Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 178 : Mulai Bertindak


__ADS_3

Mo Lian duduk bersila di halaman belakang yang terdapat Pohon Surgawi. Ia menutup matanya perlahan seraya mengalirkan energi spiritualnya pada Cincin Ruang pemberian naga biru yang diselamatkannya tempo hari.


Banyak sekali rempah maupun herbal yang berusia ribuan hingga puluhan ribu tahun, berbagai pil tingkat tinggi juga tersedia di sana, dan artefak-artefak yang berharga.


"Dengan ribuan pil di dalam Cincin Ruang, aku bisa menggunakannya untuk menembus Ranah Inti Emas tahap Menengah dalam waktu satu bulan." Senyum cerah terlihat di wajahnya saat mengakhiri perkataannya.


Mo Lian mengeluarkan ribuan pil dan di sebarkan di sekitarnya untuk mengambil energi murni yang terkandung di dalamnya. Ia tidak mungkin menelannya satu persatu, sehingga harus menggunakan Array Perampok Roh.


Saat ini ia sudah tidak perlu lagi menggambar lingkaran array secara manual, ia bisa melepaskan energi spiritualnya pada permukaan tanah dan membentuknya sedemikian rupa, kemudian mengaktifkannya.


Ia juga bisa menggunakan kekuatan jiwanya untuk mengambil energi murni yang terkandung di dalam pil itu.


Mo Lian menghirup udara segar dari kedua lubang hidungnya, kemudian mengembuskannya perlahan. Hanya dari napasnya, membuat ribuan pil itu menari-nari di atas permukaan tanah, yang kemudian melompat belasan inchi dan memutari tubuhnya.


Pil-pil yang berputar itu mulai retak dan seiring dengan berjalannya waktu, pil itu berubah menjadi cairan berbeda warna dengan energi murni yang sangat berkualitas. Cairan itu mulai berkumpul di satu titik di depan dadanya dengan jarak setengah meter, kemudian memancarkan cahaya emas berkilauan yang merupakan energi murni.


Saat semua esensi pil berkualitas tinggi itu diambil dan digabungkan di satu titik, tiba-tiba fenomena alam yang menakjubkan terjadi. Angin berembus kencang seperti pedang tajam yang mampu menyayat apapun, daratan bergetar, dan bahkan tebing yang tak jauh di depannya mulai memperlihatkan retakan-retakan besar.


Bukan hanya itu saja, kepadatan energi spiritual di dalam Array Pelindung menjadi lebih dan lebih padat lagi, membuat pelatihan semua orang menjadi lebih cepat, serta mempercepat pertumbuhan tanaman herbal.


Tanpa berlama-lama, sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mo Lian menutup matanya perlahan dengan kedua tangan saling bertumpu di atas pangkuan. Ia mulai menyerap energi murni yang melayang di depannya itu.


Energi emas itu mulai masuk melalui pori-pori kulitnya saat ia menghirup napas dari kedua lubang hidungnya.


"Urgh!" Mo Lian meringis menahan rasa sakit karena terlalu banyak energi murni yang memasuki tubuhnya. Ia harus memenangkan diri agar tidak mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kematian.


Dari kedua pundaknya, mencuat akar pohon yang kian membesar membentuk tubuh manusia yang duduk di kiri kanan depannya.


Perlahan, energi murni yang masuk ke dalam tubuhnya mulai berkurang dan rasa sakit yang dialaminya mulai mereda. Itu karena energi murni yang berada di depannya terbagi menjadi tiga, diserap oleh dua kloningnya.

__ADS_1


Energi murni yang diserap dua klonnya tidak langsung masuk ke dalam tubuhnya, itu hanya digunakan sebagai tempat penyimpanan sementara agar energi murni di depannya ini tidak menghilang. Setelah semua energi murni diserap, barulah pada saat itu ia akan bergabung dengan klonnya.


Tiga jam kemudian, energi murni di depannya mulai meredup dan mengecil seukuran ibu jari, hingga tak lama kemudian menghilang seperti tertelan oleh ruang kosong.


Meski energi murni di depannya sudah menghilang, ia masih menutup mata untuk menyerap energi murni lain yang berada di tubuh kloningnya.


Dua kloning Mo Lian menyentuh pundak Mo Lian, kemudian mengirimkan energi murni yang sudah diserap tadi secara perlahan agar tidak terjadi pembalikan arah aliran energi spiritual, ataupun meledaknya Meridian.


Tiga jam lainnya kembali terlewati, ia membuka matanya perlahan, terlihat kilatan cahaya biru di kedua sudut matanya. Napasnya menjadi lebih kuat dengan tekanan yang membuat rerumputan bergetar. "Aku perlu melakukan hal ini dua kali lagi untuk dapat menembus Ranah Inti Emas tahap Menengah, kemudian tahun depan aku harus bisa menembus Alam dan Manusia. Lalu setelah Jiwa Emas, mau tidak mau aku harus meninggalkan Bumi ..."


"Ngomong-ngomong, Jiwa Emas yang berada di Bumi mungkin sudah bersembunyi sejak lama, sebelum Hukum Langit di sini berubah dan membatasi hanya sampai Jiwa Emas."


