
"Apakah Kak Marisa membutuhkan sesuatu?" Tanya Loren ketika dia sudah selesai membantu Marisa menghabiskan sarapannya.
"Tidak, tapi kalau bisa, aku minta tolong supaya kau menjaga Christian dengan baik. Dia memiliki emosi yang buruk jadi dia sering mengambil keputusan tanpa bepikir matang. Harap kau di sisinya menemaninya ya..." Kata Marisa membuat Loren langsung terpaku dan melirik kearah Christian.
Dia sangat malu!
Sekarang dia mau jawab apa?
Bila menjawab dia setuju maka itu artinya pria itu mungkin akan menganggapnya sebagai orang yang terlalu lancang tapi kalau dia tidak menjawab setuju maka Marisa lah yang akan merasa sedih.
"Kau tenang saja, aku akan mendengarkannya." Tiba-tiba ucap Christian mengagetkan semua orang dalam ruangan itu hingga Mereka pun tak mampu lagi berkata apa pun.
Mungkinkah Christian sudah tunduk pada Loren?
Secepat itu?
Mustahil!!!
"Kau benar-benar mau mendengarkan Loren?!" Marisa ingin bertanya pada Christian.
Cristian segera berdiri dan berjalan ke arah Marissa dan Loren lalu pria itu menggenggam tangan Loren.
"Tentu saja! Sekarang kami mau pergi!" Ucap Christian lalu menggandeng Loren keluar dari ruangan itu.
Loren yang juga tampak kebingungan langsung tersadar lalu berbalik ke arah Marissa "Aku akan kembali lagi mengunjungi Kak Marisa!" Ucapnya.
Andreas dan Marisa yang melihat interaksi kedua orang itu kini terpaku di tempat mereka.
Pria keras itu telah luluh!
__ADS_1
...
Setelah meninggalkan Marissa, Loren tidak tahu kemana dia akan di tarik oleh Christian sampai mereka tiba di depan Mansion dengan sebuah mobil sudah disiapkan di sana.
"Hari ini kita pergi jalan-jalan." Ucap Christian membukakan pintu mobil untuk Loren.
Loren berdiri dengan nafas tersengal karena dia cukup lelah mengikuti langkah Christian yang terlalu panjang, keringat yang berada di keningnya membuat nya tampak berantakan.
"Kau keringat lagi? Ada apa?" Tanya Cristian dengan panik mengulurkan kedua tangannya dan memegang wajah Loren.
"Hah, hah, hah... Itu,, Tuan berjalan terlalu cepat jadi,," Loren belum menyelesaikan kata-katanya ketika Christian telah memeluknya.
"Maaf, aku lupa. Lain kali aku tidak akan membiarkanmu berjalan, aku akan menggendongmu supaya kau tidak kelelahan seperti ini." Ucap Christian.
Deg!
Deg!
Deg!
Tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata.
"Ayo pergi," ucap Christian setelah dia puas memeluk Loren lalu keduanya memasuki mobil.
Begitu masuk ke dalam mobil, Loren mengerjapkan matanya saat melihat gantungan dinding yang ia buat kini digantung di mobil itu.
"Tuan, itu,," Loren ragu-ragu menunjuk gantungan dinding yang ada di dalam mobil.
"Aku pikir aku akan membawanya ke mana-mana." Jawab Christian dengan senyum di bibirnya memandangi gantungan dari benang wol yang menurutnya sangat istimewa.
__ADS_1
Namun, ucapan pria itu membuat wajah Loren membeku.
Membawanya kemana-mana?!
'Sebegitu berhargakah buatan tanganku di matanya?' Loren merasakan hatinya kembali berdesir jadi dia kemudian tersenyum dan berkata "Kalau begitu saya akan membuat beberapa lagi untuk Tuan."
Mendengar ucapan Loren, Christian langsung menatap perempuan yang tersenyum ke arahnya.
Ia terpaku 3 detik melihat keindahan paras Loren.
"Kau mau membuatnya lagi?" Tanya Christian.
"Ya,, karena Tuan menyukainya maka saya akan membuat beberapa buah lagi." Ucap Loren dengan yakin.
"aku menantinya." jawab Christian.
"Tapi,, Tuan harus sabar karena butuh waktu untuk membuatnya, jadi--"
"Aku mengerti."
Sang sopir yang mengendarai mobil merasa merinding mendengar percakapan 2 orang di mobil itu.
Sejak kapan Christian berubah jinak?
Mungkinkah kiamat sudah dekat?
@Interaksi
__ADS_1
Semangat semangat...!!!!