Gadis Kecil Milik CEO

Gadis Kecil Milik CEO
#103. Bertemu Vionita di toilet


__ADS_3

'Apakah pisau ini tidak tajam?' Loren menggerutu pada dirinya sendiri ketika dia kesulitan memotong daging di piringnya.


Loren terus berusaha memotong daging di piringnya tapi bukannya daging itu terpotong dengan rapi malah terlihat berantakan di bawa piringnya.


'Huh,, dagingnya akan hancur sebelum terpotong oleh pisau ini. Sebaiknya aku minta tolong pada Christian.' Pikir Loren tersenyum.


Dia segera mengangkat wajahnya untuk meminta tolong pada Christian. Namun ia melihat pria itu sedang fokus memotong daging di piring sendiri jadi Loren menunggu Christian selesai melakukannya.


"Tuan, bolehkah potong kan juga daging milikku?" Tanya Loren ketika Cristian sudah selesai memotong daging di piringnya.


Namun, bukannya menjawab Loren atau hanya sekedar mengangkat wajahnya untuk melihat Loren Christian malah memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya dan pria itu terus menunduk sembari mengunyah dagingnya.


"Tuan?" Ucap Loren dengan suara yang lebih keras berusaha menarik perhatian Christian, sayangnya pria itu masih tidak bergeming, Christian terlihat seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Hal itu membuat Loren merasa sedih dan dia menunduk dan berusaha memotong dagingnya sendiri.


Baru saja dia akan mengiris ketika dia mendengar suara tawa Bian dan Vionita.


Perhatiannya langsung tertuju ke sana dan melihat Bian sedang menyuapi Vionita.


Mereka terlihat sangat bahagia.


'Mengapa makan malam kami tidak seperti mereka?' Loren kembali melihat Christian dengan tatapan sedihnya.


Perlahan-lahan hatinya dikuasai oleh perasaan yang tidak bisa dijelaskan saat ia melihat Christian terus fokus pada makanannya hingga 1 per 1 potong daging di piring Christian telah habis.


Selera makannya sudah hilang. Dulunya mereka tidak pernah makan seperti ini,, biasanya mereka akan bergurau bersama, tapi sekarang.....


Mungkinkah karena pria itu merasa malu makan bersamanya di depan banyak orang?


'Mengapa dia diam saja?' Loren melepaskan garpu di tangannya dan menurunkan tangannya ke bawah meja.


"Tuan, apakah Tuan mendengar saya?" Tanya Loren dengan mata berkaca-kaca menatap pria di depannya.


Pria itu membawanya dari ibukota ke puncak untuk makan malam bersama. Tapi seperti inikah makan malam itu?


Loren merasa sangat kecewa, dia merasa dipermainkan oleh Christian.


Apa lagi setiap tatapannya kembali menangkap momen romantis Vionita dan Bian,, mengapa?

__ADS_1


'Sepertinya dia tidak benar-benar berniat makan malam denganku. Dia pasti melakukan ini hanya karena dia merasa bersalah sebab tidak bisa datang ke peresmian perusahaan. Tapi kenapa harus begitu?' Loren berusaha menahan air matanya yang hendak merembes ke pipinya.


Hatinya yang rapuh.....


Ia mengepalkan tangannya dan tiba-tiba Christian mengangkat wajahnya ketika dia Hampir meneteskan air matanya.


Karena kaget, Loren langsung berdiri dan meninggalkan Cristian dengan langkah terburu-buru.


'Kenapa aku harus menangis? Apa yang diharapkan oleh seorang gelandang sepertiku? Meski pria itu mengatakan akan menikahiku tapi bukan berarti aku menuntutnya untuk selalu memperhatikanku!!' Loren menghapus air matanya yang sudah berdiri di pipinya dan berlari menuju toilet.


"Hiks,, hiks,, hiks,," di dalam salah satu bilik toilet Loren duduk di kloset sembari menangis teesedu-aedu.


'Aku hanya ingin seperti mereka, tapi mengapa begitu sulit? Mengapa orang-orang jahat seperti mereka bisa berbahagia dan tertawa bersama, sementara aku?' tangis Loren semakin menjadi-jadi ketika dia kembali mengingat Bagaimana Vionita dan Bian tampak sangat bahagia.


Sementara dirinya yang dia pikir sudah menemukan kebahagiaannya ternyata malah di abaikan oleh orang yang ia pikir sebagai sumber kebahagiaan nya.


Cukup lama menangis di bilik toilet dan memikirkannya Loren akhirnya menghapus air matanya.


