
Sementara Christian dan Loren menikmati makan malam mereka yang romantis di hari bahagia tersebut, maka berbeda halnya dengan Bian yang baru saja di tolak oleh Loren.
Pria itu duduk di dalam mobil dengan Fajar yang berada di kursi kemudi belum tahu harus melajukan mobil mereka ke arah mana.
Fajar menoleh pada Christian lewat kaca spion dalam mobil, "Tuan, kita sudah berputar selama 1 jam Apakah tidak sebaiknya kita kembali agar Tuan bisa istirahat?"
Bian menghela nafas sembari memijat keningnya, saat ini dia sedang terbakar api cemburu membayangkan Loren sedang bermesraan dengan seorang pria untuk merayakan kemenangannya hari ini.
Tetapi pria itu juga tidak bisa menghentikan dirinya untuk memikirkan Vionita yang sedang mengandung anaknya.
Jika dia menyalakan Vionita maka itu adalah hal yang wajar, tetapi anak yang tak bersalah dalam kandungan Vionita,,, dia merasa sangat terbebani.
Sesaat terus memikirkannya, pria itu akhirnya bertanya pada Fajar, "Apa kau tahu kantor polisi mana Vionita di bawah?"
"Kantor polisi pusat kota, dan sepertinya besok pagi dia akan dijemput oleh kedutaan negara d." Ucap Fajar.
__ADS_1
Saat ini mereka berada di luar negeri Jadi jika seorang warga negara d terlibat dalam sebuah kasus, maka kedutaan negara d akan menjemput warga sipil mereka dan mengadilinya secara pribadi.
"Begitu ya,, Kalau begitu mari pergi jemput dia." Ucap Bian mengejutkan Fajar.
Pria itu menyetir mobil sembari melihat Bian dari kaca spion dan dengan rasa penasarannya, dia bertanya, "Mengapa Tuan masih ingin menjemputnya Bukankah,,"
"Kau masih bisa bertanya dalam keadaan seperti ini?!! Cepat pergi ke kantor polisi!!" Bentak Bian pada Fajar.
Saat ini kepalanya hampir pecah memikirkan 2 orang Perempuan!!
Akhirnya setelah mengendara beberapa puluh menit mereka kini tiba di kantor polisi.
Bian langsung turun dari mobil diikuti datangnya pengacaranya yang telah ditelepon oleh Fajar.
Setelah memasuki kantor polisi, dilihatnya Vionita dan Mia sedang berada di satu sel.
__ADS_1
"Kak Bian!!" Seru Vionita dari sel saat melihat orang yang ia harapkan untuk membantunya kini sudah datang.
Awalnya dia pikir Bian tidak akan menemuinya lagi Jadi dia menelepon ibu nya untuk meminta bantuan tapi karena jarak negara mereka sangat jauh maka perlu beberapa waktu untuk mendatangkan pengacara keluarga Sinaga untuk menyelamatkannya.
Bian berhenti sesaat memandangi perempuan yang terlihat berantakan, beberapa bekas cakaran memenuhi tubuh Perempuan itu dan pakaian serta rambutnya acak-acakan.
Bagaimanapun, dia sangat marah pada perempuan itu jadi dia sama sekali tidak merasa kasihan pada Vionita,, tetapi ketika melihat tangan Vionita menyentuh perutnya, Dia segera teringat bahwa perempuan itu sedang mengandung anaknya.
"Kak Bian,," kembali terdengar suara Vionita yang sangat rapuh saat melihat Bian hanya berdiri menatapnya.
Namun beberapa menit kemudian Bian akhirnya melangkah ke arahnya, "Kau baik-baik saja?" Tanya pria itu.
"Kak Bian!! Kita hampir saja kehilangan bayi kita seandainya polisi tidak mencegah perempuan itu terus memukuliku!!" Vionita mengulurkan tangannya memegang Bian sembari menatap marah pada Mia yang kini terduduk di sudut ruangan.
Satu-satunya hal yang bisa ia gunakan untuk membuat Bian memaafkannya adalah bayi yang ada di dalam kandungannya.
__ADS_1
Dia tahu Bian adalah pria yang penyayang, jadi pria itu tidak mungkin membiarkan darah dagingnya sendiri menderita di dalam penjara apalagi jika bayinya harus lahir di dalam penjara.