
Begitu Putra ketiganya pergi, kakek Perry tidak bisa lagi berdiri, pria itu berjalan ke arah kursi dan duduk di sana sembari tertunduk memikirkan masalah yang akan dihadapi oleh keluarga Sinaga.
Tidak akan ada lagi yang bisa memimpin perusahaan!!
Erik menghela nafas melihat Pria tua yang tak berdaya itu lalu dia berkata, "Tuntutan mengenai masalah saham Rano Sinaga akan kami kirimkan dalam waktu dekat."
Mendengar itu, Kakek Perry langsung mengangkat wajahnya, "Tidak perlu menuntut, aku akan membicarakan masalah ini dengan cucuku. Masalah ini akan kami selesaikan secara kekeluargaan!!" Ucapnya pada Erik.
"Maaf Tuan Sinaga, tapi Nona Loren sendiri lah yang telah membuat keputusan ini, jadi saya hanya menjalankan perintah." Kata Erik lalu berbalik meninggalkan tempat itu.
Kakek Perry merasa kepalanya menjadi pusing.
Anaknya telah meninggalkannya dan cucunya juga telah meninggalkannya, bukan hanya itu, cucunya berniat memenjarakannya!!!
Katy Perry tidak mampu lagi mencerna masalah tersebut hingga pria itu memegangnya kepalanya yang terasa pusing berdenyut, dan detik berikutnya ia merasakan kegelapan memenuhi seluruh pikirannya.
"Kakek!!" Daniel langsung mendekat ke arah kakek Perry dan dengan tangannya yang terluka menopang pria yang hampir terjatuh ke lantai.
"Panggil suster!!" Teriak Daniel pada ayahnya tetapi, ayahnya malah terbengong di tempatnya.
Telinga pria itu terasa berdengung karena tak mampu mempercayai akhir dari keluarga Sinaga.
"Ayah sadarlah!!!" Suara Daniel yang berteriak kesal akhirnya menyadarkan ramah lalu pria itu menatap dua orang yang tampak kesulitan.
Akhirnya Rama menghela nafas selalu memanggil para petugas kesehatan dan membaringkan Kakek Perry di atas Ranjang.
Setelah petugas kesehatan memeriksa kondisi kesehatan Kakek Perry, maka para petugas kemudian keluar dari kamar perawatan.
__ADS_1
Cukup lama Daniel memandangi kakeknya lalu pria itu mengeluarkan ponselnya dan menelpon Loren.
Drrrt.... Drrt.... Drrtt.....
Panggilan di abaikan.
Drrrt.... Drrt.... Drrtt.....
Panggilan di tolak.
Drrrt.... Drrt.... Drrtt.....
Nomor tujuan tidak aktif.
Daniel melepaskan ponsel dari telinganya lalu memejamkan matanya.
"Dia mengabaikan kakeknya?!" Rama berkata kesal.
Padahal, saat itu orang yang memegang ponsel Loren adalah Christian.
Pria itu sedang berdiri sembari menatap layar ponsel Loren yang kini menggelap.
'Keluarga ini,, mungkin sebaiknya kumusnahkan saja mereka semua.' Pikir Christian lalu menyimpan ponsel Loren ke dalam sakunya.
"Tuan, ini bunganya," salah seorang pengawal Christian menghampiri Christian menyerahkan sebuket Bunga pengantin untuk pria itu.
Christian tersenyum menerima bunga itu, bunga mawar putih yang dirangkai sangat indah untuk diberikan pada sang pengantin.
__ADS_1
"Apakah Loren sudah siap?" Tanya Christian.
"Sudah siap!!" Jawab seseorang yang tiba-tiba memasuki ruangan.
Christian langsung berbalik dan melihat Gerson muncul dengan jas hitam formal.
"Kaka ipar, kau terlihat sangat keren." Ucap Gerson tersenyum.
"Hm," jawab Christian dengan singkat.
"Ayahku sudah menunggu di luar, katanya pengantin perempuan sudah siap, jadi kita sudah bisa menjemputnya." Ucap Gerson diangguki Christian.
Kedua pria itu langsung keluar dari kamar ganti dan menemui Davin yang juga sudah bersiap dengan jas formalnya.
Sementara di ruang pengantin perempuan, Loren tampak sederhana dengan rambut yang dikepang ke belakang dan wajah tanpa riasan.
Namun, gaun pengantin berwarna putih dengan bagian bawah yang melebar segera menandakan bahwa perempuan itu akan menikah.
Bianca yang ada di samping Loren menatap keponakannya dengan senyum bahagia, "Tante tidak menyangka kau langsung menikah di hari ini. Tadinya tante sangat terkejut ketika kami dalam perjalanan kembali ke rumah lalu dihadang oleh banyak mobil hitam.
"Tante pikir itu orang-orang jahat yang hendak merampok kami, tapi ternyata itu adalah orang-orang yang membawa kami ke pernikahan keponakan tante." Ucap Bianca tersenyum.
Sebuah pernikahan dadakan yang masih membuatnya bertanya-tanya alasan kedua orang itu langsung menggelar pernikahan.
"Terima kasih Tante, Ini semua adalah ide Christian yang tiba-tiba ketika kami meninggalkan rumah sakit. Dia bilang kami harus menggelar pernikahan sederhana di negara ini, tapi dia juga masih berencana mengadakan resepsi besar-besaran ketika kami kembali ke negara xx." Ucap Loren.
__ADS_1
"Begitu ya. Dia ingin menikah dengan resmi di negaramu dan juga di negaranya." Ucap Bianca tersenyum.