
Mo Lian duduk di ujung tebing sembari menghitung pendapatannya hari ini setelah membantai ribuan orang. Kebanyakan isi dari Cincin Ruang itu adalah Tael Perak dan Tael Emas, kemudian beberapa kilogram herbal, serta pil tingkat satu maupun dua yang tidak berguna.
"Pil yang cocok untuk makanan kucing ini terlalu banyak, aku memiliki sepuluh ribu pil tidak berguna, bagaimana bisa mereka membawa pil seperti ini."
Mo Lian menggelengkan kepalanya, pil-pil dengan kualitas buruk dan khasiatnya hanya 30% dari aslinya, namun diperlakukan seperti pil tingkat tinggi. Pil seperti itu hanyalah sampah di matanya, tapi meski begitu, ia tetap menyimpannya dan akan dijual dengan harga murah.
Mo Lian terus memeriksa seluruh Cincin Ruang, hingga tak terasa sudah satu jam terlewati, dari seluruh Cincin Ruang yang diperiksa, tidak ada satupun yang ukurannya lebih luas dari miliknya.
Tapi meski begitu, ia sangat senang karena menemukan Ginseng Merah berusia 100 tahun yang didapatnya dari Cincin Ruang Xu Feng. Ginseng Merah ini bisa dikonsumsi langsung dan dimurnikan pada saat itu juga, apalagi ini memiliki fungsi lain sebagai peningkat keberhasilan dalam menembus Ranah Inti Emas Sempurna.
"Siapa yang menduga, kota kecil seperti Kota Xuan bisa memiliki harta sebaik ini," ucap Mo Lian tersenyum tipis.
Mo Lian menggeleng pelan, ia menyimpan kembali seluruh Cincin Ruang yang telah diperiksa, dan kemudian menutup matanya perlahan.
Ia menghirup napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan dari mulutnya, terlihat cahaya biru keluar dari mulutnya, lalu cahaya biru itu kembali masuk melalui kedua lubang hidungnya. Hal itu terus terjadi berulangkali hingga pernapasan Mo Lian kembali tenang.
Ketika ia membuka matanya, cahaya biru melonjak puluhan meter ke langit, menembus udara seperti pisau tajam. Cahaya itu tidak menghilang, melainkan terus melesat tinggi ke langit biru yang cerah dan meledak, memunculkan fluktuasi energi spiritual yang sangat kuat.
Bahkan energi spiritual itu bisa menekan apapun yang berada dibawahnya yang memiliki kekuatan dibawah Inti Emas.
Tidak lama kemudian, langit biru yang sebelumnya cerah berubah menjadi sangat gelap karena tiba-tiba muncul awan hitam yang sangat besar, menutupi langit dalam radius 100 mil. Awan hitam itu tidak memperlihatkan tanda-tanda akan berhenti, awan itu terus meluas hingga berhenti saat mencapai radius 500 mil.
Ini bukan lagi Kesengsaraan Petir, melainkan hukuman dari Surga. Biasanya orang yang ingin menembus Ranah Inti Emas hanya dapat menarik awan dengan radius 60 mil, dan yang terbesar adalah 100 mil.
Di bawah awan hitam, terlihat kilatan cahaya emas yang saling bersahutan. Kilatan-kilatan itu berkumpul di satu titik yang berada tepat di atas Mo Lian.
Jika petir ini menghujani Kota Chengdu, bisa dipastikan kota itu akan rata dengan tanah tanpa meninggalkan jejak.
Mo Lian berdiri dari tempat duduknya, ia menekan kakinya di tanah kemudian terbang tinggi ke langit dengan kedua tangan direntangkan seperti menantang petir.
Seperti mengerti niat sebenarnya dari gerakan tangan Mo Lian, kilatan petir itu berkumpul pada satu titik dengan sangat cepat, bahkan ukurannya juga bertambah lebih besar dari yang seharusnya.
Wush! Duarr!
Petir melesat sangat cepat dan menyambar Mo Lian dengan kekuatan hancur yang sangat luar biasa. Petir itu hancur menjadi potongan kecil cahaya berwarna emas, yang kemudian cahaya-cahaya itu masuk ke tubuhnya melalui pori-pori kulit dengan kecepatan yang dapat terlihat oleh mata.
