Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 192 : Kemunculan Dewa


__ADS_3

Cahaya biru terang terlihat di langit gelap yang mulai bersinar, dan perlahan cahaya itu mulai turun seperti seorang Dewa yang turun ke Bumi. Cahaya itu melayang beberapa meter dari permukaan tanah, dan berdiri di depan Mo Qian yang terluka sangat parah.


Cahaya biru itu sedikit meredup, memperlihatkan pemuda berambut hitam panjang, alis tajam bagaikan pedang, mata biru malam. Pemuda itu mengenakan pakaian berwarna putih, yang dilapisi oleh jubah biru indah.


Pemuda yang tidak lain ialah Mo Lian itu mengarahkan tangan kanannya pada Mo Qian tanpa menoleh. Dari telapak tangannya keluar energi spiritual berwarna biru yang bergerak mengelilingi Mo Qian, dan dalam sekejap mata, semua luka itu telah pulih kembali.


Xander Graha yang melihat itu terperangah dengan mata terbelalak lebar, kemudian menggertakkan giginya. Ia ingin sekali membunuh Mo Lian, namun sayang ia tidak bisa bergerak sama sekali.


"Apakah kau yang membuat semua ini?" Mo Lian menolehkan kepalanya melihat sekitar, banyak gedung tinggi yang menjadi reruntuhan.


Mo Lian menjentikkan jarinya, membiarkan Xander Graha dapat bergerak lagi.


Xander Graha sudah bisa merasakan jari-jarinya bisa digerakkan kembali. Dengan cepat ia menjaga jarak dari Mo Lian, kemudian mengarahkan kedua tangannya ke depan, mengumpulkan kekuatan. "Matilah!" Ia melepaskan tembakan energi biru yang sangat kuat.


Mo Lian menatap datar tanpa memperlihatkan perubahan ekspresi wajahnya. Meski di luar terlihat santai, tapi di dalamnya ia sangat marah. Ia mengibaskan tangan kirinya, menangkis serangan itu dan mengirimkannya jauh ke langit yang tinggi.


Energi spiritual yang cukup kuat, mampu menghilangkan benua besar itu melesat tajam ke langit, kemudian meledak begitu setelah mencapai ketinggian tertentu.


"Ayah, bagaimana Senior Wu dan yang lain?"


Mo Qian berdiri perlahan, meski semua lukanya telah sembuh, tapi tubuhnya masih merasakan rasa sakit. "Hanya dua dari mereka yang masih bisa bertarung, sisanya terluka sangat parah dan kembali memulihkan diri di sekte."


Xander Graha itu melangkah mundur dengan raut wajah tidak enak dipandang. "Ba- Bagaimana mungkin?! Senjata ku adalah senjata dewa, seharusnya kau tidak bisa selamat!"


"Dewa? Akan aku perlihatkan apa itu Dewa!"


Energi spiritual berwarna biru seperti api yang membakar terlihat mengelilingi Mo Lian. Api itu semakin membesar seiring dengan berjalannya waktu, hingga mencapai tinggi 100 meter.


Tak lama kemudian, api itu mulai meredup, dan meledak, menyebar ke segala arah membentuk cincin api berwarna biru. Di tengah-tengah ledakan itu terlihat Mo Lian yang memiliki ukuran tubuh sesuai tinggi api tadi, mengenakan pakaian biru indah, dan jubah emas yang menyelimuti.


Bukan hanya itu saja, di belakangnya muncul bola yang sangat besar dan bersinar terang berwarna biru, yang di sekelilingnya terpancar warna emas. Di bagian kepala Mo Lian juga terdapat semacam setengah cincin yang melayang.

__ADS_1


Mo Lian mengangkat satu jarinya, membuat Xander Graha bergerak sesuai kehendaknya dan membeku di udara kosong di depannya. Kemudian, ia menggerakkan kedua tangannya, mencoba menyentuhkan kedua telapak tangannya dengan Xander Graha yang berada di tengah-tengah.


Ketika Mo Lian hendak menyentuhkan kedua telapak tangannya secara perlahan, itu mengakibatkan udara di sekitar berkecamuk bagaikan pedang tajam, dan tekanan udara di antara kedua tangannya sangatlah berat.


"Aarrgghh!" Xander Graha berteriak keras saat tekanan udara menekan tubuhnya, bahkan sebelum kedua tangan Mo Lian saling menyentuh, tubuhnya sudah memperlihatkan perubahan.


Semua tulang Xander Graha sudah patah tak bersisa, darah merembes keluar dari kulit-kulitnya.


Bang!


Dentuman keras yang memekakkan telinga terdengar bersamaan dengan angin yang menyebar ke segala arah, merobohkan gedung yang tersisa dalam radius 100 mil darinya telah berubah menjadi tanah. Dentuman itu tercipta karena ia mempercepat tepukan kedua tangannya.


Mo Lian sendiri tidak perlu mengkhawatirkan tentang bagaimana manusia sekitar, karena mereka semua sudah dievakuasi ke tempat yang aman, dan yang tidak sempat dievakuasi, ia melindunginya dengan energi spiritual.


"Jika aku bersungguh-sungguh, hanya dengan tepukan tangan bisa meratakan seluruh daratan dan mengering air di lautan."


Meski berkata begitu, sebenarnya ia sudah meratakan seluruh Kota Chengdu dan kota sekitar.


