Gadis Kecil Milik CEO

Gadis Kecil Milik CEO
#105. Pria itu marah


__ADS_3

Sudah 5 menit berlalu dan Christian mencari Loren. Orang-orangnya juga bahkan tidak menemukan Loren atau adanya jejak yang ditinggalkan Loren.


Hal itu membuat Cristian merasa frustasi dan kepalanya seperti ingin meledak memikirkan nasib Loren saat ini.


'Apa yang sudah ku lakukan? Bagaimana bisa aku membiarkan Loren hilang untuk yang kedua kalinya?' Christian terus menyalahkan dirinya sendiri sembari berjalan dengan langkah cepatnya untuk mencari Loren di area hotel.


Ia tiba di samping gudang ketika mendengar suara yang sangat familiar sedang sesegukan dari sebuah ruangan yang terlihat gelap.


"Loren?" Christian langsung menghampiri gudang itu dan mencari jalan untuk masuk.


Begitu menemukan pintunya, Christian berdiri di sana sembari melihat seorang perempuan yang meringkuk dalam kegelapan.


Perempuan itu memeluk kedua kakinya dan dengan tubuh gemetaran berusaha menahan isakannya yang sepertinya sangat menyedihkan baginya.


Dengan perasaan kacau Christian langsung menghampiri Loren dan memeluk perempuan itu dengan erat.


"Aku di sini," ucap Christian dengan suara paraunya.


Merasakan pelukan hangat yang familiar, merasa Loren lebih tenang jadi dia membuka tangannya dan mengulurkan tangannya ke leher Christian.


"Tuan jahat...!! Hikss hiks,,,,," Loren langsung melampiaskan kekesalannya pada Christian sembari perempuan itu menyembunyikan wajahnya di leher Christian.


"Tuan mengabaikan saya dan melupakan saya!! Tuan jahat...!!!!" Teriak Loren disertai isakan kerasnya, tapi begitu, pelukan Loren terasa sangat erat di leher Christian.


"Maaf, maaf,, aku minta maaf... Ini salahku,," ucap Christian segera membawa Loren ke gendongannya dan membawa perempuan itu meninggalkan gudang yang gelap.


"Hiks,, hiks,," Loren terus menangis di pelukan Christian hingga menarik perhatian semua orang.


"Maaf,, maaf,," Christian berkata dengan suara pelan sembari terus melangkahkan kakinya ke arah lift.


Dalam hati dia sangat menyesal. Bagaimana bisa dia cemburu buta dan membuat Loren yang sangat polos dan lugu hingga Loren berakhir menangis ketakutan di gudang.


Banyak orang-orang di hotel itu jadi para pelayan dan para tamu langsung mengenali Christian ketika pria itu melewati mereka.


"Astaga siapa perempuan yang di gendong Tuan Christian?"


"Ya ampun,, Apa kau mendengar Tuan Christian berkata maaf? Astaga,, perempuan itu pasti sangat beruntung!"


"Kau benar,, Ini pertama kalinya aku melihat Tuan Christian bersentuhan dengan perempuan, perempuan itu pasti berasal dari keluarga berada yang sebanding dengan Tuhan Cristian." Semua orang bertanya-tanya tetapi tidak ada yang berani membesarkan suaranya.


Siapa yang mau mencari masalah dengan Christian?!

__ADS_1


Loren menahan isakannya saat mendengar suara orang-orang.... Sikapnya akan memeprmalukan Christian.


Christian tiba di depan lift dan menekan tombol open.


Setelah beberapa detik lift terbuka memperlihatkan sepasang suami istri yang sedang bertengkar.


"Kau gila!!! Dasar pencemburu buta!!" Terdengar teriakan perempuan di dalam lift sebelum keluar meninggalkan lelaki yang terlihat gusar.


"Kau yang gila! Kau sudah terang-terangan merayu pria itu dengan memanggilnya langsung menggunakan namanya! Kenapa?! Karena dia lebih tampan?!!!" Teriak sang pria mengikuti Sang Perempuan mengabaikan Christian dan Loren yang kini memasuki lift.


"Diam kau..!! Kau pikir setiap kali aku memanggil seseorang dengan menggunakan namanya maka aku sudah selingkuh dengannya?! Dasar laki-laki!! Kalian laki-laki semuanya aneh!!" Teriakan perempuan yang terdengar marah masih didengar Christian karena pintu lift belum tertutup.


Sesaat pria itu terdiam dan menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyapu punggung Loren.


