
Christian bersiap dengan cepat, pria itu dibalut sebuah jas berwarna merah maroon memperlihatkan bahwa pria itu begitu berkuasa dan tak mudah untuk didekati.
Ransi berdiri di samping Christian menyerahkan buket bunga yang telah Ia siapkan.
Buket bunga itu adalah buket bunga yang sengaja dipesan secara khusus dari sebuah toko bunga termahal di negara K.
Mengambil bunga dari tangan Ransi, pria itu tersenyum menciumi bunga mawar yang akan diberikan pada kekasihnya.
"Nona akan siap dalam 5 menit lagi," kata Ransi lalu pria itu berjalan meninggalkan Christian karena Christian sudah berpesan bahwa hanya mereka berdua yang akan berada di lantai tersebut.
Bahkan para pelayan sudah menyiapkan semua makanan di atas meja Jadi tidak ada lagi yang akan mengganggu mereka berdua.
Sementara Christian menunggu Loren, maka saat ini Loren sudah memakai sepatu yang disiapkan oleh pelayan.
"Sepatu kaca,, Aku merasa seperti seorang Cinderella yang akan menemui pangeranku," kata Loren tersenyum dengan wajah meronanya membayangkan dirinya dan Christian menghabiskan malam bersama.
"Tuan Christian pasti akan senang melihat nona, malam ini Nona sangat cantik." Ucap sang pelayan lalu mereka menuntun Loren ke tempat dimana Christian telah menunggu.
__ADS_1
Meski hari itu telah terlarut, yaitu pada pukul 11 malam, tetapi Loren sama sekali tidak mengantuk, dia juga tidak merasa kelelahan, sebaliknya ia merasa bersemangat untuk menghabiskan waktu bersama Christian.
"Kami hanya bisa mengantar Nona sampai disini, setelah Nona tiba di ujung pintu itu Nona akan disambut oleh Tuan Christian," sang pelayan memberi penjelasan pada Loren lalu semua pelayan meninggalkan lantai tersebut.
Dengan jantung berdegup kencang, Loren berjalan ke arah pintu yang tertutup di depannya.
'Ini seperti pernikahan, gaun ini sangat indah dan,,' Loren merasakan pipinya semakin memanas saat membayangkan bahwa Christian sedang berada di sana menunggunya dengan sebuket bunga mawar putih.
Bunga mawar yang selalu diberikan Christian padanya...
"Tuan?" Suara Loren memanggil Christian sembari memperhatikan seluruh tempat yang terlihat kosong itu.
Tempat itu didesain dengan sangat romantis dengan sebuah meja yang di atasnya ditata makanan dan minuman yang terlihat menggiurkan, tetapi apa gunanya semua itu jika tidak ada Christian?
"Tuan??" Loren kembali berkata sembari melangkahkan kakinya melihat ke arah sudut-sudut untuk mencari sosok yang merupakan kekasihnya.
Namun, setelah beberapa menit melihat, tidak ada satupun tanda-tanda kemunculan Christian.
__ADS_1
Tapi perempuan itu tidak menyadari bahwa dari tempat ia masuk Christian kini melangkah dengan pelan sembari memegang buket bunga mawar putih di tangannya.
Cristian mendekati Loren dari belakang.
'Loren,,' Christian mendasar dalam hati melihat punggung Loren yang sangat mulus karena Loren menggunakan gaun yang memamerkan punggungnya yang sangat indah.
Pria itu terus melangkah dengan pelan lalu mengejutkan Loren dengan memeluk perempuan itu dari belakang.
"Ah,, siap--!!" Loren sangat terkejut, tetapi ketika menyadari itu adalah Christian dia langsung tersenyum dan menunduk melihat tangan Christian yang melingkar di pinggangnya sedang memegang buket bunga mawar putih.
Rasa bahagia dan desiran hatinya langsung memenuhi sekujur tubuh Loren hingga membuat dua lesung pipinya semakin dalam menampakan diri.
"Selamat,," ucap Christian mendaratkan sebuah ciuman tepat pada lesung pipi Loren.
"Terima kasih Tuan,," jawab Loren dengan perasaan yang membuncah seakan-akan rasa bahagianya akan meledak seperti gunung .erapi yang menyemburkan lahar dari perutnya.
Kedua orang itu akhirnya bermesraan lalu berjalan kearah meja dan duduk bersama untuk makan malam yang sangat romantis.
__ADS_1