
Security yang berjaga langsung menyeret kedua orang itu ke dalam lift lalu menekan tombol lobby.
Gunawan masih dalam rasa ketidakpercayaannya karena dia dipecat dari perusahaan terkenal milik grup Bhaltazar, sementara Chataline, dia terpaku di tempatnya karena mengingat bagaimana Christian sama sekali tidak menghiraukannya.
'Aku tidak salah ingat? Tidak tidak tidak, ini tidak mungkin terjadi. Christian tidak mungkin mengabaikanku seperti tadi. Pasti ada kesalahan,,, pasti ada kesalahan!!' nafas Chataline memburu karena dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Sementara Gunawan, pria itu akhirnya tersadar dari keterpakuannya lalu dia menatap keponakannya yang sedang berdiri dengan tatapan kosong.
"Anak sialan!!!" Teriak Gunawan sembari mengayunkan lengan hingga telapak tangannya mendarat di pipi kiri Chataline.
Plak!!!
Tamparan yang begitu keras diterima oleh seorang perempuan yang masih dalam kebingungannya hingga membuat Chataline terjatuh membentur dinding lift.
Tidak puas karena hanya menampar, Gunawan kemudian mendekati keponakannya dan menarik pakaian perempuan itu hingga membuat Chataline semakin ketakutan melihat kemarahan pamannya.
"******!!!"
Plak!!!
__ADS_1
Sebuah tamparan lain kembali mendarat di pipi kiri Chataline membuat perempuan itu gemetaran sembari meneteskan air matanya.
Sejak lahir, Ini pertama kalinya dia diperlakukan seperti ini di depan para orang-orang rendahan yang hanya merupakan sekuriti kantor.
"Paman maaf,," ucap Chataline dengan suara gemetarnya sembari menyatukan kedua tangannya memohon pada pamannya.
"Kau pikir permintaan maafmu bisa membuatku kembali bekerja di sini?!!" Gunawan begitu marah, ia mendorong Chataline dengan keras hingga perempuan itu kembali terbentur ke dinding.
Ting!
Akhirnya, lift berhenti di lobby lalu Gunawan keluar dari lift sembari bertolak pinggang memikirkan langkah yang harus ia lakukan setelah dipecat dari perusahaan milik Christian.
'Sial!! Sangat memalukan untuk dilihat orang dalam keadaan seperti ini,,,' ucap Chataline memandangi pipinya yang tampak merah serta terluka di sudut bibirnya karena tamparan dari pamannya.
Chataline menutupi pipinya dengan satu tangan lalu dengan tubuh yang masih agak gemetar ia keluar dari lift menyusul pamannya.
'Sebaiknya aku kabur,' Ucap Chataline memegang erat gaunnya lalu perempuan itu mengendap-endap untuk meninggalkan Gunawan.
Tetapi, dia belum melangkah jauh ketika Gunawan menyadarinya lalu pria itu menghampirinya dan mencekal tangannya.
__ADS_1
"Ikiti aku ******!!" Ucap Gunawan menarik katalina ke arah parkiran lalu membawa perempuan itu meninggalkan perusahaan.
"Apa yang akan paman lakukan?" Chatalina bertanya dengan tubuh gemetarnya sebab Dia sangat takut kalau pria itu kembali memukulinya.
Gunawan melirik ke arah perempuan yang tampak gemetar itu lalu dia mengambil sebuah obat dari sakunya dan melemparkannya pada catalina.
"Minum itu!!!" Teriaknya.
Chataline memegangi obat di tangannya lalu bertanya, "I,,, ini apa?"
"Sialan!! Kau masih berani bertanya?!" Cepat minum!!" Teriak Gunawan lalu pria itu mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
Dengan tangan gemetarnya, Chataline membuka bungkus obat itu lalu meminum isinya.
Baru saja dia selesai meminumnya ketika Gunawan yang ada di sampingnya kini berkata, "Tuan Darik, keponakanku yang kemarin membuat anda tertarik. Bagaimana kalau sepanjang hari ini dan malam nanti dia bersama dengan tuan?"
Chatalina mempererat genggamannya pada gaunnya mendengar ucapan pamannya, tetapi dia tidak bisa mengatakan apapun seolah-olah tubuhnya sedang dikendalikan oleh sesuatu yang melarangnya berbicara.
"Ha ha ha.. baiklah, sekarang juga saya akan mengantarnya ke villa Tuan... Baik... Saya mengerti... Terima kasih... Baik..." Ucap Gunawan terlihat berada dalam suasana hati yang lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1