wang Yue Fei. "Ning'er masih belum siap."
Dengan pipi yang menggembung, Wang Yue Fei menggerutu. "Lambat. Ibu ingin menggendong cucu, Su Jingmei juga mengatakan yang sama, dia ingin menggendong cucu."
Mo Lian hanya bisa diam tersenyum canggung seraya menggaruk pipinya. Berbeda dengan Hong Xi Ning yang menunduk malu mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...