Tubuh fisik Mo Lian menjadi lebih dan lebih kuat dari sebelumnya. Tapi ini belum cukup, karena awan hitam yang menutupi langit masih terlihat jelas dan tidak ada tanda-tanda akan menghilang.
__ADS_1
Kilatan petir berwarna emas terus berkumpul pada satu titik, membentuk ular yang sangat besar dengan mata menyala seperti bola lampu. Tanpa berlama-lama lagi, petir berbentuk ular itu melesat ke arah Mo Lian dengan mulut terbuka.
Mo Lian tersenyum tipis, semakin kuat perubahan Petir Kesengsaraan, semakin kuat juga hasil yang didapatkan. Bahkan, jika ia berhasil menyelesaikan Kesengsaraan Petir ini, ia bisa membunuh Ranah Inti Emas dengan satu kali serangan fisik.
Hal itu terus berlanjut hingga Mo Lian sudah menerima sambaran petir yang kedelapan, dan tidak ada tanda-tanda akan berakhir. Awan hitam itu terus meluas dengan aura membunuh keluar darinya, aura ini sangat kuat bahkan bisa merusak jiwa orang yang berada dibawah Ranah Inti Emas, tapi untungnya jiwa Mo Lian setara dengan Alam dan Manusia.
Mo Lian mengambil Ginseng Merah yang berada di dalam Cincin Ruang, kemudian ia memakannya begitu saja tanpa disuling terlebih dahulu.
Mo Lian membuat segel tangan dengan kecepatan yang dapat terlihat oleh mata, dan diakhiri dengan tangan kanan bertumpu pada telapak tangan kiri, dan jari telunjuk serta tengah yang menghadap ke langit. "Tubuh sebagai tungku! Petir sebagai energi! Murnikan!"
Wush! Duarr!
Petir emas yang berbentuk naga besar itu melesat tajam mengarah pada Mo Lian, ia menggigit bibir bawahnya saat disambar oleh petir yang cukup sulit untuk diserapnya.
Naga petir itu seperti menelan Mo Lian dan terus melesat menghantam daratan, menciptakan ledakan besar yang menggetarkan daratan dalam radius 500 mil. Dari ledakan itu juga membuat angin bertiup kencang yang menyebar luas, menerbangkan pepohonan sekitar.
Cahaya merah terpancar dari tubuh Mo Lian saat ia terkena sambaran petir. Cahaya merah itu adalah esensi dari Ginseng Merah yang dimurnikan dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Mengubah susunan saraf, tulang, kulit dan daging Mo Lian menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Mo Lian menengadahkan kepalanya melihat awan hitam yang masih berada di langit dengan kilatan. "Apakah hanya segitu saja? Keluarkan seluruh kekuatanmu!"
Awan kembali menyebar luas hingga menutupi langit dalam radius 1000 mil, ini sudah berlebihan untuk dikatakan sebagai Kesengsaraan Petir.
Kilatan-kilatan petir di bawah awan hitam terus berkumpul, ini bukan lagi pada satu titik, melainkan pada suatu wilayah yang diameternya mencapai sepuluh mil. Apa yang terjadi jika petir yang sebesar itu menghantam daratan? Itu tidak perlu lagi untuk ditanyakan.
Mo Lian menekan kakinya di udara, kemudian terbang lebih tinggi mengarah pada lingkaran cahaya yang sangat besar itu. "Datanglah padaku!"
Wush! Duarr!
Petir yang sangat besar seperti hujan deras itu melesat tajam mengarah pada Mo Lian dengan aura membunuh yang kuat darinya. Tubuh Mo Lian terbakar saat terkena serangan petir yang bisa menghancurkan Provinsi Sichuan itu.
Kemudian tercipta ledakan yang sangat besar saat petir itu menghantam daratan, menghancurkan apapun dalam radius sepuluh mil. Saat petir menghantam daratan, angin bertiup sangat kencang seperti pedang tajam yang mampu menebas apapun, menghancurkan tebing tinggi dan barisan gunung yang menembus awan.
Daratan, daratan dalam radius 1000 mil di bawah Mo Lian sudah rata dengan tanah tanpa menyisakan apapun. Ini bukan lagi satu provinsi di Daratan Huaxia, China. Melainkan dua provinsi.
