Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 469 : Melawan Leluhur Dewa Agung


__ADS_3

Leluhur Dewa Agung menggelengkan kepalanya dengan pelan dan mencoba untuk tetap tenang. "Kau memiliki banyak Kartu As, tapi aura dari mereka sangat lemah, satu dari seratus kekuatan penuhku."


Leluhur Dewa Agung melambaikan tangannya. Tiba-tiba ada aura kuat yang mengunci Mo Lian dengan logam hitam berbentuk pipa yang mengarah pada Mo Lian di tengah-tengahnya, saat dia menurunkan tangannya, pipa logam itu melesat menembus ruang dan waktu.


Mo Lian tidak bergerak sedikit pun di tempatnya berdiri. Tiba-tiba energi biru menyelimuti tubuhnya, mengganti pakaiannya. Dia mengenakan celana jeans hitam, memakai atasan Tai Chi yang dilapisi jas hitam tanpa kancing.


Mo Lian memasukkan tangannya di saku celana. Dia menatap Leluhur Dewa Agung dengan tatapan datar tanpa emosi, tidak mengungkapkan sedikit pun perubahan meski sudah ada aura yang menguncinya.


"Hancur ..." Sembilan Energi Dewa sedikit bergetar, kemudian meledak dan berpisah ke segala arah untuk menangkap semua serangan Leluhur Dewa Agung yang hanya tersisa beberapa mil darinya.


Pipa besi itu terlihat seperti terlilit gelang karet yang kuat, hingga pada akhirnya pecah karena tekanan dari kekuatannya terus bertambah dari waktu ke waktu.


Leluhur Dewa Agung tidak terlalu kaget dengan kehancuran serangannya, karena dia sudah menduga bahwa Sembilan Energi Dewa tidak sesederhana kelihatannya. Tapi dia tidak menyerah begitu saja, dia melepaskan auranya untuk membentuk Domain agar tempat ini bisa menjadi tempat keuntungannya.


Tidak mungkin Mo Lian akan membiarkan itu semua terjadi, dia melepaskan aura yang sama kuat untuk membentuk Domain.


Energi berbeda warna saling berbenturan mengakibatkan ledakan keras yang memekakkan, mengguncang Alam Semesta, membuat bencana hebat terjadi di mana-mana. Kedua energi: hitam dan biru mencoba mengikis satu sama lain. Kehancuran ruang terbentuk ketika dua kekuatan kuat itu bertabrakan, tapi tidak sampai memperlihatkan bagian luar dari Alam Semesta.


Mo Lian sendiri penasaran apakah di luar Tiga Alam masih ada tempat lain. Dia merasa hanya bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaannya dari Pohon Perunggu Surgawi.


Keduanya terus memperkuat Domain masing-masing tanpa bergerak sedikit pun dari tempat masing-masing. Walaupun terlihat sederhana, tapi ini sangat menghabiskan banyak tenaga dan energi.


Bang!


Domain keduanya terlalu kuat sampai membuat angkasa di sekitarnya tidak lagi hitam, melainkan berwarna putih seolah ada pelindung lain yang melindungi agar Alam Semesta tidak hancur.


Ketika Wilayah Utara berubah, keduanya menghilang dari tempat masing-masing. Kemudian kembali bertemu di satu tempat, kedua pukulan mereka berbenturan satu sama lain, mengakibatkan retakan-retakan muncul di sekitar.


Leluhur Dewa Agung membuka tangan kanannya yang beradu pukulan dan menangkap tangan Mo Lian.


Jarum di belakang punggung Leluhur Dewa Agung menusuk tubuhnya, tapi tidak memberikan luka. Jarum itu berpindah ke dalam tangannya seolah bergabung dengan tulangnya. Kemudian dari telapak tangan, jarum logam itu keluar dari tangannya menusuk tangan Mo Lian.


Mo Lian bisa mengetahui tindakan Leluhur Dewa Agung. Bahkan jika lawannya cepat, dia lebih cepat. Dia mengubah tangannya menjadi serpihan cahaya dan mundur seraya menurunkan tangannya seperti menggulir layar handphone.


Sembilan Energi Dewa yang berada di belakangnya, tiba-tiba menghilang dan melesat jatuh dari atas, membentuk penghalang yang muncul tepat di depan Mo Lian menghalangi serangan Leluhur Dewa Agung.


Bang!