"Tidka boleh..! Aku tidak boleh lemah,. Aku juga tidak boleh menyalakan Christian karena aku tidak mendapat kebahagiaan ku. Yang penting sekarang temui dia dan minta maaf." Kata Loren segera memperbaiki gaunnya yang terlihat kusut.


"Aku ini benar-benar, Bagaimana bisa meninggalkan makan malam seperti ini? Dia sudah menyiapkannya dengan susah payah tapi aku malah menangis di sini." Kata Loren berusaha mempengaruhi dirinya sendiri bahwa dialah yang bersalah dan Christian tidak bersalah apapun.


"Mataku sedikit bengkak, tapi ini masih lumayan." Kata Loren menghela nafas lalu dia berusaha tersenyum dan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia baik-baik saja.


Baru saja Loren akan meninggalkan toilet ketika salah satu bentuk toilet terbuka dan perempuan yang keluar menatap Loren dengan sangat terkejut.


"Kau, Nona Loren?" Kata Vionita sembari menutup pintu bilik toilet di belakangnya.


"Ha,, halo," Loren berusaha bersikap sopan pada Vionita meski saat ini tangannya mulai berkeringat.


Sangat sulit menghadapi orang yang sudah membuta trauma berkali-kali bahkan menginginkan kematian kita!


"Nona Loren juga disini, kebetulan sekali ya.." kata Vionita yang sebenarnya menyindir perempuan itu, mana bisa kebetulan secara tiga kali berturut-turut?


Pertama mereka menginap di hotel yang sama di kota xx lalu mengikuti pesta yang sama dan sekarang berada di hotel yang sama di puncak!


Saat ini Vionita juga mengepalkan tangannya dan dia semakin yakin bahwa Loren yang ada di depannya adalah Loren gelandangan itu!


Loren sengaja mengikutinya!

__ADS_1


"Ya, sangat kebetulan kita bertemu di sini. Tapi saya buru-buru,, jadi saya duluan," kata Loren segera melangkahkan kakinya untuk meninggalkan toilet.


Namun dia belum melangkah jauh Ketika Vionita tiba-tiba berkata "Aku tahu kau itu Loren, tapi kalau menyembunyikan identitas kan?"


Loren menarik nafas yang panjang dan berusaha menenangkan dirinya sendiri dia baru saja selesai menangis karena Christian dan sekarang bertemu dengan Vionita.


2 kejadian ini membuatnya merasa sulit untuk mencerna semuanya.


Loren berbalik dan menatap Vionita yang sedang memandanginya dengan sebuah senyum beku di wajahnya.


"Kau, apa yang kau bicarakan?" Tanya Loren berusaha mengendalikan dirinya.


Dia tidak boleh terlihat lemah di depan Vionita! Dia harus melawan permepuan itu!


"Aku bilang Kau adalah Loren Sinaga, sepupuku yang selalu menjadi bayanganku dan akhirnya kabur dari rumah. Waktu itu aku pikir ketika kau hilang di luar negeri kau benar-benar hilang karena tidak tahu arah untuk pulang, ternyata dari penampilanmu sekarang,,,, sepertinya kau kabur dengan seorang pria kaya. Ya 'kan?!" Vionita berbicara dengan nada yang sangat merendahkan dan wajah perempuan itu tampak sangat menghina Loren sehingga membuat Loren semakin mengepal kuat tangannya.


Perempuan di depannya berani-beraninya memutarbalikkan fakta, merekalah yang telah membuang Loren ke jalanan dan sekarang malah mengatakan hal sebaliknya?!


Kabur dari rumah bersama pria?! Omong kosong apa itu?!


"Kau,, Aku tidak mengerti yang kau bicarakan." Ucap Loren segera berbalik dengan wajah yang sangat pucat.


Dia tidak perlu meladeni Vionita, saat ini dia hanya butuh pergi meninggalkan perempuan itu dan menangis sebentar lalu melupakan segalanya.


Baru saja dia akan keluar dari toilet ketika suara Vionita dari belakang terdengar.


"Kalau kau benar-benar Loren, sebaiknya kau tidak pernah muncul lagi atau kau akan mempermalukan keluarga Sinaga! Kakek pasti akan sangat memarahimu kalau dia tahu apa yang sudah kau perbuat!" Ucap Vionita sembari menggertakkan giginya.


Meskipun dia bisa menggertak Loren, tetapi dalam hatinya Dia sangat takut apalagi ketika mengingat ucapan Wilson.


Loren bisa menghadiri pesta dibantu oleh seseorang dengan kekuasaan yang besar.


Meski masih rahasia, ini juga sudah mengancam Vionita.


@Interaksi



Salam kanjeng..... jangan lupa tebar aib biar viral yaa.....

__ADS_1



__ADS_2