Mo Lian menekan tangan kirinya di atas tanah, dengan tangan kanan bertumpu pada lututnya. Ia menopang badannya untuk berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju halaman depan Aula Sekte.


"Aku ingin melihat bagaimana Fefei di sekolah, apakah dia masih mengalami pembullyan, meski sepertinya sudah tidak mungkin lagi."


Mo Lian menolehkan kepalanya ke kanan belakang, melihat sumber suara yang berasal dari pintu Aula Sekte, terlihat Mo Qian yang sedang melangkah ke arahnya.


"Aku ingin pergi ke sekolah Fefei, melihat bagaimana keadaannya di sana. Ngomong-ngomong, apakah Ayah tidak pergi ke kantor?" Mo Lian tahu di depannya bukanlah tubuh Ayahnya yang asli, namun ia mencoba untuk berbasa-basi.


Mo Qian tersenyum tipis dengan mendengus semangat. "Ayahmu sudah bisa membagi tubuh, dan yang berada di sini hanyalah klon. Tubuh utama sedang berada di kantor bersama Mei'er." Ia mengangguk-anggukan kepalanya berkali-kali.


Mo Qian mendongak menatap Mo Lian. "Kau tahu kan apa yang terjadi? Cepatlah menikah jika ingin tahu bagaimana rasanya. Hahahaha!"


Mo Lian terdiam menatap aneh Ayahnya. Candaan Ayahnya selalu garing, dan membuatnya ingin melempar remote televisi seperti saat ia masih kecil dulu.


Mo Lian berbalik dan meninggalkan Ayahnya seorang diri di sana. Ia melompat dari satu pohon ke pohon lain, dari satu bangunan ke bangunan lain.


Ketika ia sudah setengah jalan untuk tiba di SMA 2 Chengdu, tiba-tiba ia merasakan Kultivator yang lumayan kuat masuk dalam jangkauan kesadarannya. Ia merasa orang itu sedang terbang ke arahnya, dan menurut arah yang dilalui oleh orang itu, ia merasa jika orang itu berasal dari Kota Hanzhong, lebih tepatnya dimensi ruang di Tebing Shiuhai.

__ADS_1


"Aku seperti pernah merasakan energi spiritual orang itu ..." Mo Lian mengerutkan keningnya mencoba mengingat di mana ia pernah merasakannya. Seringai dingin terlihat di wajahnya saat mengingat di mana ia pernah merasakan, atau bahkan melihatnya langsung. "Energi spiritual yang tertanam di Dantian pria tua yang ku temui di Bandara Shuangliu ..."


"Sepertinya selama ini dia mencari ku, mungkin karena menghilangnya energi yang ditanamnya, kematian bawahannya, dan menghilangnya Tombak Emas."


Mo Lian yang hendak menuju pusat Kota Chengdu memutuskan untuk berbalik, menghindari kerumunan kota. Ia juga melepaskan energi spiritualnya agar memancing orang yang tidak diketahuinya, agar mau mengikutinya.


"Sudah lama aku tidak bertarung melawan manusia!"


Hanya dalam hitungan menit, ia sudah tiba di gunung yang tidak boleh dimasuki oleh orang-orang. Itu karena tempatnya yang berbahaya, dapat menyesatkan siapa saja yang memasukinya, serta jalannya yang terjal dan banyak sekali jurang dalam.


Mo Lian duduk di puncak pohon pinus, yang di bawahnya terdapat dinding pelindung sebagai tempatnya duduk. "Alam dan Manusia, setelah aku melepaskan energi spiritual. Dia sangat marah dan ingin sekali membunuhku, ini sangatlah menarik, aku ingin melihat bagaimana kekuatan dari seseorang yang mampu mengetahui dimensi ruang di Kota Hanzhong." Kilatan cahaya biru terbesit di kedua matanya.


Dengan kecepatan Alam dan Manusia di Bumi, kemungkinan orang itu akan tiba tidak lama lagi, sekitar sepuluh menit. Mo Lian bisa saja membunuhnya langsung dari sini dengan menembakkan energi spiritual yang sudah dipadatkan dan dikuatkan, serta ditambah dengan energi dari Element Api dan Element Kayu.


Element Kayu untuk menjaga agar energi spiritual dapat terus bertahan dengan menyerap esensi kayu sekitar, Element Api untuk membakar orang itu menjadi abu.


Namun jika ingin lebih mudah, gunakan saja 1 : 1.000.000 kekuatan Dewa Semesta.


"Tiga hari dari sekarang, aku akan membawa Fefei ke Kota Beijing, kemudian pergi ke Laut Kuning. Dia sangat ingin pergi ke pantai saat kecil dulu, namun terkendala biaya. Sekarang karena aku memiliki banyak uang, akan akan menuruti apapun keinginan— Sudah datang!"


Mo Lian berdiri sembari mendongakkan kepalanya menatap jauh ke depan, hanya tinggal satu mil lagi sebelum orang itu sampai. Pria tua berambut putih panjang terawat, dengan sedikit kerutan di wajah, serta mengenakan pakaian putih dengan mantel kain berwarna hitam.


...


***


*Bersambung...


Maaf updatenya jarang-jarang. Diusahakan Oktober nanti mulai rutin kembali.

__ADS_1


__ADS_2