Serangan Leluhur Dewa Agung dipatahkan dalam artian sesungguhnya. Jarum yang digunakan untuk menyerang Mo Lian itu menghantam Sembilan Energi Dewa, mengakibatkan retakan-retakan muncul di sepanjang jarum yang pada akhirnya patah.


Mo Lian mengangkat dua jarinya setelah menghalau serangan Leluhur Dewa Agung, lalu menurunkannya kembali.


Tiba-tiba, aura yang sangat kuat datang dari atas memberikan tekanan pada Leluhur Dewa Agung agar pergerakannya tertahan. Dia mencoba mendongak untuk melihatnya tapi tidak bisa.


Mo Lian mengibaskan tangan kirinya secara horizontal ke kanan. Tiba-tiba suara derak logam terdengar mengerikan bersamaan dengan kilatan cahaya merah darah, merah darah itu adalah Rantai Darah yang melesat di belakang Leluhur Dewa Agung.

__ADS_1


Rantai Darah itu berhasil mengikat Cincin Dewa milik Leluhur Dewa Agung, kemudian rantau itu mengencang karena ditarik dari dua arah yang berlawanan.


Mo Lian mundur ribuan mil dari Leluhur Dewa Agung dan menurunkan tangan kanannya lebih cepat.


Suara dengungan yang menyakitkan datang dari atas ketika Dewa Semesta menurunkan tangan birunya lebih cepat untuk menghancurkan Leluhur Dewa Agung.


Leluhur Dewa Agung membungkuk saat merasakan tekanan yang mematikan terus menekannya. Dia menggertakkan giginya, dia belum terlalu terbiasa dengan kekuatan barunya sehingga sulit melawan.


Dengan kemarahan yang bangkit dan ditandai dari matanya yang bersinar dengan warna putih. Leluhur Dewa Agung berteriak keras, "Aaahhh! Aku akan membunuhmu!"


Cincin Dewa Jarum di belakang Leluhur Dewa Agung membesar perlahan.


"Kau pikir kau bisa melakukan sesukanya?" Mo Lian mengatupkan kedua tangannya. Tangan kirinya diselimuti energi merah darah dan tangan kanannya diselimuti energi biru cerah.


Dewa Kematian yang saling menarik Sabit Darah, tubuh keduanya memancarkan cahaya terang yang keluar darinya dan membentuk garis halus yang terhubung dengan Dewa Semesta di atas.


Rantai Darah membesar, menguat dan mengencang, menahan Cincin Dewa Jarum agar tidak membesar dan memberikan ruang bagi Leluhur Dewa Agung.


Bang!


Leluhur Dewa Agung terkena tamparan Dewa Semesta. Itu seperti menampar nyamuk, tapi dampak yang dihasilkan seperti memukul meja kaca hingga retak.


Leluhur Dewa Agung tidak terhempas seperti yang diharapkan, seolah ada yang lantai di bawahnya, dia telungkup dengan tangan yang retak. "Brengse*!"


Mo Lian mengangkat tangan Dewa Semesta, kemudian mengendalikan Pohon Dunia untuk menyerang. Sulur yang tumbuh di Pohon Dunia, berayun seperti cambuk yang membelah ruang dan waktu.


Bang!


Dua kekuatan berbeda berbenturan kembali, mengakibatkan gelombang kejut yang menyapu apa pun di sekitarnya. Suara keras yang dihasilkan mengakibatkan pecahnya ruang, tulang-tulang saling bergesekan dan darah yang mengalir dari lubang telinga.


Mo Lian tidak mengharapkan bahwa dia akan terluka hanya karena gelombang suara, tapi ketika melihat Leluhur Dewa Agung, dia tahu bahwa dia masih dibilang lebih baik.


Leluhur Dewa Agung merasakan sakit di tubuhnya, terutama jarum-jarum di belakangnya sebagian besar sudah retak dan itu terasa seperti sumsum tulangnya telah diserap. Dia berdiri tanpa peduli dengan sekitar, kemudian bergegas ke arah Mo Lian untuk menyerang balik.


Seraya memegangi telinga kirinya, Mo Lian mengibaskan tangannya yang lain secara vertikal ke atas.


Tebasan pedang datang, membelah ruang hitam di bawahnya, membentuk garis lurus yang menebas ke arah Leluhur Dewa Agung.


Leluhur Dewa Agung mengangkat tangan kanannya seolah ingin mengambil sesuatu dari belakangnya, kemudian dia mengayunkannya seperti mengayunkan pedang.