Mo Lian menolehkan kepalanya ke arah timur laut, mengarah ke Kota Harbin, Provinsi Heilongjiang, yang mana di sana terjadi pertempuran besar antara Wu Yengtu melawan belasan orang dari Deus-Techno, yang kekuatannya setara dengan Inti Emas.


Mo Lian mengarahkan telapak tangannya pada Kota Harbin, kemudian mengepalkannya seperti menangkap sesuatu. Seketika itu juga belasan orang dari Deus-Techno itu meledak tanpa meninggalkan jejaknya sedikitpun, bahkan kabut darah juga tidak terlihat.


"Masih tersisa sekitar dua ribu orang dari Deus-Techno, dan seratus ribu dari Aliansi Revolusi Dewa."


Mo Lian terbang lebih tinggi ke langit malam yang gelap, hingga pandangannya bisa menangkap seluruh Daratan Huaxia, yang artinya ia berada di lapisan Mesosphere.


Dari ketinggian ini ia bisa melihat lebih jelas pertempuran yang terjadi di seluruh penjuru. Di Provinsi Jilin, provinsi yang bersebelahan dengan Provinsi Heilongjiang terdapat pertempuran antara Pasukan Mata Setan melawan Aliansi Revolusi Dewa, yang mana pasukan lawan adalah wanita semua.


Mo Lian merasakan aura yang familiar dari salah satu pasukan lawan, mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Tapi ia tidak peduli, meskipun ia mengenal orang itu, ia akan membunuhnya karena mengacaukan negara.


Saat Mo Lian menatap orang yang dirasa familiar, orang yang ditatap Mo Lian itu menengadahkan kepala ke langit, membalas tatapan matanya. Alangkah terkejutnya ia saat melihat siapa sebenarnya wanita yang menyembunyikan identitas sebenarnya, itu adalah Xia Fei, mantan Mo Lian.

__ADS_1


"Meskipun aku baru melihatmu, tapi aku tau jika kau adalah Mo Lian. Aku ingin meminta maaf sebelum kematian ku yang akan datang, aku bergabung dengan Aliansi Revolusi Dewa untuk bisa lepas dari Keluarga Long. Tapi, aku ingin orang yang membunuhku adalah dirimu." Wanita itu melepaskan jubah hitamnya, memperlihatkan wujud aslinya.


Mo Lian terdiam sejenak, kemudian menjawabnya, "Baiklah."


Bang!


Dentuman keras lainnya terjadi di Provinsi Jilin, membunuh ribuan pasukan lawan dari Aliansi Revolusi Dewa, termasuk Xia Fei itu sendiri.


"Aku tidak menduga dia dapat mencapai Ranah Inti Emas dalam waktu singkat, tapi metode yang digunakannya sangat tabu. Menyerap esensi dari laki-laki, yang artinya dia tidak berharga sebagai seorang wanita."


Mo Lian mengarahkan tangannya ke belakang, mengarah pada Samudra Pasifik, lebih tepatnya pesawat yang tingginya sejajar dengannya, yang merupakan teknologi dari Deus-Techno. Sama seperti sebelumnya, ia hanya mengenakan tangannya, dan pesawat yang sangat besar itu meledak menjadi debu.


Serangannya tidak berhenti disitu saja, ia menembakkan ratusan ribu jarum cahaya yang turun bagian hujan ke berbagai tempat, di mana semua musuh berada.


Hanya dalam hitungan menit saja, Mo Lian sudah membantai habis pasukan lawan yang sangat meresahkan. Tapi ia masih ada hal yang harus dilakukannya, yaitu menghancurkan markas dari Deus-Techno.


Mo Lian mengetahui markas musuh dari saat menatap Xander Graha, ia sudah menemukan semua ingatannya. Deus-Techno adalah organisasi rahasia yang berada jauh di kedalaman tanah di Amerika, dan penyerangan ke Negara China adalah permintaan dari Presiden Amerika yang ingin membalas dendam atas tindakannya beberapa bulan lalu.


"Aku sudah berbaik hati untuk tidak membunuhnya saat itu, untuk menghargai keputusan Presiden dan Ayahku sendiri. Tapi siapa yang menyangka, pihak lawan masih tetap mencari masalah." Mo Lian mengepalkan kedua tangannya. Niat membunuh yang sangat kuat terlepas darinya, dan mempengaruhi cuaca yang berada di bawahnya.


Mo Lian mengarahkan telapak tangannya ke Daratan Huaxia, menciptakan lingkaran array berwarna biru yang sangat besar, menutupi seluruh negara. "Array Ruang dan Waktu, Pemutar Ruang."


Cahaya biru menyinari seluruh Daratan Utama maupun pulau sekitar yang masih termasuk bagian dari Negara China. Cahaya itu menyelimuti seluruh reruntuhan bangunan yang hancur lebur, kemudian reruntuhan itu mulai bergerak membentuk bangunan dalam waktu tiga bulan lalu sebelum kehancuran.


Teknik yang digunakan Mo Lian adalah buatannya sendiri, yang mampu membalikkan waktu, meski hanya berfungsi pada benda yang telah hancur, dan tidak bisa mempercepat matangnya buah.


"Perbaikan bangunan sudah selesai, sekarang saatnya mencari perhitungan dengan Amerika!"


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2