'Apakah Loren juga akan marah kalau dia mengetahui Aku cemburu gara-gara hal sepele seperti itu?' Christian menundukkan kepalanya melihat Loren yang masih memeluknya dengan sangat erat seolah perempuan itu benar-benar tidak mau dipisahkan dari nya.


Nafas Loren juga belum stabil, perempuan itu masih sesekali segukan, terdengar jelas Loren berusaha menahan isakannya.


Christian tidak mengatakan apapun Sampai lift mereka berhenti lalu Christian membawa Loren ke kamar yang telah Ia pesan.


Christian tidak melepaskan Loren dari gendongannya, pria itu duduk di samping ranjang dengan Loren duduk di pangkuannya sembari memeluk lehernya.


"Marahlah,, marahi aku," ucap Christian yang mengerti bahwa tadinya perempuan itu berusaha menahan isakannya karena tidak mau mempermalukannya.


Loren sangat menggemaskan, tapi waktunya tidak tepat!


Sesuai perintah Christian, Loren akhirnya terus menangis sampai dia kelelahan dan rasa laparnya sudah semakin menjadi-jadi.


Perempuan itu berhenti menangis dan mencengkram erat kerah baju Christian.


"Saya lapar," ucap Loren dengan suara parau berserta air matanya yang merembes keluar dari matanya.


Christian yang sudah melupakan bahwa Loren belum makan malam langsung mematung,, bagaimana bisa dia lupa bahwa Loren tidak menyentuh makan malam mereka?


"Aku akan mengambilkanmu makanan. Tunggu di sini." Ucap Christian memindahkan Loren dari pangkuannya.


Loren hanya diam saja, ia tertunduk tak mau menatap Christian yang sudah pergi ke arah pintu.


Begitu pintu tertutup Loren membaringkan tubuhnya dan menyembunyikan diri di balik selimut.


'Mengapa aku marah padanya? Aku kesal,, tapi kenapa sampai begini? Ini bukan salahnya....' Loren meneteskan air matanya, ia merasa kesal pada semua orang, termasuk pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Karena Christian pergi terlalu lama, Loren yang sudah kelelahan sepanjang hari mengikuti acara peresmian kantor akhirnya jatuh terlelap.


Perempuan itu bahkan tidak menyadari ketika Christian telah kembali dan membangunkannya untuk makan.


"Maaf,," akhirnya kata itulah yang terakhir keluar dari bibir Christian saat melihat Loren yang begitu menyedihkan.


Air mata perempuan itu telah kering di pipinya dan Loren bahkan melupakan rasa laparnya hingga jatuh tertidur.


Dan ini semua salahnya! Hanya karena cemburu buta pada sesuatu yang belum jelas hingga ia mengabaikan Loren.


Dengan penyesalan yang menyelimutinya Christian hanya bisa berbaring di samping Loren dan memeluk perempuan itu dengan erat.


"Maaf," ucap Christian memberi ciuman di puncak kepala Loren.


'Seandainya aku tidak mengabaikannya, dia tidak akan bertemu perempuan itu dan berakhir menangis di gudang..!' Christian dipenuhi penyesalan


Keduanya akhirnya terlelap dalam mimpi mereka masing-masing meski keduanya sedang tidur bersama.


Pada tengah malam Loren merasakan tubuhnya sangat lemas hingga ia terbangun.


'Mmmhh,,' gerutu Loren merasakan perutnya ditindih sesuatu yang sangat berat.


Loren mengerjapkan matanya dan membuka perlahan kelopak matanya ia sangat terkejut melihat sebuah lengan kekar melingkar di pinggangnya.


"Ahh!!" Loren berbalik dan terkejut melihat seorang pria kini menatapnya dengan mata mengantuk.


"Tu,, tuan,," Loren merasa lega bahwa orang itu ternyata Christian, namun begitu detik berikutnya Loren melompat kaget menjauhi Christian.


"Mengapa,,, mengapa kita bisa tidur bersama?! Apa yang terjadi?!!!" Loren sangat panik membentuk pakaiannya dan bernapas lega mendapati semuanya masih berada pada tempatnya.


Christian tidak memperdulikan perempuan itu, ia hanya berdiri lalu berjalan meninggalkan ranjang.


"Tuan,," Loren merasa bersalah, mungkinkah pria itu marah karena sikapnya barusan?


@Interaksi



Ini masih mending cuma gantungin cerita, dari pada kalo gantung yang lain??? Ato mau dicoba saya gantungin kamu???


__ADS_1


__ADS_2