Kedua tebasan berbeda warna: biru dan hitam bertemu dan bertabrakan satu sama lain.


Kedua tebasan itu mengakibatkan badai spasial dengan serangan pedang yang mengamuk, menyerang apa pun.


Mo Lian merasakan hal buruk dan menyimpan Pohon Dunia, Naga Petir dan Kunpeng agar tidak berdampak pada tubuhnya. Adapun yang lain, tidak terlalu berdampak, kalaupun membuatnya terluka, itu bisa dengan cepat disembuhkan tanpa efek samping.

__ADS_1


Miliaran tebasan pedang yang memborbardir ke segala arah itu mengenai tubuh keduanya, tapi dengan regenerasi Mo Lian, dia tidak terlalu parah seperti yang dialami Leluhur Dewa Agung. Terutama karena ada Dewa Semesta, Dewa Kematian dan Sembilan Energi Dewa yang membentuk penghalang untuknya.


Booom! Booom! Booom!


Ledakan datang dari tempat yang jauh. Ruang di atas mereka meledak sampai memperlihatkan awan putih, tapi menutup kembali dalam seperkian detik. Bagian bawah mereka mengalami hal yang sama, karena tebasan pedang tiada henti, ruang hancur berkeping-keping dan memperlihatkan tanah merah dengan lahar panas.


"Alam Hanzi?!" Mo Lian terkejut saat merasakan aura yang familiar baginya, tapi ini terasa lebih kuat dari yang diketahuinya.


Mo Lian mengabaikan Alam Hanzi untuk sementara waktu. Dia melemparkan Rantai Darah. Sabit Darah itu berputar, mengelilingi Leluhur Dewa Agung sampai Rantai Darah mengikatnya dengan erat.


Mo Lian menarik tangannya, membawa Leluhur Dewa Agung ke arahnya. Kemudian dia keluar dari Dewa Semesta dan bergegas dengan pedang biru yang terbuat dari energi spiritual di tangan kanannya.


Dia mengangkat pedangnya secara menyilang, kemudian menebas saat Leluhur Dewa Agung sudah berada di depannya.


Leluhur Dewa Agung meraung marah, tubuhnya yang berlumuran darah mengeluarkan kabut hitam dengan aroma menyengat.


Rantai Darah yang mengikat Leluhur Dewa Agung, meleleh seperti terkena cairan korosif, membuatnya lepas dari ikatan.


Leluhur Dewa Agung mengambil jarum di belakangnya dan mengayunkannya ke tangan kanan Mo Lian. Jarum itu tiba-tiba menghilang saat diayunkan, dan hal yang tak terduga terjadi...


Mo Lian meringis saat lengan atasnya tertembus jarum, membuat tangannya kaku. Tapi dia menggunakan tangan yang lain, mengangkatnya dan melepaskan serangan.


Pedang biru melesat seperti ditembakkan dari busur panah, itu bergegas membelah ruang dan menembus dada Leluhur Dewa Agung.


Tidak berhenti, Dewa Semesta kembali bergerak. Telapak tangan biru jatuh di atas keduanya...


Telapak tangan itu menghantam mengenai Leluhur Dewa Agung, tapi tidak dengan Mo Lian, seolah-olah dia adalah ilusi.


Bang!


Retakan kembali tercipta di bawah seperti memukul kaca. Ruang di bawahnya yang sebelumnya telah pulih, sekarang kembali hancur seperti gempa yang membelah bumi.


Dewa Semesta mengangkat tangannya lagi, kemudian menampar Leluhur Dewa Agung sampai benar-benar membuka dimensi penghubung ke Alam Hanzi.


Leluhur Dewa Agung melesat memasuki Alam Hanzi, dia jatuh menghantam tanah merah.


Booom!


Dengan jatuhnya Leluhur Dewa Agung, keadaan di Alam Hanzi benar-benar rusak. Daratan merah meledak, menerbangkan bebatuan ke udara dan menciptakan gelombang lahar panas yang melesat naik melewati dimensi dan memasuki Alam Semesta.


Mo Lian meraih jarum di lengan kanannya, lalu menghancurkannya. "Kekuatan dia lebih kuat dari Dewa Abadi. Apakah karena Dewa Abadi ditekan di Alam Semesta, dan dia menggunakan kekuatan murni tanpa tekanan?"


"Tapi tidak peduli apa, dia hanyalah nutrisi bagi Pohon Yin Surgawi."


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2