Setelah sambaran terakhir selesai, awan hitam mulai memudar dan menghilang, memperlihatkan awan biru yang kembali cerah seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Sementara itu. Tubuh Mo Lian yang sudah hancur lebur tanpa menyisakan apapun. Jika saja tidak ada bola energi berwarna biru di tempat Mo Lian berdiri sebelumnya, ia akan dianggap sudah mati.
__ADS_1
Bola energi itu adalah Inti Jiwa, biasanya orang yang sudah menembus Ranah Inti Emas akan memiliki Inti Jiwa. Tidak peduli berapapun tubuh fisik hancur, asalkan Inti Jiwa masih utuh, maka tubuh fisik akan kembali beregenerasi.
Fluktuasi energi spiritual berputar-putar di sekitar Inti Jiwa. Energi spiritual itu terserap masuk ke dalam Inti Jiwa dan membentuk tubuh manusia secara perlahan, terlihat tulang mulai tumbuh dari kekosongan udara.
Tulang itu berwarna emas dengan pola-pola kuno di permukaannya, kemudian dari pusat jiwa yang berada di tengah-tengah tulang rusuk, mulai muncul sarat dan pembuluh darah yang melilit tulang.
Proses itu memakan waktu lima menit hingga seluruh tubuh Mo Lian kembali terbentuk seperti semula, bahkan bisa dikatakan lebih baik dan kuat dari sebelumnya.
Kulit putih bersih nan halus seperti kain sutra, namun sangat kuat melebihi baja terkuat.
Tubuh Mo Lian tidak mengenakan pakaian satupun, namun juga tidak telanjang. Ia seperti memakai pakaian tradisional China yang terbuat dari energi spiritual berbeda warna, wujudnya adalah wujud yang biasanya digunakannya dulu.
Mengenakan pakaian berwarna putih dan sabuk berwarna biru, lalu dilapisi dengan jubah emas yang megah, serta hiasan seperti mahkota di atas kepalanya sebagai pengikat rambut.
"Tidak aku sangka akan menemukan keberuntungan yang baik. Bukan hanya berhasil menembus Ranah Inti Emas Sempurna, tapi juga mendapatkan Tubuh Emas," ucap Mo Lian melihat tangan kanannya yang terkepal.
Tubuh Emas adalah tubuh fisik teratas di Dunia Kultivator, untuk meningkatkan kekuatannya dengan cara menerima sambaran petir secara terus-menerus. Dengan Tubuh Emas ini juga ia tidak akan lagi merasakan rasa sakit saat menerima Kesengsaraan Petir.
Mo Lian mendongak menatap lurus ke depan, ke arah tenggara, di mana Istana Surgawi berada. "Tapi yang lebih penting, aku tidak menduga akan bisa mendapatkan satu persen kekuatanku dari kehidupan sebelumnya, Ranah God."
"Meski hanya satu persen, ini sudah lebih dari cukup untuk membunuh sepuluh juta Jiwa Emas!"
Walaupun bisa membunuh sepuluh juta Jiwa Emas, ia tidak akan menggunakannya sembarangan. Itu karena kekuatan fisiknya masih belum mampu untuk menahan satu persen dari kekuatannya dulu, jika ia memaksakan untuk menggunakannya terus-terusan, itu akan membebankan tubuhnya dan luka dalam yang parah akan diterima.
Mo Lian terdiam sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya, "Apakah aku harus menyerang Istana Surgawi sekarang? Aku memang baru dua hari di sini, tapi aku tidak tahu apakah waktu di sini sama dengan di Bumi."
Mo Lian menggeleng pelan, saat melewati lorong waktu, ia hanya berada satu hari di sana. Jikapun memiliki perbedaan waktu, mungkin ia sudah menghilang selama satu sampai dua bulan jika menghitung waktu di Bumi.
"Untuk sekarang, aku akan pergi ke kota selanjutnya. Ngomong-ngomong, daratan di sini sangat-sangat luas, mungkin ini memiliki ukuran lima sampai sepuluh Daratan Huaxia, China," ucap Mo Lian menundukkan kepalanya sembari mengusap dagu, kemudian mengamati keadaan sekitarnya.
Mo Lian memakai pakaian yang sama, kemudian menarik kembali energi spiritual yang menyelimuti tubuhnya, membuat penampilan megahnya menghilang. Setelah itu, ia menekan kakinya di udara, dan terbang melesat menuju tenggara.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1